Tetirah Singkat di Penyangga Jakarta

IMG_3670

Lima puluh kilometer di selatan Ibukota, Bogor tak hanya sekadar rumah bagi para komuter yang mencari nafkah di Jakarta. Di tengah pemukiman yang kian padat dan jalanannya yang semerawut, Kebun Raya Bogor masih menjadi paru-paru alami yang terjaga, sebuah warisan masa lalu dari masa kolonial.

Continue reading “Tetirah Singkat di Penyangga Jakarta”

Sumatra Overland Journey (2) | Bukit Lawang: Belantara Abadi Negeri Sumatra

 

Mobil elf renta yang membawa kami bergoyang-goyang tidak karuan di sepanjang jalan menuju Bukit Lawang. Lubang-lubang yang menganga itu menjadikan perjalanan ini jauh dari kata nyaman. Asap rokok penumpang pria turut berpadu dengan udara panas. Sungguh, lima jam perjalanan itu amat menyiksa.

Ketika akhirnya mobil tua itu tiba di tujuan akhir, betapa leganya hatiku. Petualangan yang menantang baru saja dimulai. Sebelumnya, kota Medan telah membuatku kecewa dan nyaris bangkrut, pun ruas-ruas jalan rayanya yang semrawut membuatku muak. Tapi, syukurlah semua mimpi buruk itu telah berlalu. Tak ada lagi kemacetan. Tak ada lagi sahut-sahutan klakson. Semua hiruk-pikuk metropolitan telah berganti menjadi nuansa pedesaan yang begitu asri.

Siang itu kami terdampar di terminal yang lebih layak disebut lapangan bola. Tak ada satupun kendaraan lain selain dari mobil tua yang baru saja kami tumpangi. Tak ada bangunan luas ataupun papan informasi petunjuk arah. Semua terasa begitu lowong, apalagi waktu itu matahari tengah bersinar dengan teriknya.

Kami membuka buku Lonely Planet yang menjadi pedoman perjalanan. Tatkala mata kami sibuk menerawang informasi tentang Bukit Lawang, seorang pemuda datang dan menepuk pundakku. Sambil menebar senyum, dia berkata “You need homestay, sir? Come with me, its cheap.” Hmmmm. “How much?” tanyaku. Dia menjawab ,“75, sir.” Aku tidak terlalu percaya dengan pemuda itu, jangan-jangan dia ingin menjebloskan kami ke penginapan dengan harga selangit. Lagipula, harga 75 ribu itu masih tergolong mahal bagi kami.

Pengalaman diberi harga tak wajar selama di Medan membuatku merasa antipati dengan tawaran-tawaran seperti itu. Sambil memanggul ransel, aku mengajak Johannes untuk berlalu dan meninggalkan pemuda itu. Menurut buku Lonely Planet, ada penginapan-penginapan yang harganya 50 ribu Rupiah per malam. Kami memilih untuk berpedoman pada buku saja.

Warga lokal memanfaatkan aliran air sungai Bahorok untuk mencuci baju

Tapi, pemuda itu terus mengikuti kami. Dengan kosa-kata bahasa Inggris yang ala kadarnya dia terus membujuk kami untuk ikut dengannya. Lama-lama kami tidak tega juga dan Johannes pun menjawab tawarannya. “We don’t want to stay at yours, unless you give us price 50 thousand.” Dia menggeleng dan mengatakan harga itu terlalu murah. Ya sudah, kami terus berjalan. Tapi, bukannya berhenti dan pulang, dia malah terus mengikuti kami. Akhirnya setelah melakukan tawar menawar yang cukup pelik, dia pun menyetujui harga yang kami inginkan, 50 ribu untuk kamar penginapan.

“Makasih ya, bang!” ucapku seraya tersenyum. Dia malah menjawabku dengan ekspresi kaget. “Loh, abang bisa bahasa Indonesia? Kirain orang Singapur bang!” Jawabannya malah membuatku balik merasa kaget. Masa iya wajahku menyerupai orang Singapura? Mungkin mataku yang agak sipit inilah yang jadi penyebabnya. Tapi, siapa peduli! Yang penting hari itu kami mendapatkan penginapan yang sesuai kantong.

Di tengah siang bolong kami berjalan kaki. Menembus jalan setapak melewati rumah-rumah sederhana. Sesekali anak-anak yang tengah bermain memanggil-manggil “Mister! Mister!” Aku tahu, yang mereka panggil itu Johannes, bukan aku. Tapi, dengan berlagak percaya diri aku turut melambaikan tanganku kepada mereka.

Di kanal irigasi yang sumbernya dari Sungai Bahorok, dua orang anak tengah bermain ban dan memintaku untuk menjepretnya.

Tiga puluh menit berjalan, tibalah kami di sebuah pondok sederhana yang terletak persis di tepi sungai Bahorok. Pondok ini berlantai keramik. Ada dua kasur kecil dan satu kamar mandi di dalamnya. Fasilitasnya hanya itu, tapi, tepat di depan pintu kamar tersaji pemandangan yang membuatku berdecak kagum. Aliran air sungai Bahorok yang jernih itu meluncur deras, menerjang batu-batu kali yang tersebar di alirannya.

“50 thousand is nice, Ary!” tukas Johannes. Aku amat bersyukur karena pemuda itu ternyata tidak menipu. Aku jadi merasa bersalah karena waktu di terminal malah sempat berpikiran negatif terhadapnya. Sebelum dia beranjak pergi, cepat-cepat kutemui dia. Kujabat tangannya seraya berkata “Makasih ya bang!” Kemudian ia berlalu. Katanya sih dia akan kembali ke terminal, mencari tamu-tamu turis mancanegara lainnya untuk diajak menginap di penginapan miliknya.

