Editor, Bukan Sekadar Duduk di Kantor

Kepalaku pening setelah menatap layar laptop berjam-jam. Bokongku juga seolah sudah menempel sempurna dengan kursi. Dari langit terang hingga gelap, tulisan-tulisan seolah tidak pernah habis untuk diedit. Rutinitas edit-mengedit ini sepintas terlihat mudah karena editor seolah hanya duduk santai dan berurusan dengan untaian kata dan tanda baca, berbeda dengan jurnalis yang harus pergi sana-sini meliput aneka kejadian. Tapi, tanggung jawab seorang editor bukan sekadar ‘polisi’ tulisan yang sensitif terhadap EYD dan tanda baca, ataupun bukan pula ongkang-ongkang kaki di atas kursi. Lebih dari itu, seorang editor bertanggung jawab membantu penulis menghasilkan tulisan yang terbaik.

Continue reading “Editor, Bukan Sekadar Duduk di Kantor”

Iklan

Sekelumit Ceritaku Sebagai Seorang Editor

Pekerjaan adalah panggilan hidup. Kalimat ini sekilas terdengar klise buatku yang waktu itu masih tidak tahu apa panggilan hidupku sebenarnya. Menjelang lulus kuliah, panggilan hidupku adalah untuk bekerja mencari gaji besar, hidup mapan, orangtua bahagia, dan pokoknya segalanya baik. Tapi, lewat waktu demi waktu, lambat laun aku mulai menyadari apa yang menjadi panggilan hidupku sebenarnya.

Continue reading “Sekelumit Ceritaku Sebagai Seorang Editor”

Bantul, 1 Mei 2017: Ketika Pilihan Karier Kami Jatuh Bukan di Tempat Profit

resiz

Hari itu adalah hari buruh internasional. Ketika jagad media berisik membahas demo di Jakarta yang berujung bakar-bakaran bunga, kami bertemu di sebuah gang sempit, tepatnya di warung mangut lele yang paling terkenal se-antero Yogyakarta. Sambil mencicip ikan lele bertabur cabe, keringat bercucuran membasahi wajah, tapi pembicaraan kami hari itu bukan tentang lezatnya ikan lele, melainkan tentang sebuah topik yang cukup berat, yaitu idealisme.

Continue reading “Bantul, 1 Mei 2017: Ketika Pilihan Karier Kami Jatuh Bukan di Tempat Profit”

Apa Nikmatnya Seharian Bekerja Hanya di Depan Komputer?

Aku hampir tidak percaya kalau saat aku menuliskan cerita ini, ternyata sudah lebih dari empat bulan kulalui di Jakarta. Perlahan tetapi pasti aku pun larut dalam rutinitas khas ibukota—masuk pagi, duduk berjam-jam di hadapan layar komputer, pulang, dan itu berlanjut setiap harinya sembari berharap akhir pekan datang lebih cepat.

Awalnya aku sempat menolak untuk hidup seperti ini, hingga lambat-laun ada kejadian-kejadian kecil yang membuatku menyadari betapa istimewanya sebuah panggilan karier yang sedang kulakukan saat ini.

Ketika impian tidak selaras dengan kenyataan

Sebagai anak muda di usia 20an, semangatku masih sangat membara dan jiwaku ingin dipenuhi petualangan. Namun, perlahan impian-impian itu semakin melunak mengikuti dengan kenyataan yang memang terjadi. Aku tidak mendapatkan pekerjaan sebagai seorang wartawan yang harus turun langsung ke lapangan untuk meliput kejadian. Aku bekerja sebagai seorang penulis dan editor—sebuah pekerjaan yang awalnya aku sendiri pun tidak tahu.

Sebenarnya aku sempat melayangkan protes kepada Tuhan. “Kayaknya aku salah deh, aku seolah gak hidup kalau rutinitasku begini terus. Pergi pagi, pulang malam, begitu terus,” keluhku selama hampir dua bulan penuh. Lama-lama, keluhan-keluhan yang kunaikkan itu menjadi motivasiku. Aku jadi tidak bersemangat melakukan apapun, termasuk menulis. Sekalipun aku menulis dan mengedit, rohku tidak merasuk dalam setiap kata-katanya.

