Sensasi Pertama Kali Naik Kereta Kelas Wahid!

argo1
Kereta api Gajayana tengah berhenti di Stasiun Tugu Yogyakarta (26/2/17)

Berburu tiket kereta api untuk berangkat di akhir pekan sekarang jadi aktivitas yang mengasyikkan sekaligus menantang. Mengasyikkan jika kursi kelas ekonomi masih tersedia, tapi menantang ketika tiket kelas ekonomi ludes dan harus mencari alternatif lain. Ketika tiket murah yang dicari ternyata ludes, hanya ada tiga pilihan yang kini tersedia—naik kelas ke bisnis atau eksekutif, cari alternatif lain dengan naik bis, atau gagal berangkat.

Beberapa minggu yang lalu aku menjatuhkan pilihanku ke nomor dua, yaitu berganti moda transportasi dengan naik bis. Hasilnya, perjalanan dari Jakarta ke Cilacap yang kalau naik kereta ekonomi Serayu bisa ditempuh 9 jam, menjadi 14 jam dengan naik bis. Itupun ditambah dengan bis yang mogok dan aku ditelantarkan di pinggiran tol Jagorawi hampir tiga jam tanpa kepastian.

Tidak ingin kejadian nestapa di jalanan itu berulang, akhirnya untuk keberangkatan pulang dari Yogyakarta ke Jakarta aku membeli tiket KA Argo Dwipangga seharga Rp 380.000,-. Harganya lumayan fantastis walau memang tidak semahal harga pesawat. Tapi, dengan harga setinggi itu aku bisa bepergian bolak-balik Jakarta- Jogja hingga tiga kali jika naik KA Ekonomi Bengawan yang harganya hanya Rp 74.000,- sekali jalan.

Kereta api yang berubah wajah

Sebetulnya, secara keseluruhan pelayanan kereta api di Indonesia, khususnya di Jawa saat ini sudah mengalami banyak sekali kemajuan. Tahun 2009 saat duduk di SMP kelas IX, kereta api selalu jadi transportasi andalanku untuk bepergian ke timur ataupun barat kota Bandung. Perjalanan puluhan kilometer dari Bandung ke Padalarang atau Cicalengka hanya dibandrol Rp 1.000,- saja. Jauh lebih murah dari tarif angkot pada masa itu.

Tapi, harga yang murah ternyata berbanding lurus dengan pelayanan. Dulu, hampir di setiap kereta ekonomi kenyamanan penumpang dianaktirikan. Tidak peduli seberapa penuh gerbong kereta, penumpang demi penumpang tetap merangsek masuk menjejali gerbong yang kian sesak. Tak hanya itu, copet-copet bergentayangan meraba-raba bawaan penumpang yang kala itu sedang apes. Semua itu masih ditambah dengan udara pengap, teriakan pedagang dan pengamen yang hilir mudik tiada henti.

Tapi, pemandangan itu kini sudah sirna ditelan badai! Kereta api jauh dan sangat manusiawi saat ini. Kereta ekonomi hingga eksekutif sudah dilengkapi dengan pendingin udara, stasiun disterilkan, setiap penumpang harus bertiket sehingga tidak ada lagi kereta kelebihan muatan, sistem reservasi telah online, dan jadwal keberangkatan kedatangan juga on time!

Pengalaman pertama kali naik Argo

Sekalipun hampir setiap bulan bepergian naik kereta api, tapi kereta dengan kelas eksekutif tidak pernah jadi pilihanku untuk bepergian. Dengan keterbatasan uang sebisa mungkin aku harus mendapatkan tiket semurah mungkin supaya agenda traveling bisa terus jalan setiap bulannya. Tapi berhubung di akhir Februari ada urusan penting di Yogyakarta yang tidak bisa ditunda, jadi mau tidak mau tiket semahal apapun harus dibeli.

argo2
Interior KA Argo Dwipangga (KA 9 Solo Balapan – Gambir)