Aku masih terpukau akan pemandangan di sekitarku. Tatkala aku sibuk memotret, Johannes sudah melepas bajunya dan langsung menghujamkan badannya ke kasur. Kemudian tak sampai berapa lama, dia sudah ngorok. “Dasar bule pelor, nempel dikit, langsung molor” gumamku.

Tempat di mana penginapanku berdiri adalah tempat yang paling banyak diincar oleh backpacker-backpacker Barat. Ternyata, salah satu penginapan yang namanya tercantum di Lonely Planet juga berada di dekat lokasi penginapanku. Di seberang sungai yang dihubungkan dengan jembatan gantung terdapat pasar wisata yang menjual beraneka-ragam cindera mata. Jika kuperhatikan sekilas, pasar wisata ini mirip dengan pasar-pasar busana yang lumrah ditemui di sepanjang pantai Pangandaran, Jawa Barat.

Hari itu, tidak ada aktifitas berarti yang kami lakukan. Setelah Johannes terbangun, kami memilih untuk tidak mandi di kamar mandi, melainkan dengan membawa handuk kecil, kami menelusuri sungai. Aliran air di sini amat jernih dan menyegarkan. Airnya pun sejuk, tapi tidak terlalu dingin. Karena dalam beberapa hari itu tidak turun hujan, maka aliran air tidak terlalu deras dan kami bisa bermain hingga ke tengah sungai.

Johannes mencelupkan dirinya ke dalam air
Hanya kami berdua yang bermain di tepian sungai kala itu.

Suasana sore itu amat damai. Tak ada suara apapun selain dari suara-suara alam. Gemericik air, sahut-sahutan suara burung, dan suara angin semua berpadu menjadi satu menghasilkan simfoni alam yang amat merdu. Tanpa berpikir lama, kami berdua segera menenggelamkan badan ke dalam air. Satu, dua, tiga, byurrr. Amat segar. Kami merasa seperti berada di surga, walaupun kami sendiri belum pernah pergi ke surga.

Mimpi buruk kedua

Hari itu, Sabtu, 27 Juni 2015. Malam harinya kami menyusun rencana berapa lama akan kami habiskan di Bukit Lawang. Johannes amat bersemangat untuk bertemu Orang Utan secara langsung. Bukit Lawang adalah salah satu habitat alami Orang Utan yang terkenal di seluruh dunia. Inilah yang membuat lokasi wisata terpencil di tengah hutan ini menjadi amat terkenal di kalangan backpacker. “How about if we do trekking tomorrow?” Tanya Johannes. Aku mengangguk, dan mengikuti apa saja kemauannya. Setelah kesepakatan terwujud, kami beranjak menemui asosiasi guide lokal.

Tidak tanggung-tanggung, harga yang dipatok untuk satu kali trekking di Bukit Lawang adalah 80 Euro. Harga itu hanyalah untuk paket 2 hari 1 malam, sedangkan paket paling wahid untuk trekking satu minggu dibandrol hingga ratusan Euro. Mataku terbelalak. Buatku itu cukup aneh, bagaimana bisa masuk hutan biayanya lebih mahal daripada belanja ke mal?

Tapi, aku tidak terlalu ambil pusing karena Johannes yang membayari biaya trekking itu. Jadi aku hanya manut seraya tersenyum bahagia dalam hati. Setelah semua keperluan administrasi selesai, pemandu yang besok akan mengantar kami menjelajah jantung rimba Sumatra membawa kami untuk berkenalan dengan tim. Peserta trekking di Bukit Lawang akan dikelompokkan dalam kelompok kecil yang beranggotakan lima orang plus dua pemandu. Waktu itu, aku bergabung bersama Johannes, Annete, seorang backpacker dari Belanda, dan sepasang ayah anak dari Rusia.

Pukul 09:00 pagi kami tengah bersiap di pelataran sebuah kafe. Aku begitu bersemangat karena trekking dalam bayanganku adalah berjalan-jalan santai di hutan, mirip seperti jalan kaki di Tahura antara Dago dan Maribaya di Bandung. Dengan percaya diri, aku membawa serta ransel ukuran 35literku. Di dalamnya kujejali dua botol mineral besar, kamera, baju, handuk, dan sempat-sempatnya membawa satu buah buku.

Seharusnya kami segera berangkat, tapi sepasang ayah dan anak Rusia itu ternyata mengalami diare. Jadi, dengan ikhlas kami menanti hingga 30 menit. Setelah semua anggota rombongan siap, perjalanan pun dimulai. Dua orang pemandu berjalan masing-masing di depan dan belakang. Mereka bertugas menjaga agar kami tidak hilang tersesat. Perjalanan ini dalam waktu normal akan ditempuh 8 hingga 10 jam. Ya, ya, aku masih bersemangat.

Etape pertama amatlah mulus. Kami berjalan menyisir sungai. Walaupun jalanan berbatu, tapi aku masih tetap bisa mengikuti langkah kaki mereka. Tak sampai lima menit berlalu, mimpi buruk kedua segera dimulai. Jika dua hari sebelumnya aku harus mengalami mimpi buruk bersama kecoak-kecoak, hari itu aku kembali menyaksikan mimpi buruk, yang bahkan teramat buruk buatku.

Gambaran trekking yang menyenangkan seketika ambyar tatkala trek yang kulihat itu tidak berbentuk. “Kita ke mana ini?” tanyaku. Pertanyaanku segera dijawab dengan memanjat. Salah seorang pemandu segera memanjat sebuah batu cadas, kemudian dia mengulurkan tangannya untuk menarik tiap anggota naik. Aku menelan ludah dalam-dalam. “Mampus aku!” Aku pun jadi orang yang paling terakhir untuk naik ke atas batu cadas itu.