Aku tidak melihat ada keistimewaan di balik mengedit puluhan tulisan yang masuk setiap bulannya. Merapikan susunan kata, memperbaiki EYD, dan menuangkan ideku ke dalam tulisan kuanggap sebagai rutinitas yang menjemukan. Akhirnya, mau tidak mau, hidupku dikendalikan oleh mood yang selalu negatif. Belum lagi ketika kenangan masa lalu itu datang, dengan segera aku akan merasa sedih dan menyesali keadaan saat ini.

Bulan lewat bulan berlalu, aku berusaha menemukan diriku untuk larut dalam setiap aktivitas yang kulakukan. Aku tidak mungkin memberkati orang-orang lewat setiap kata yang kurangkai apabila aku sendiri tidak menemukan sukacita dalam pekerjaan itu. Berbagai upaya kulakukan, mulai dari membaca buku, bertemu teman, hingga pergi berdoa ke Katedral pun kulakoni demi menemukan jiwaku kembali.

Kejadian kecil yang menegurku

Di penghujung bulan Februari aku merasa kalau semangat hidupku berada di titik nadir. Aku berusaha mencari semangat itu kesana-kemari, tetapi tak juga kutemukan semangat itu. Akhirnya aku pun menyerah dan mulai pasrah dengan apa yang akan terjadi di depanku. Jika di hari-hari selanjutnya semangatku tak kunjung bangkit, maka aku pikir kesudahan karierku akan dekat.

Tapi, aku salah besar. Dia yang memulai pekerjaan baik di dalamku, Dia juga yang akan menuntunku ke dalam rencana-Nya.

Suatu ketika, ada sebuah artikel yang kutulis tentang masa lajang. Ya, aku adalah seorang lelaki single yang belum pernah sekalipun merasakan indahnya berpacaran seumur hidup.

Saat artikel itu selesai ditulis dan diterbitkan di website tempatku bekerja, ternyata artikel itu laris manis. Secara kuantitas memang tidak terlau banyak, tapi ada banyak sekali pembaca yang merespon tulisan itu. Ada yang meresponnya dengan meninggalkan komentar di akhir tulisan, bahkan ada pula yang mengirimiku pesan langsung lewat media sosial.

Kemudian, beberapa minggu setelahnya aku menerima sebuah tulisan yang berisikan kesaksian sederhana dari seorang perempuan. Tulisan itu berkisah tentang keluarganya yang tak punya uang untuk membeli kentang, padahal besoknya sang ibu harus berjualan donat yang terbuat dari kentang.

Penulis cerita itu tidak putus asa. Dia masuk ke dalam kamarnya dan berdoa, dan sekalipun ini zaman modern, ternyata mujizat masih terjadi. Ketika ayahnya pulang, mereka menemukan dua buah kentang lainnya di kolong tangga. Singkat cerita, dengan dua kentang itu sang ibu dapat membuat donat dan berjualan keesokan harinya.

Awalnya kupikir cerita itu terlalu sederhana dan tidak akan menarik banyak pembaca. Tapi, aku salah besar! Dalam beberapa jam setelah artikel itu ditayangkan, artikel itu dibaca oleh ribuan orang, dan dibagikan ulang oleh beratus-ratus orang. Aku tercengang, bukan semata-mata karena kuantitas pembaca yang banyak, tapi kepada kesederhanaan cerita itu yang membuat orang sadar kalau doa itu masih memiliki kuasa.

Hmmmm, kejadian-kejadian itu membuatku sadar diri. Selama ini aku terlalu berfokus kepada hal-hal yang besar hingga aku lupa kalau hal besar itu sendiri disusun dari hal-hal kecil. Terlalu berfokus pada hal besar membuatku kehilangan kenikmatan dalam bekerja. Aku kehilangan setiap detik berharga dan membiarkan rohku menguap, tak lagi bersama kata-kata yang kutulis.

