5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan

blog2

“Pergi karena semangat, pulang karena rindu.”

Nama Jogja terdengar begitu istimewa, apabila kata itu terucap, tiba-tiba rasa rindu segera mendekap. Seringkali teman-teman bertanya heran, mengapa aku begitu baper dengan Jogja. Apakah ada pengalaman buruk atau manis yang pernah terjadi di sana?

Continue reading “5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan”

Iklan

Sabang, Potret Keindahan Pariwisata Aceh

Sabang bisa jadi tidak setenar Bali, namun Sabang setidaknya selalu jadi daerah yang turut disebut ketika orang mengatakan Nusantara yang membentang luas hingga Merauke di timur. Sebetulnya, ada pulau yang lebih barat lagi daripada Sabang, yaitu pulau Rondo. Namun, pulau Rondo hanya dijadikan tempat mercusuar saja mengingat ukurannya yang kecil.

Selepas Banda Aceh, tepatnya pada 1 Juli 2015 kami melanjutkan perjalanan menyeberangi selat antara Sumatra dan Pulau Weh. Ferry bertolak dari pelabuhan Ulee-Lheue pukul 14:30 dan melesat lambat ke tengah lautan nan biru. Kala itu kami tak memiliki gambaran apapun soal keindahan Sabang, tapi lautan biru sepanjang perjalanan membuat kami yakin kalau Sabang layak mendapat predikat surga.

IMG_3078
Berlayar menuju Sabang menggunakan Ferry

Kelelahan akibat perjalanan semalam suntuk dari Binjai ke Banda Aceh, kami pun tertidur hingga beberapa saat sebelum Ferry berlabuh. Sekitar tiga jam kurang, Ferry mulai bersiap merapat ke Pelabuhan Balohan. Ketika kami menghampiri geladak, lautan nan biru menghampar luas dihiasi dengan bukit-bukit hijau yang menandakan kami semakin dekat dengan Pulau Weh.

Butuh waktu sekitar 30 menit untuk Ferry merapat sempurna di dermaga. Penumpang yang tak sabaran mulai berebut turun, ada yang dorong-dorongan bahkan ada pula yang memanjat pagar ketimbang menunggu antrian lancar.Tak acuh dengan ratusan penumpang lainnya, senyum tipis mengembang di wajah kami. “Sabang, kami segera datang!”

IMG_3093
Sesaat sebelum merapat di Pelabuhan Balohan

Seperti biasa, puluhan ojek dan penyewa mobil merangsek masuk ke antara kerumuman penumpang untuk mencari turis. Kami pun tak luput dari incaran, beragam penawaran mereka berikan. “Sir, need homestay? come with me!” sahutnya. Namun, kami menolak karena kami sudah menetapkan untuk mencari persewaan motor di Pelabuhan Balohan.

Keluar dari gerbang pelabuhan kami menemukan sebuah kios kecil bertuliskan sewa motor, namun kios itu tutup dan kami kebingungan. Seorang pemuda menghampiri kami sambil mengendarai sepeda motor Yamaha Mio tanpa spion dan helm. Dia menawarkan untuk menyewakan motor dengan harga Rp 150.000,- per hari. “Wah! Mahal kali bang, kami tak ada uang segitu besar, cuma mahasiswa dari Jogja. Lima puluh lah sehari, kami pakai lima hari!” tawarku. Namun, ia menolak dengan tetap mematok harga Rp 100.000,-

Kondisi saat itu adalah sama-sama butuh. Kami butuh motor untuk berkeliling Sabang sedangkan dia juga butuh uang. Akhirnya kami sepakat di harga Rp 70.000,- per hari. Ya sudah, tak apalah pikir kami, toh, motornya juga masih baru walaupun tak ada spion dan helm.

Pukul 16:00 transaksi sewa menyewa selesai. Tak ada kwitansi ataupun uang jaminan. Cukup hanya KTP yang dititipkan, setelah itu motor bebas dibawa sesuka hati. Perjalanan kami dimulai menuju Pantai Iboih yang menurut Lonely Planet adalah spot terbaik untuk menikmati Pulau Weh.

IMG_3156
Iboih nan sepi

Kami harus menempuh jarak 40 Km untuk tiba di Iboih. Tapi, jarak bukan hambatan karena jalan di Pulau Weh ini sangat mulus, nyaris tak ada lubang di setiap ruasnya. Jalanan akan menanjak dan melewati gapura bertuliskan “Selamat Datang di Sabang, Titik Nol Indonesia” kemudian jalan mulai berkelok dan memasuki belantara yang masih terjaga. Perlu diwaspadai, banyak kawanan monyet nongkrong di pinggiran jalan mengais rezeki. Tak jarang ada monyet yang ganas dan berusaha mencegat motor yang melintas.

