Sebuah Amplop (Lagi) dari Jerman

Minggu kemarin (24/9), saya menerima sebuah pesan Whatsapp dari seorang kerabat di gereja. “Ada surat buatmu dari Jerman,” katanya. Saya mengernyit. Sebelumnya tidak ada pemberitahuan terlebih dulu dari Johannes Tschauner (Jo), sahabat saya yang berada di Jerman kalau dia akan mengirimkan sepucuk surat ke Indonesia. Continue reading “Sebuah Amplop (Lagi) dari Jerman”

Surat untuk Temanku yang Tak Lagi Bujang Hari Ini

Aku masih tidak menyangka bahwa obrolan ngalor-ngidul di pelataran Candi Barong tahun 2013 lalu itu menjadi kenyataan. Waktu itu, kami saling mengejek diri kami masing-masing sebagai seorang jomblo. Johannes, alias Paijo, pernah berpacaran di negerinya, kemudian putus. Senada dengannya, bahkan lebih tragis lagi, aku belum pernah berpacaran sama sekali.

Continue reading “Surat untuk Temanku yang Tak Lagi Bujang Hari Ini”

Sumatra (1) | Petualangan Pertama di Tanah Sumatra

 

Dua puluh satu tahun hidup di tanah Jawa membuat saya bertanya-tanya: seperti apa sih Sumatra itu? Yang saya tahu, dulu Kerajaan Sriwijaya pernah berdiri di sana, dan sekarang nama Sumatra sering disebut kalau bencana kabut asap terjadi. Selebihnya, saya tidak tahu apa-apa tentang pulau nan besar ini sampai akhirnya di bulan Juni 2015, tanpa pengalaman apa pun, saya tiba di Sumatra untuk sebuah perjalanan panjang selama 29 malam Continue reading “Sumatra (1) | Petualangan Pertama di Tanah Sumatra”

Sebuah Amplop dari Jerman

Di zaman ketika segala pesan dikirimkan secara elektronik, minggu kemarin aku menerima sepucuk surat yang tersimpan rapi dalam sebuah amplop kecil. Kupikir itu hanyalah surat biasa yang berisikan promosi dari bank, tapi tebakanku salah. Setelah kulihat nama pengirimnya, ternyata amplop kecil itu dikirimkan jauh-jauh dari Eropa, melintasi samudera dan benua untuk tiba di tanganku. Continue reading “Sebuah Amplop dari Jerman”