Mengawali dengan Semangat, Menutup dengan Manis

Ada awal, juga akhir. Ada suka, juga duka. 

Kadang, akhir tak selalu berakhir suka 

pun awal tak tentu dimulai dengan duka

adalah proses yang menjadikan kita kaya

kaya akan pengalaman, juga kenangan dari orang-orang tercinta

Masih berasa mimpi ketika menyadari kalau waktuku di Jogja kurang dari satu minggu tersisa. Rasa-rasanya baru kemarin memasuki kampus, ospek, kenalan sana-sini, mbribik gebetan, sibuk organisasi, dan sekarang semua itu seolah berjalan begitu cepat tak bersisa.

Satu bulan setelah pengumuman diterima bekerja di Jakarta, ada rasa sukacita yang bercampur aduk dengan sedih. Satu sisi senang karena bekerja, tapi ada rasa sedih karena harus meninggalkan Jogja dengan segudang isinya yang begitu memikat hati. Aku menyadari kalau masa transisi, atau masa perpindahan memang berat, tapi harus dijalani dengan tegar.

Ada satu hal yang membuatku begitu mencintai Jogja setengah mati, sampai-sampai ada teman yang bertanya, “kok lu bisa sebegitunya banget sih sama Jogja?”. Kadang aku pun tak tahu harus menjawab apa, karena rasa cinta itu hanya bisa dirasakan dengan hati, dan sulit dituangkan dalam beragam kata.

Merantau untuk Mengenali Hidup 

Keputusanku untuk pindah ke Jogjakarta empat tahun lalu rasa-rasanya adalah keputusan sepele pada waktu itu. Ada banyak kampus di Bandung, tapi aku memilih Jogja dengan satu alasan, yaitu nyaman. Berbekal kenyamanan itu, Jogja menjadi tempatku berlabuh selama empat tahun.

Berasal dari keluarga broken, membuatku tak menemukan jati diri yang pas semasa sekolah dahulu. Aku minder ketika teman-temanku terkenal dengan pencapaiannya sendiri, sedangkan aku merasa useless dan tak dicintai. Perlahan ketika perkuliahan dimulai, aku tahu kalau merasa rendah diri itu buruk. Alih-alih menyalahkan keadaan, lebih baik aku mulai menggali potensi diri.

Aku lupakan soal minderku, kucoba mulai berorganisasi, menekuni hobbyku dan bergaul dengan lebih banyak orang. Perlahan tapi pasti, pertemuanku dengan orang-orang baru inilah yang menempa karakterku, dari seorang yang lembek menjadi seorang yang kuat. Diperhadapkan dengan berbagai karakter teman mengajariku untuk mengerti orang lain terlebih dahulu ketimbang bersikap egois.

Dari merantau, aku mengenali apa itu yang namanya kangen dengan teman, juga keluarga. Jarak yang terpisah membuatku lebih menghargai suatu pertemuan. Jogja juga mengenalkanku pada apa yang disebut sebagai pertemuan dan perpisahan. Sambilanku sebagai travel guide mengantarku pada pertemuan dengan sahabat-sahabat dari berbagai negara. Ketika sudah dekat dengan mereka, tiba-tiba harus berpisah dan tidak tahu lagi kapan bertemu. Sedih memang, tapi perpisahan ini terjadi supaya aku menghargai arti pertemuan.

Merantau kadang memang membuat nyaman, namun tak selamanya nyaman itu baik untuk kita. Nyaris tak ada yang bertumbuh di zona nyaman selain rasa manja. Hidup itu adil dan memiliki prosesnya sendiri, ketika kita terlalu nyaman di suatu tempat, otomatis akan ada masanya di mana kenyamanan itu akan dicabut.

Tunas harapan yang kecil kini telah tumbuh dengan subur di sebuah pot bernama Jogja, namun pot ini tak lagi cukup untuk memuat akar-akar yang kian memanjang. Tuhan mencabutku dan menempatkanku pada pot baru bernama Jakarta.