Sekalipun harga tiket lumayan mahal, tapi ternyata fasilitas yang ditawarkan di kereta api Argo Dwipangga juga sebanding dengan harga. Minggu malam (26/2) kereta Argo Dwipangga datang membawa 11 rangkaian gerbong eksekutif keluaran terbaru. Kereta berangkat dari Solo Balapan pukul 20:00 dan tiba tepat waktu di Yogyakarta pukul 20:52.

argo3
Stasiun Tugu, stasiun penuh kenangan

Setelah sembilan menit menaikkan ratusan penumpang yang hendak beranjak ke Ibukota, kereta mulai melaju. Seketika aku berasa seperti orang udik, maklum karena jarang sekali naik kereta eksekutif dan pengalaman naik kereta api Argo Dwipangga ini adalah perjalanan pertamaku naik kereta dengan gerbong keluaran terbaru plus tiketnya dibeli dengan uang hasil keringat sendiri.

Membelah malam dalam kenyamanan

Getaran di dalam gerbong tidak terlalu kentara sehingga penumpang bisa beristirahat dengan nyaman tanpa guncangan yang berarti. Lalu jarak antar kursi yang lega juga membuat penumpang lebih leluasa. Dua layar televisi besar terpasang di depan dan belakang gerbong, tapi karena di kereta malam, kebanyakan penumpang lebih memilih tidur daripada menonton tv.

Di atas tempat televisi berada, ada papan indikator yang menunjukkan posisi gerbong, kursi penumpang dan jam. Ada yang menarik karena di gerbong eksekutif baru ini, penumpang juga bisa tahu berapa kecepatan kereta api yang dinaikinya dan stasiun mana yang akan dilewati oleh kereta. Suhu udara di dalam gerbong juga pas, sekitar 22-24 derajat celcius.

Untuk menempuh jarak sekitar 500 kilometer, kereta api Argo Dwipangga hanya berhenti di stasiun Kutoarjo, Purwokerto, Cirebon, Jatinegara dan Gambir sehingga waktu tempuhnya bisa lebih cepat dari 8 jam perjalanan. Satu jam setelah kereta api meninggalkan Yogyakarta, lampu gerbong yang benderang mulai diredupkan untuk mempersilahkan penumpang beristirahat. 

Kursi reclining seat dalam gerbong juga lumayan nyaman diduduki walaupun terasa agak keras. Untuk menambah kenyamanan tidur juga telah disediakan selimut dan bantal. Tapi karena ACnya tidak terlalu dingin jadi selimut itu tidak kugunakan. Oh ya, kereta Argo Dwipangga ini adalah salah satu kereta api pertama di Indonesia yang menggunakan rangkaian eksekutif 2017. Selain Dwipangga, jika ingin menjajal gerbong baru ini penumpang bisa naik kereta api Gajayana, Bima relasi Malang-Gambir, Argo Lawu relasi Solo Balapan – Gambir, juga Sembrani relasi Gambir – Pasar Turi, dan kereta dengan kelas-kelas Argo lainnya.

Tujuh setengah jam membelah malam, akhirnya si ular besi Dwipangga mengakhiri dinas malamnya di Stasiun Gambir pada pukul 04:50, meleset beberapa menit dari jadwal seharusnya karena kereta harus antre mendapatkan tempat parkir.

Sekalipun gerbong sudah didesain sedemikian nyaman, tapi tetap saja punggungku sakit dan pegal. Tapi, di situlah kenikmatan sebuah perjalanan traveling. Badan pegal adalah bonus, dan hati senang adalah anugerah. Jika suatu saat mendapatkan rejeki lebih, tidak ada salahnya berpaling sebentar ke kereta kelas eksekutif. Jadi, kapan kita mau naik kereta bareng nih?

 

Jogjakarta – 26 Februari 2017

Iklan

5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan

blog2

“Pergi karena semangat, pulang karena rindu.”

Nama Jogja terdengar begitu istimewa, apabila kata itu terucap, tiba-tiba rasa rindu segera mendekap. Seringkali teman-teman bertanya heran, mengapa aku begitu baper dengan Jogja. Apakah ada pengalaman buruk atau manis yang pernah terjadi di sana?

Continue reading “5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan”