Menjajal Hidup ala Warga Komuter

“Di Jakarta mah kalaupun gaji lumayan, pengeluarannya juga gede bro!” kata temanku. Sejak kuliah di Jogja dulu, aku sudah tahu dan yakin benar kalau hidup di Jakarta itu tidak murah, apalagi jika dibandingkan dengan biaya hidup di Jogja yang hanya dengan modal selembar goceng bisa dapat sepiring nasi telur plus sayur dan minum. Tapi, apa daya, pada akhirnya pekerjaan harus membawaku hidup dan menjadi bagian dari metropolitan penopang jutaan jiwa lainnya.

Continue reading “Menjajal Hidup ala Warga Komuter”

Ibu Kost Menyebalkan, Tapi…

Ibu Kost

Tujuh bulan di Jakarta, rasanya seperti gado-gado. Tawa, suram, sedih, dan marah semua harus dijalani setiap harinya. Jakarta, dengan kemacetan, semerawut, dan berita-berita kriminalnya sering membuatku muak. Tapi, di balik semua itu tersimpan sebuah pengalaman sederhana, juga menyebalkan yang ternyata membuat betah.

Continue reading “Ibu Kost Menyebalkan, Tapi…”

Melewatkan Tengah Malam Bersama Pak Gojek

Ojek1Hari itu jam sudah hampir menunjukkan tengah malam dan aku masih berkeliaran di jalanan Jakarta yang masih belum sepi juga. Macet parah sepanjang jalan Bandung ke Jakarta membuat badan ini lelah dan rasanya ingin segera tiba di kost. Supaya cepat, lebih baik naik Gojek saja deh, pikirku.

Setelah melakukan order di aplikasi, tak lama pengemudi gojek pun datang, lengkap dengan atributnya yang berwarna hijau. “Pak Aryanto yang ke Sumur Bor, ya?” tanya pengemudi Gojek itu. “Iya pak, saya naik ya,” sahutku sembari bersiap naik ke atas jok. Motor yang digunakan malam itu adalah bebek matic yang terlihat kusam karena kotor. Tapi aku tidak terlalu peduli karena yang ada dalam pikiran hanyalah ingin segera mendaratkan badan di kasur.

Jalanan berangsur-angsur sepi sehingga motor pun dipacu lumayan cepat. “Asli mana pak?” tanyaku memulai pembicaraan. “Saya asli Jakarta, kalau mas?” sahutnya kembali. Seiring kami mengobrol lebih larut, laju motor pun mulai melambat. Obrolan malam itu terasa hangat sekalipun angin dengan keras menerpa. Kami mengobrol banyak hal, soal pekerjaan, jalanan Jakarta yang macet, politik, hingga carut marut konflik antara angkutan online dengan konvensional.

Sebuah kejadian tengah malam

Setelah motor yang kami tumpangi melewati jalan layang, ada sesuatu yang aneh. Motor kami mulai bergoyang dan tidak stabil. “Wah, kayaknya harus berhenti sebentar nih mas,” ucap pengemudi Gojek itu. Akhirnya kami menepi, dan setelah aku turun ternyata ban belakang motor sudah bocor dan rata.

Bapak pengemudi Gojek itu pun panik, demikian juga dengan aku yang berharap ingin pulang cepat tapi malah mendapatkan peristiwa semacam ini. Ketika kulihat jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 00:10. Pikiranku mulai mengeluh, “Gile, mau sampai kost jam berapa ini. Mana pagi harus kerja juga,” gumamku dalam hati.

Sempat terpikir saat itu untuk mengikhlaskan saja biaya ojek yang sudah kubayar itu, lalu mencari taksi atau ojek lain supaya bisa cepat sampai ke kost. Tapi, hati kecilku berkata lain. “Coba bayangkan kalau kamu adalah si bapak Gojek. Kan ban bocor ini bukan maunya dia,” hati kecilku bicara.

