5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan

blog2

“Pergi karena semangat, pulang karena rindu.”

Nama Jogja terdengar begitu istimewa, apabila kata itu terucap, tiba-tiba rasa rindu segera mendekap. Seringkali teman-teman bertanya heran, mengapa aku begitu baper dengan Jogja. Apakah ada pengalaman buruk atau manis yang pernah terjadi di sana?

Memang, aku tidak terlahir di Jogja, hanya empat tahun dari 23 tahun hidupku yang terselip di Jogja. Di waktu yang singkat itulah Jogja mengasuhku lewat kesederhanaan dan keramahannya. Aku diajari tentang arti membaur dari angkringan pinggir jalan, aku juga belajar tentang arti kenyang dari sebungkus nasi tempe. Ada banyak pelajaran yang telah kupetik dan kini membekas di hidupku.

Hampir tiga bulan telah berlalu sejak aku hijrah dari Jogja ke Jakarta. Waktu yang berlalu bukan alasan yang membuat rindu kian memudar. Inilah hal-hal yang membuat Jogja tak mungkin tergantikan:

  1. Angkringan “Bapak”, sebuah gerobak tanpa kasta

Angkringan di Jogja ibarat bintang di langit, ada di mana-mana. Setiap angkringan punya cerita. Jika ingin makan di angkringan yang elite, datanglah ke angkringan pendopo JAC yang harganya lumayan bikin kantong meringis. Jika ingin angkringan ber-wifi khas mahasiswa, bisa mampir ke angkringan “Tobat” yang berdiri sejak mendapat hidayah.

Dari puluhan angkringan yang pernah kusinggahi, ada satu angkringan yang paling favorit dan tak pernah absen kusinggahi. Angkringan “Bapak” aku menyebutnya. Angkringan ini unik karena baru buka pukul 00:00 tengah malam. Sang Bapak tua mendorong sendiri gerobak angkringannya, lalu menaikkannya di atas trotoar samping jembatan sungai Winongo, menata tikar, dan mulai memasak air panas. Semuanya ia lakukan sendiri, tapi nyaris tak ada raut sedih ataupun lelah di wajahnya.

blog3
Sebungkus nasi kucing seharga Rp 1.500,- beserta kudapan lainnya

Angkringan “Bapak” ini aku temuka pertama kali tahun 2010. Waktu itu aku masih SMA dan nekat backpackeran ke Jogja sendirian dari uang jajan yang disisihkan selama berbulan-bulan. Sebagai orang luar Jogja dan masih polos, melihat angkringan adalah sesuatu yang luar biasa bagiku. Selepas tahun 2010, di tahun 2012 aku kembali ke Jogja dan menetap untuk melanjutkan kuliah. Yes! Lalu aku menjadi pelanggan tetap angkringan Bapak.

Sensasi yang tak pernah terlupakan dari makan di angkringan “Bapak” adalah ketenangannya. Bayangkan, duduk di pinggir jembatan saat lewat tengah malam. Suasana begitu tenang, ditemani alunan lagu-lagu kuno berbahasa Jawa, menyeruput teh panas legit kentel sambil mengudap gorengan dan nasi kucing.

Nasi kucing di sini dibanderol Rp 1,500,- saja. Sepintas, nasi kucing tidaklah terlihat istimewa. Ia hanya sekepal nasi yang dibalut daun pisang dan dibubuhi sedikit tempe atau sambal teri di atasnya. Tapi, menikmati sebungkus nasi kucing tidak cukup hanya dengan lidah, tapi harus dengan hati. Makanan yang sederhana inilah yang merekatkan banyak orang di Jogja. Ada tukang becak hingga mahasiswa yang duduk bersama di gerobak angkringan dan mengobrol ngalor-ngidul hingga menjadi akrab.

img_0197
Angkringan Bapak

Aku lupa nama Bapak penjual angkringan itu. Tapi aku selalu ingat nada khasnya bicara. Dia selalu mengajak setiap pembelinya bercanda, kadang candaannya suka nyerempet saru, tapi ya itulah yang membuat angkringan ini hangat.

