Dari Perbukitan Menoreh, Kami Belajar Arti Hidup

Jam telah menyentuh pukul satu dini hari. Delapan anak tergopoh-gopoh memasuki rumah seraya kedinginan, kelaparan, dan kelelahan akibat hujan-hujanan di lapangan kecamatan. Simbah yang telah tertidur jadi terbangun. Tak tega melihat kedelapan anaknya kedinginan, ia pun melupakan kantuknya, bergegas ke dapur, membuat perapian, dan memasak mie rebus untuk kami berdelapan.

Continue reading “Dari Perbukitan Menoreh, Kami Belajar Arti Hidup”

5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan

blog2

“Pergi karena semangat, pulang karena rindu.”

Nama Jogja terdengar begitu istimewa, apabila kata itu terucap, tiba-tiba rasa rindu segera mendekap. Seringkali teman-teman bertanya heran, mengapa aku begitu baper dengan Jogja. Apakah ada pengalaman buruk atau manis yang pernah terjadi di sana?

Memang, aku tidak terlahir di Jogja, hanya empat tahun dari 23 tahun hidupku yang terselip di Jogja. Di waktu yang singkat itulah Jogja mengasuhku lewat kesederhanaan dan keramahannya. Aku diajari tentang arti membaur dari angkringan pinggir jalan, aku juga belajar tentang arti kenyang dari sebungkus nasi tempe. Ada banyak pelajaran yang telah kupetik dan kini membekas di hidupku.

Hampir tiga bulan telah berlalu sejak aku hijrah dari Jogja ke Jakarta. Waktu yang berlalu bukan alasan yang membuat rindu kian memudar. Inilah hal-hal yang membuat Jogja tak mungkin tergantikan:

  1. Angkringan “Bapak”, sebuah gerobak tanpa kasta

Angkringan di Jogja ibarat bintang di langit, ada di mana-mana. Setiap angkringan punya cerita. Jika ingin makan di angkringan yang elite, datanglah ke angkringan pendopo JAC yang harganya lumayan bikin kantong meringis. Jika ingin angkringan ber-wifi khas mahasiswa, bisa mampir ke angkringan “Tobat” yang berdiri sejak mendapat hidayah.

Dari puluhan angkringan yang pernah kusinggahi, ada satu angkringan yang paling favorit dan tak pernah absen kusinggahi. Angkringan “Bapak” aku menyebutnya. Angkringan ini unik karena baru buka pukul 00:00 tengah malam. Sang Bapak tua mendorong sendiri gerobak angkringannya, lalu menaikkannya di atas trotoar samping jembatan sungai Winongo, menata tikar, dan mulai memasak air panas. Semuanya ia lakukan sendiri, tapi nyaris tak ada raut sedih ataupun lelah di wajahnya.

blog3
Sebungkus nasi kucing seharga Rp 1.500,- beserta kudapan lainnya

Angkringan “Bapak” ini aku temuka pertama kali tahun 2010. Waktu itu aku masih SMA dan nekat backpackeran ke Jogja sendirian dari uang jajan yang disisihkan selama berbulan-bulan. Sebagai orang luar Jogja dan masih polos, melihat angkringan adalah sesuatu yang luar biasa bagiku. Selepas tahun 2010, di tahun 2012 aku kembali ke Jogja dan menetap untuk melanjutkan kuliah. Yes! Lalu aku menjadi pelanggan tetap angkringan Bapak.

Sensasi yang tak pernah terlupakan dari makan di angkringan “Bapak” adalah ketenangannya. Bayangkan, duduk di pinggir jembatan saat lewat tengah malam. Suasana begitu tenang, ditemani alunan lagu-lagu kuno berbahasa Jawa, menyeruput teh panas legit kentel sambil mengudap gorengan dan nasi kucing.