Tapi pikiran lainnya segera muncul di benakku. Sejujurnya ada rasa takut waktu itu, bagaimana tidak, Jakarta itu rawan kriminalitas, apalagi ini sudah tengah malam dan di pinggir jalan raya. Beberapa detik aku berpikir, dan akhirnya aku menyerah kepada hati kecilku. Kulirik sekeliling apakah ada tempat tambal ban, ternyata tidak ada.

“Ya sudah pak, kita jalan aja sampai nemu tukang tambalnya ya pak,” ucapku. Akhirnya kami pun berjalan. Aku berjalan lebih dulu sementara si bapak Gojek menuntun motornya di belakangku.

Rasa khawatir kian menjadi karena sepanjang jalan tidak ada tukang tambal ban yang buka. Akhirnya aku melambatkan langkah dan berjalan di sebelah si Bapak. Sambil berjalan, kami pun mengobrol supaya rasa lelah sedikit terusir.

Sekitar 2 kilometer kami berjalan, barulah ada sebuah tukang tambal ban yang ternyata masih buka. Sementara motor diperbaiki, kami pun mengobrol ngalor-ngidul, dari A sampai Z. Nama pengemudi Gojek itu adalah Pak Kholiq. Di usianya yang tidak terlampau tua, beliau sudah dikaruniai seorang cucu.

Malam itu, rencananya pak Kholiq akan segera pulang setelah selesai mengantarku. Beliau sudah lelah karena sepanjang siang hingga malam berkeliling seantero Jakarta untuk menjemput dan mengantar penumpang. Tapi, harapannya untuk pulang cepat juga pupus karena ternyata ban motornya yang bocor.

“Mas, saya jadi gak enak nih, maaf ya jadi lama,” ucapnya. “Loh kok minta maaf pak, kan bocornya bukan bapak yang mau, hehe” jawabku sambil tertawa. Singkat cerita, setelah setengah jam diperbaiki, ban motor itu pun sembuh dan kami melanjutkan perjalanan.

Setibanya di depan gang kostku, aku menyelipkan beberapa rupiah tambahan sebagai apresiasiku atas si Bapak, juga untuk membayar biaya tambal ban tadi. Kemudian kami pun berpamitan.

Sebuah pelajaran untuk menjadi penumpang yang baik 

Jika malam itu aku mencari Gojek lain, tentu itu bukan tindakan yang salah, apalagi saat badan sudah lelah. Tapi, aku sendiri pun bertanya-tanya mengapa hari itu aku memilih untuk berjalan kaki sejauh 2 kilometer, di Jakarta yang konon katanya mengerikan, apalagi di tengah malam!

Seharusnya malam itu aku lebih takut pada kriminalitas Jakarta dan membiarkan pikiran buruk menguasaiku. Tapi, itu semua tidak terjadi. Kejadian malam itu membuktikan bahwa di kota yang dipenuhi imaji akan kekejaman tanpa bela rasa ini, kemanusiaan dan kebaikan masih ada.

Perjalananku berjalan kaki di tengah malam bersama Pak Kholiq pada akhirnya sama-sama menguatkan dan menghibur hati. Satu sisi aku dikuatkan kembali sekaligus ditegur tentang beratnya bekerja di ibukota, namun di satu sisi lain Pak Kholiq juga terhibur karena dia memiliki teman ngobrol sepanjang jalan itu sehingga baik aku dan dia tidak merasa lelah karena berjalan.

Malam itu aku kembali yakin dan percaya bahwa kebaikan tidak akan pernah dikalahkan oleh kejahatan. Rasa khawatir yang berlebihan itu tidak pernah baik, dan jangan pernah biarkan itu mematikan kebaikan yang ada dalam hati kita. Waspada memang perlu, tetapi tetap buka pintu hati dan selalulah berdoa. Aku percaya bahwa Tuhan ambil bagian dalam setiap niatan tulus yang kita perbuat.

Ketika aku merenungkan kembali peristiwa itu, aku teringat akan sebuah ayat yang dikatakan oleh Guru Agungku. “Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.”

