Kado Merantau dari Tuhan

Kadang, merantau itu sedih, tapi terkadang juga mengasyikkan. Intinya, ketika merantau ada banyak dinamika pahit manis yang dialami. Kita belajar buat menerima, juga melepas, dan terpenting belajar untuk hidup di macam-macam keadaan. Continue reading “Kado Merantau dari Tuhan”

Iklan

Sepanjang Jalan Kereta Malam

Tidur di atas gerbong kereta bisa jadi tidak senyaman terlentang di atas kasur busa. Kursi keras dan tegak yang bikin sakit punggung dan penumpang sebelah yang makan tempat menambah bumbu nikmat perjalanan malam naik kereta api. Walaupun sekarang kereta api telah banyak berbenah hingga kereta ekonomi pun dipasang AC, tapi tetap ada sensasi yang terpatri dari gerbong kereta api.

Aku lebih suka perjalanan malam ketimbang perjalanan siang, untuk apapun itu. Termasuk ketika harus mudik naik sepeda motor sendirian dari Jogja ke Bandung, aku tetap memilih perjalanan malam. Alasannya simpel, tidak macet dan lebih adem, walau faktor bahaya lebih tinggi ketimbang perjalanan siang.

Berpuluh-puluh kali sudah aku menaiki kereta api lintas selatan Jogja-Bandung, sampai khatam setiap stasiun yang dilalui oleh kereta. Jika perjalanan pergi menaiki kereta pagi, maka perjalanan kembali ke Jogja selalu kupilih di malam hari. Perjalanan pagi membawa kita menikmati indahnya alam sepanjang perjalanan. Perjalanan malam di tengah gulita membawa kita menyelami makna dari hidup yang kita jalani.

Tepat seminggu lalu, tanpa ada rencana, di pagi-pagi buta aku mengepak ransel secara ringkas dan langsung menuju stasiun Tugu. Tujuanku hanya satu, mengunjungi Bandung selama dua malam untuk menengok “tuyul-tuyul” keponakanku yang kini telah beranjak besar. Seusai menuntaskan hasrat kangen, jarak sejauh 388 Km antara Bandung dan Yogyakarta kutempuh kembali, kali ini menaiki kereta malam.

Malam ini seluruh kursi telah penuh berhubung dengan akhir minggu. Di gerbong keempat, duduk seorang mahasiswa pasca-sarjana S2 di sebelahku. Dia lebih memilih menonton film di laptopnya ketimbang berbincang, maka kupilih juga buku untuk kubaca dan membunuh waktu selama sembilan jam. Di sela-sela menunggu jam berangkat, tiga orang ibu-ibu berakses Batak duduk bersamaan di kursi depan kami. Ternyata, kursi yang mereka duduki bukanlah kursi yang sesuai dengan tiket mereka. Tak mau berpencar, mereka “mengusir” setiap penumpang lainnya. Taktik si Ibu-ibu tersebut harus dikalahkan tatkala seorang ibu lainnya yang menggendong dua anak harus duduk di kursi 16 A, B dan C yang telah ditempati. Terjadi cek-cok sedikit hingga tiga ibu-ibu tadi mengalah dan kembali ke posisi kursi sesuai dengan nomor tiketnya.

Ketegangan mereda, lambat namun pasti kereta melaju meninggalkan gemerlap Bandung menuju timur yang lebih gulita. Suara obrolan penumpang mulai melemah ditelan malam, namun masih ada yang tetap terjaga. Di deretan kursi belakang, seorang ibu bergantian dengan suaminya berusaha menenangkan bayi mereka yang jenuh. Khawatir akan mengusik kenyamanan penumpang lain, mereka menyingkir menuju bordes seraya menimang-nimang buah hatinya. Tak sedikit waktu yang mereka habiskan, nyaris satu jam berdiri di dekat bordes hingga sang bayi pun menyerah untuk lanjut menangis.

