Dari Perbukitan Menoreh, Kami Belajar Arti Hidup

Jam telah menyentuh pukul satu dini hari. Delapan anak tergopoh-gopoh memasuki rumah seraya kedinginan, kelaparan, dan kelelahan akibat hujan-hujanan di lapangan kecamatan. Simbah yang telah tertidur jadi terbangun. Tak tega melihat kedelapan anaknya kedinginan, ia pun melupakan kantuknya, bergegas ke dapur, membuat perapian, dan memasak mie rebus untuk kami berdelapan.

Continue reading “Dari Perbukitan Menoreh, Kami Belajar Arti Hidup”

Iklan

5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan

blog2

“Pergi karena semangat, pulang karena rindu.”

Nama Jogja terdengar begitu istimewa, apabila kata itu terucap, tiba-tiba rasa rindu segera mendekap. Seringkali teman-teman bertanya heran, mengapa aku begitu baper dengan Jogja. Apakah ada pengalaman buruk atau manis yang pernah terjadi di sana?

Continue reading “5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan”

Ketika KKN Tak Sekedar Dua SKS

Jalanan di Samigaluh sungguh sepi, tak ada lagi anak muda yang nongkrong bergerombol di minimarket ataupun warung mie ayam di pasar Plono. Papan-papan kayu penunjuk arah telah hilang sempurna. Samigaluh telah kembali ke ritmenya yang sepi dan tenang.

Desember 2015 lalu, kecamatan di utara Kulonprogo ini kedatangan tamu sebanyak 800 orang mahasiswa dari Atma Jaya untuk melakukan KKN  alias Kuliah Kerja Nyata selama satu bulan. Mahasiswa yang hidup di kota mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan atmosfer pedesaan Samigaluh yang terletak di perbukitan Menoreh.

Empat bulan semenjak Kuliah Kerja Nyata (KKN) rampung dilaksanakan, sisa-sisa rasa kangen masih terasa. Selepas KKN, setiap anggota kelompok larut kembali dalam kesibukannya. Ada yang sudah selesai sidang, menanti wisuda, mengejar skripsi, juga ada yang masih kuliah. Ada kelompok lain yang putus hubungan antar anggota, ada pula yang masih berkontak setia.

Eh, ayo ke rumah simbah minggu depan!” celetuk salah satu rekan, dan segera dibalas dengan “Oke!” dari rekan lainnya. Syukur beribu syukur, kelompok kami masih tetap menjaga tali komunikasi meskipun masa KKN telah usai. Bagi kami, sulit untuk membuang begitu saja kenangan selama KKN. Bagaimana tidak, selama satu bulan sejak pagi membuka mata hingga malam mata terpejam kami harus melihat dan tinggal serumah dengan rekan sekelompok.

Kami ditempatkan di rumah keluarga Wagiran, seorang kepala desa Banjarsari yang baiknya bukan main. Rumah Simbah Wagiran terletak di ujung bukit dusun Jumblangan XIV, tak ada tetangga, hanya ada hutan dengan bunyi khas serangganya. Satu bulan kami habiskan disana dengan begitu cepat akibat terlalu menikmati kebersamaan selama KKN.

Jumblangan XIV, Kampung Halaman Kedua Kami

Di kampus, KKN dihargai seharga 2 sks, jauh lebih kecil ketimbang mata kuliah biasa yang umumnya berbobot 3 sks. Walaupun hanya 2 sks, namun KKN jauh lebih ribet ketimbang mata kuliah lainnya. Repotnya KKN sebetulnya bukan karena enggan tinggal di pedesaan, melainkan ada aturan-aturan yang cukup berat serta terkadang koordinasi di kelompok yang tidak rapi.

Selama KKN berlangsung, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus membaur dengan sesama anggota kelompok dan juga induk semang. Bahagia tidaknya kelompok ditentukan dari bagaimana kelompok tersebut memaknai sebuah KKN. Jika antar anggota mementingkan dirinya sendiri, tentu kelompok tersebut akan terjerumus dalam konflik.

