Arsip

Senin, 26 November 2018, hujan turun membasahi kota Muntilan. Saya menepikan motor di bawah pohon, mengenakan mantel hujan, dan melanjutkan perjalanan menuju Jogja. Tapi, hujan yang turun kelewat deras. Pakaian yang sudah diselimuti plastik mantel hujan pun akhirnya tetap saja basah.

  Di tengah kepadatan rutinitas, momen fajar rasa-rasanya bukanlah masa yang istimewa dalam keseharian kita. Kita bangun, bersiap diri, lalu larut dalam kesibukan. Sinar mentari pagi dan udara sejuk yang mengalir tak lagi membuat mulut kita mengucap syukur atas nikmat kehidupan dari yang kuasa. Namun, berada di Negeri Tembakau, tepat di lembah antara Arga Sumbing dan Sindoro, momen fajar itu terasa begitu agung, juga magis. Membuat mata ini memandang takjub dan hati… Baca Selengkapnya

  Klaten, mungkin namanya tidak setenar Yogyakarta dan Surakarta sebagai destinasi wisata. Namun, Klaten tengah berbenah diri. Potensi alamnya digali, masyarakatnya diberdayakan, dan berkah pariwisata pun berdatangan.

  Menginap di rumah teman? Itu biasa. Menginap di hotel? Itu juga biasa. Menginap di rumah tua yang dibiarkan kosong puluhan tahun? Hmmmm.

  Stasiun Solokota siang itu mendadak ramai. Belasan orang berkumpul di pelatarannya, mengobrol satu sama lain seraya berteduh dari matahari yang terik.

Di akhir pekan kemarin, ditemani oleh seorang kawan lawas sewaktu kuliah dulu, saya menyambangi Pabrik Gula (PG) Colomadu (ejaan lawasnya: Tjolomadoe). Nama pabrik ini sebenarnya tidaklah asing di telinga saya, karena dulu kalau hendak ke Solo dari Yogya, saya biasanya memilih jalur alternatif melalui Colomadu. Tapi, meski sering melintas, saya tidak pernah mampir ke dalamnya. Barulah di tahun 2018 ini saya benar-benar masuk ke dalam PG Colomadu.