Perjalanan semakin liar. Trek hutan yang masih perawan itu dipenuhi oleh lumpur-lumpur, batu-batu cadas. Tak jarang trek yang kami lalui berakhir di depan tebing. Seperti laba-laba, kami harus merayap pelan-pelan. Tak sampai 30 menit, kakiku gemetar, wajahku memerah bak tomat kebakaran. Semua tim panik, mereka takut aku meninggal tiba-tiba jadi kami pun beristirahat sejenak.

Dua orang pemandu itu agak takut dengan keadaanku. Aku dapat mendengar mereka bergumumam, “Payah kali itu orang lokal! Baru segini dah mau mati dia.” Emosiku terbakar. Aku merasa malu. Bagaimana bisa, aku yang lahir dan besar di Indonesia, yang katanya kaya dengan hutan, eh malah harus mati di tengah hutan? Aku bergumam keras dalam hati. “Bisa, bisa bisa bisa!” Kemudian perjalanan dilanjutkan.

Setiap 15 menit, aku meminta berhenti. Aku tak tahu apa yang ada di pikiran anggota timku yang lain. Entah mereka marah, kesal, atau apapun, aku tidak peduli. Perjalanan trekking itu membuatku mengucap doa setiap menitnya. “Ya Tuhan, jangan mati sekarang, belum lulus, belum nikah. Tapi, kalau harus mati, jangan sakit, ya Tuhan!” Rupanya, Tuhan mendengar doaku.

Dalam perjalanan, kami berjumpa dengan beberapa Orang Utan.

Menjelang tengah hari, Johannes menarawarkan dirinya untuk menggendong ranselku. Otomatis punggungku pun terasa lebih lega dan aku bisa bergerak dengan leluasa. Setelah melakukan trekking selama lima jam, tibalah kami di tahap yang lebih mengerikan. Jika sebelumnya perjalanan didominasi dengan trek menanjak, kali ini kami harus menuruni bukit. Rasa takutku jadi berlipat ganda. Jika trek menanjak membutuhkan tenaga ekstra, trek turun membutuhkan nyali yang ekstra.

Aku iri melihat Johannes, Anette, dan dua Rusia itu bisa turun dengan cepat. Seperti siluman kera, mereka berjalan dengan luwes, sambil tangannya memegang erat dahan-dahan yang bergantung. Johannes dan Annet sempat beberapa kali terjatuh hingga tangannya terluka. Tapi, mereka acuh tak acuh terhadap luka itu. Mereka terus menuruni bukit dengan perlahan tapi pasti.

Melihat gaya mereka menuruni bukit, aku malah tertegun. Doaku semakin intens kuucapkan dalam hati. Jika mereka menuruni bukit itu menggunakan kaki, aku menggunakan pantat. Ternyata, cara ini terbukti ampuh! Walaupun aku memakan waktu jauh lebih lama, tapi setidaknya aku selamat sampai tujuan.

Setibanya di bibir sungai, mereka semua tertawa melihatku. Badan penuh keringat, wajah merah, kaki bergetar, dan pantat penuh lumpur. Alih-alih mengejek, mereka malah menjabat tanganku dan berkata, “Great job, Ary! You did it!” Aku termangu. Seharusnya mereka marah karena aku membuat trekking ini jadi jauh lebih lama. Bagaimana bisa mereka malah memberiku semangat dan mengucapkan selamat?

Kusimpan pertanyaan itu dalam hati. Sebelum aku mendapatkan jawabannya, kami harus segera menyeberangi sungai sebelum hari semakin gelap. Karena malam sebelumnya hujan turun cukup deras, debit air di sungai menjadi tinggi. Rasa takutku kembali membuncah. Air sungai nan deras itu menerjang tubuh hingga setinggi dada. Sesekali aku hampir terhanyut, namun tangan Johannes terus memegangku dengan erat hingga aku pun tiba dengan selamat di seberang sungai.

Kemah tempat kami melewatkan malam
Sungai Bahorok berada persis di depan perkemahan kami

Akhirnya, perjalanan hari itu selesai! Kami membutuhkan waktu 11 jam untuk tiba di lokasi. Setiap persendianku terasa mau putus. Pantatku lecet, juga sekujur kaki dan tangan. Ada darah-darah segar yang menetes karena sepanjang jalan aku membiarkan pacet-pacet hinggap di kulit.

Gulita di tengah belantara

Tim berbagi tugas. Aku menyiapkan tiang gantungan untuk menjemur pakaian kotor. Dua pemandu menyalakan api dan mempersiapkan makan. Johannes dan Annet membantu mendirikan tenda. Sedangkan dua orang Rusia itu malah jatuh tertidur.

Ketika langit telah sepenuhnya menjadi gulita, api unggun menjadi sumber cahaya satu-satunya. Sambil mengahangatkan diri, kami menikmati santapan makan malam amat sederhana. Mie rebus dicampur dengan daun-daun yang kami petik di hutan. Karena perut yang lapar, santapan itu terasa amat istimewa. Seketika perut kami menjadi hangat.

Malam itu begitu teduh. Tak ada distraksi apapun yang memisahkan kami dengan kehangatan alam. Baterai ponselku telah sepenuhnya wafat, demikian juga dengan ponsel anggota tim lainnya. Lagipula, buat apa berpusing soal baterai ponsel, toh tidak ada sinyal juga di sana.

Setelah perut kami semua terisi, tibalah kami pada sesi yang paling menyenangkan, yaitu diskusi. Akhirnya, setelah berjam-jam mengadu nasib di tengah belantara, kami dapat saling mengenal. Orang pertama yang mengenalkan dirinya adalah Anette. Dia adalah seorang perempuan Belanda yang ‘ditugasi’ oleh perusahaannya untuk pergi berlibur. Bosnya, kata Anet, menyuruhnya untuk melakukan traveling selama tiga minggu, bebas ke manapun yang dia mau. Karena Anet menyuaki petualangan, maka dia memilih Sumatra sebagai destinasi utamanya.

