Drama Menyebalkan di Atas Kereta Api

Prriiiitt… Semboyan 35 berbunyi. Dari peron nomor lima Stasiun Tugu, Yogyakarta, Kereta Api (KA) Taksaka Malam melaju perlahan menuju Jakarta. Lima belas menit setelahnya, di jalur yang sama, KA Jayakarta Premium datang dari Surabaya Gubeng untuk berhenti sejenak kemudian kembali bertolak ke barat. Continue reading “Drama Menyebalkan di Atas Kereta Api”

Teman yang Sedikit, Teman yang Asyik

Ketika Facebook baru mulai dikenal di tahun 2008 lalu, saya masih menjadi seorang bocah SMP yang sedang rajin-rajinnya singgah ke warnet untuk bermain Friendster, media sosial yang begitu populer pada zamannya. Buat saya pribadi, Friendster ini luar biasa menarik. Selain bisa menampilkan foto diri yang dinilai paling cakep, saya juga bisa menggonta-ganti latar halaman sesuai selera. Dan, yang paling menarik adalah saya bisa kepo sedikit-sedikit di akun gebetan. Continue reading “Teman yang Sedikit, Teman yang Asyik”

Trip Review: 16 Jam di Atas KA Bogowonto

16 jam bukanlah waktu yang lumrah untuk perjalanan Kereta Api (KA) Bogowonto yang wara-wiri di lintas Lempuyangan-Pasar Senen. Dalam waktu normal, perjalanan dari Jogja ke Jakarta tersebut biasa ditempuh dalam 8-9 jam saja. Tapi, Jumat (24/02) yang lalu, durasi perjalanan kereta membengkak hingga dua kali lipat karena sebuah bencana alam yang tidak terduga. Continue reading “Trip Review: 16 Jam di Atas KA Bogowonto”

Yang Paling Berharga dari Hidup di Rumah Kos

Saya tidak pernah menyangka 4,5 tahun yang dihabiskan di Jogja dampaknya begitu besar. Nyaris setahun setelah lulus dan merantau ke Ibukota, Jogja tak pernah bisa lepas dari memori. Dalam tiap tarikan napas sebelum tidur atau kala melamun, cerita tentang Jogja selalu muncul di benak. Terlalu banyak kisah manis yang pernah dikecap di kota ini. Continue reading “Yang Paling Berharga dari Hidup di Rumah Kos”

Yang Tetap Bertahan di Jakarta

Setiap bulan sekali, ada sebuah pertemuan rutin yang kami sebut sebagai “Jakarta Squad”. Biasanya, kami duduk melingkar di kamar kos yang sempit, atau kadang pula berkumpul di loteng, memandangi gedung-gedung tinggi menjulang sambil mengoceh tentang banyak hal. Continue reading “Yang Tetap Bertahan di Jakarta”