  1. Rumah Kost yang Bukan Sekadar Kost

Selain angkringan, salah satu yang selalu membuat baper adalah mengingat kenangan tentang kost. Selama 4 tahun di Jogja, teman-teman kost sudah jadi seperti keluarga. Kami tinggal satu atap dan mau tidak mau saling mengamati dari awal bangun hingga tidur malam. Lambat laun, nyaris tak ada lagi sekat-sekat antar penghuni kost.

blog6
Rumah Kost Manunggal Budi

Jika yang satu sakit, teman-teman kost yang akan membelikan makan, kadang juga membantu kerokan. Jika sedang galau dan insomnia, teman kost juga yang menemani pergi ke angkringan atau pos ketan susu. Karena kepercayaan itulah kost kami menjadi kost yang sangat aman. Tak perlu khawatir jika lupa menutup atau mengunci pintu, toh tidak bakal ada yang nyolong.

Selain dari teman-teman yang solid, Ibu Kost adalah ibu yang super baik. Sewaktu salah satu teman kost kami berulang tahun, beliau datang dan membawakan kami makanan beragam jenis dan kue ulang tahun. Lalu kami berkumpul di bawah dan makan malam bersama. Tak cukup di situ, ketika aku dan seorang teman lulus kuliah, beliau kembali datang dan menggelar tumpengan.

img_8539
Masukkan keterangan

Kostku dahulu dibangun atas dasar kepercayaan. Jika ada keluarga atau teman menginap, tidak perlu membayar uang tambahan selama mampu menjaga ketertiban. Dan salah satu yang membuat kostku semakin erat adalah kehadiran Mbak Oneng yang dinobatkan oleh Ibu Kost untuk merawat kost itu. Kehadiran Mbak Oneng membuat kost kami semakin asyik. Kadang-kadang kalau dia memasak, anak-anak kost bisa mencicipi masakannya.

  1. Simbah Ngatilah di Samigaluh 

“Lek do maem riyen, mas, mbak!” adalah kalimat yang paling sering diucapkan Simbah selama aku dan teman-teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) tinggal di rumahnya. Simbah selalu memaksa kami untuk makan lebih banyak walau perut kami sudah penuh. Simbah adalah sebuah anugerah bagiku, sosok ketulusan seorang perempuan Jawa yang tidak tergerus arus zaman.

Simbah Ngatilah adalah istri dari seorang kepala Desa Banjarsari, Samigaluh, D.I Yogyakarta. Waktu itu di bulan Desember 2015 – Januari 2016 aku menumpang di rumah beliau selama satu bulan karena proyek KKN dari kampus. Rumah Simbah adalah surga bagiku karena terletak di atas bukit yang masih hijau pepohonan, tanpa ada tetangga, hanya ada suara soang dan kambing yang menemani. Satu bulan di rumah Simbah waktu itu lebih terasa seperti di rumah sendiri ketimbang di lokasi KKN. blog5

Setelah KKN usai dilaksanakan, hubungan kami dengan Simbah tidak putus. Memang jarak memisahkan kami, dan sekarang pun sulit untuk bisa sering berkunjung ke rumah Simbah. Dulu saat kami berpamitan untuk pulang, Simbah sempat menangis karena merasa dirinya akan kesepian kembali setelah ditinggal “cucu-cucunya” ini.

Beberapa bulan sekali kami datang berkunjung ke rumah Simbah dan ia selalu menyambut kami dengan sukacita. Baru saja kami tiba di sana, beliau lansung pergi ke hutan mencari buah rambutan atau pisang untuk nanti kami bawa pulang. Tak cukup di situ, beliau segera menyiapkan perapian dan memasak buat kami. img_2032

Aku terharu dan berpikir, “siapakah aku ini?” tapi Simbah menganggap anak-anak KKN di rumahnya sebagai cucu. Simbah tidak mau diberi uang listrik, padahal listrik rumahnya setiap hari tersedot karena kami. Dan Simbah juga memanggilku dengan panggilan “Kelik”, sebagai panggilan akrabnya.

4. Jangan sampai kuliah menganggu jalan-jalan 

Itulah prinsip yang kupegang selama kuliah dulu. Tapi jangan pikir karena prinsip itu kuliahku berantakan ya karena di akhir studi aku bisa lulus dengan predikat cum laude. Jadi kurasa prinsip itu tidaklah salah sekalipun banyak orang yang terkadang nyinyir setiap kali melihat postingan jalan-jalanku.