Setelah Anet selesai, kini giliran dua Rusia yang adalah sepasang ayah dan anak memperkenalkan diri. Alex, nama sang Ayah adalah seorang insinyur yang ditugaskan bekerja di Banda Aceh. Dalam rangka liburan sekolah, dia mengajak putranya yang tinggal di Rusia untuk datang berkunjung ke Indonesia. Ayah dan anak ini membuatku iri. Aku lahir dan tumbuh di keluarga broken-home. Jangankan bepergian bersama ayah, ditepon untuk ditanyai kabar pun tidak pernah.

Sesi berkenalan itu berubah menjadi pembicaraan tak keruan. Tatkala Anet memilih untuk tidur, pembicaraan kami mulai menjurus ke sesuatu tentang seks. Sejujurnya aku merasa takut. Di Jawa, biasanya tabu atau pamali apabila berbicara sesuatu yang jorok di tengah hutan. Bisa-bisa membuat makhluk halus marah. Aku memilih untuk pergi tidur daripada hantu-hantu hutan menyerangku.

Malam itu aku tidur dengan amat nyenyak. Tentunya dengan bantuan berlembar-lembar koyo salonpas yang kutempel di sekujur tubuh. Tulang-tulang yang remuk itu seolah bersatu kembali. Kupejamkan mata rapat-rapat seraya berbisik, “Matur nuwun, Gusti!”

Hari itu, ada secuil kebanggaan dan rasa syukur tak terkatakan dalam hatiku. Destinasi kedua ini mengajarkanku untuk mengalahkan rasa takut. Walaupun aku harus berjalan terseok-seok, menuruni bukit dengan pantat hingga lecet, tapi aku belajar untuk berjuang. Ada kalanya perjalanan hidup tidak sesuai dengan ekspektasi. Ada kalanya trek kehidupan yang dilalui seolah menjerumuskan kita ke lubang maut. Tapi, satu yang aku syukuri adalah Dia yang membawaku memulai perjalanan ini, tentu Dia jugalah yang membimbingku hingga aku bisa tampil sebagai pemenang.

***

Senin, 29 Juni 2015. Ketika mentari mulai naik, halimun pagi masih mendekap sebagian sudut belantara. Sementara sarapan pagi dibuat, dua Rusia sudah asyik mencemplungkan dirinya ke dalam aliran air. “Gila” pikirku. Apa mereka tidak dingin ya, tapi mungkin air sungai ini tidak apa-apanya untuk mereka. Toh, di negaranya mereka terbiasa hidup di tengah es.

Sarapan pagi kembali disajikan. Masih dengan menu berupa mie, namun ditambahi dengan aneka buah segar sebagai penutup. Buah-buah itu didapat dari hutan. Ada nanas, papaya, pisang, dan jambu air. Kami menyantap dengan lahap semua makanan itu.

Di hari kedua tidak banyak yang kami lakukan. Kami berjalan-jalan di sekitar lokasi kemah. Bermain air, mandi di air terjun, menyeruput teh panas, dan juga berkemas untuk perjalanan pulang.

Aku bisa bernafas lega karena perjalanan pulang ini akan jadi perjalanan paling mengasyikkan. Kami akan pulang dengan river tubbing. Di lokasi kemah ternyata sudah disediakan empat ban besar, mungkin seukuran ban truk. Ban-ban itu kemudiaan diikat secara berbaris menyerupai kereta api. Di bagian depan dikhususkan untuk seorang pemandu. Dia membawa tongkat panjang yang berfungsi mencegah ban menabrak cadas. Sedangkan di bagian paling belakang, seorang pemandu bertugas menjaga barang bawaan yang sebelumnya telah dibungkus plastik raksasa agar tidak terhempas. Dia juga membawa kayu panjang untuk membantu mengarahkan laju ban-ban kami.

Setelah segala perbekalan dikemas, kami bersiap pulang. Masing-masing kami siap di posisi. Tidak ada satupun di antara kami yang menggunakan pelampung. Tapi, kami tenang-tenang saja. Dalam hitungan satu, dua, tiga, kami pun hanyut terbawa aliran sungai yang deras. Perjalanan terasa kian menantang tatkala ban kami harus melewati jeram yang panjang. Tubuh kami terguncang-guncang, terayun ke kanan kiri. Seraya berpegangan tangan erat, kami menjerit-jerit kegirangan.

Perjalanan pulang menggunakan ban-ban karet selama dua jam lebih

Sungai Bahorok memang luar biasa. Aliran airnya amat jernih dan mengalir deras. Kehadiran kawasan konservasi Bukit Lawang telah menjadi penyelamat aliran air ini. Jika suatu saat hutan-hutan ini beralih menjadi ladang sawit, tentu cerita akan berubah. Sungai Bahorok yang kemudian mengalir ke hilir, menjadi berkat bagi ribuan jiwa yang tinggal di sisinya.

Perjalanan river tubbing kami telah mendekati tujuan akhir. Dari jauh aliran sungai mulai melambat dan bangunan-bangunan penginapan terlihat samar. Dua jam lebih kami habiskan dengan terayun-ayun di atas ban. Setelah tiba di lokasi, kami pun berpamitan. Sayang sekali karena tidak sempat berfoto bersama.

Sekembalinya di penginapan, kami menyusun rencana selanjutnya dari perjalanan ini. Setelah dari Bukit Lawang, kami memiliki dua pilihan. Pergi ke Nias, atau ke Aceh. Pilihan kami jatuh kepada Aceh. Setelah berkutat dengan pegunungan, tujuan kami selanjutnya adalah pesisir Aceh.

Senja di Bukit Lawang

 

 

Mengunduh Teduh di Curug Sadim

IMG_2850

Mataku belum terpejam sejak semalam, padahal pagi itu aku bersama kedua teman semasa SMA dulu sudah berjanji untuk melakukan hiking ke kawasan pegunungan di Bandung Utara. Kupikir perjalanan malam dari Jakarta ke Bandung paling hanya akan memakan waktu tiga hingga lima jam dan aku bisa tidur sejenak sebelum melanjutkan hiking. Tapi, dugaanku salah karena macet nan panjang itu menyita waktu hingga 10 jam.

