Dusun Kragilan, Mendadak Tenar Karena Pinus

Kragilan kini tak lagi sama, ia ramai menghiasi linimasa instagram dan mengundang penasaran orang-orang. Sejatinya, Kragilan hanyalah sebuah dusun di lereng Merbabu yang tepatnya berada di kecamatan Pakis, kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tak dipungkiri, kehadiran media sosial dengan cepat menaikkan pamor seseorang juga suatu tempat, dan yang menuai berkah tersebut adalah Kragilan, si dusun mungil yang kini menjadi terkenal.

Sore ini Kragilan ditutupi mendung yang menggelayut sejak siang hari, juga tak banyak wisatawan yang berkunjung. Ketakutan akan hujan bisa jadi alasan penyebab sepinya Kragilan hari ini. Tak menyerah karena sepi, Lilis, seorang bocah kelas VIII SMP duduk dengan manis menanti pembeli di warungnya yang ia namai “warung pojok.”

“Sore dek, kula nyuwun teh anget, wonten?” tanyaku. “Nggih, wonten mas,” jawab Lilis mantap. Dengan cekatan ia menyuguhkan segelas teh manis hangat yang ia bandrol seharga Rp 1.000,-. “Piyambakan mawon toh, dek? Ibu pundi?” tanyaku dalam bahasa Jawa tentang mengapa ia sendiri. Lilis menjawab dengan malu-malu kalau ibunya berada di kebun hingga sore, dan ia ditugasi sang ibu untuk menjaga warung setiap hari.

img_8882
Warung Pojok Dek Lilis

Lilis adalah salah satu dari sekian warga yang menikmati berkah lewat terkenalnya Kragilan menjadi spot wisata favorit. Menawarkan lanskap alam berupa hutan pinus yang terbelah oleh jalan dusun, Kragilan kini bersolek dan dinamai sebagai “Kragilan Top Selfie” akibat dari banyaknya wisatawan yang datang untuk berfoto ria.

Seiring dengan naiknya pamor Kragilan, fasilitas turut dibangun, namun tetap melibatkan warga lokal yang dikelola oleh Pokdarwis. Lantas, apakah yang membuat Kragilan menjadi begitu mempesona sehingga digandrungi ratusan hingga ribuan wisatawan muda setiap minggunya?

Secara geografis, Kragilan berada di ketinggian sekitar 1.000 meter dpl dan berlokasi di lereng Gunung Merbabu. Praktis, udara di sini terasa sejuk sekalipun matahari bersinar terik. Hutan pinus kini menjadi daya tarik tersendiri. Selain Kragilan, daerah lain berhutan pinus yang terkenal duluan adalah Mangunan di Yogyakarta, namun saking terkenalnya kini hutan Mangunan telah bersifat komersial,  hingga sempat ada komplain dari mahalnya harga tiket masuk.

Berbeda dengan Mangunan, Kragilan menawarkan sensasi hutan pinus yang lebih sepi. Suasana sekitar masih terjaga keasriannya. Warga lokal menambahi fasilitas tambahan berupa bangku kayu, mck juga tambahan beberapa warung, namun selebihnya hutan pinus masih alami.

kragilan1
Kragilan Best Spot 

Sejatinya, di mana-mana hutan pinus ya bentukannya sama saja, tapi Kragilan agak berbeda. Di tengah hutan pinus terdapat jalan dusun yang membelah hutan, dan kehadiran jalan inilah yang menjadi daya tarik utama. Banyak orang mengatakan hutan Kragilan sangat instagrammable banget, alias sangat cocok untuk masuk aplikasi Instagram. Untuk menambah kesan instagrammable tersebut, maka ditambahkan juga tulisan-tulisan lucu di beberapa pohon, seperti “Otw Move On”, “Biar Jomblo asal happy”, “Selfie mulu, kapan pre wedding?” 

img_8843
Seorang wisatawan duduk termenung berkontemplasi

Singkatnya, Kragilan kini bersuka karena dikenal. Warga sekitar belajar untuk berdaya dengan hadirnya produk baru bernama wisata instagrammable. Kini setiap wisatawan bisa menikmati Kragilan dengan beragam fasilitas. Mau menginap disediakan persewaan tenda seharga Rp 40.000,-. Mau Pre Wedding, ada. Mau flying fox,  ada. Mau menikmati kejombloan sendiri? Juga sangat boleh!

img_8900
Jomblo? Happy dong

Setelah puas menikmati tingkah para wisatawan di Kragilan, kembali ku berbicang dengan Lilis. Semakin kutanya, semakin malu tersipu ia menjawab. Namun, di balik sipu malunya, Lilis mau menjadi berdaya seperti Kragilan yang juga telah bersolek. Lilis dalam jiwa mudanya tidak menyerah dengan keadaan. Setiap hari ia menjaga warung pojoknya, seorang diri, tanpa hiburan apapun selain suara alam. Ia tidak juga bermain dengan teman sebayanya, ia lebih memilih membantu orang tuanya mencari uang.