IMG_3097
Senja di Iboih

Tiba di Iboih, semua rasa lelah terbayar. Pantai yang jernih, berarus tenang dan sepi pengunjung ini laksana surga. Kami harus mencari penginapan dengan harga backpacker yang terjangkau. Penginapan di dekat area parkiran umumnya dihuni turis lokal dengan biaya Rp 200-500 ribu, sedangkan untuk kelas backpacker terletak di pojokan, jadi harus berjalan kaki dulu naik bukit.

IMG_3140
Yulia’s Guest House. Harganya sekitar 75.000-200.000 per malam

Harga penginapan kelas backpacker ini fantastis. Dengan view menghadap lautan hanya dibanderol Rp 50.000 – 200.000,-. Kami mendapatkan sebuah pondokan dari Fatimah Homestay. Pemiliknya memberikan kami harga Rp 50.000,- untuk dua malam pertama dan Rp 75.000,- untuk malam selanjutnya. Kami terima tawaran itu mengingat lokasi pondok kayu memang langsung menghadap ke laut.

IMG_3127
Homestay Fatimah seharga Rp 50.000,- per malam

Namun, sekali lagi patut wapada karena menjelang sore monyet-monyet akan turun dari hutan dan duduk-duduk di teras pondok. Entah apa yang ada di pikiran monyet itu, tapi mereka seolah membajak pondokan kami setiap sore tanpa menggubris jika diusir.

IMG_3233
Siapa yang tak tergoda untuk nyemplung?

Selama lima hari kami habiskan di Sabang. Aktivitas utama hanya bengong, meditasi, snorkeling, makan dan berjalan-jalan. Johannes memilih untuk diving , sedangkan aku bertugas memotret dan jalan-jalan sendiri.

IMG_3111
Beningnya air laut di Iboih

Untuk urusan konsumsi setiap hari kami datang ke Mama Mia, sebuah gubuk kayu yang dihuni sepasang ibu tua dan anaknya. Mereka menyediakan makan lengkap sehari tiga kali dengan harga Rp 25.000,- per sekali makan. Menu yang disediakan lebih ke menu rumahan namun dengan tambahan sea food. 

Mama, begitu para turis menyebutnya. Beliau telah puluhan tahun menetap di Pantai Iboih. Dengan bahasa Inggris sederhana, beliau melayani setiap turis yang hadir dan mampir ke tempatnya. Ketulusan “MamaMia” membuatnya tak pernah sepi dihampiri oleh turis-turis asing.

IMG_3216
Desa Iboih, Sabang, Pulau Weh

 

IMG_3292
Bersama Markus Semrau dan Johannes Tschauner. Kami menjadi satu tim selama di Sabang

Puas dengan aktivitas harian snorkeling, kami pun mencoba pergi ke Titik Nol Kilometer Indonesia. Perjalanan menembus hutan yang masih rimbun ini hanya butuh waktu satu jam kurang. Tiba di Titik Nol kami disambut sebuah monumen yang sedang dalam tahap pembangunan. Merinding sekaligus takjub, karena tidak menyangka bisa pergi ke titik nol. Kami menghabiskan senja hingga pukul 19:30 di Titik Nol. Oh ya, di Sabang matahari baru tenggelam sempurna sekitar pukul 19:30 WIB, jadi hari terasa lebih panjang disana.

IMG_3193
Yeah, Titik Nol Indonesia

Jumat, 4 Juli 2015 kami berencana pergi ke Kota Sabang. Masak sudah jauh-jauh ke Pulau Weh tapi tidak mengunjungi kota Sabang. Sebelumnya, seorang kawan dari Takengon menginfokan kalau di Sabang itu ada tradisi unik, biasanya penduduk akan tidur siang mulai pukul 13:00-15:00. Wah, selow amat ya bisa ada waktu tidur siang. Awalnya aku tidak percaya, tapi setibanya di Sabang memang kebanyakan orang tidur pada waktu itu, suasana begitu santai.

IMG_3170
Jalanan di Pulau Weh

Di Sabang mayoritas warganya tidak menggunakan helm saat berkendara, termasuk kami. Awalnya was-was ketika melewati kantor Polisi, tapi ternyata banyak juga yang tak pakai helm, ya sudah kami biasa saja.

