Sebuah Amplop (Lagi) dari Jerman

Minggu kemarin (24/9), saya menerima sebuah pesan Whatsapp dari seorang kerabat di gereja. “Ada surat buatmu dari Jerman,” katanya. Saya mengernyit. Sebelumnya tidak ada pemberitahuan terlebih dulu dari Johannes Tschauner (Jo), sahabat saya yang berada di Jerman kalau dia akan mengirimkan sepucuk surat ke Indonesia. Continue reading “Sebuah Amplop (Lagi) dari Jerman”

Iklan

Mengapa Harus Membeli kalau Tidak Butuh?

Beli1Hari itu Minggu sore. Seorang bocah lelaki menghampiriku dengan baju sedikit basah karena kehujanan. Di tangan kanannya ada dua buah kemasan tissue, sedangkan di tangan kirinya ada sebuah kantong plastik besar berisikan puluhan kemasan tissue.

“Kak, dibeli tissuenya, 5 ribu satu,” ucapnya kepadaku dengan nada lesu. Menanggapi penawarannya, pertama-tama aku membalasnya dengan tersenyum. “Kok hujan-hujanan dek?” tanyaku padanya. Dia tidak menjawab, hanya tersenyum tipis kemudian menunduk.

Kuambil dua buah tissue dari tangan kanannya. Alih-alih langsung membayar, kuajaknya duduk sejenak di kursi kosong sebelahku seraya menunggu hujan. Bukan sebuah kebetulan, saat itu aku membawa serta aneka camilan yang sedianya akan kubawa ke kantor di Jakarta. Melihat anak itu duduk di sampingku, kusodorkan kantong plastik berisi aneka camilan itu padanya.

“Kamu mau yang mana, nih ambil yang kamu mau,” kataku. Tanpa bertanya lebih lanjut, bocah itu mengulurkan tangannya ke dalam kantong dan mulai memilih makanan mana yang hendak dia ambil. Pilihannya jatuh pada sebungkus astor cokelat. Kemudian dia memasukkan astor itu ke dalam kantong plastik hitam yang dibawanya.

“Ambil satu lagi gih, tadi kan yang manis, sekarang ambil yang asin,” kataku lagi. Kembali dia memasukkan tangannya ke dalam kantong makanan itu dan diambilnya seplastik kerupuk pedas. Ekspresinya pun berubah, kemudian ada senyum lebar tersungging dari wajahnya hingga akhirnya kami menjadi akrab dan mengobrol.  

Ditemani hujan yang rintik, bocah tadi bercerita tentang keluarganya. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Setiap sore dia berjualan tissue di sepanjang jalan Cihampelas. Tak peduli terik maupun hujan, yang dia tahu hanyalah berjualan tissue untuk membantu orangtua dan adik-adiknya. Ketika ada orang yang membeli jualannya, ia akan berterima kasih, namun apabila ada orang-orang yang menolak jualannya, ia akan berlalu dan pergi kepada orang yang lain, demikian seterusnya.

Ketika aku melihat senyum lebar di wajah bocah kecil itu, hatiku yang semula hambar berubah menjadi penuh rasa. Sejenak aku lupa tentang cicilan dan uang kost yang harus kubayar di awal bulan nanti. Senyum sumringah anak tadi begitu polos dan menegurku. Bocah ini mampu tersenyum penuh syukur ketika tangannya menggenggam dua plastik camilan yang harganya tidak seberapa.

Ketika hujan akhirnya reda, kusodorkan selembar uang dua puluh ribuan kepadanya. “Ambil kembaliannya buat kamu, dek,” kataku lagi kepadanya. Dia pun mengangguk, mengucapkan terima kasih dan kembali melanjutkan pekerjaannya sebagai penjaja tissue keliling.

Pertemuan sore itu membuatku merenung sepanjang jalan menuju Jakarta. Di tengah kemacetan jalan tol yang seolah tak berujung, wajah anak tadi terus terbayang. Aku membayangkan bagaimana keluarganya, juga masa depannya kelak. Dari bocah kecil itu kembali disadarkan kalau semua di dunia ini relatif. Kekayaan seringkali tidak bisa diukur dari deretan angka di rekening, tapi dari seberapa puas diri kita dengan apa yang ada.

Aku mungkin tidak membutuhkan dua kemasan tissue itu, tapi aku butuh untuk belajar memberi. Dari memberi, aku pun diberi. Selembar uang yang kuberikan kepada bocah itu bisa jadi memberi sukacita bagi dia dan seisi rumahnya.

Aku teringat akan perkataan sang Guru Agung yang menjadi panutanku. “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, apa saja yang telah kamu lakukan kepada seseorang yang terkecil dari saudara-saudara-Ku ini, kamu telah melakukannya kepada-Ku.”

