Arsip

Dua kali masuk ke Singapura, semua berjalan lancar. Di Bandara Changi, saya menunjukkan paspor, scan dua jempol, difoto wajah, dan selesai. Tapi, minggu lalu ceritanya berbeda. Paspor saya ditahan dan saya diinterogasi oleh petugas imigrasi. Proses ini memakan waktu hampir dua jam. Buat saya yang baru pertama kali mengalami hal ini, rasanya ngeri-ngeri sedap.  

  Hari itu, di pertengahan bulan November 2017, saya menyantap makan malam di sebuah pujasera di kawasan Marina Bay, Singapura. Saat kami asyik menyantap hidangan seraya mengobrol, datang seorang nenek. Wajahnya keriput dan ia mengenakan kacamata. Ia mendekati meja kami.

  Namanya Lik Par. Usianya di atas 60 tahun, tapi penampakannya bugar. Selepas jam 12 malam, ia mendorong sebuah gerobak angkringan menyusuri Jalan Sugeng Jeroni. Di sisi barat jembatan, ia berhenti. Gerobak itu ia tata hingga menjadi angkringan yang siap menyambut tiap pengunjungnya.

Di Sabtu sore yang berawan, Seno terduduk di sebuah dipan kayu. Di belakangnya, bunga-bunga matahari bermekaran, warnanya kuning merona. Bunga-bunga itu bergoyang-goyan ditiup hembusan angin dari laut. Tapi, perhatian Seno tak tertuju ke sana. Matanya menatap lembar demi lembar kertas yang isinya adalah cerita tentang dinosaurus.

Bicara tentang jajah-menjajah bisa jadi hal yang cukup sensitif. Kendati Indonesia sudah meraih kemerdekaannya, masih ada beberapa kontroversi seputar sejarah penjajahan dulu. Salah satu yang pernah saya dengar adalah imaji jika saja seandainya Indonesia dulu dijajah Inggris.

Senang. Itulah satu kata yang sekiranya menggambarkan perasaan saya tatkala kaki ini berpijak di tanah Singapura, negeri tetangga yang jaraknya dekat tapi belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Kunjungan selama delapan hari di Singapura kali ini bukan untuk melancong, melainkan karena urusan pekerjaan.