IMG_3168
Mas Paijo

Kota Sabang tidaklah besar, namun rapi dan asri. Pepohonan menghiasi setiap sudut kota. Untuk rumah ibadah, Sabang memiliki Masjid, Gereja dan juga Kelenteng kecil yang terdapat di dekat pasar. Nilai-nilai toleransi dan kebersamaan sejatinya sudah hadir bahkan dari pulau paling luar dan barat Indonesia.

IMG_3289
Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Sabang

Di sudut kota terdapat sebuah pantai bernama Pantai Kasih. Entah apa yang mendasari pemberian nama pantai ini, namun Pantai Kasih sungguh teduh. Gelombang relatif besar dan berangin, pasir putih lembut dan tak banyak orang di sana. Di ujung pantai berdiri sebuah homestay dengan nama Homestay Pantai Kasih.

IMG_3249 copy
Pantai Kasih

Selain pantai Kasih, terdapat banyak pantai lain di seputaran kota Sabang ini. Jika ingin melihat panorama spektakuler bisa mengelilingi jalan berbukit yang mengarah ke Pelabuhan Balohan, bisa dipastikan kita akan terpukau melihatnya.

IMG_3277
Jalan menuju pelabuhan Balohan

Satu pengalaman unik selama di Sabang adalah ketika siang bolong, kami kelaparan. Mama Mia tertidur pulas sehingga tak sopan jika kami membangunkan beliau. Akhirnya di tengah bulan Ramadhan kami berusaha mencari tempat makan siang. Mengelilingi wilayah Sabang, tepatnya di bagian selatan kami bertemu dengan seorang bule Perancis.

Kami putus asa dan kelaparan. Semua warung tutup, ataupun jika buka pastilah tak akan mungkin melayani pembeli di bulan Ramadhan. Kami hanya duduk-duduk di pinggir pantai sembari melamun, tiba-tiba dari sebuah gubuk warung yang tutup keluar seorang Bule sudah tua dan jangkung. Dia meneriaki kami, awalnya menggunakan bahasa Inggris.

IMG_3186
Pantai di Selatan Pulau Weh

Namun, kami kaget ketika kemudian dia berbicara dalam bahasa Indonesia logat sabang yang kental. Namanya Philip, seoarang Perancis yang terlanjur jatuh cinta dengan Sabang. Ia sudah menetap selama 25 tahun di Sabang namun setiap tahun pasti pulang ke Perancis untuk menunaikan pekerjaannya sebagai pembersih cerobong asap. Tinggal di Sabang, ia beralih profesi sebagai nelayan yang memiliki dua kapal.

 

IMG_3189
Pantai di depan gubuk milih Philip

Seraya bercerita ia bertanya, “Kalian lapar? Aku bisa masak mie buat kalian, tapi masuk ke dalam jangan sampai dilihat orang.” Oke, kami menurut. Dia memasakkan kami sebuah mie goreng lengkap plus jus sirsak campur terong belanda. Waw, segar sekali. Berdasar penuturannya, Philip telah dikaruniai seorang anak dari hasil pernikahannya dengan seorang wanita yang ia temui di Medan.

Hidup di Sabang bagai hidup di surga jelasnya. Damai dan tenang, tak ada beban hidup selain pergi melaut membuatnya ogah untuk pulang kembali ke Eropa. Namun, ia masih tidak mau melepas kewarganegaraan Perancisnya. Perbincangan kami dengan Philip sungguh mengasyikkan, ia punya segudang cerita unik pengalaman bersama warga Sabang.

“Dulu waktu Tsunami, hampir tidak ada korban di wilayah ini karena memang berbukit-bukit. Rumah juga dikit yang rusak tapi waktu itu bantuan datang banyak sekali,” kenangnya tentang peristiwa Tsunami. Jadi, jalanan yang mulus di Pulau Weh salah satu penyebabnya adalah masuknya bantuan Internasional untuk revitalisasi infrastruktur akibat bencana alam Tsunami.

Puas bercerita, kami dipatok harga Rp 30.000,- untuk sepiring mie dan segelas jus tadi. Harga yang cukup murah untuk ukuran Sabang. Berhubung matahari yang semakin tenggelam kami meninggalkan Philip di warungnya dan bergegas kembali ke Pantai Iboih.

Sabang, Permata Kebanggaan Aceh

Hari Senin, 7 Juli 2015 kami bertolak meninggalkan Sabang menuju Banda Aceh.Berat karena hati kami masih tertambat di Pantai Iboih. Sabang memberikan tak hanya pesona, melainkan sebuah potret akan kemajemukan dan kearifan Indonesia sebagai bangsa maritim.