Sebenarnya ada niat untuk membatalkan saja acara hiking itu karena badan terasa lelah, tapi setelah kupikir-kupikir, tak apalah lebih capek sedikit, toh jarang juga punya kesempatan yang pas untuk berkumpul dengan teman-teman SMA. Acara hiking ini sudah dikoordinasi sejak satu minggu sebelumnya. Lewat grup di media sosial, aku memberikan informasi tentang hiking ini. Mulanya respons teman-teman begitu antusias, tapi pada hari pelaksanaannya hanya tiga orang yang akhirnya siap untuk berangkat.

Lebih baik sedikit daripada batal, pikirku. Tapi dengan kondisi badan yang sangat kurang tidur, akhirnya kami bertiga menyetujui untuk mengganti agenda dari hiking menjadi piknik. Setelah berpikir sekitar setengah jam, kami tetap tidak menemukan lokasi mana yang nikmat untuk dijadikan tempat bersantai. “Ya udah, mending ke Lembang dulu aja, nanti sampai sana kita mikir lagi!” ucap temanku mengakhiri kebingungan kami.

Nampaknya apa yang diucapkan temanku itu benar adanya. Setibanya di Lembang, kami memutuskan untuk menepi sejenak ke Goa Maria Karmel, bukan untuk berdoa tapi untuk membeli makanan dan memikirkan tempat mana yang akan kami kunjungi selanjutnya. Perut yang terisi kenyang dengan cepat memberikan asupan ide kepada otak. “Gimana kalau ngadem di aer terjun aja?” tanyaku, dan dengan segera kedua temanku menjawab “Ya!”

Menikmati keteduhan curug sadim

Destinasi kami selanjutnya adalah Curug Sadim, sebuah air terjun kecil berair jernih yang terletak di lereng gunung Tangkuban Parahu. Ketika deretan pemukiman penduduk mulai berganti menjadi kebun teh yang menghampar luas, itu tandanya kami telah semakin dekat dengan lokasi air terjun.

Tak terlampau sulit untuk menemukan Curug Sadim. Jika berkendara dari Lembang, ikuti saja jalan utama menuju Ciater, Subang. Setelah melewati area perkebunan teh, terdapat sebuah tugu kecil di pinggir tikungan, ambil jalan kecil di sebelah tugu itu dan berkendaralah sekitar 200 meter sampai menemukan perempatan lalu beloklah ke kiri. Lurus saja ikuti jalan hingga menemukan sebuah papan kecil bertuliskan “Curug Sadim”. Curug Sadim secara administratif terletak di desa Sagalaherang, Panaruban, Subang, Jawa Barat.

Dari jalan utama, kita masih harus melewati jalanan berbatu sejauh 200 meter di tengah perkebunan teh. Tidak ada tanda-tanda suara air terjun, awalnya kami sempat sangsi jangan-jangan air terjunnya jelek. Sebelum memasuki jalanan berbatu, seorang bapak tua berkumis menghampiri kami dan menyodorkan tiket retribusi sebesar Rp 10.000,- per orang.

Setibanya di parkiran motor, barulah kami melihat sungai kecil yang mengalir jernih. Tak banyak orang yang mengunjungi Curug Sadim tampak dari sedikitnya kendaraan yang diparkir di sana, padahal hari itu adalah akhir pekan. Di tepi aliran sungai itu terdapat tanah lapang berumput yang cocok untuk menjadi lokasi berpiknik. Beberapa keluarga bahkan menggelar karpet sambil menyantap aneka makanan yang mereka bawa dari rumah.

IMG_2671
Curug Sadim nan Teduh

Dari parkiran motor kami berjalan kaki sejauh seratusan meter dan tibalah kami di depan Curug Sadim. Entah apa yang mendasari nama curug ini diberi nama “Sadim”. Ketika kutanyakan kepada seorang penjaga di sana, dia pun menjawabnya dengan tawa kecil. Ah, tapi lupakan sejenak soal asal usul nama Sadim, sekarang saatnya menikmati suasana.

Tatkala melihat air terjun di depannya, teman perempuanku segera mengeluarkan ponselnya. Dia mencari posisi terbaik, lalu membidik wajahnya dengan kamera depan ponselnya. Dia tersenyum puas melihat pemandangan yang alami dan menenangkan itu.

Sementara temanku berfoto-foto, aku duduk sejenak di kursi bambu. Kurebahkan sejenak badanku yang belum sempat tertidur ini. Suara gemericik air menyatu dengan udara pegunungan, dan dengan segera merasuk ke dalam tubuhku. Begitu damai. Aku mencoba tidak memikirkan apapun, kutarik nafas perlahan, dan membiarkan harmoni alam hari itu berbicara pada jiwaku.

Namun kenyamanan itu tidak bertahan lama. Serombongan anak sekolah datang dan mandi di sekitaran air terjun. Tak sampai 30 menit, mereka sudah menyingkir dari air karena kedinginan dan suasana kembali sepi.

IMG_2813
Curug Sadim, tak terlalu tinggi, namun tetap asyik dinikmati 

Sebelum orang-orang kembali datang, aku berjalan mendekat ke hadapan air terjun dan membiarkan tubuh ini terhempas oleh butir-butir air. Melihat air terjun dari dekat adalah hal luar biasa buatku. Jika dulu semasa di Jogja, aku bisa tiap minggu pergi mengunjungi air terjun. Tapi, semenjak Jakarta telah memanggilku, maka air terjun adalah tempat langka yang hanya bisa kusinggahi di tanggalan merah saja.

