Lembah Karmel Cikanyere: Tetirah untuk Jiwa yang Lelah

cikanyere2

Sabtu pagi, waktu di mana sebagian warga Jakarta masih terlelap dalam tidurnya, motor bebekku telah dipacu membelah jalanan Ibukota. Tujuan yang hendak dicapai pagi itu adalah Cikanyere yang berjarak sekitar 120 kilometer ke arah selatan. Untuk sesaat perjalanan terasa lancar tanpa kendala hingga persimpangan-persimpangan jalan datang menyapa, aku pun kebingungan dan akhirnya salah jalan.

Sebenarnya salah jalan bukanlah masalah besar karena bisa mencari jalan putar balik. Tapi buatku yang belum hafal jalanan Jakarta, itu sangat sulit. Apalagi sebulan sebelumnya aku pernah ditilang polisi karena tidak tahu jalan dan akhirnya memutar balik di tempat yang salah. Syukur kepada Mbah Google, dengan bantuan peta online akhirnya aku kembali ke jalan yang benar dan terus melaju ke tujuan.

Berangkat pagi bukan jaminan jalan bebas macet, namanya daerah megapolitan, tak ada hari libur untuk macet, termasuk itu di akhir pekan. Selepas Kota Bogor, jalanan semakin padat dan akhirnya berhenti total di daerah Ciawi. Angkot-angkot berbaris rapi menanti penumpang yang tak kunjung datang, sementara di belakangnya mobil-mobil bernopol B terus menekan klakson. Akhirnya terciptalah miniatur neraka di jalan raya pagi itu.

Mencari Tetirah 

Hidup di Ibukota memang menguras tenaga. Keluar kantor yang dilihat pertama kali adalah macet yang tak berujung, belum lagi berita politik yang kian hari kian panas, dan masih ditambah dengan segudang masalah khas perkotaan lainnya. Rutinitas ini lambat laun membuat hatiku menjadi tumpul. Aku tak lagi melihat pemulung-pemulung di pinggir jalan dengan iba, karena semua telah menjadi pemandangan sehari-hari yang “biasa”.

Aku membutuhkan sebuah tetirah, untuk menepi sejenak dari segala kepenatan dan mengisi kembali jiwaku dengan ketenangan. Aku teringat satu wejangan yang diberikan oleh Guru Agungku, “Kuasailah dirimu, dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” Oke, di zaman modern ini aku bisa berdoa di manapun dan kapanpun, tapi karena doa adalah pertemuan antara aku dan Pencipta, maka bolehlah aku melakukannya di tempat spesial. Dan aku memilih Cikanyere sebagai tujuan.

Lembah Karmel Cikanyere digambarkan sebagai tempat yang tenang dan teduh, tapi untuk menuju ke sana harus menguji hati. Setelah melewati lembah kemacetan di jalur Puncak Bogor, pemandangan mulai berganti menjadi lanskap khas pegunungan. Berhubung Puncak sudah jadi wisata favorit orang Jakarta, maka hijaunya agak berkurang tergantikan deretan bangunan-bangunan beton.

Aku memacu kendaraan melewati Taman Bunga Nusantara, kemudian memasuki jalan desa menuju Cikanyere. Nah, jika sudah tiba di desa yang sesungguhnya, aku bisa menggunakan GPS yang asli, yaitu Gunakan Penduduk Setempat, bukan GPS besutan mbah Google. GPS versi desa jauh lebih akurat, kadang warga yang berbaik hati malah bersedia mengantar.

Setelah tanya sana-sini, motorku tiba di pelataran Lembah Karmel Cikanyere. Perlu diingat, tempat ini bukanlah tempat wisata, melainkan tempat sakral untuk berdoa. Setibanya di sana, KTPku harus dititipkan di pos satpam sebelum masuk ke area utama.

Suasana sangat hening, tampak beberapa suster berbaju coklat tengah membersihkan area pertapaan. Satu per satu mereka tersenyum kepadaku, dan kubalas juga dengan senyuman. Senyum mereka begitu teduh, apalagi terdengar pula sayup-sayup lagu pujian yang dikumandangkan. Ah, sungguh damai berada di sini!