Kala hari semakin gelap, segera kembali ku berkemas meninggalkan Kragilan. Tak lupa kutambahkan beberapa rupiah untuk Lilis yang segera dijawabnya dengan senyum malu-malu namun ikhlas.

img_8880
Jangan lupa mampir ke warung Lilis. Segelas teh panas yang kita beli membantunya untuk tetap sekolah dan tersenyum

Jadi, saudaraku, yuk, berwisata ke Kragilan selagi badan sehat, dan jangan lupa untuk memberdayakan potensi warga lokal dengan membeli produk mereka. Kalau bukan kita yang peduli dengan bangsa kita, siapa lagi?

*

*

Rute menuju Kragilan:

Jogja – Jalan Magelang – Muntilan – Pertigaan Borobudur masih lurus – Pertigaan Ketep belok kanan ke arah Ketep, ikuti jalan sampai tiba di Ketep – Dari Ketep masih terus sekitar beberapa Km, dan di kiri jalan ada gapura “Kragilan Top Selfie”, masuk ke situ

Tarif: Parkir dan Karcis Masuk Rp 3.000,-

Jogjakarta, 26 September 2016

Iklan

Gunung Leuser, Surganya Pulau Sumatra

Gunung Leuser ibarat perawan yang masih terjaga. Sungai Bahorok mengalir jernih, nyaris menyerupai air galonan yang dijual di perkotaan. Sore itu di bulan Juni 2015 tidak banyak wisatawan menghabiskan waktu di Bukit Lawang. Terlihat beberapa bule sedang asik melakukan tubbing, aktivitas bersantai menggunakan ban raksasa mengikuti arus sungai. Sedangkan beberapa turis lokal asyik dengan tongkat selfienya mengabadikan moment-moment berharga di alam terbuka.

Tubuh kami cukup lelah setelah menempuh perjalanan dari Medan ke Bukit Lawang. Lelah secara fisik, juga pusing secara pikiran. Kami menghitung persediaan uang yang tersisa, jangan sampai pengeluaran kami bengkak padahal masih ada puluhan hari ke depan yang harus dijalani di Sumatra ini. “So, what should we do tomorrow, Jo?” tanyaku pada Johannes. Sambil nyeruput kopi, kami mempertimbangkan segala kemungkinan, mulai dari uang hingga cuaca.

IMG_2888
Sungai Bahorok, Bukit Lawang, Sumatra Utara, Indonesia

Pilihan kami jatuh pada Trekking. Ya, Trekking! Sebuah perjalanan semi mendaki, mengelilingi Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) selama dua hari satu malam. Waw, imajinasiku menjalar kemana-mana. Bagiku yang lahir dan besar di kota, trekking palingan sekedar jalan kaki di Taman Hutan Raya Juanda di Dago, Bandung, ataupun palingan seperti hiking di wilayah Lembang. Tanpa pikir panjang, kami sepakat untuk melakukan trekking. 

Biaya trekking di Bukit Lawang tergolong mahal karena umumnya hanya wisatawan asing yang melakukan trekking. Kebanyakan turis lokal hanya bermain-main di sekitaran sungai saja tanpa berniat melakukan trekking ke jantung hutan. Kami membayar sekitar US$ 70 per orang kepada pengelola setempat. Berhubung aku juga orang Indonesia, maka terjadi tawar menawar. Kami mendapatkan potongan, sehingga kami berdua cukup membayar Rp 1.500.000,-.

IMG_2905
Seorang turis asing menikmati tubbing sendirian

Segala peraturan administrasi sudah kami lakukan, sekarang saatnya bengong menunggu Minggu pagi untuk berangkat. Tidak ada persiapan khusus yang aku lakukan akibat imajinasi bodoh yang ada di pikiran sebagai anak kota. Sedangkan si Johannes, tentu dia merasa baik-baik saja, namanya juga bule, sudah terbiasa manjat pohon bahkan terakhir kali dia sudah berhasil menaklukan Annapura, sebuah puncak di bawah Everest.

