Arsip

Beberapa tahun belakangan ini, Bandung terus berbenah untuk mempercantik dirinya sebagai kota pariwisata, juga sebagai ibukota dari Jawa Barat. Trotoar-trotoar diperbaiki, beberapa dibuat lebih lebar, lainnya diberi meja dan kursi untuk orang duduk-duduk. Taman-taman yang sudah ada direvitalisasi, dan lahan-lahan baru disulap menjadi taman.

  Bepergian menaiki bus ekonomi itu selalu menyajikan kisah tersendiri. Banyak pengamen, banyak pedagang, kabin bus yang tidak ber-ac, dan waktu tempuh yang lebih lama adalah bumbu penyedap yang senantiasa menyertai sepanjang perjalanannya.

Sebagai orang Bandung yang bekerja di Jakarta, untuk urusan bepergian di antara kedua kota ini saya lebih memilih menaiki kereta api. Ada beberapa kelebihan yang bisa didapat dari kereta api, antara lain: tarifnya bersahabat, waktu tempuhnya yang tidak lama-lama amat, dan tentunya bebas macet.

  Hari Selasa (23/01) yang lalu, saya mencoba perjalanan Yogyakarta-Jakarta dengan sensasi baru. Jika biasanya saya selalu menaiki kereta api ekonomi lawas seperti Bengawan atau Progo, kali ini saya menaiki KA Jayakarta Premium, sebuah kereta kelas ekonomi yang digadang-gadang memiliki rasa eksekutif.

  Minggu lalu saya menghabiskan jatah cuti yang cuma satu hari dengan bertandang ke Yogyakarta. Dari sekian banyak destinasi yang tersaji di kota Gudeg, saya mewajibkan diri untuk singgah ke sebuah gereja di kawasan Bambanglipuro, Bantul, yang dapat ditempuh sekitar satu jam dengan berkendara dari pusat kota.

  Lawatan saya ke kaki Gunung Lawu Oktober setahun silam bukanlah sesuatu yang disengaja. Berkendara sepeda motor dari Yogya, tujuan saya waktu itu adalah mengikuti bursa pameran kerja yang diselenggarakan di Mal Solo Square. Tapi, tak ada satu perusahaan pun yang saya berminat untuk melamar. Cukup 5 menit berada di lokasi, kemudian saya keluar lagi, sambil memboyong map berisi sepuluh surat dan CV lamaran kerja.