Sebelum mencapai Kapel, Patung Yesus di depan taman hijau menyambutku. Kurapatkan tanganku, membungkuk kepadanya, menutup mata dan menghirup nafas dalam-dalam. Langkahku terus maju hingga tiba di depan kapel. cikanyere4

Tak ada orang di dalam kapel itu, hanya deretan kursi-kursi kecil untuk berdoa. Kuambil posisi duduk di belakang, dan mulai berdoa. Kuucapkan apapun yang ada dalam pikiran, baik itu keluh kesah, mimpi, harapan, apapun itu. Tak terasa nyaris satu jam kulalui dengan duduk mengheningkan diri.

Aku memang bukan orang Katolik, tapi aku kagum dengan cara-cara mereka berdoa kepada Tuhan. Seringkali kita terlalu “berisik” ketika menghadap Tuhan, namun ketika kita mengheningkan diri sejenak, suara sang Pencipta lambat laun bisa terdengar. Tentu suara-Nya bukan suara verbal seperti yang manusia ucapkan. Tapi Ia berbicara lewat hembusan angin, cuitan burung, bahkan lewat suara hembusan nafas kita.

Aku sendiri tidak paham tentang sejarah dari tempat ini dibentuk, tapi satu yang kutahu pasti adalah tempat ini didekasikan untuk berdoa kepada Tuhan. Dan karena Tuhan menyayangi semua orang, maka tempat ini terbuka untuk orang-orang yang memang rindu untuk berdoa. Untuk diingat sekali lagi, tempat ini bukanlah tempat wisata, tapi tempat berdoa. cikanyere5

Di atas kapel terdapat ruang serba guna St. Theresia. Bangunan ini membundar dan terletak di atas bukit. Cukup membuat ngos-ngosan untuk berjalan kaki sampai di sana. Ruang serba guna ini akan ditutup jika tidak ada acara besar, tapi berjalan-jalan di sekitarnya cukup mengasyikkan. Tak jauh dari ruang serba guna terdapat patung Pieta, sosok Bunda Maria tengah memangku Yesus.

cikanyere3
Pieta

Meluangkan waktu beberapa jam di Cikanyere membuat jiwaku merasa lega kembali, dan aku siap untuk menghadapi rutinitas Jakarta!

____________

Rute dari Jakarta:

Jika menggunakan motor, ikuti Jalan Bogor dari daerah Cawang/Cililitan, terus saja sampai tiba di Bogor. Ambil arah menuju Puncak dan ikuti jalan ke arah Taman Bunga Nusantara.

Setiba di Taman Bunga, maju lagi ikuti jalan hingga menemukan perempatan belok ke kiri. Ikuti jalan lagi sampai menemukan plang Lembah Karmel Cikanyere.

HTM: Gratis…….

Bertetirah ke Jantung Ibukota

Hari minggu menjelang siang tatkala sebagian jalan arteri Ibukota masih lumayan lengang, ratusan manusia berjubel memadati Katedral. Satu per satu mobil mengantre mencari tempat parkir, sebagian yang tak sabar segera membunyikan klakson sementara pedagang makanan di luar pagar Katedral laris manis melayani pembeli.

Gereja Katedral Jakarta selalu ramai setiap hari Minggu sepanjang tahun. Pesonanya mampu mendatangkan banyak sekali orang, dari yang berhati tulus ingin beribadah hingga yang hanya sekedar numpang eksis dengan berfoto. Katedral memang unik, menaranya tinggi menjulang ke langit Jakarta dan bangunannya berdiri tepat di depan Masjid Istiqal, sebuah lambang akan damai yang berdampingan.

Aku datang jauh lebih awal sebelum misa Minggu jam 11:00 dimulai supaya mendapatkan tempat duduk di dalam gedung gereja. Jemaat yang hadir memaknai katedral dengan beragam. Tampak sepasang lansia berjalan pelan menuju deretan kursi depan, tanpa bercakap mereka membuat tanda salib, tak lansung duduk mereka memilih untuk berlutut terlebih dulu untuk menyatakan bakti pada Tuhan.