 

Minggu pagi pukul 08:00 perut kami diisi dengan sepiring pancake, juga ransel kami diisi dengan dua botol air ukuran 1,5 liter. Perjalanan kami seharusnya dimulai pukul 08:00 tapi terlambat hingga 09:30 akibat dua turis Rusia yang agak nyeleneh dan suka terlambat. Sebelum berangkat, kami dibagi kedalam tim yang terdiri dari aku, kawanku yang bernama Johannes dari Jerman, Annette Naber dari Belanda, dan sepasang ayah dan anak dari Rusia bernama Alex, sedangkan aku lupa nama anaknya. Tim kami didampingi oleh dua orang guide lokal.

IMG_2953
Si Bule Rusia memberi makan Orang Utan

Etape pertama dilakukan dengan menyusuri sungai sejauh 200 meter. Di sini aku merasa selow, imajinasiku tidak berbohong kalau trekking itu sejenis dengan hiking di Bandung. Selesai etape I, kami meninggalkan sungai dan mulai merangsek masuk ke lebatnya belantara Gunung Leuseur. Imajinasiku hancur lebur seketika. Tak ada jalan setapak yang mulus ataupun landai. Kami harus memanjat  di tanah yang basah dan licin.

Lima menit pertama memasuki etape kedua, aku langsung lemas tak berdaya. Nafas tersengal-sengal seperti mau meninggal dan muka memerah bagai tomat kebakaran. Sontak tim kami semua terhenti menanyakan apakah aku kuat atau tidak. Uniknya, para bule yang berada dalam timku sama sekali tidak mengasihani. “Come on! Just calm down, relax, and you can do it, yes we can do it together, we can walk slowly for you!” ucap Johannes menyemangatiku.

Oke, satu sisi aku tersemangati tapi di sisi lain terasa ditelanjangi. Bagaimana tidak, aku yang lahir dan besar di Indonesia yang konon katanya memiliki hutan hujan tropis terluas kedua setelah Brazil harus ngos-ngosan dan nyaris tewas ketimbang para Bule yang makan tempe saja belum pernah. Tapi, ya sudah, kita simpan dulu rasa malu itu karena masih ada 8 jam yang harus dilalui.

Mujizat dari langit, walaupun hampir pingsan tetapi aku tetap kuat berjalan. Menjelang pukul 10:00 kami berhenti selama hampir satu jam karena ada orang utan yang kebetulan melintas. Para bule terpesona, lebih terpesona daripada aku melihat seorang Julia Perez. Mereka takjub akan primata bernama orang utan. Sontak orang utan itu bagaikan artis, difoto dari berbagai sisi dan gaya oleh para bule. 

Sementara bule-bule berfoto, aku bengong, minum air dan berdoa memohon kekuatan ilahi supaya tidak pingsan, atau setidaknya bisa berjalan walau lebih lambat dari siput. Menjelang tengah hari, kami beristirahat dengan membuka perbekalan ala tarzan. Yaa, makan siang kami berupa buah-buahan tropis yang dipetik dari hutan. Markisa, pisang, mangga, jambu dan nanas jadi penganan ternikmat siang itu.

Namun, ketenangan siang hari itu harus berakhir ketika ada seorang Orang Utan yang aku lupa namanya datang. Guide kami bilang kalau orang utan itu pernah mengalami trauma sehingga dia antipati terhadap kehadiran manusia, dan ia pun menjadi ganas. Kami pun berlari seolah dikejar maling, sementara guide kami berusaha mengecoh si orang utan itu.

IMG_2979
Belantara Gunung Leuser, kanopi hijau terbesar di Sumatra

Lepas dari jerat orang utan, kami beristirahat kembali dan bertemu dengan serombongan tim lain dari Spanyol. Gila, tim Spanyol ini berisikan satu keluarga. Ayah dan ibu yang sudah lumayan tua, kira-kira umur 40an dan seorang anak berumur 10 tahun. Tangguh sekali mereka ini pikirku, dan kembali perasaanku ciut karena aku berfisik lemah.

