Melihat Kereta Api dari Selembar Kartu Pos

Sewaktu masih duduk di bangku SD dulu, saya sering diajak pulang kampung ke kota kelahiran ibu di Jombang, Jawa Timur. Tak jauh dari rumah tempat ibu saya dulu dilahirkan, teronggok rel tua yang tak lagi utuh. Bantalannya sudah tiada. Beberapa bagian relnya patah. Lagipula, rel itu tidaklah panjang, hanya beberapa meter kemudian terkubur di bawah bangunan rumah tembok dan jalan aspal. Continue reading “Melihat Kereta Api dari Selembar Kartu Pos”

Argo Parahyangan: Dulu Terabaikan, Kini Jadi Primadona

Interior eksekutif-8 KA Argo Parahyangan Tambahan

Sebagai orang Bandung yang bekerja di Jakarta, untuk urusan bepergian di antara kedua kota ini saya lebih memilih menaiki kereta api. Ada beberapa kelebihan yang bisa didapat dari kereta api, antara lain: tarifnya bersahabat, waktu tempuhnya yang tidak lama-lama amat, dan tentunya bebas macet. Continue reading “Argo Parahyangan: Dulu Terabaikan, Kini Jadi Primadona”

Menjajal KA Jayakarta Premium, Kereta Ekonomi Rasa Eksekutif

Hari Selasa (23/01) yang lalu, saya mencoba perjalanan Yogyakarta-Jakarta dengan sensasi baru. Jika biasanya saya selalu menaiki kereta api ekonomi lawas seperti Bengawan atau Progo, kali ini saya menaiki KA Jayakarta Premium, sebuah kereta kelas ekonomi yang digadang-gadang memiliki rasa eksekutif. Continue reading “Menjajal KA Jayakarta Premium, Kereta Ekonomi Rasa Eksekutif”

Kebahagiaan yang Saya Alami di Atas Rel

Bicara soal bahagia, setiap orang punya definisi masing-masing tentang apa itu bahagia. Ada yang bilang bahwa bahagia itu kalau punya uang banyak. Ada yang bilang bahwa bahagia itu kalau hidup bebas dari masalah dan bisa tidur nyenyak. Jika ditanyakan satu-satu, mungkin ada jutaan definisi tentang apa artinya bahagia. Continue reading “Kebahagiaan yang Saya Alami di Atas Rel”

Ketika Jarak Tak Lagi Berarti

Perjalanan di atas kereta ekonomi selalu membuahkan banyak cerita. Kali ini ceritanya adalah tentang perjuangan cinta yang membuat jarak tak lagi berasa. Antara Jogja dan Jakarta terbentang jarak 500 kilometer lebih. Tapi, karena satu alasancintalima ratus kilometer itu tak lagi berarti. Continue reading “Ketika Jarak Tak Lagi Berarti”