Jemaat semakin tenang ketika misa dimulai. Umat berdiri menyambut datangnya Romo pertanda ibadah nan khidmat dilangsungkan. Pujian merdu mengalir lembut, mazmur didaraskan, homili disampaikan hingga pemberian komuni semua berjalan tenang dan teduh.

Sambil terlarut dalam nuansa teduh itu mataku tertuju pada burung-burung gereja yang terbang di langit-langit. Mereka acuh tak acuh akan kehadiran ratusan jemaat di bawahnya, seolah mereka ingin mengatakan kalau gereja ini adalah rumah mereka, rumah yang Pencipta mereka ciptakan untuk segala makhluk ciptaan-Nya.

img_3871
Altar

Tak sampai dua jam berlangsung, ibadat misa pun usai ketika Romo memberikan pesan damai dan pengutusan kepada jemaat. Suasana yang semula khidmat mulai menjadi ramai, beberapa jemaat segera mengambil posisi ke depan untuk berfoto, sebagian lain memilih untuk keluar, dan ada juga yang memilih pergi ke bagian belakang untuk menyalakan lilin dan berdoa.

Aku memilih untuk berdiam di dalam bangunan tua ini dan melekatkan lututku di pijakan. Seraya berlutut, kututup mataku untuk sekali lagi berdoa, membiarkan Sang Khalik berbicara secara perlahan lewat keheningan.

Aku tidak terlahir sebagai seorang Katolik, tapi aku adalah pengunjung setia gereja Katedral. Tak kulupakan untuk singgah barang sejenak setiap kali aku merasa penat dalam rutinitas. Bangunan nan tua ini menawarkan ketenangan, tempat yang teduh untuk menemukan pribadi Tuhan yang tak terlihat.

Aku larut dalam suasana damai, sebuah suasana yang tak mampu aku deksripsikan dengan kata-kata. Tak ada yang kuingini selain berdiam diri di kursi gereja. Segala penatku perlahan gugur tergantikan syukur. Aku tahu, rumah Tuhan terbuka untuk siapapun, ya, siapapun yang merindukan merasakan damai-Nya, sebuah damai yang berbeda dari apa yang dunia berikan.

Di sela-sela rutinitas metropolitan yang terkadang menjemukan, kutemukan tempat bertetirah tepat di jantung Ibukota. Tak perlu membayar apapun, cukup dengan hati terbuka maka damai itu akan datang dan mengalir.

img_3867
Mengambil memori di Katedral

Sendang Sriningsih, Oase Batin di Tenggara Prambanan

Ada kalanya di tengah ritme hidup yang semakin rumit, kita perlu berhenti sejenak. Berhenti untuk terlarut dalam liturgi, ataupun bisikan angin. Ketika jiwa telah kembali penuh, kembalilah kita pada ibadah yang sejati, “Pergilah dan perbuatlah demikian.”

Jalanan Yogyakarta tak lagi selenggang dulu, kini perlu waktu bermenit-menit untuk bisa lolos dari satu lampu merah ke lampu merah berikutnya. Perjalanan menuju Prambanan di jam-jam sibuk bisa jadi perjalanan yang cukup melelahkan lantaran macet yang cukup panjang.

Terlepas dari kemacetan panjang, di sebelah tenggara Prambanan berdiri sebuah tempat untuk menenangkan diri yang kini dikenal sebagai Sendang Sriningsih. Saya memacu sepeda motor melibas padatnya jalan raya Yogya-Solo dengan harapan bisa menemukan ketenangan di sendang nanti. Ini bukan kali pertama saya mengunjungi sendang yang membuat saya selalu ingin kembali.

IMG_2751
Sawah membentang di sepanjang jalan menuju Sendang Sriningsih

Perjalanan menuju Sriningsih bisa ditempuh melewati jalur utama Yogya-Solo melewati candi Prambanan. Sebetulnya ada jalan langsung menuju Sendang Sriningsih melewati Candi Boko, namun saya selalu tersesat karena minimnya papan penujuk. Jalan yang saya pilih adalah via Gantiwarno, Klaten. Cukup mudah menemukan Sendang Sriningsih. Selepas Prambanan, melaju terus hingga melewati dua lampu merah dan menemukan SPBU di kiri jalan. Segera putar balik dan berbelok menuju jalan kampung, dari sini papan penunjuk arah cukup memadai.