Memasuki stasiun Cipeundeuy, kereta berhenti selama lima belas menit. Semenjak diberlakukannya sterilisasi stasiun, tak ada lagi pedagang yang bisa berjualan di area peron, Stasiun Cipeundeuy pun tak terkecuali. Lima orang ibu-ibu dengan logat Sunda yang kental berteriak lantang di balik pagar stasiun. “Kacang, pop mie, teh panas, kopi panas, tahu tahu, panas…” Namun teriakan mereka tak cukup terdengar hingga ke dalam gerbong. Hanya sedikit penumpang yang turun dan membeli dagangan mereka, umumnya hanya kaum pria yang turun karena curi-curi kesempatan merokok.

Merasa kecewa namun tak mau menyerah, seorang ibu berteriak lebih lantang, “Sok atuh, pop mie panasss, kopi kopi, tahuuu, lima rebu sakarung sok lah!!”, “Sok atuh pada beli, pak Jokowi, pak Ahok coba aya didie ngelihat kita,” lalu diiringi tawa tipis dari pedagang lainnya. Aku tak pernah absen jajan ketika kereta berhenti di stasiun Cipeundeuy. Prinsipku ketika membeli jajanan hanyalah satu, suatu penghargaan atas ibu-ibu ini yang rela bekerja siang malam. Mungkin, satu pop mie seharga Rp 9.000,- yang kubeli turut membuat dapur keluarga si ibu mengebul untuk hari ini bahkan besok. Aku percaya, satu batang rokok, ataupun segelas kopi panas yang mampu terjual hari itu merupakan sukacita mendalam bagi sang ibu.

Kereta pun kembali melaju, kali ini lebih cepat karena trek telah mendatar. Tersisa keheningan, hanya deru roda besi beradu dengan rel. Perenunganku menjalar, sebuah perjalanan biasa hari ini memberikan kesan mendalam. Terlebih ketika aku sedang mengerjakan skripsi, aku butuh motivasi kuat yang tak sekedar motivasi, melainkan suatu dorongan yang mampu memecutku untuk bergerak.

Perjalanan kereta malam mungkin sederhana. Beberapa orang memaknainya dengan tidur sepanjang jalan dan tahu-tahu terbangun sudah di tujuan. Bisa seperti itu, atau mungkin juga menjadikan malam sepanjang jalan sebagai momen reflektif.

Selalu ada yang terjaga setiap malam

Ketika kita bisa tidur nyenyak dan bermimpi, nyatanya ada banyak orang yang tak memiliki kesempatan untuk tidur. Jika malam didesain sebagai waktu beristirahat, teryata ada orang yang pekerjaannya tak memberi mereka waktu tidur. Masinis, petugas stasiun mereka harus terbangun sepanjang malam untuk memastikan keselamatan ratusan penumpang dalam suatu kereta.

Seorang ibu yang harus menimang anaknya sepanjang perjalanan. Tentu ia pun lelah ingin tertidur, tapi cintanya pada anak mampu mengalahkan lelah dan kantuknya. Pedagang-pedagang di stasiun yang tak kenal kata lelah, tetap berjualan dan berharap rezeki dari kereta yang hilir mudik. Juga para perawat di rumah sakit, dokter, petugas kurir, petugas keamanan dan pekerjaan lainnya yang tak membiarkan malam mereka dilarutkan dengan tidur.

Dalam Malam Gulita pun Ada Harapan

Tiap hari A saya mah disini, tiap malem. Ya, moga ada penumpang yang lapar dan pengen makan makanya saya tetep jualan disini,” ucap seorang pedagang di balik pagar besi stasiun. Ibu-ibu ini bisa saja berpikir, “ah, udah tengah malam begini penumpang semua pasti tidur, mana ada yang mau beli makan,” tapi mereka tetap yakin kalau ada penumpang yang akan membeli dagangan mereka.

Suatu hal yang sederhana, namun didasari atas iman yang kuat. Tanpa dagangan yang terjual, tak ada asap yang membumbung di dapur, tanpa ada asap dapur maka keluarga pun menjadi taruhan. Hidup para ibu-ibu ini adalah hidup yang keras dimana perjuangan mereka menyentuh hal paling primer dari hidup manusia.

Menutup cerita ini, perjalanan kereta malam memberikan perenungan, akan perjalanan panjang yang memiliki likunya. Selamat menikmati perjalanan, jangan lupa jajan di stasiun Cipeundeuy 😉