Warga Sabang paham betul akan menjaga lingkungan. Setiap Kamis hingga Jumat, warga memperingatinya sebagai “hari istirahat” untuk lautan. Tak ada aktivitas yang dilakukan di pantai. Memancing, snorkeling, berenang dan lainnya semua harus ditunda selama 24 jam dengan tujuan memberikan waktu bagi laut untuk terbebas dari tangan manusia.

Kearifan dan ketenangan Sabang inilah yang menjadi magnet bagi ribuan bacpacker dunia untuk singgah. Tak ada penyesalan untuk mengunjungi Sabang, hanya kagum yang akan terus membekas hingga hari tua.

IMG_3212
Senja di Pulau Weh

mari-rayakan-sabang-marine-festival-2016-lewat_tulisan

Video Pesona Sabang :

Gunung Leuser, Surganya Pulau Sumatra

Gunung Leuser ibarat perawan yang masih terjaga. Sungai Bahorok mengalir jernih, nyaris menyerupai air galonan yang dijual di perkotaan. Sore itu di bulan Juni 2015 tidak banyak wisatawan menghabiskan waktu di Bukit Lawang. Terlihat beberapa bule sedang asik melakukan tubbing, aktivitas bersantai menggunakan ban raksasa mengikuti arus sungai. Sedangkan beberapa turis lokal asyik dengan tongkat selfienya mengabadikan moment-moment berharga di alam terbuka.

Tubuh kami cukup lelah setelah menempuh perjalanan dari Medan ke Bukit Lawang. Lelah secara fisik, juga pusing secara pikiran. Kami menghitung persediaan uang yang tersisa, jangan sampai pengeluaran kami bengkak padahal masih ada puluhan hari ke depan yang harus dijalani di Sumatra ini. “So, what should we do tomorrow, Jo?” tanyaku pada Johannes. Sambil nyeruput kopi, kami mempertimbangkan segala kemungkinan, mulai dari uang hingga cuaca.

IMG_2888
Sungai Bahorok, Bukit Lawang, Sumatra Utara, Indonesia

Pilihan kami jatuh pada Trekking. Ya, Trekking! Sebuah perjalanan semi mendaki, mengelilingi Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) selama dua hari satu malam. Waw, imajinasiku menjalar kemana-mana. Bagiku yang lahir dan besar di kota, trekking palingan sekedar jalan kaki di Taman Hutan Raya Juanda di Dago, Bandung, ataupun palingan seperti hiking di wilayah Lembang. Tanpa pikir panjang, kami sepakat untuk melakukan trekking. 

Biaya trekking di Bukit Lawang tergolong mahal karena umumnya hanya wisatawan asing yang melakukan trekking. Kebanyakan turis lokal hanya bermain-main di sekitaran sungai saja tanpa berniat melakukan trekking ke jantung hutan. Kami membayar sekitar US$ 70 per orang kepada pengelola setempat. Berhubung aku juga orang Indonesia, maka terjadi tawar menawar. Kami mendapatkan potongan, sehingga kami berdua cukup membayar Rp 1.500.000,-.

IMG_2905
Seorang turis asing menikmati tubbing sendirian

Segala peraturan administrasi sudah kami lakukan, sekarang saatnya bengong menunggu Minggu pagi untuk berangkat. Tidak ada persiapan khusus yang aku lakukan akibat imajinasi bodoh yang ada di pikiran sebagai anak kota. Sedangkan si Johannes, tentu dia merasa baik-baik saja, namanya juga bule, sudah terbiasa manjat pohon bahkan terakhir kali dia sudah berhasil menaklukan Annapura, sebuah puncak di bawah Everest.

 

Minggu pagi pukul 08:00 perut kami diisi dengan sepiring pancake, juga ransel kami diisi dengan dua botol air ukuran 1,5 liter. Perjalanan kami seharusnya dimulai pukul 08:00 tapi terlambat hingga 09:30 akibat dua turis Rusia yang agak nyeleneh dan suka terlambat. Sebelum berangkat, kami dibagi kedalam tim yang terdiri dari aku, kawanku yang bernama Johannes dari Jerman, Annette Naber dari Belanda, dan sepasang ayah dan anak dari Rusia bernama Alex, sedangkan aku lupa nama anaknya. Tim kami didampingi oleh dua orang guide lokal.

IMG_2953
Si Bule Rusia memberi makan Orang Utan

Etape pertama dilakukan dengan menyusuri sungai sejauh 200 meter. Di sini aku merasa selow, imajinasiku tidak berbohong kalau trekking itu sejenis dengan hiking di Bandung. Selesai etape I, kami meninggalkan sungai dan mulai merangsek masuk ke lebatnya belantara Gunung Leuseur. Imajinasiku hancur lebur seketika. Tak ada jalan setapak yang mulus ataupun landai. Kami harus memanjat  di tanah yang basah dan licin.

Lima menit pertama memasuki etape kedua, aku langsung lemas tak berdaya. Nafas tersengal-sengal seperti mau meninggal dan muka memerah bagai tomat kebakaran. Sontak tim kami semua terhenti menanyakan apakah aku kuat atau tidak. Uniknya, para bule yang berada dalam timku sama sekali tidak mengasihani. “Come on! Just calm down, relax, and you can do it, yes we can do it together, we can walk slowly for you!” ucap Johannes menyemangatiku.

Oke, satu sisi aku tersemangati tapi di sisi lain terasa ditelanjangi. Bagaimana tidak, aku yang lahir dan besar di Indonesia yang konon katanya memiliki hutan hujan tropis terluas kedua setelah Brazil harus ngos-ngosan dan nyaris tewas ketimbang para Bule yang makan tempe saja belum pernah. Tapi, ya sudah, kita simpan dulu rasa malu itu karena masih ada 8 jam yang harus dilalui.

Mujizat dari langit, walaupun hampir pingsan tetapi aku tetap kuat berjalan. Menjelang pukul 10:00 kami berhenti selama hampir satu jam karena ada orang utan yang kebetulan melintas. Para bule terpesona, lebih terpesona daripada aku melihat seorang Julia Perez. Mereka takjub akan primata bernama orang utan. Sontak orang utan itu bagaikan artis, difoto dari berbagai sisi dan gaya oleh para bule. 

Sementara bule-bule berfoto, aku bengong, minum air dan berdoa memohon kekuatan ilahi supaya tidak pingsan, atau setidaknya bisa berjalan walau lebih lambat dari siput. Menjelang tengah hari, kami beristirahat dengan membuka perbekalan ala tarzan. Yaa, makan siang kami berupa buah-buahan tropis yang dipetik dari hutan. Markisa, pisang, mangga, jambu dan nanas jadi penganan ternikmat siang itu.

Namun, ketenangan siang hari itu harus berakhir ketika ada seorang Orang Utan yang aku lupa namanya datang. Guide kami bilang kalau orang utan itu pernah mengalami trauma sehingga dia antipati terhadap kehadiran manusia, dan ia pun menjadi ganas. Kami pun berlari seolah dikejar maling, sementara guide kami berusaha mengecoh si orang utan itu.

IMG_2979
Belantara Gunung Leuser, kanopi hijau terbesar di Sumatra

Lepas dari jerat orang utan, kami beristirahat kembali dan bertemu dengan serombongan tim lain dari Spanyol. Gila, tim Spanyol ini berisikan satu keluarga. Ayah dan ibu yang sudah lumayan tua, kira-kira umur 40an dan seorang anak berumur 10 tahun. Tangguh sekali mereka ini pikirku, dan kembali perasaanku ciut karena aku berfisik lemah.

Tak terasa perjalanan kami membelah hutan sudah memasuki pukul 17:30 dan kami hampir tiba di basecamp. Namun, derita belum berakhir karena etape terakhir ini bisa dikatakan yang terburuk daripada mimpi buruk manapun. Jalanan menurun nyaris 90 derajat, tanah basah dan licin. Aku bergidik, menelan ludah dan ingin pulang saja ke Jogja, tapi itu suatu kebodohan. Johannes dari belakang berteriak, “Come on! We almost reach our destination! Let me carry your backpack!” ucapnya. Dia membawakan ranselku dan itu sangat membantu. Kaki pun bergetar, aku turun tidak dengan kaki tapi dengan pantat alias ngesot. Mau bagaimana lagi ketimbang jatuh berguling-guling lalu hilang dari sejarah hidup, lebih baik ngesot dengan pantat memar asal selamat.

IMG_2966
Basecamp sederhana di jantung belantara Gunung Leuser

Selama satu jam perjuangan dan kami tinggal menyeberang sungai. Perjalanan terakhir ini seolah mengantarkanku ke surga yang sebenarnya. Basecamp sederhana yang hanya terbuat dari plastik seolah jauh lebih mewah dari hotel berbintang. Tiba di basecamp, tandanya penderitaanku berakhir.

Namun, lagi-lagi penderitaan itu memang lama untuk berakhir. Setelah menyantap indomie rebus sambil ditemani keheningan hutan, giliran badanku yang mulai error. Sekujur persendian nyeri luar biasa, ditambah lagi pantat yang memar-memar. Tanpa balsem ataupun pijat-pijat, aku cuma termenung di depan api unggun mensyukuri atas nikmat hidup yang masih bisa dirasakan.