Tak lebih dari dua jam kami menghabiskan waktu di Curug Sadim, namun itu sudah lebih dari cukup untuk mengenyahkan segala penat yang bersarang di pikiran. Memang, benar kata pepatah, alam selalu jadi obat terbaik. Obat bagi jiwa yang penat dan berbeban berat.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Kedai Kopi Menoreh: Ketika Kudapan Desa Naik Kasta

suroloyo1

Senyum lebar tersungging di wajah Pak Rohmat ketika mempersilahkan kami berdua masuk ke dalam kedainya yang sederhana. Hari itu di Sabtu pagi, kami adalah pengunjung pertama yang datang ke kedai kopi nan legendaris di perbukitan Menoreh.

“Monggo mas, mlebet mawon,” sapa Pak Rohmat dalam bahasa Jawa halus sambil mengarahkan kami ke area parkiran motor. Setelah mesin motor dimatikan kami mengamati sekeliling—begitu teduh dan menurut kami kedai ini lebih kelihatan seperti rumah biasa daripada sebuah kedai kopi.

Waktu itu jam belum genap menunjukkan pukul 07:00 dan sinar matahari masih malu-malu menerobos lebatnya pepohonan—juga masih tersisa embun-embun pagi yang menggelayut di ujung dedaunan.

Kami menghela nafas dalam-dalam dan merasakan kesegaran udara desa yang masih asri. Sebetulnya tujuan utama kami ke Kedai Kopi Menoreh ini adalah untuk mencari tempat istirahat supaya nanti bisa pulang kembali ke Jogja tanpa ngantuk. Sejak pukul 02:00 kami telah berkendara dari Jogja menuju Kulonprogo demi mengejar sunrise di Puncak Suroloyo. Dan sebelum kami bertolak pulang, Kedai Kopi Menoreh kami putuskan untuk disinggahi sejenak.

Pak Rohmat, sesosok pria paruh baya yang begitu ramah. Beliau berbicara bahasa Indonesia  dalam logat Jawa yang medhok namun nyaman didengar. Berhubung kami adalah pengunjung pertama di hari itu, maka kami berkesempatan untuk mengobrol panjang lebar dengan beliau.

Awal terciptanya Kedai Kopi Menoreh

Sejatinya nama Kedai Kopi Menoreh sendiri kami kenal lewat sebuah postingan teman di media sosial. Waktu itu kami jadi penasaran karena melihat aneka macam kuliner desa yang disajikan secara sederhana namun terlihat elok dan menggoda lidah. Setelah mencari informasi lewat Mbah Google, maka kami pikir tidak ada salahnya untuk singgah sejenak di kedai ini.

Pak Rohmat menuturkan kalau pada awalnya dia tidak menyangka kalau usaha kedai kopinya ini akan terkenal—setidaknya di kalangan wisatawan lokal. Waktu itu dia berinisiatif untuk mulai membudidayakan tanaman kopi di sekitar rumahnya. Tak puas dengan hanya menanam kopi, dia mencoba untuk memasarkannya lewat kedai yang dia bangun.

“Ya awalnya tetangga itu pada ketawa. Masak iya ada orang yang mau makan ke desa? Bikin restoran kok di tengah desa, ya lucu!” ucap Pak Rohmat sembari menirukan ekspresi tetangga-tetangganya ketika tahu rencana awal beliau untuk membuka kedai kopi.

Pada awalnya omongan para tetangga itu sempat membuat Pak Rohmat berpikir dua kali. Tapi, Pak Rohmat bersikeras untuk mencoba usahanya ini karena menurutnya di zaman digital ini semua mungkin—termasuk membawa orang kota datang ke desa untuk mencicipi makanan kampung.

Bulan-bulan pertama usahanya belum terlihat membuahkan hasil. Tetapi, dia terus gigih mengenalkan produk kopi dan kedainya kepada rekan-rekannya di kota Jogja. Sampai suatu ketika mulai ada orang-orang yang tertarik dengan kopinya. Yap! Kopi yang disajikan di kedai Pak Rohmat adalah kopi yang dia tanam sendiri dan juga diolah sendiri.

Lama-lama, kabar tentang Kopi Menoreh ini dengan cepat menyebar. Setiap pengunjung yang hadir memberikan kesan dan pesan mereka lewat akun media sosial sehingga secara tidak langsung ini juga menjadi berkah promosi bagi Pak Rohmat.

Selain kopi, Pak Rohmat juga menyajikan aneka wedangan lainnya. Penyajiannya pun unik karena setiap makanan diletakkan di sebuah nampan yang terbuat dari kayu dan disajikan lengkap dengan aneka kudapan desa lainnya seperti kacang rebus, singkong rebus, dan geblhek yang adalah makanan khas Kulonprogo.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setiap akhir pekan kedai Pak Rohmat akan ramai dikunjungi oleh banyak orang. Ada komunitas pesepeda, komunitas motor, juga banyak orang yang seusai menikmati matahari terbit di Suroloyo akan mampir menyempatkan diri di kedai Pak Rohmat.

Tak terasa seraya berbicang dengan Pak Rohmat ternyata kami sudah menghabiskan seluruh makanan di atas meja. Untuk memuaskan gelora perut di pagi hari, kami pun memesan dua piring mie goreng ditambah sepaket kacang rebus.

Ragam Kudapan khas Desa

Satu paket wedangan yang disajikan di kedai Pak Rohmat dibanderol antara harga Rp 12.000,- hingga Rp 25.000,-. Menu yang kami pesan adalah paket teh panas seharga Rp 12.000,-. Terlepas dari harganya yang bersahabat, menikmati kudapan di Kedai Pak Rohmat mengingatkanku tentang kehidupan di desa yang dulu pernah dijalani selama masa Kuliah Kerja Nyata.

Makanan khas desa memang terlihat sederhana tapi sungguh nikmat untuk disantap. Aroma teh dan empuknya singkong rebus membangkitkan memori tentang nuansa pedesaan yang aman, damai, dan tenteram.

Lewat kedai ini Pak Rohmat ingin membuktikan kalau kudapan desa itu nikmat dan bisa dinikmati oleh siapapun. Dari balik kesederhanaannya, kudapan desa mengandung filosofi hidup. Sekilas mungkin kudapan itu tampak biasa, tapi ketika dinikmati bersama teman sebagai pelengkap obrolan tentu rasanya akan jadi lebih nikmat!

Setelah mie goreng datang dan habis kami santap, kami pun larut dalam mimpi selama dua jam. Sungguh nikmat berada di kedai kopi Pak Rohmat karena suasana begitu tenang dan teduh. Tak ada suara bising kendaraan bermotor, yang ada hanyalah suara ayam dan bebek yang sesekali terdengar.

Setelah perut terisi penuh, kami undur diri kepada Pak Rohmat. Dan tak lupa, untuk melengkapi dokumentasi perjalanan, aku pun berfoto dulu dengan Pak Rohmat!

IMG_9823
Bersama juragan kopi, Pak Rohmat

Terima kasih pak, kapan-kapan kita berjumpa lagi!


Nama: Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat

Lokasi: Dusun Madigondo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo

Jarak tempuh: Sekitar 1-2 jam dari kota Yogyakarta ke arah Samigaluh, bisa juga masuk melewati Gereja Boro (Banjarasri), Kalibawang.

 

 

 

Kisah Nestapa Perjalanan Ke Tanah Ngapak

nestapa2
Bus Gapuraning Rahayu mogok dan penumpangnya terlantar di Tol Jagorawi KM 19

Bepergian naik bus ekonomi selalu menyajikan kisah tersendiri. Di saat perusahaan otobis (PO) lain mulai mengganti armadanya menjadi lebih baru dan nyaman, tapi masih ada pula PO yang mengoperasikan bus-bus tua selagi masih bisa dipakai. Salah satunya adalah PO Gapuraning Rahayu yang akan menjadi pelengkap cerita nestapa tentang perjalanan selama 14 jam demi melepas penat dari Ibukota.

Aku pikir malam itu akan jadi malam yang berjalan lancar tanpa hambatan. Pukul 17:10 aku sudah tiba di terminal bus Kalideres dan mencari-cari bus yang akan berangkat ke daerah Cilacap, Jawa Tengah. Sebelumnya teman-teman kantor sudah memperingatkan kalau di terminal bus itu sangat rawan jambret dan pemalakan, malah ada seorang teman yang diperas preman-preman di sana. Tapi, cerita seram itu tidak menyurutkan niatku untuk pergi naik bus. Kupasang kupluk hitam di kepala, memakai masker, sebisa mungkin berjalan cepat dan tidak boleh terlihat linglung supaya tidak jadi sasaran kejahatan.

Terminal Kalideres – sebelum nestapa dimulai 

Berhubung hari itu adalah Jumat, jadi suasana terminal sedikit lebih ramai karena banyak penumpang yang memanfaatkan akhir pekan untuk bepergian, dan aku salah satunya. Ada sedikit kecewa ketika mengetahui kalau bus yang berangkat ke Sidareja, Cilacap ternyata bukanlah bus AC, melainkan bus ekonomi. Sebenarnya bukan soal kenyamanan yang aku keluhkan, tapi aku takut kalau-kalau bus tua ini nanti mengalami masalah di jalan. Namun, kutepis segala prasangka buruk itu dan berharap bus tua ini masih memiliki performa yang prima.

nestapa1
Interior bus ekonomi Gapuraning Rahayu tujuan Kawunganten – Sidareja

Satu jam menanti keberangkatan di terminal bus, lebih dari 15 pengamen telah datang silih berganti. Ada yang suaranya bagus, tapi ada pula yang sekadar genjreng gitar tanpa ada niat menyanyi. Seolah tak mau kalah dengan pengamen, puluhan pedagang juga merangsek masuk ke dalam bus yang pengap. Mereka menjajakan power bank, ikat pinggang, kaos kaki, permen, hingga racun tikus!

Dengan keringat yang mengalir deras di wajah, mereka seolah tidak merasa lelah. Sembari semerbak asap rokok menyeruak di kabin bus, mereka berteriak lantang mengharap agar dagangan mereka laris. “Aquaa, aquaa, mijon, kacang, tahu, tahunya , permen, tolak angin, telur puyuhnya, mas?” teriak mereka. Alih-alih terganggu, aku dibuat kagum oleh setiap perjuangan mereka demi sesuap nasi. Kurogoh kantong celanaku dan kubeli dua bungkus permen jahe, sebuah lontong, dan satu jamu tolak angin.

Bus sudah terisi penuh tapi tak kunjung beranjak dari terminal. Satu, dua menit kemudian beberapa penumpang mulai berteriak-teriak kepanasan karena udara semakin pengap, tapi sopir tetap bergeming. Barulah setelah 15 menit bus mulai melaju perlahan bak siput yang sedang mengikuti kompetisi balapan.

Untuk membunuh waktu, aku bercakap-cakap dengan penumpang di sebelahku. “Turun endi, mas e?” tanyanya. “Aku Sidareja mas,” jawabku. “Lha, asli wong sidareja? iki balik kampung po kepriwe? Wes pirang taun nang Jakarta?” pertanyaan-pertanyaan itu menarik karena diucapkan dalam logat Ngapak alias logat khas Cilacap yang buatku terdengar unik.

Keistimewaan dari menggunakan angkutan umum kelas ekonomi (kecuali pesawat) adalah keakraban yang jarang didapat di kelas yang lebih tinggi. Ratusan perjalanan telah kulakukan, dan aku selalu memilih untuk duduk di kelas ekonomi daripada eksekutif. Teman duduk bisa jadi teman ngobrol, dan dari obrolan inilah seringkali ada nilai-nilai kehidupan yang terselip.