Jika saat itu sang Guru Agung ditawari tissue oleh bocah kecil tadi, mungkin dia akan melakukan hal serupa sepertiku. Atau, bisa jadi juga dia akan melakukan lebih dari sekadar yang kulakukan, yaitu memberi kelegaan dan sukacita yang abadi.

Bandung, 26 Maret 2017

beli2

Natal: Sebuah Perjalanan Pulang

Semenjak kuliah, aku jarang pulang ke rumah saat Natal tiba. Dengan alasan hemat ongkos, aku memilih berdiam di kost dan mengerjakan aktifvitas lain, toh orang tua juga tidak menuntut aku untuk pulang. Tapi, kini setelah aku bekerja, pemikiranku berubah. Jika dahulu pulang sebagai sesuatu yang opsional, kini pulang adalah kerinduan.

Menghabiskan hari-hari di tempat kerja sejak matahari terbit hingga tenggelam bisa jadi rutinitas yang membosankan. Tatkala akhir pekan tiba, pulang ke rumah adalah salah satu cara untuk recharge kembali semangat yang terkuras habis. Beruntung rumahku berlokasi di Bandung, cukup dekat dari Jakarta dan tidak harus merogoh kocek terlalu dalam.

Tahun-tahun sebelumnya, aku pernah melewatkan Natal di rumah, tetapi hatiku tidak berada di sana. Hatiku terpusat pada apa yang bisa kulakukan dengan teman-teman di libur Natal, tentang pergi ke tempat baru, atau sekedar hang out untuk mengobrol. Itu tidaklah salah sejatinya, toh memang dengan hadirnya liburan Natal, teman-teman dari berbagai daerah bisa pulang dan itu jadi momen yang pas untuk bertemu.

Memaknai Natal tahun ini membawa pikiranku terbang ke masa ketika kisah Natal pertama berlangsung. Natal sejati dimulai dari sebuah keluarga, yap, keluarga kudus yang terdiri atas Yusuf, Maria dan bayi Yesus. Sang Juruselamat yang adalah Tuhan tidak memilih untuk datang secara tiba-tiba dalam wujud dewasa, melainkan dari titik paling awal hidup manusia yaitu dari kandungan seorang ibu.

Berbicara soal keluarga, dulu aku sempat pesimis tentang keluargaku. Bagiku tak mungkin ada harapan untuk keluargaku bisa bersatu, duduk bersama, tertawa dan melewatkan tanggal merah bersama. Belasan tahun waktu berlalu, pesimismeku dahulu terkikis oleh harapan yang terus menyala.

Terkadang, juga seringkali Tuhan tidak menjawab doa kita dengan mengubahkan keadaan. Aku tahu kalau Ia maha kuasa, tetapi Ia maha bijak. Tuhan tahu kapan dan bagaimana kuasa-Nya harus dinyatakan. Ketika kita berdoa, seringkali yang Ia ubahkan pertama adalah cara pikir kita akan sesuatu. Banyak permasalahan terjadi hanya karena kita tidak bisa memandang masalah itu dari kacamata sang Pencipta.

Aku pernah memandang keluargaku sebagai bencana, sebagai sebuah tempat yang penuh pertengkaran. Tuhan tidak serta merta mengubahkan keluargaku, tapi pertama kali ia ubah cara ku memandang keluarga. Ia bukakan mataku tentang perjuangan papa yang bekerja banting tulang berjualan siomay batagor. Sekalipun ia jarang menanyaiku, juga sering membentak, tapi di situlah letak cintanya. Cinta papa bukan diwujudkan dalam kata-kata romantis ataupun memberi pelukan dan benda-benda mahal. Tapi, wujud cintanya yang sejati adalah pada kerjanya, bentakannya, rasa marahnya juga bawelnya.

Aku tersadar kalau selama ini dalam hidup kita cenderung membandingkan diri dengan orang lain, padahal setiap orang, juga keluarga memiliki style nya masing-masing. Tidak menelpon bukan berarti lupa dan marah bukan berarti benci. Semua kembali tergantung pada cara kita memandang sesuatu.

Perubahan besar tidak pernah terjadi tanpa perubahan kecil. Ibarat seseorang jatuh tersandung bukan karena batu besar, tapi karena kerikil, demikian jugalah hidup. Cara pikir yang berbelas kasih dan mau memahami orang lain adalah kunci dari pemulihan. Jangan pernah berdoa dan berharap mau keadaan berubah kalau otak kita tidak mau diubahkan dahulu.

Natal di tahun 2016 ini menjadi Natal yang berbeda untukku. Suatu masa Natal yang kumaknai sebagai perjalanan pulang, kembali ke titik nol hidupku, kepada keluarga. Kutinggalkan Jakarta sejenak dan kusambut keluarga di rumah.

“What can you do to promote world peace? Go home and love your family.” – Mother Teresa