Mengawali dengan Semangat, Menutup dengan Manis 

“Manisnya hidup, kita yang tentukan,” tagline dari iklan produk gila. Nampaknya slogan iklan itu ada benarnya juga. Jika hari ini aku memutuskan untuk terlarut dalam duka karena perpisahan, maka rasa manis itu akan berubah menjadi manis yang merusak, tak lagi sehat.

img_0991img_1477img_1534img_1546img_1549img_1592img_7830img_8653

Dulu ketika aku mengawali petualangan untuk empat tahun di Jogja, aku mengawalinya dengan harapan kecil. Kini ketika petualangan itu tuntas, ditutup dengan kenangan manis yang dibentuk dari pertemuan dengan banyak orang. Ada keluarga di KKP yang mengajariku untuk bekerja dengan passion. Keluarga HMPSKom yang mengajariku apa arti dari totalitas bekerja. Keluarga di OnFire yang mengajariku tentang arti pelayanan. Juga seisi rumah kostku yang mengajariku tentang apa itu berbagi rasa dan menerima perbedaan.

Dan…di ujung perjalanan ini, Jogja menjadi terasa begitu manis. Saking manisnya, air mata pun terasa manis. Bukan tangis sedih yang terurai, tapi tangis bahagia, sebuah sukacita karena diberi kesempatan untuk bertemu dan berproses bersama orang-orang pilihan yang luar biasa!

Terima Kasih HMPSKom!

“Gathered for once, scattered for a life time” Sebelum waktu melepas kita, kiranya tulisan ini boleh jadi kenangan manis buat rekan sekerja di HMPSKom tercinta. Benda bisa hilang, tapi kenangan tak akan pernah pudar dan cerita akan terus dikenang 🙂

Besi menajamkan besi dan manusia menajamkan manusia. Kalimat ini bukanlah sebuah omongan kosong, tapi memang sejatinya begitu. Karakter manusia hanya bisa dibentuk oleh manusia lainnya, tentunya lewat segudang pengalaman baik suka maupun duka yang terangkai sempurna.

Hari ini, Rabu 6 April 2016 bisa dibilang menjadi suatu awal yang baru. Ya, awal yang baru bagi HMPSKom untuk memulai langkahnya. Menjadi sebuah organisasi himpunan dengan sedikit orang bukan sebuah tugas yang gampang. Kalau ditanya kerjaannya ngapain, pasti orang di luar ngertinya kerjaan anak himpunan itu cuma rapat. Padahal rapat itu hanya sebagian kecil daripada gunung es kegiatan anak himpunan yang segudang.

Capek? Iya! Stress? Iya juga. Bosan? Nggak tuh! Yes, itu kesan yang terangkai sempurna. Tiga tahun lalu, tepatnya Oktober 2013 sekitar dua puluh orang angkata 2012 mendaftar seleksi HMPSKom. Duh! Pertama kesannya agak minder, kok yang daftar isinya anak-anak hits kampus semua? Sedangkan waktu itu aku ngerasa bukan siapa-siapa di kampus, bisa kuliah aja udah syukur apalagi bisa ikut aktif kegiatan di kampus.

Singkat cerita, awal November 2013 (lupa tanggal tepatnya) dinobatkanlah 6 makhluk dari angkatan 2012 menjadi anggota tetap HMPSKom. Pertama, jelas ada rasa bangga karena bisa diterima di organisasi yang katanya keren di FISIP! Kedua, minder pake banget! Dari kita ber-enam, ada si Ciput yang terkenal karena suaranya bagus, lalu ada si Putra yang eksisnya sampai ke planet Saturnus, ada Sofi yang galak nan jutek, ada Riestha yang kalem dan misterius, terakhir ada si Echel yang waktu itu aku gak punya gambaran apapun soal dia.

Tahun pertama terasa garing. Isinya cuma rapat dua jam tiap rabu, lalu tanpa basa basi langsung pulang seudah rapat. Duh, sempet sih ada rasa menyesal di HMPSKom, merasa aneh. Waktu itu Sofi, Putra dan Riesta kalau udah ketemu pasti bahas AJR. Kalau semuanya kumpul pasti pada gosipin kisah cinta masing-masing, dan waktu itu cuma aku yang bengong, roaming dan terlihat bego.

Perjalanan menuju kekompakan baru dimulai di pertengahan 2014 ketika kami, angkatan 2012 mulai dipercayakan memegang proker-proker. Proker terbesar kala itu adalah Studi Perspektif, alias SP yang dalam bayanganku super ribet! Gimana nggak, kita yang jumlahnya cuma ber-enam diminta menggarap kunjungan kerja ke Jakarta untuk mahasiswa satu angkatan yang jumlahnya hampir 300.