Bangunan rumah perlahan pudar seiring dengan jalan aspal yang menerobos masuk melintas persawahan. Hijau membentang bagai permadani. Ketika sawah mulai menghilang, jalanan yang semula datar kini mulai menanjak dan dari sini terdapat beberapa percabangan jalan. Jangan pernah ragu untuk gunakan GPS alias Gunakan Penduduk Setempat, yaitu bertanya langsung pada warga tentang arah yang tepat.

Jalanan yang menanjak mengarahkan kita masuk ke dalam lebatnya hutan yang masih terjaga. Sekalipun menanjak, jalanan sudah teraspal rapi sehingga aman dilalui kendaraan bermotor. Jalan aspal akan berakhir dan digantikan oleh jalan tanah, itu tandannya kita telah tiba di pelataran Sendang Sriningsih. Sepeda motor bisa dititipkan di pekarangan warga dengan membayar tiket parkir serelanya.

Oase Batin dan Nikmat Ibadah

Sejatinya, Sendang Sriningsih adalah bangunan untuk umat Katolik berdoa dan memohon rahmat Tuhan, namun tidak ada larangan untuk orang lain non-katolik berkunjung. Siapapun bisa hadir dan menikmati ketenangan Sendang Sriningsih.

Menilik pada sejarah pendiriannya, usia sendang ini telah berpuluh-puluh tahun. Pendiriannya dimulai dari kemunculan sebuah sendang, atau sumber air  bernama Sendang Duren yang kala itu dianggap angker. Muncul sebuah ide dari seorang Romo juga Lurah setempat kala itu untuk menjadikan tempat yang konon katanya angker ini menjadi sebuah tempat peziarahan untuk berdoa.

IMG_2740
Lilin-lilin yang menyala sebagai perlambang harapan dan terang dunia

Sendang yang semula angker tersebut perlahan ditata dan dipercantik sehingga tak ada lagi kesan angker disana. Tepat di samping sendang terdapat Goa Maria yang dihiasi oleh pepohonan tua dengan akar menggantung. Suasana di sekeliling Goa Maria sungguh tenang, hanya suara anjing menggonggong yang sesekali memecah keheningan.

Saya tertegun menikmati keteduhan. Alih-alih berdoa, kaki saya mengajak untuk melangkah lebih jauh ke sisi lain sendang. Selain terdapat rute jalan salib yang memutari bukit, terdapat juga Puncak Golgota yang berdiri sebuah salib kokoh perlambang akhir sengsara Kristus. Akhir dari prosesi jalan salib akan mengantar peziarah pada Puncak Golgota yang dari situ pemandangan Bukit Mintorogo maupun kota Klaten tersaji dengan indah.

Memandangi salib di Puncak Golgota, kaki pun terasa lemas dan perlahan menarik dirinya hingga mencium tanah. Sungguh teduh suasana sore itu. Tak ada orang lain di Puncak Golgota, hanya saya sendiri bersama desiran angin nan lembut. Mengambil waktu beberapa menit untuk berdiam dan menziarahi hati, saya menemukan sebuah jawaban atas ibadah yang sejati.

IMG_2737
Salib kayu berdiri di puncak Golgota

“Pergilah dan perbuatlah demikian,” sebuah penggalan kalimat yang diucapkan oleh Kristus. Kalimat itu begitu menggema kuat dan menghancurkan semua konsep ibadah yang selama ini sering dianggap paling benar. Ibadah sejati bukanlah ketika seseorang duduk menikmati liturgi atau mengurung diri berjam-jam buat berdoa. Ibadah sejati terjadi ketika seseorang beranjak dari tempatnya, pergi, dan melakukan apa yang benar serta baik bagi sesama. Sebuah pemahaman akan ibadah yang sederhana namun memikat, kecil namun berdampak besar.

Ada kalanya di tengah ritme hidup yang semakin rumit, kita perlu berhenti sejenak. Berhenti untuk terlarut dalam liturgi, ataupun bisikan angin. Ketika jiwa telah kembali penuh, kembalilah kita pada ibadah yang sejati, “Pergilah dan perbuatlah demikian.”