Jogja adalah surga wisata dan menjadi gerbangku untuk bertemu dengan teman-teman dari dunia luar. Dari Jogjalah aku belajar bahasa Inggris secara otodidak dan bertemu dengan rekan-rekan backpacker dari seluruh dunia. Yap, semua terjadi di Jogja. Jika waktu itu aku tidak tinggal di Jogja, mungkin tidak ada namanya jalan-jalan keliling Indonesia.

IMG_5500.JPG
berkeliling ke sekolah di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Desember 2015

Aku bersyukur karena kampus tempatku belajar ternyata mendukungku untuk tak hanya kuliah, tapi juga untuk berkarya lewat jalan-jalan. Selama kuliah sejak semester empat hingga sembilan, aku bekerja sebagai seorang student staff di Kantor Kerjasama dan Promosi.

Tugasku adalah mengenalkan kampusku kepada anak-anak SMA di seluruh Indonesia. Bekerja di kantor ini adalah suatu kehormatan karena kampusku yang besar ini mempercayakan tanggung jawab kepada mahasiswa yang memang belum banyak pengalaman. Aku belajar mengelola waktu antara kuliah dan pekerjaan, belajar juga ilmu-ilmu marketing, belajar tentang menjadi seorang pekerja yang baik.

Bandar Lampung, Medan, Siantar, Pontianak, Bangka Belitung, Madiun, Semarang, hingga Palangkaraya telah kusinggahi karena pekerjaan ini. Ada satu sukacita besar ketika bisa bekerja sesuai dengan passion. Melihat semangat anak-anak sekolah di berbagai daerah di Indonesia itu sungguh menarik. Di kantor ini kami tidak hanya bercerita mempromosikan kampus, tapi kami juga berbagi pengalaman tentang tantangan, juga harapan yang bisa diperoleh ketika mereka memutuskan pergi ke Jogja.

5. Teman-teman istimewa: madhang ora madhang, sing penting guyub!

Makan atau tidak, yang penting ngumpul. Inilah semangat kebersamaan dari teman-teman Jogja. Kini saat aku bekerja di Jakarta, teman-teman kampus dari Jogja adalah teman yang bisa dibilang paling kompak dan memiliki solidaritas tinggi. Dibesarkan di kota yang sama membuat kita bisa sama-sama baper ketika saling menyebut kata “Jogja”.

Selama empat tahun, aku mendapati temanku telah menjadi sebuah keluarga. Saat kuliah teman-teman itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dan ketika liburan tiba seringkali aku ikut mudik ke rumah mereka. Berawal dari iseng-iseng ikut mudik inilah yang akhirnya membawaku memiliki keluarga baru. HMPSKOOM

Pergi kemanapun selalu ada teman, mulai dari Aceh, hingga Papua. Saat pertengahan 2015 ketika sedang berada di Aceh Tengah, aku sempat bingung karena tidak mendapat tempat untuk menginap. Beruntung ada teman satu kampus yang berasal dari daerah sana. Kami memang tidak terlalu dekat, tapi kemudian temanku itu memberiku nomor orang tuanya dan akhirnya aku mendapatkn tempat bermalam di sana.

Salah satu harta terbesar di masa muda adalah teman-teman. Memiliki teman itu memperkaya pemikiran kita. Lewat diskusi, curhat, makan bareng, nangis bareng, di situlah pemikiran kita dibentuk dan saling membentuk. Lewat kegiatan-kegiatan organisasi di kampus yang diikuti, kehadiran teman-teman itu terlalu indah untuk dilupakan.

****

Tiga bulan hampir berlalu sejak aku meninggalkan Jogja. Rasa rinduku pada Jogja tak akan pudar. Ibarat benih yang ditanam di tanah dan bertumbuh, demikian juga rasa rindu itu. Waktu dan jarak menjadi matahari dan air yang menumbuhkan benih itu.

Mungkin Jogja tak kan pernah lagi jadi tempatku menetap, tapi dia akan selalu jadi tempat untuk kembali mengingat masa manis. Tempat untukku bertetirah dan menikmati dunia lewat segelas teh panas dan nasi kucing.
Jakarta Barat, 8 Februari 2017

 

 

Menjadi Sibuk itu Menyenangkan

Tapi, kebersamaan antar anggota itulah yang menjadi suatu pelumas organisasi. Tanpa kebersamaan tentu mustahil program kerja dapat terealisasi sempurna. Tanpa kebersamaan, hanya keegoisan yang bertakhta yang ujungnya membawa kehancuran.

Namanya juga manusia, terkadang egois dan menyebalkan namun bisa juga merasakan sedih dan terharu. Ditemani lampu yang remang, perlahan air mata menetes seraya mulut berucap menceritakan pengalaman manis. Ada yang merasa ditolak, terasing, kecewa dan aneh, tapi hari itu, semua hal pahit berubah menjadi manis.

Menjadi mahasiswa yang berkontribusi aktif buat kampus mungkin gampang-gampang susah. Ada yang memaknainya dengan berdemonstrasi di jalanan seraya mengusung panji-panji almamaternya. Ada juga yang sekedar kuliah lalu pulang, ada yang getol selalu mengkritik apapun terkait kampusnya dan ada pula yang sibuk berorganisasi. Cara-cara itulah yang membuat dunia perkuliahan asik, unik, dan terasa hidup karena kebebasan kita mengekspresikan sesuatu.

Kami adalah HMPSKom, alias Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi yang bernaung di bawah Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sebagai himpunan mahasiswa, jumlah kami tidak banyak, hanya 12 orang per satu tahun kerja. Tim yang sedikit bukan berarti minim prestasi, tapi dengan sedikitnya SDM kami belajar untuk melakukan segalanya secara efisien dan yang terpenting adalah kekompakan tim yang harus dijaga.

Hari ini, HMPSKom harus memulai awal yang baru karena angkatan 2012 telah selesai menjalankan tugasnya. Artinya, kini HMPSKom murni dijalankan oleh 12 orang saja yang terdiri dari angkatan 2013 dan 2014. Perpisahan dengan angkatan 2012 ini lah yang menjadi suatu cerita, cerita tentang sebuah organisasi biasa di kampus yang menjelma menjadi sebuah rumah bagi anggotanya.

Diiringi dengan suara genset listrik yang menderu, kami memulai acara berteman Evaluasi Kinerja di Pantai Siung. Alih-alih evaluasi, suasana malah semakin haru. Satu per satu menceritakan kembali kesan dan pengalamannya selama bernaung di dalam organisasi himpunan. Ada yang berangkat dari semangat tinggi lalu kecewa, ada yang merasa heran, dan ada pula yang merasa biasa saja.

Satu hal yang paling menyentuh adalah ketika Yohanita Rosediana alias si Melon bercerita. Dia menangis terisak, namun tetap melanjutkan ceritanya hingga suaranya hilang ditelan isakan. Tak ada yang berani menyela, semua larut mendengar. Walau kata-kata tak tercerna jelas, tapi ungkapan syukur dan ketulusannya terdengar jelas di hati setiap kami.

Tak lama, menyusul pula tangisan-tangisan lainnya dari setiap anggota. Bukan tangis sesal yang tercurah hari itu, melainkan tangisan bahagia dan rasa syukur atas sebuah kebersamaan yang telah dibangun bersama.

Kawan, menjadi anggota Himpunan di Universitas manapun berarti mengemban sebuah tanggung jawab mulia. Bertindak sebagai himpunan, artinya kita adalah jembatan komunikasi antara Universitas dengan Mahasiswa. Rusaknya himpunan bisa menjadi indikasi ketidaksehatan dinamika berpolitik di kampus.

Ada program-program kerja yang harus dilakukan oleh Himpunan, dan semuanya dilakukan bersamaan dengan kuliah serta kesibukan lain. Jika tidak pandai mengatur waktu, tentu semuanya akan berantakan. Rapat, rapat dan rapat pada titik jenuh akan jadi aktivitas memuakkan.

“Menjadi sibuk itu menyenangkan!” itu pernah menjadi motto kami selama satu tahun. Sibuk bukan sekedar sok sibuk. Ada yang mengaku diri sibuk, tapi kenyataannya hanya sibuk main. Ada pula yang merasa sibuk tapi jadwal tak terkontrol, akibatnya semuanya berantakan. Jika sibuk sekedar sibuk, itu mudah, tapi menjadi sebuah seni ketika sibuk itu produktif.

Kesibukan rapat, mengurusi acara Comminfest, Studi Perspektif, Kuliah Umum, Tes TOEFL dan lainnya bukan menjadi alasan untuk kami meninggalkan kuliah. Waktu memang semakin terbatas, begadang harus dilakoni setiap hari. Keterbatasan waktulah yang membuat waktu menjadi terasa berharga. Saking berharganya maka tidak boleh ada sedetik pun yang terbuang percuma hanya karena urusan sepele.

Tapi, kebersamaan antar anggota itulah yang menjadi suatu pelumas organisasi. Tanpa kebersamaan tentu mustahil program kerja dapat terealisasi sempurna. Tanpa kebersamaan, hanya keegoisan yang bertakhta yang ujungnya membawa kehancuran. Kebersamaan bukan berarti setiap saat dan kemanapun harus selalu barengan, tapi ada rasa saling mengerti antar anggota. Untuk saling mengerti harus dimulai dengan mau mendengarkan dulu orang lain.

Well, cukup panjang perjalanan ini. Tiga tahun di kampus menjadi waktu yang produktif. Mungkin secara fisik hasil kinerja kami tidak terlihat, ataupun ada pula pihak yang tidak merasakan dampak positif. Tapi, semua itu kembali lagi ke persepsi masing-masing orang yang melihatnya. Akhirnya, mengutip pernyataan dari Pak Jokowi, “Kerja..kerja..kerja”, fokuskan diri pada bekerja bukan pada gunjingan orang.

Terima Kasih HMPSKom!

“Gathered for once, scattered for a life time” Sebelum waktu melepas kita, kiranya tulisan ini boleh jadi kenangan manis buat rekan sekerja di HMPSKom tercinta. Benda bisa hilang, tapi kenangan tak akan pernah pudar dan cerita akan terus dikenang 🙂

Besi menajamkan besi dan manusia menajamkan manusia. Kalimat ini bukanlah sebuah omongan kosong, tapi memang sejatinya begitu. Karakter manusia hanya bisa dibentuk oleh manusia lainnya, tentunya lewat segudang pengalaman baik suka maupun duka yang terangkai sempurna.

Hari ini, Rabu 6 April 2016 bisa dibilang menjadi suatu awal yang baru. Ya, awal yang baru bagi HMPSKom untuk memulai langkahnya. Menjadi sebuah organisasi himpunan dengan sedikit orang bukan sebuah tugas yang gampang. Kalau ditanya kerjaannya ngapain, pasti orang di luar ngertinya kerjaan anak himpunan itu cuma rapat. Padahal rapat itu hanya sebagian kecil daripada gunung es kegiatan anak himpunan yang segudang.

Capek? Iya! Stress? Iya juga. Bosan? Nggak tuh! Yes, itu kesan yang terangkai sempurna. Tiga tahun lalu, tepatnya Oktober 2013 sekitar dua puluh orang angkata 2012 mendaftar seleksi HMPSKom. Duh! Pertama kesannya agak minder, kok yang daftar isinya anak-anak hits kampus semua? Sedangkan waktu itu aku ngerasa bukan siapa-siapa di kampus, bisa kuliah aja udah syukur apalagi bisa ikut aktif kegiatan di kampus.

Singkat cerita, awal November 2013 (lupa tanggal tepatnya) dinobatkanlah 6 makhluk dari angkatan 2012 menjadi anggota tetap HMPSKom. Pertama, jelas ada rasa bangga karena bisa diterima di organisasi yang katanya keren di FISIP! Kedua, minder pake banget! Dari kita ber-enam, ada si Ciput yang terkenal karena suaranya bagus, lalu ada si Putra yang eksisnya sampai ke planet Saturnus, ada Sofi yang galak nan jutek, ada Riestha yang kalem dan misterius, terakhir ada si Echel yang waktu itu aku gak punya gambaran apapun soal dia.

Tahun pertama terasa garing. Isinya cuma rapat dua jam tiap rabu, lalu tanpa basa basi langsung pulang seudah rapat. Duh, sempet sih ada rasa menyesal di HMPSKom, merasa aneh. Waktu itu Sofi, Putra dan Riesta kalau udah ketemu pasti bahas AJR. Kalau semuanya kumpul pasti pada gosipin kisah cinta masing-masing, dan waktu itu cuma aku yang bengong, roaming dan terlihat bego.

Perjalanan menuju kekompakan baru dimulai di pertengahan 2014 ketika kami, angkatan 2012 mulai dipercayakan memegang proker-proker. Proker terbesar kala itu adalah Studi Perspektif, alias SP yang dalam bayanganku super ribet! Gimana nggak, kita yang jumlahnya cuma ber-enam diminta menggarap kunjungan kerja ke Jakarta untuk mahasiswa satu angkatan yang jumlahnya hampir 300.

Mengurusi satu orang saja sudah susah, ini malah harus ratusan orang. Celakanya, kami ber-enam adalah manusia super sibuk yang mungkin untuk nafas aja harus dijadwal. Rapat SP pertama mulai ketar-ketir, bingung sana-sini, masalah di dosen dan lainnya. Bulan lewat bulan, mulai ada perubahan positif sampai satu hal tolol menimpa kami semua. Kami salah hitung, akibat kesalahan itu, jika tidak diperbaiki kami harus nombok puluhan juta. Tapi, syukurlah itu berhasil diperbaiki.

Sadar apa nggak, pengalaman itu jadi titik awal kami untuk solid di HMPSKom. Bulan lewat bulan dan tahun pun berganti. Perlahan tapi pasti, kami mulai menjadi satu walau tetap berbeda. Sofi yang terkenal galak dan jutek itu ternyata orangnya humoris dan seneng banget ngucapin kata “B*go Lu!” ke si Putra dan Ciput. Echel yang dulu tak terdeteksi tabiatnya, ternyata adalah manusia super unik yang punya power, apalagi setelah dia menjabat jadi ketua HMPSKom. Satu hal yang gak berubah dari Echel yaitu selalu minta nebeng pulang sehabi rapat. Ciput tetap begitu, tetap menjadi sosok lelaki yang agak buaya. Putra semakin eksis, kini semenjak jadi barista tingkat keterkenalannya udah sampai ke planet Pluto. Terakhir, yang tetap tak ternodai sampai detik ini adalah Ariestha. Riestha, sosok pendiam, murah senyum, dan satu-satunya orang yang paling netral dan bisa berpikir jernih di antara kami berenam.

Tulisan ini sebenernya dituliskan khusus buat temen-temen HMPSKom. Waktu itu mengubah segalanya, tapi waktu itu akan tidak berarti ketika kita tidak dipertemukan dengan orang-orang lain. Percayalah, kawan, rekan kerjamu selama di himpunan bukan cuma sekedar rekan kerja. Secara waktu, kami berenam jarang banget yang namanya main bareng, makan bareng, apalagi liburan bareng. Tapi, satu prinsip yang kami pegang adalah kita “kerja bareng”. Kenapa kerja? Dalam kerja, tekanan itu nyata, dan dalam tekanan itulah karakter asli seseorang akan keluar.

Kami mencintai satu sama lain karena karakter, bukan karena lainnya. Karakter Sofi yang blak-blakanlah yang jadi tameng kita ketika kita diserang dengan argumen miring. Echel-lah yang mengkordinasi setiap proker kita. Ciput dan Putralah yang selalu membuat rapat kita asik tanpa stress. Riesthalah yang selalu teliti dan ngingetin kita akan hal-hal kecil.

Kawan, perjalanan kita mungkin selesai sampai di titik ini. Ada satu pepatah yang aku yakini dan percaya yaitu, “Gathered for one time, scattered for a life time.” Kita dikumpulkan untuk sesaat, dan akan dilepas untuk selamanya. Pengalaman tiga tahun di HMPSKom ini jadi cerita manis dan buah nyata pelayanan kami bagi kampus. Kami bersyukur dan bangga, karena setidaknya buah kami bisa dirasakan oleh rekan sekerja kami, karena memang apa yang kami lakukan belum sepenuhnya sempurna.

Sejatinya, HMPSKOM, kalianlah pelita buat kampus kita. Sebagai pelita, kita mungkin tidak benderang, tapi di situlah perjuangan kita untuk tetap menyala ketika angin mulai bertiup. Jika kita adalah pelita, Tuhan apinya, maka kebersamaan adalah minyaknya. Tanpa ada kebersamaan, HMPSKom niscaya akan bubar tak berjejak. Ataupun jika ada, buahnya tak akan dirasakan orang lain.

Satu kata, Terimakasih HMPSKOM! Tetap berkarya bagi FISIP, menorehkan hal yang baik untuk almamater kita.

Semangat ya Deta, Nia, Meki, Melon, Nindya, Gotik, Tika, Vivi, Grace, Clara, Juan dan Anna.

 

Dari kami, rekanmu 2012

(Ary, Echel, Riestha, Sopiyatun, Ciput dan Putra)