IMG_3010
Senja di belantara Sumatra. Tanpa listrik dan sinyal. Damainya tiada terkira

Singkatnya, perjalanan trekking kali ini mengubahkan paradigmaku atas gunung secara selamanya. Alam bukan untuk ditaklukan, tapi untuk menikmatinya diperlukan skill dan juga semangat. Salutnya, melihat fisikku yang lemah, para bule tidak mencela tetapi menyemangati untuk tetap kuat hingga garis akhir.

Malamnya, tim kami tertidur dengan lelap. Ditemani bintang yang cerah, suara gemuruh sungai dan aroma khas belantara membuat tidur kami nyenyak, tak peduli ratusan nyamuk yang mengerubungi.

Hari kedua, jam-jam terakhir kami di jantung belantara. Melihat kondisiku yang bagaikan mayat hidup, para bule berbesar hati untuk tidak menempuh jalan pulang via trekking. Puji Tuhan Alhamdullilah, kami pun memilih untuk tubbing , alias pulang naik ban di atas sungai. Namun, kami dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 100.000,- tapi itu bukan masalah bagi para bule.

Pukul 09:00 seluruh barang dikemas, dimasukkan ke dalam plastik super besar. Ban-ban disusun, diikat dengan tali menyerupai kereta perahu. Tepat pukul 10:00 perjalanan tubbing pun dimulai. Awalnya menyeramkan, tapi tubbing ini jauh lebih menyenangkan ketimbang arung jeram di Dufan ataupun tubbing di Gunung Kidul. Tubbing di Bukit Lawang memakan waktu total 120 menit, lumayan lama. Melewati puluhan jeram, kami pun berteriak puas.

IMG_2986
Ban Raksasa yang siap mengantar kami pulang

Waktu dua jam bukan waktu yang lama, tak terasa kami sudah tiba di perhentian akhir. Gila, dengan tubbing hanya butuh waktu dua jam, sedangkan trekking butuh waktu hampir 12 jam berjalan kaki dengan resiko tewas masuk jurang.

Syukur tiada tara, aku bisa tiba kembali di penginapan Bukit Lawang. Ada secuil rasa bangga karena bisa menikmati gunung Leuser dengan mata kepala sendiri. Dan juga, ada perasaan untuk pantang menyerah lebih lagi.

Perjalanan kami di TNGL hampir usai seiring dengan trekking yang berhasil kami lalui. Hari sudah menunjukkan Senin, 29 Juni 2015. Kami memiliki waktu satu hari tersisa menikmati Bukit Lawang sebelum melanjutkan perjalan ke utara, Nanggroe Aceh Darussalam!

IMG_3023
Kepulangan kami dirayakan dengan nanas segar seharga Rp 6.000,-

NB: 

Orang Indonesia harus mampir ke Bukit Lawang, untuk berkenalan langsung dengan saudara kita, primata Orang Utan. 

30 Hari Jelajah Sumatra ( Bagian II: Medan – Bukit Lawang)

IMG_2885

Tujuan 1 – Kota Medan

Bicara soal Medan, yang tergambar di benakku pertama kali adalah orang-orang yang berbicara keras, bika ambon dan cici-cici cantik. Kesan pertama melihat Medan cukup baik, ketika mendarat di Bandara Kuala Namu yang keren, paling tidak gambarannya adalah Medan akan sama keren dengan Bandaranya!

Seorang kawan lama dari SMA di Bandung telah menunggu di Bandara. Ketika pesawat mendarat dan aku menunggu bagasi, ia menghampiri dan legalah hatiku. Tak lama, pesawat Johannes dari Thailand mendarat di Medan pada 18:05.

Setelah selesai urusan di Bandara, kami bertiga melaju ke Kota Medan. Bermodal budget tipis, kami tidak menggunakan kereta bandara yang hits itu tapi naik bis Damri saja. Perjalanan sekitar dua jam dari Kuala Namu menuju pusat kota Medan. Rumah kawan SMAKu yang bernama Suryadi ini berada di kawasan Pasar Petisah. Aku pikir, hari pertama menginap di rumahnya akan menjadi pengalaman yang menyenangkan, atau mungkin biasa saja.

Melewati jalanan pasar yang bau dan gelap, sesekali ada orang-orang yang berteriak keras “Hei Mister!” kepada Johannes, karena dia seorang bule. Sesekali Johannes menyahut teriakan itu namun sambil langkah tetap melaju. Ketika tiba di depan pintu rumah Suryadi, ia berkata “Sorry ya kalau banyak kecoak, soalnya rumahku di pasar,” ucapnya. “Oke, nggak apa-apa kok,” jawabku. Padahal, kecoak adalah musuh terbesarku. Jika di Jogja, untuk membunuh satu kecoa saja aku bisa butuh satu kaleng baygon. Namun, okelah, aku berusaha berpikir positif.