Segera setelah aku menyadari itu, aku memohon ampun kepada sang Pencipta. Aku tahu kalau Dialah yang mengizinkanku hadir dalam pekerjaan ini. Ketika aku tidak menikmati pekerjaan ini, tentu aku tidak sedang menghormati Dia yang memberikan pekerjaan ini kepadaku.

Pola pikir adalah segalanya

Ketika kita berdoa, jarang sekali Tuhan mengubah keadaan kita dengan segera, atau mungkin juga Dia takkan pernah mau mengubah keadaan kita. Tapi, satu yang aku tahu adalah Dia mau kita yang berubah pertama kali.

Sampai detik ini, pekerjaanku tetap sama–duduk di depan layar komputer berjam-jam, tapi aku telah menemukan jiwaku hadir dalam pekerjaan ini. Dulu aku mencari semangatku yang hilang ke berbagai tempat hingga aku menyadari bahwa semangat itu tidak ditemukan di tempat lain, tapi di dalam diriku sendiri.

Sekalipun aku pergi jauh-jauh ke gunung dan pantai untuk mencari inspirasi, tetapi ketika aku tetap mengeraskan hati dan menutup mata akan hal-hal kecil, semuanya tidak ada artinya.

Pekerjaan adalah sebuah panggilan. Ya, panggilan untuk mengisi dompet dengan uang, dan mengisi jiwa dengan pengalaman. Aku menemukan petulanganku dari setiap kata yang kuketik, dari setiap tulisan yang kuedit, dari setiap cerita yang puluhan teman-teman kontributor kirimkan.

Petualangan itu tidak harus selalu tentang bagaimana aku pergi berpindah tempat, tapi tentang di mana aku dapat menaklukan tantangan yang menghadang. Ketika aku merasa bosan, maka petualangan yang harus kulakukan adalah mencari jalan untuk membunuh rasa bosan itu. Ketika aku merasa putus asa, maka petualanganku adalah mencari jalan kelegaan.

Ada petualangan dari setiap untaian kata yang dikirimkan oleh kontributor. Dari kata-kata mereka, aku seolah dibawa masuk menyelami kehidupan dan pergumulan mereka. Percaya atau tidak, itulah yang membuatku kaya! Ya, kaya akan cerita kehidupan. Ada sukacita dari merangkai kata. Ibarat sebuah permadani yang indah, kata-kata ini adalah benang-benang kecil yang menjadikan permadani itu sebagai suatu kesatuan yang indah.

Menutup tulisan ini, ada sebuah kutipan yang ingin kuambil dari tulisan Stephie Kleden-Beetz dalam bukunya yang berjudul Cerita Kecil Saja:

“Bila pena sudah berbuah, ada yang senang karena disanjung, tak sedikit yang khawatir merasa disindir. Majunya sebuah negeri tidak hanya diukur oleh alat-alat elektronik yang canggih atau komputer yang super. Maju atau “dalam”-nya sebuah negeri justru diukur oleh kesusastrannya. Inilah kekayaan rohani negeri mana pun. Teknik boleh terus maju, tetapi roh harus tetap hidup dan jaya. Roh semacam ini tersembunyi di dalam sastra, perbendaharaan negeri yang harus dipupuk.”

Ada kuasa dalam berkata-kata

Ada sukacita dalam menyunting setiap kata

Jika aku merasa lelah dan hidupku seolah rata

Aku harus ingat kalau Tuhanku tetap beserta….
Jakarta Barat, 30 Maret 2017

Petualanganku Menjadi Seorang Content Developer

Tidak terasa, tepat hari ini satu bulan telah berlalu sejak hari pertamaku kerja dimulai. Berpindah kota dari Jogja ke Jakarta bukanlah perkara yang mudah, aku butuh berminggu-minggu untuk melarutkan diriku bersama dengan ritme kota khas metropolitan. Aku memang pernah terpikir untuk kerja di Jakarta saat masih mahasiswa dulu, tapi tak pernah membayangkan juga kalau itu akan jadi kenyataan.

Continue reading “Petualanganku Menjadi Seorang Content Developer”