Malam itu aku belajar menjadi penumpang yang baik. Menjadi penumpang yang menemani sang Pak Gojek berjalan kaki di tengah gulita malam, juga penumpang yang melaksanakan teladan sang Guru Agungnya.

 

Daan Mogot, 2 Januari 2017

 

 

Bertetirah ke Jantung Ibukota

Hari minggu menjelang siang tatkala sebagian jalan arteri Ibukota masih lumayan lengang, ratusan manusia berjubel memadati Katedral. Satu per satu mobil mengantre mencari tempat parkir, sebagian yang tak sabar segera membunyikan klakson sementara pedagang makanan di luar pagar Katedral laris manis melayani pembeli.

Gereja Katedral Jakarta selalu ramai setiap hari Minggu sepanjang tahun. Pesonanya mampu mendatangkan banyak sekali orang, dari yang berhati tulus ingin beribadah hingga yang hanya sekedar numpang eksis dengan berfoto. Katedral memang unik, menaranya tinggi menjulang ke langit Jakarta dan bangunannya berdiri tepat di depan Masjid Istiqal, sebuah lambang akan damai yang berdampingan.

Aku datang jauh lebih awal sebelum misa Minggu jam 11:00 dimulai supaya mendapatkan tempat duduk di dalam gedung gereja. Jemaat yang hadir memaknai katedral dengan beragam. Tampak sepasang lansia berjalan pelan menuju deretan kursi depan, tanpa bercakap mereka membuat tanda salib, tak lansung duduk mereka memilih untuk berlutut terlebih dulu untuk menyatakan bakti pada Tuhan.

Jemaat semakin tenang ketika misa dimulai. Umat berdiri menyambut datangnya Romo pertanda ibadah nan khidmat dilangsungkan. Pujian merdu mengalir lembut, mazmur didaraskan, homili disampaikan hingga pemberian komuni semua berjalan tenang dan teduh.

Sambil terlarut dalam nuansa teduh itu mataku tertuju pada burung-burung gereja yang terbang di langit-langit. Mereka acuh tak acuh akan kehadiran ratusan jemaat di bawahnya, seolah mereka ingin mengatakan kalau gereja ini adalah rumah mereka, rumah yang Pencipta mereka ciptakan untuk segala makhluk ciptaan-Nya.

img_3871
Altar

Tak sampai dua jam berlangsung, ibadat misa pun usai ketika Romo memberikan pesan damai dan pengutusan kepada jemaat. Suasana yang semula khidmat mulai menjadi ramai, beberapa jemaat segera mengambil posisi ke depan untuk berfoto, sebagian lain memilih untuk keluar, dan ada juga yang memilih pergi ke bagian belakang untuk menyalakan lilin dan berdoa.

Aku memilih untuk berdiam di dalam bangunan tua ini dan melekatkan lututku di pijakan. Seraya berlutut, kututup mataku untuk sekali lagi berdoa, membiarkan Sang Khalik berbicara secara perlahan lewat keheningan.

Aku tidak terlahir sebagai seorang Katolik, tapi aku adalah pengunjung setia gereja Katedral. Tak kulupakan untuk singgah barang sejenak setiap kali aku merasa penat dalam rutinitas. Bangunan nan tua ini menawarkan ketenangan, tempat yang teduh untuk menemukan pribadi Tuhan yang tak terlihat.

Aku larut dalam suasana damai, sebuah suasana yang tak mampu aku deksripsikan dengan kata-kata. Tak ada yang kuingini selain berdiam diri di kursi gereja. Segala penatku perlahan gugur tergantikan syukur. Aku tahu, rumah Tuhan terbuka untuk siapapun, ya, siapapun yang merindukan merasakan damai-Nya, sebuah damai yang berbeda dari apa yang dunia berikan.

Di sela-sela rutinitas metropolitan yang terkadang menjemukan, kutemukan tempat bertetirah tepat di jantung Ibukota. Tak perlu membayar apapun, cukup dengan hati terbuka maka damai itu akan datang dan mengalir.

img_3867
Mengambil memori di Katedral