Nasi kucing di sini dibanderol Rp 1,500,- saja. Sepintas, nasi kucing tidaklah terlihat istimewa. Ia hanya sekepal nasi yang dibalut daun pisang dan dibubuhi sedikit tempe atau sambal teri di atasnya. Tapi, menikmati sebungkus nasi kucing tidak cukup hanya dengan lidah, tapi harus dengan hati. Makanan yang sederhana inilah yang merekatkan banyak orang di Jogja. Ada tukang becak hingga mahasiswa yang duduk bersama di gerobak angkringan dan mengobrol ngalor-ngidul hingga menjadi akrab.

img_0197
Angkringan Bapak

Aku lupa nama Bapak penjual angkringan itu. Tapi aku selalu ingat nada khasnya bicara. Dia selalu mengajak setiap pembelinya bercanda, kadang candaannya suka nyerempet saru, tapi ya itulah yang membuat angkringan ini hangat.

  1. Rumah Kost yang Bukan Sekadar Kost

Selain angkringan, salah satu yang selalu membuat baper adalah mengingat kenangan tentang kost. Selama 4 tahun di Jogja, teman-teman kost sudah jadi seperti keluarga. Kami tinggal satu atap dan mau tidak mau saling mengamati dari awal bangun hingga tidur malam. Lambat laun, nyaris tak ada lagi sekat-sekat antar penghuni kost.

blog6
Rumah Kost Manunggal Budi

Jika yang satu sakit, teman-teman kost yang akan membelikan makan, kadang juga membantu kerokan. Jika sedang galau dan insomnia, teman kost juga yang menemani pergi ke angkringan atau pos ketan susu. Karena kepercayaan itulah kost kami menjadi kost yang sangat aman. Tak perlu khawatir jika lupa menutup atau mengunci pintu, toh tidak bakal ada yang nyolong.

Selain dari teman-teman yang solid, Ibu Kost adalah ibu yang super baik. Sewaktu salah satu teman kost kami berulang tahun, beliau datang dan membawakan kami makanan beragam jenis dan kue ulang tahun. Lalu kami berkumpul di bawah dan makan malam bersama. Tak cukup di situ, ketika aku dan seorang teman lulus kuliah, beliau kembali datang dan menggelar tumpengan.

img_8539
Masukkan keterangan

Kostku dahulu dibangun atas dasar kepercayaan. Jika ada keluarga atau teman menginap, tidak perlu membayar uang tambahan selama mampu menjaga ketertiban. Dan salah satu yang membuat kostku semakin erat adalah kehadiran Mbak Oneng yang dinobatkan oleh Ibu Kost untuk merawat kost itu. Kehadiran Mbak Oneng membuat kost kami semakin asyik. Kadang-kadang kalau dia memasak, anak-anak kost bisa mencicipi masakannya.

  1. Simbah Ngatilah di Samigaluh 

“Lek do maem riyen, mas, mbak!” adalah kalimat yang paling sering diucapkan Simbah selama aku dan teman-teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) tinggal di rumahnya. Simbah selalu memaksa kami untuk makan lebih banyak walau perut kami sudah penuh. Simbah adalah sebuah anugerah bagiku, sosok ketulusan seorang perempuan Jawa yang tidak tergerus arus zaman.

Simbah Ngatilah adalah istri dari seorang kepala Desa Banjarsari, Samigaluh, D.I Yogyakarta. Waktu itu di bulan Desember 2015 – Januari 2016 aku menumpang di rumah beliau selama satu bulan karena proyek KKN dari kampus. Rumah Simbah adalah surga bagiku karena terletak di atas bukit yang masih hijau pepohonan, tanpa ada tetangga, hanya ada suara soang dan kambing yang menemani. Satu bulan di rumah Simbah waktu itu lebih terasa seperti di rumah sendiri ketimbang di lokasi KKN. blog5

Setelah KKN usai dilaksanakan, hubungan kami dengan Simbah tidak putus. Memang jarak memisahkan kami, dan sekarang pun sulit untuk bisa sering berkunjung ke rumah Simbah. Dulu saat kami berpamitan untuk pulang, Simbah sempat menangis karena merasa dirinya akan kesepian kembali setelah ditinggal “cucu-cucunya” ini.

Beberapa bulan sekali kami datang berkunjung ke rumah Simbah dan ia selalu menyambut kami dengan sukacita. Baru saja kami tiba di sana, beliau lansung pergi ke hutan mencari buah rambutan atau pisang untuk nanti kami bawa pulang. Tak cukup di situ, beliau segera menyiapkan perapian dan memasak buat kami. img_2032

Aku terharu dan berpikir, “siapakah aku ini?” tapi Simbah menganggap anak-anak KKN di rumahnya sebagai cucu. Simbah tidak mau diberi uang listrik, padahal listrik rumahnya setiap hari tersedot karena kami. Dan Simbah juga memanggilku dengan panggilan “Kelik”, sebagai panggilan akrabnya.

4. Jangan sampai kuliah menganggu jalan-jalan 

Itulah prinsip yang kupegang selama kuliah dulu. Tapi jangan pikir karena prinsip itu kuliahku berantakan ya karena di akhir studi aku bisa lulus dengan predikat cum laude. Jadi kurasa prinsip itu tidaklah salah sekalipun banyak orang yang terkadang nyinyir setiap kali melihat postingan jalan-jalanku.

Jogja adalah surga wisata dan menjadi gerbangku untuk bertemu dengan teman-teman dari dunia luar. Dari Jogjalah aku belajar bahasa Inggris secara otodidak dan bertemu dengan rekan-rekan backpacker dari seluruh dunia. Yap, semua terjadi di Jogja. Jika waktu itu aku tidak tinggal di Jogja, mungkin tidak ada namanya jalan-jalan keliling Indonesia.

IMG_5500.JPG
berkeliling ke sekolah di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Desember 2015

Aku bersyukur karena kampus tempatku belajar ternyata mendukungku untuk tak hanya kuliah, tapi juga untuk berkarya lewat jalan-jalan. Selama kuliah sejak semester empat hingga sembilan, aku bekerja sebagai seorang student staff di Kantor Kerjasama dan Promosi.

Tugasku adalah mengenalkan kampusku kepada anak-anak SMA di seluruh Indonesia. Bekerja di kantor ini adalah suatu kehormatan karena kampusku yang besar ini mempercayakan tanggung jawab kepada mahasiswa yang memang belum banyak pengalaman. Aku belajar mengelola waktu antara kuliah dan pekerjaan, belajar juga ilmu-ilmu marketing, belajar tentang menjadi seorang pekerja yang baik.

Bandar Lampung, Medan, Siantar, Pontianak, Bangka Belitung, Madiun, Semarang, hingga Palangkaraya telah kusinggahi karena pekerjaan ini. Ada satu sukacita besar ketika bisa bekerja sesuai dengan passion. Melihat semangat anak-anak sekolah di berbagai daerah di Indonesia itu sungguh menarik. Di kantor ini kami tidak hanya bercerita mempromosikan kampus, tapi kami juga berbagi pengalaman tentang tantangan, juga harapan yang bisa diperoleh ketika mereka memutuskan pergi ke Jogja.

5. Teman-teman istimewa: madhang ora madhang, sing penting guyub!

Makan atau tidak, yang penting ngumpul. Inilah semangat kebersamaan dari teman-teman Jogja. Kini saat aku bekerja di Jakarta, teman-teman kampus dari Jogja adalah teman yang bisa dibilang paling kompak dan memiliki solidaritas tinggi. Dibesarkan di kota yang sama membuat kita bisa sama-sama baper ketika saling menyebut kata “Jogja”.

Selama empat tahun, aku mendapati temanku telah menjadi sebuah keluarga. Saat kuliah teman-teman itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dan ketika liburan tiba seringkali aku ikut mudik ke rumah mereka. Berawal dari iseng-iseng ikut mudik inilah yang akhirnya membawaku memiliki keluarga baru. HMPSKOOM

Pergi kemanapun selalu ada teman, mulai dari Aceh, hingga Papua. Saat pertengahan 2015 ketika sedang berada di Aceh Tengah, aku sempat bingung karena tidak mendapat tempat untuk menginap. Beruntung ada teman satu kampus yang berasal dari daerah sana. Kami memang tidak terlalu dekat, tapi kemudian temanku itu memberiku nomor orang tuanya dan akhirnya aku mendapatkn tempat bermalam di sana.

Salah satu harta terbesar di masa muda adalah teman-teman. Memiliki teman itu memperkaya pemikiran kita. Lewat diskusi, curhat, makan bareng, nangis bareng, di situlah pemikiran kita dibentuk dan saling membentuk. Lewat kegiatan-kegiatan organisasi di kampus yang diikuti, kehadiran teman-teman itu terlalu indah untuk dilupakan.

****

Tiga bulan hampir berlalu sejak aku meninggalkan Jogja. Rasa rinduku pada Jogja tak akan pudar. Ibarat benih yang ditanam di tanah dan bertumbuh, demikian juga rasa rindu itu. Waktu dan jarak menjadi matahari dan air yang menumbuhkan benih itu.

Mungkin Jogja tak kan pernah lagi jadi tempatku menetap, tapi dia akan selalu jadi tempat untuk kembali mengingat masa manis. Tempat untukku bertetirah dan menikmati dunia lewat segelas teh panas dan nasi kucing.
Jakarta Barat, 8 Februari 2017

 

 

Ketika KKN Tak Sekedar Dua SKS

Jalanan di Samigaluh sungguh sepi, tak ada lagi anak muda yang nongkrong bergerombol di minimarket ataupun warung mie ayam di pasar Plono. Papan-papan kayu penunjuk arah telah hilang sempurna. Samigaluh telah kembali ke ritmenya yang sepi dan tenang.

Desember 2015 lalu, kecamatan di utara Kulonprogo ini kedatangan tamu sebanyak 800 orang mahasiswa dari Atma Jaya untuk melakukan KKN  alias Kuliah Kerja Nyata selama satu bulan. Mahasiswa yang hidup di kota mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan atmosfer pedesaan Samigaluh yang terletak di perbukitan Menoreh.

Empat bulan semenjak Kuliah Kerja Nyata (KKN) rampung dilaksanakan, sisa-sisa rasa kangen masih terasa. Selepas KKN, setiap anggota kelompok larut kembali dalam kesibukannya. Ada yang sudah selesai sidang, menanti wisuda, mengejar skripsi, juga ada yang masih kuliah. Ada kelompok lain yang putus hubungan antar anggota, ada pula yang masih berkontak setia.

Eh, ayo ke rumah simbah minggu depan!” celetuk salah satu rekan, dan segera dibalas dengan “Oke!” dari rekan lainnya. Syukur beribu syukur, kelompok kami masih tetap menjaga tali komunikasi meskipun masa KKN telah usai. Bagi kami, sulit untuk membuang begitu saja kenangan selama KKN. Bagaimana tidak, selama satu bulan sejak pagi membuka mata hingga malam mata terpejam kami harus melihat dan tinggal serumah dengan rekan sekelompok.

Kami ditempatkan di rumah keluarga Wagiran, seorang kepala desa Banjarsari yang baiknya bukan main. Rumah Simbah Wagiran terletak di ujung bukit dusun Jumblangan XIV, tak ada tetangga, hanya ada hutan dengan bunyi khas serangganya. Satu bulan kami habiskan disana dengan begitu cepat akibat terlalu menikmati kebersamaan selama KKN.

Jumblangan XIV, Kampung Halaman Kedua Kami

Di kampus, KKN dihargai seharga 2 sks, jauh lebih kecil ketimbang mata kuliah biasa yang umumnya berbobot 3 sks. Walaupun hanya 2 sks, namun KKN jauh lebih ribet ketimbang mata kuliah lainnya. Repotnya KKN sebetulnya bukan karena enggan tinggal di pedesaan, melainkan ada aturan-aturan yang cukup berat serta terkadang koordinasi di kelompok yang tidak rapi.

Selama KKN berlangsung, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus membaur dengan sesama anggota kelompok dan juga induk semang. Bahagia tidaknya kelompok ditentukan dari bagaimana kelompok tersebut memaknai sebuah KKN. Jika antar anggota mementingkan dirinya sendiri, tentu kelompok tersebut akan terjerumus dalam konflik.

