Arsip

Setiap kali melihat kalender yang letaknya di samping monitor, rasanya waktu berjalan sangat cepat. 5 Desember 2018, hari ini genap dua tahun saya masuk dan bekerja di Jakarta, di sebuah kantor lembaga nirlaba yang letaknya di pojok barat Jakarta. Kalau mengingat bagaimana kalutnya suasana hati kala pertama masuk kerja dulu, bisa bertahan sampai sejauh ini tentu adalah sebuah berkat dan kesempatan yang amat baik.

Selasa (20/11) yang lalu, rekan-rekan di kantor mengajak saya pergi jalan-jalan. “Ke Hutan Kota Srengseng yuk,” kata mereka. Saya mengernyit. Baru pertama kali dengar nama itu. Setahu saya, kawasan hijau yang mirip-mirip hutan di Jakarta itu cuma di Taman Suropati, atau kalau mau melipir lebih jauh lagi ya Kebun Raya Bogor, kawasan hijau yang bentuknya paling mirip dengan hutan.

  Dua bulan lalu saya merasa stres dan tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Hari-hari terasa suram. Mata sembab. Kepala berat. Semangat menguap. Akhirnya di hari Sabtu pagi saya memutuskan pulang ke Bandung secara mendadak, untungnya masih ada tiket kereta.

  Delapan dekade lalu perang mahadahsyat pernah berkecamuk. Perang yang bermula di Eropa dengan cepat menjalar ke berbagai penjuru dunia, tak terkecuali kepulauan Nusantara yang kala itu masih bernama Hindia-Belanda. Meski pada tahun 1945 perang dinyatakan berakhir dan dimenangkan oleh pihak Sekutu, jerit dan pilu keganasannya tak pernah benar-benar sirna. Kemenangan sekalipun tak mampu memulihkan luka dari perang.

“Aduh Ry, itu GM gua ngeselin banget. Seenaknya banget dia pakai jam kerja buat urusan pribadinya!

Nafasnya sedikit tersengal dan bulir-bulir keringat muncul di atas keningnya. Kaka baru saja berjalan sekitar satu kilometer, dari halte busway Pesakih menuju kantor. Setelah beristirahat barang semenit dua menit untuk mendinginkan badan, ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu mulai bekerja.