Arsip

Stasiun Pasar Senen rasanya tak pernah tertidur. Sejak kereta api Tawang Jaya bertolak jam sebelas malam, puluhan kereta dari arah timur berdatangan di pagi buta. Belum usai semua kereta itu tiba, jam setengah enam kurang lima menit, kereta api Kutojaya Selatan jadi yang pertama bertolak ke timur. Begitu seterusnya, menjadikan Stasiun Pasar Senen selalu hidup dan riuh tiap waktunya.

Naik kereta api kelas ekonomi bukanlah peristiwa luar biasa dalam hidup saya. Setiap bulannya, minimal sekali, pasti saya akan naik kereta dan dari tiap perjalanan inilah lahir semangat baru untuk bertahan hidup di Jakarta.

Sebagai orang Bandung yang bekerja di Jakarta, untuk urusan bepergian di antara kedua kota ini saya lebih memilih menaiki kereta api. Ada beberapa kelebihan yang bisa didapat dari kereta api, antara lain: tarifnya bersahabat, waktu tempuhnya yang tidak lama-lama amat, dan tentunya bebas macet.

  Di tengah ritme pekerjaan di Ibukota, akhir pekan nampaknya menjadi waktu jeda yang paling dinanti untuk bepergian ke luar kota. Tak ayal, tiap Jumat malam tiba, Stasiun Pasar Senen dibanjiri oleh ribuan orang yang siap bepergian ke aneka kota di pulau Jawa.

  Ketika diluncurkan pertama kali di tahun 2016, kereta ekonomi terbaru yang katanya memiliki rasa eksekutif ini menuai rasa penasaran. Jika dilihat sekilas, tampilan kereta yang berkonfigurasi tempat duduk 2-2 ini memang tampak jauh lebih nyaman daripada kelas ekonomi biasa yang duduknya harus berhadap-hadapan. Tapi, hanya beberapa saat setelah diluncurkan dan dirangkaikan pada kereta api jarak jauh, pamor kereta baru ini pun meredup.

Melintasi empat provinsi di Jawa sejauh 570 kilometer bukanlah perjalanan yang pendek.