Ketika awal dibentuk, masih terjadi jaim di kelompok kami. Pertanyaan “Kamu ya jadi ketua?” langsung segera dibalas dengan “Duh, nggak, jangan aku please. Aku sibuk ,aku gak bisa, aku takut, aku gak berpengalaman, bla bla” . Walaupun, pada akhirnya tetap ada beberapa anggota yang harus ditumbalkan, entah menjadi ketua, bendahara atau sekretaris. Namun, yang jelas ketika jabatan sudah diemban, maka tak ada alasan untuk menolak.

Dari pedukukan Jumblangan XIV kami belajar banyak hal. Di minggu pertama KKN, satu per satu dari delapan anggota kelompok kami diserang kutu sapi. Awalnya hanya gatal di sela-sela jari, kemudian menyebar hingga seluruh tubuh. Praktis, setiap malam kami berkumpul di ruang tamu bukan untuk bergosip tapi saling mengoles salep anti kudis yang didapat dari puskesmas.

Dari penyakit kutu sapi itu kami malah tertawa, saling mengetawai satu sama lain. “Elu sih si Raja Kudis!” , “Enak aja, lu si ratu kudis!” saling tuding siapa orang pertama yang tertular kudis sudah jadi rutinitas wajib selama KKN, walaupun tak ada satupun yang merasa tersinggung akibat tudingan itu.

Dari kutu sapi ternyata ada pelajaran yang bisa kami petik. Ungkapan berani kotor itu baik memang ada benarnya. Jika kami tidak terserang kutu sapi dan harus saling garuk mengagaruk tiap malam, tentu tak ada hal istimewa untuk kami kenang selama KKN berlangsung, mungkin bisa juga kami akan langsung menghilang tatkala KKN ini usai dilakukan.

Satu hal yang menarik adalah, penderitaan akan menjadi sukacita ketika dilalui bersama dan dengan ikhlas. Keterbatasan yang terjadi membuat kami harus saling bergantung, juga memahami satu dengan lainnya.

Keterbatasan juga adalah Guru Terbaik!

Kami berdelapan memiliki latar belakang yang berbeda, ada yang berasal dari kelas ekonomi menengah atas, atau juga orang biasa. Hari pertama tiba di Jumblangan, kami harus membiasakan diri karena kamar mandi menjadi satu dengan kandang ternak, serta posisinya terbuka membuat siapapun yang mandi bisa diintip dengan mudah.

Kamar mandi yang terbatas masih harus dilengkapi dengan air yang tak melulu ada. Ketika air kering, kami harus memanggul ember ke bawah bukit, mandi laksana bidadari kahyangan. Belum lagi setiap malam listrik harus mati dan membuat kami yang gadget addicted harus bertobat dari ketergantungan.

 

Keterbatasan itu seolah tak berarti ketika kami membandingkannya dengan Simbah Ngatilah dan Wagiran. Merekalah sosok orang tua angkat kami selama satu bulan. Mereka rela rumahnya diusik oleh delapan mahasiswa yang bukan cucu kandungnya. Tapi, mereka tak pernah mengeluh akan kehadiran kami, malahan merasa senang walaupun kami hanya bisa berbicara dalam bahasa Jawa sederhana.

Kini, setelah empat bulan KKN berlalu, akhirnya kami bertemu kembali di Jumblangan, kampung halaman kedua kami. Kami paham dan sadar, selepas ini akan sangat sulit untuk sekedar bertemu. Jarak akan memisahkan, waktu akan menjauhkan dan kesibukan akan melunturkan komunikasi. Namun, satu yang kami percaya, kenangan dan pengalaman yang telah terbangun bersama tak kan memudar begitu saja. Kenangan itu akan tetap hidup dan menjadi perenungan kami tatkala ada kesepian ataupun kesukaran melanda!

Dua sks yang pernah dijalani niscaya jadi pengalaman terbaik! Tak ada teori yang mesti dihafal, namun ada keringat yang harus tercucur, ada amarah yang harus dipendam, ada capek yang mesti disembunyikan, juga ada senyum yang mesti tersebar. Semua itu demi sebuah kebersamaan, kini dan seterusnya!

  • Samigaluh, 22 Mei 2016

Kelompok 92: Paimin, Joko Mprid, Kelik, Sukotjo, Waginah, Denok, Ayu, Zubaedah

foto bareng simbah low res
Kelompok 92 KKN 68 UAJY