Mengurusi satu orang saja sudah susah, ini malah harus ratusan orang. Celakanya, kami ber-enam adalah manusia super sibuk yang mungkin untuk nafas aja harus dijadwal. Rapat SP pertama mulai ketar-ketir, bingung sana-sini, masalah di dosen dan lainnya. Bulan lewat bulan, mulai ada perubahan positif sampai satu hal tolol menimpa kami semua. Kami salah hitung, akibat kesalahan itu, jika tidak diperbaiki kami harus nombok puluhan juta. Tapi, syukurlah itu berhasil diperbaiki.

Sadar apa nggak, pengalaman itu jadi titik awal kami untuk solid di HMPSKom. Bulan lewat bulan dan tahun pun berganti. Perlahan tapi pasti, kami mulai menjadi satu walau tetap berbeda. Sofi yang terkenal galak dan jutek itu ternyata orangnya humoris dan seneng banget ngucapin kata “B*go Lu!” ke si Putra dan Ciput. Echel yang dulu tak terdeteksi tabiatnya, ternyata adalah manusia super unik yang punya power, apalagi setelah dia menjabat jadi ketua HMPSKom. Satu hal yang gak berubah dari Echel yaitu selalu minta nebeng pulang sehabi rapat. Ciput tetap begitu, tetap menjadi sosok lelaki yang agak buaya. Putra semakin eksis, kini semenjak jadi barista tingkat keterkenalannya udah sampai ke planet Pluto. Terakhir, yang tetap tak ternodai sampai detik ini adalah Ariestha. Riestha, sosok pendiam, murah senyum, dan satu-satunya orang yang paling netral dan bisa berpikir jernih di antara kami berenam.

Tulisan ini sebenernya dituliskan khusus buat temen-temen HMPSKom. Waktu itu mengubah segalanya, tapi waktu itu akan tidak berarti ketika kita tidak dipertemukan dengan orang-orang lain. Percayalah, kawan, rekan kerjamu selama di himpunan bukan cuma sekedar rekan kerja. Secara waktu, kami berenam jarang banget yang namanya main bareng, makan bareng, apalagi liburan bareng. Tapi, satu prinsip yang kami pegang adalah kita “kerja bareng”. Kenapa kerja? Dalam kerja, tekanan itu nyata, dan dalam tekanan itulah karakter asli seseorang akan keluar.

Kami mencintai satu sama lain karena karakter, bukan karena lainnya. Karakter Sofi yang blak-blakanlah yang jadi tameng kita ketika kita diserang dengan argumen miring. Echel-lah yang mengkordinasi setiap proker kita. Ciput dan Putralah yang selalu membuat rapat kita asik tanpa stress. Riesthalah yang selalu teliti dan ngingetin kita akan hal-hal kecil.

Kawan, perjalanan kita mungkin selesai sampai di titik ini. Ada satu pepatah yang aku yakini dan percaya yaitu, “Gathered for one time, scattered for a life time.” Kita dikumpulkan untuk sesaat, dan akan dilepas untuk selamanya. Pengalaman tiga tahun di HMPSKom ini jadi cerita manis dan buah nyata pelayanan kami bagi kampus. Kami bersyukur dan bangga, karena setidaknya buah kami bisa dirasakan oleh rekan sekerja kami, karena memang apa yang kami lakukan belum sepenuhnya sempurna.

Sejatinya, HMPSKOM, kalianlah pelita buat kampus kita. Sebagai pelita, kita mungkin tidak benderang, tapi di situlah perjuangan kita untuk tetap menyala ketika angin mulai bertiup. Jika kita adalah pelita, Tuhan apinya, maka kebersamaan adalah minyaknya. Tanpa ada kebersamaan, HMPSKom niscaya akan bubar tak berjejak. Ataupun jika ada, buahnya tak akan dirasakan orang lain.

Satu kata, Terimakasih HMPSKOM! Tetap berkarya bagi FISIP, menorehkan hal yang baik untuk almamater kita.

Semangat ya Deta, Nia, Meki, Melon, Nindya, Gotik, Tika, Vivi, Grace, Clara, Juan dan Anna.

 

Dari kami, rekanmu 2012

(Ary, Echel, Riestha, Sopiyatun, Ciput dan Putra)