Pintu rolling door dibuka, kami disambut hangat oleh Ibunda Suryadi. Perlahan kami beranjak masuk menuju lantai dua dan disitulah mimpi buruk pertama dimulai. Di bawah tangga yang juga merupakan gudang, puluhan kecoak asyik mondar-mandir. Kecoak dari segala ukuran, dari yang merayap sampai terbang semua ada disitu. Bergidik dan ingin mengangis, itulah yang aku rasakan tapi aku tidak berani bilang pada Suryadi karena takut menyakitinya.

Kami hanya mampir sejenak untuk menaruh ransel-ransel kami yang berbobot hampir 30kg lalu keluar untuk mampir makan malam. Suryadi mengajak kami untuk makan di restoran chinese food yang enak, tapi harganya tidak terlalu enak. Singkat cerita kami makan enak, dompet terkuras dan melihat fenomena kalau orang Medan ternyata “murah hati”, bagaimana tidak, satu orang pengamen bisa diberi uang Rp 2.000,- hingga 10.000,-. Sesuatu yang mustahil untuk terjadi di Jogja.

Kembali ke rumah Suryadi, mimpi buruk berlanjut. Kami diberi tempat sebuah kamar kecil di lantai tiga rumah. Panas, pengap, tanpa ventilasi, sarang laba-laba menghiasi langit-langit dan redup. Tapi, setidaknya kami bersyukur karena mendapatkan tempat menginap tanpa harus membayar, disamping itu sekaligus melepas kangen bersama kawan lama.

Belum sempat mata terpejam, sekelompok tikus hitam yang ukurannya besar berkejaran di samping ranjang kami. Wawww, antara jijik dan takut, antara mengantuk namun tak bisa tidur akhirnya kami melewati malam pertama dengan was-was. Keesokan harinya kami memutuskan untuk bisa sesegera mungkin berpindah dari kota Medan ke Bukit Lawang, ke tempat yang lebih alami ketimbang perkotaan besar seperti Medan.

Masjid Deli, Medan sesaat sebelum Shalat Jumat

Medan: Potret Metropolitan di Barat Indonesia

Tiga hari di Medan cukup, bahkan lebih dari cukup untuk mencoret kota itu dari daftar perjalanan kami. Bahkan, guide book terkenal sekelas Lonely Planet pun menyebutkan Medan sebagai kota yang tidak ramah dengan traveler. 

Peraturan lalu lintas hanya pajangan, hampir tak ada yang patuh. Bentor berseliweran bak orang kesurupan, tak peduli jalan satu atau dua arah yang penting terobos.Bunyi klakson melengking tak pernah hilang dari jalanan. Belum lagi pengamen-pengamen yang sewot kalau diberi uang receh Rp 500,-. Padahal uang segitu pun termasuk uang loh.

Entah memang di Medan begitu, atau memang kami yang sial. Pernah kami membeli sepiring nasi goreng seharga Rp 17.000,- padahal harga sesungguhnya hanya Rp 10.000,-. “Wah, kalau di Medan orang lihat bule itu kaya, banyak duit, jadi wajar aja harganya naik!” jelas temanku.

Waw, itu cukup jadi alasan kami untuk pergi menyingkir dari Medan. Tidak lucu kalau baru etape pertama perjalan uang dikuras habis di Medan.

Selama di Medan, kami hanya mengunjungi Masjid Raya, Istana Maimun dan Tjong A Fie Mansion. Semuanya bagus, tetapi tidak terlalu berkesan, mungkin karena kami terlalu irit sehingga tidak mampu membeli makanan yang enak-enak di Medan.

IMG_2893.jpg

BUKIT LAWANG

Tiga hari dua malam di Medan cukup membuat kepala pening. Bunyi klakson, pengamen yang gak mau diberi uang koin 500 perak, bentor yang lebih licin dari belut dan keruwetan kota besar lainnya jadi alasan yang cukup untuk segera hengkang.

Sabtu pagi, setelah kami mengisi perut dengan menu bubur Medan kami bertolak. Menaiki bentor, kami bertolak dari pasar Petisah ke terminal Pinang Baris. Sembari menikmati jalan, kami berpikir keras bagaimana caranya bisa tiba di Bukit Lawang dengan selamat, minimal tidak kena tipu orang di terminal.