Tak terasa perjalanan kami membelah hutan sudah memasuki pukul 17:30 dan kami hampir tiba di basecamp. Namun, derita belum berakhir karena etape terakhir ini bisa dikatakan yang terburuk daripada mimpi buruk manapun. Jalanan menurun nyaris 90 derajat, tanah basah dan licin. Aku bergidik, menelan ludah dan ingin pulang saja ke Jogja, tapi itu suatu kebodohan. Johannes dari belakang berteriak, “Come on! We almost reach our destination! Let me carry your backpack!” ucapnya. Dia membawakan ranselku dan itu sangat membantu. Kaki pun bergetar, aku turun tidak dengan kaki tapi dengan pantat alias ngesot. Mau bagaimana lagi ketimbang jatuh berguling-guling lalu hilang dari sejarah hidup, lebih baik ngesot dengan pantat memar asal selamat.

IMG_2966
Basecamp sederhana di jantung belantara Gunung Leuser

Selama satu jam perjuangan dan kami tinggal menyeberang sungai. Perjalanan terakhir ini seolah mengantarkanku ke surga yang sebenarnya. Basecamp sederhana yang hanya terbuat dari plastik seolah jauh lebih mewah dari hotel berbintang. Tiba di basecamp, tandanya penderitaanku berakhir.

Namun, lagi-lagi penderitaan itu memang lama untuk berakhir. Setelah menyantap indomie rebus sambil ditemani keheningan hutan, giliran badanku yang mulai error. Sekujur persendian nyeri luar biasa, ditambah lagi pantat yang memar-memar. Tanpa balsem ataupun pijat-pijat, aku cuma termenung di depan api unggun mensyukuri atas nikmat hidup yang masih bisa dirasakan.

IMG_3010
Senja di belantara Sumatra. Tanpa listrik dan sinyal. Damainya tiada terkira

Singkatnya, perjalanan trekking kali ini mengubahkan paradigmaku atas gunung secara selamanya. Alam bukan untuk ditaklukan, tapi untuk menikmatinya diperlukan skill dan juga semangat. Salutnya, melihat fisikku yang lemah, para bule tidak mencela tetapi menyemangati untuk tetap kuat hingga garis akhir.

Malamnya, tim kami tertidur dengan lelap. Ditemani bintang yang cerah, suara gemuruh sungai dan aroma khas belantara membuat tidur kami nyenyak, tak peduli ratusan nyamuk yang mengerubungi.

Hari kedua, jam-jam terakhir kami di jantung belantara. Melihat kondisiku yang bagaikan mayat hidup, para bule berbesar hati untuk tidak menempuh jalan pulang via trekking. Puji Tuhan Alhamdullilah, kami pun memilih untuk tubbing , alias pulang naik ban di atas sungai. Namun, kami dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 100.000,- tapi itu bukan masalah bagi para bule.

Pukul 09:00 seluruh barang dikemas, dimasukkan ke dalam plastik super besar. Ban-ban disusun, diikat dengan tali menyerupai kereta perahu. Tepat pukul 10:00 perjalanan tubbing pun dimulai. Awalnya menyeramkan, tapi tubbing ini jauh lebih menyenangkan ketimbang arung jeram di Dufan ataupun tubbing di Gunung Kidul. Tubbing di Bukit Lawang memakan waktu total 120 menit, lumayan lama. Melewati puluhan jeram, kami pun berteriak puas.

IMG_2986
Ban Raksasa yang siap mengantar kami pulang

Waktu dua jam bukan waktu yang lama, tak terasa kami sudah tiba di perhentian akhir. Gila, dengan tubbing hanya butuh waktu dua jam, sedangkan trekking butuh waktu hampir 12 jam berjalan kaki dengan resiko tewas masuk jurang.

Syukur tiada tara, aku bisa tiba kembali di penginapan Bukit Lawang. Ada secuil rasa bangga karena bisa menikmati gunung Leuser dengan mata kepala sendiri. Dan juga, ada perasaan untuk pantang menyerah lebih lagi.

Perjalanan kami di TNGL hampir usai seiring dengan trekking yang berhasil kami lalui. Hari sudah menunjukkan Senin, 29 Juni 2015. Kami memiliki waktu satu hari tersisa menikmati Bukit Lawang sebelum melanjutkan perjalan ke utara, Nanggroe Aceh Darussalam!

IMG_3023
Kepulangan kami dirayakan dengan nanas segar seharga Rp 6.000,-

NB: 

Orang Indonesia harus mampir ke Bukit Lawang, untuk berkenalan langsung dengan saudara kita, primata Orang Utan.