Hari itu penumpang bus didominasi oleh pekerja dari daerah Cilacap yang merantau ke Jakarta untuk menjadi buruh bangunan, sopir ojek, dan pekerjaan kasar lainnya.

Ketika Nestapa Dimulai 

nestapa3
Menyempatkan diri untuk selfie daripada tidak ada kerjaan

Setiap Jumat sore hingga malam, jalanan di Jakarta berubah menjadi statis alias macet total di mana-mana. Butuh waktu tiga jam untuk menempuh jarak 30 kilometer dari Jakarta Barat menuju Jakarta Timur. Pukul 20:00 bus yang kutumpangi baru tiba di bibir jalan tol Jagorawi yang mengarah ke Bogor. Selama tiga bulan sejak Desember 2016, bus-bus besar tidak diizinkan melewati tol Cipularang, sehingga banyak bus dengan tujuan Jawa Barat bagian selatan dan Cilacap memilih untuk mengambil jalur Puncak via Bogor.

Baru lima menit berlalu selepas gerbang tol Cibubur, kekhawatiranku ternyata menjadi nyata. Bus yang kutumpangi mendadak mati di tengah jalan tol! Puluhan pengendara segera membunyikan klasonnya keras-keras dan setelah dicoba dihidupkan selama tiga menitan, akhirnya bus bisa melaju kembali. Tapi, bus hanya mampu melaju beberapa meter sampai di bahu jalan, lalu setelahnya mesin bus pun wafat tak bernyawa.

Semua penumpang panik, tidak terima karena bus yang digunakan ternyata bus usang. Beberapa menuntut ganti rugi dan meminta segera dikirimkan bus cadangan, tapi awak bus tidak bisa memberi solusi apapun selain meminta penumpang untuk menunggu. Ada sekitar 50 penumpang hari itu dan semuanya terkatung-katung di pinggir jalan tol Jagorawi tanpa kepastian apakah ada bus baru yang dikirim atau tidak.

Satu jam berlalu hingga tiba sebuah bus Gapuraning AC dengan tujuan Karang Pucung. Bus itu berhenti dan segera diserbu semua penumpang yang terlantar, tapi bus itu sudah keburu penuh dan hanya mampu mengangkut 15 penumpang tambahan. Akhirnya 35 penumpang lain kembali terlantar tanpa kepastian.

Dua jam setelahnya aku merasa kantung kemihku mulai penuh dan berjalan agak jauh dari kerumumunan untuk buang air kecil. Sungguh beruntung! Ternyata saat aku selesai menuntaskan buang air, sebuah bus Gapuraning tujuan Karang Pucung datang dan berhenti sangat dekat denganku. Aku berlari sekencang-kencangnya dan jadi orang pertama yang naik ke atas bus, tapi ternyata bus itu juga sudah penuh karena hanya ada sekitar 10 kursi kosong.

Aku beruntung karena mendapatkan tempat duduk, sedangkan penumpang lainnya akhirnya nekat masuk ke bus walau harus duduk di lantai. Kisah nestapa ini masih berlanjut ketika bus yang penuh sesak harus melintas jalanan yang berkelok-kelok. Satu, dua jam kemudian mulai gugur beberapa penumpang yang akhirnya muntah. Aroma muntahan itu menyebar lewat udara dan memancing penumpang lainnya untuk ikut muntah.

Setelah 14 jam berlalu….. 

Saat matahari pagi mulai menampakkan wajahnya, bus yang kutumpangi sudah meninggalkan provinsi Jawa Barat dan memasuki area Wanareja, Jawa Tengah. Kisah nestapa tadi perlahan sirna seiring hijaunya sawah yang membentang dari balik bingkai kaca bus. Pemandangan ini sangat langka ditemukan di Jakarta, jadi ketika aku melihat halimun tipis masih menggantung di atas hamparan padi, seketika hati ini terasa begitu ayem. 

Sebenarnya tujuan utamaku adalah kecamatan Sidareja, tapi bus ganti yang kutumpangi ini hanya berhenti sampai Karang Pucung dan pihak manajemen bus tidak memberi kompensasi apapun kepada penumpang yang harus membayar ongkos lebih karena harus berganti tujuan. Tidak ada kata maaf, apalagi uang kompensasi. Tapi, itu semua dimaklumi karena ini adalah kelas ekonomi, dan penumpang pun tidak terlalu mengambil pusing soal itu selama akhirnya mereka bisa tiba di lokasi.

Pukul 07:00 akhirnya tiba di Karang Pucung setelah melewati perjalanan nestapa selama 14 jam dalam bus. Perjalanan menaiki bus itu selalu penuh cerita. Harus menahan pipis, menahan rasa mual, dan banyak bersabar karena kondisi jalan yang tidak dapat diprediksi. Jika dalam kondisi normal perjalanan Jakarta-Cilacap bisa ditempuk 7-9 jam, hari itu perjalananku lebih lama dua kali lipat dari biasanya.

nestapa4
Bersama keluarga gembala sidang dari Gereja Baptis Karangpucung

Sembari menunggu kendaraan untuk melanjutkan perjalanan ke Sidareja, aku berkunjung ke sebuah gereja yang terletak di dekat pasar Karang Pucung. Pagi itu menjadi lebih hangat dengan segelas teh panas yang disuguhkan keluarga pendeta. Sekitar 30 menit kami habiskan dalam obrolan hangat, dan di akhir sebelum berpamitan dan melanjutkan perjalananku, kami berfoto bersama.

*******

Perjalanan selalu memiliki ceritanya tersendiri, jadi selama kaki masih kuat melangkah dan dompet masih mampu bernafas, maka ransel hitamku kan selalu kupanggul setiap Jumat malam.
Sidareja, Jawa Tengah, 5 Feb 17