Kami sadar upaya kami sangat terbatas. Johannes si bule Jerman sangat jelas tidak bisa bahasa Indonesia dan pasti dipandang sebagai bule berduit, sedangkan aku pun serupa. Logat campuran jawa-sunda, perawakan kurus dan belum pernah menginjakkan kaki di Sumatra sekiranya cukup jadi alasan jika nanti di terminal kami dicurangi soal harga bis. Tapi, kami tepis pikiran busuk itu dengan berdoa. Semoga yang Kuasa berpihak pada kami

Tiba di Pinang Baris, supir bentor yang awalnya sepakat dengan harga Rp 20.000,- meminta dengan paksa uang tambahan Rp 10.000. “Bang, ayolah tambah 10 ribu aja, mintakan ke kawan bulemu itu pasti dia banyak duit!” rayu si sopir bentor. Kami pun mengalah, sepuluh ribu melayang keluar dari dompet. Dengan senyum curang, sopir bentor pun meninggalkan kami di tepian terminal Pinang Baris.

Belum sempat bernafas, puluhan calo atau preman atau entahlah namanya merubungi kami berdua. “Kemana, sir, bang? Bukit lawang? Aceh? Sini, sini bang!” celoteh puluhan orang itu bagai lebah di belantara. Berlaga sok pede, kami seolah tak peduli dengan mereka dan berjalan terus hingga menemukan kios agen bus.

“MEDAN-BUKIT LAWANG”, membaca tulisan tersebut langsung kami percepat langkah ke kios berwarna oranye. “Bang, Bukit Lawang dua orang, berapa?” tanyaku. “200 bang!” tukas kernet bus. “Ah, bohong itu bang, kali itu ku naik ini bis ke bukit lawang Cuma 30 seorang, nipu aku abang ini!” jawabku seraya menirukan logat medan. Terjadi tawar menawar yang cukup alot. Kami tidak menyerah, bagaimanapun juga setiap rupiah yang bisa kami simpan itu sangat berharga, apalagi ini baru hari ketiga kami di Sumatra.

Keberuntungan berpihak pada kami! Harga pun disepakati, Rp 40.000,- per orang untuk sampai ke Bukit Lawang. Sebetulnya 40.000 adalah harga yang wajar untuk perjalanan selama lima jam ke jantung Sumatra Utara. Jangan harap ada pendingin udara dan air suspension layakna bis AKDP di Jawa. Pengap, jok kursi yang sudah jebol, jendela yang macet, suara mesin bising dan penumpang bagai sarden jadi pelengkap perjalanan ini.

Karena badan sudah terlanjur lelah, kami pun terlelap setelah bis melewati kota Binjai. Menjelang pukul 13:00 hanya tersisa kami di dalam bis, penumpang lain sudah turun semua, tandanya kami akan segera tiba di Bukit Lawang. Hmmm, petulangan selanjutnya dimulai. Akankah kami harus tawar menawar harga lagi lalu ditipu? Entahlah, kami hanya bisa pasrah

Cuaca terik, namun angin sejuk berhembus pelan dibarengi dengan rimbunnya pepohonan. Bis butut yang kami tumpangi berhenti persis di terminal yang lebih tepat disebut lapangan bola. Nyaris tak ada bis yang parkir di sana, mungkin juga karena sepi penumpang. Beberapa pemuda setempat segera menghampiri dengan bicara bahasa Inggris. “Come on sir, come with me, a homestay only 50.000,- a nite, no cheat, I am honest,” jelas pemuda itu.

Kalimat no cheat, I am honest menarik minat kami untuk bertanya lebih lanjut kepadanya. “So, sir where are you from? Are you Malaysian or Singapore?” tanyanya padaku. “No, brother, we are fellow Indonesian, I am from Yogyakarta, not malaysian or Singaporean!” jawabku. Sontak pembicaraan kami segera beralih ke bahasa Indonesia, dan giliran Johannes yang roaming tak mengerti.

Singkat cerita pemuda ini memang jujur. Dia mengantarkan kami berjalan kaki melewati jalan pintas untuk tiba di kawasan Taman Nasional Bukit Lawang. Kami mendapatkan penginapan seharga Rp 50.000,- per malam tidak kurang dan tidak lebih. Haleluya! Bahagianya kami, bukan hanya penginapan yang murah, tapi pemandangan di bukit lawang ini memang laksana surga. Sungai yang airnya sejernih air galon, pepohonan super rimbun, ditambah lagi dengan warganya yang sangat ramah segera menghapuskan kelelahan kami akibat hiruk pikuk Medan.

Hari pertama kami habiskan dengan jalan kaki berkeliling area wisata sembari merencanakan kegiatan apa yang akan kami lakukan besok.