Ketika awal dibentuk, masih terjadi jaim di kelompok kami. Pertanyaan “Kamu ya jadi ketua?” langsung segera dibalas dengan “Duh, nggak, jangan aku please. Aku sibuk ,aku gak bisa, aku takut, aku gak berpengalaman, bla bla” . Walaupun, pada akhirnya tetap ada beberapa anggota yang harus ditumbalkan, entah menjadi ketua, bendahara atau sekretaris. Namun, yang jelas ketika jabatan sudah diemban, maka tak ada alasan untuk menolak.

Dari pedukukan Jumblangan XIV kami belajar banyak hal. Di minggu pertama KKN, satu per satu dari delapan anggota kelompok kami diserang kutu sapi. Awalnya hanya gatal di sela-sela jari, kemudian menyebar hingga seluruh tubuh. Praktis, setiap malam kami berkumpul di ruang tamu bukan untuk bergosip tapi saling mengoles salep anti kudis yang didapat dari puskesmas.

Dari penyakit kutu sapi itu kami malah tertawa, saling mengetawai satu sama lain. “Elu sih si Raja Kudis!” , “Enak aja, lu si ratu kudis!” saling tuding siapa orang pertama yang tertular kudis sudah jadi rutinitas wajib selama KKN, walaupun tak ada satupun yang merasa tersinggung akibat tudingan itu.

Dari kutu sapi ternyata ada pelajaran yang bisa kami petik. Ungkapan berani kotor itu baik memang ada benarnya. Jika kami tidak terserang kutu sapi dan harus saling garuk mengagaruk tiap malam, tentu tak ada hal istimewa untuk kami kenang selama KKN berlangsung, mungkin bisa juga kami akan langsung menghilang tatkala KKN ini usai dilakukan.

Satu hal yang menarik adalah, penderitaan akan menjadi sukacita ketika dilalui bersama dan dengan ikhlas. Keterbatasan yang terjadi membuat kami harus saling bergantung, juga memahami satu dengan lainnya.

Keterbatasan juga adalah Guru Terbaik!

Kami berdelapan memiliki latar belakang yang berbeda, ada yang berasal dari kelas ekonomi menengah atas, atau juga orang biasa. Hari pertama tiba di Jumblangan, kami harus membiasakan diri karena kamar mandi menjadi satu dengan kandang ternak, serta posisinya terbuka membuat siapapun yang mandi bisa diintip dengan mudah.

Kamar mandi yang terbatas masih harus dilengkapi dengan air yang tak melulu ada. Ketika air kering, kami harus memanggul ember ke bawah bukit, mandi laksana bidadari kahyangan. Belum lagi setiap malam listrik harus mati dan membuat kami yang gadget addicted harus bertobat dari ketergantungan.

 

Keterbatasan itu seolah tak berarti ketika kami membandingkannya dengan Simbah Ngatilah dan Wagiran. Merekalah sosok orang tua angkat kami selama satu bulan. Mereka rela rumahnya diusik oleh delapan mahasiswa yang bukan cucu kandungnya. Tapi, mereka tak pernah mengeluh akan kehadiran kami, malahan merasa senang walaupun kami hanya bisa berbicara dalam bahasa Jawa sederhana.

Kini, setelah empat bulan KKN berlalu, akhirnya kami bertemu kembali di Jumblangan, kampung halaman kedua kami. Kami paham dan sadar, selepas ini akan sangat sulit untuk sekedar bertemu. Jarak akan memisahkan, waktu akan menjauhkan dan kesibukan akan melunturkan komunikasi. Namun, satu yang kami percaya, kenangan dan pengalaman yang telah terbangun bersama tak kan memudar begitu saja. Kenangan itu akan tetap hidup dan menjadi perenungan kami tatkala ada kesepian ataupun kesukaran melanda!

Dua sks yang pernah dijalani niscaya jadi pengalaman terbaik! Tak ada teori yang mesti dihafal, namun ada keringat yang harus tercucur, ada amarah yang harus dipendam, ada capek yang mesti disembunyikan, juga ada senyum yang mesti tersebar. Semua itu demi sebuah kebersamaan, kini dan seterusnya!

  • Samigaluh, 22 Mei 2016

Kelompok 92: Paimin, Joko Mprid, Kelik, Sukotjo, Waginah, Denok, Ayu, Zubaedah

foto bareng simbah low res
Kelompok 92 KKN 68 UAJY