Sedu Sedap Naik Kereta Api Matarmaja

Lokomotif CC201 92 12 yang menghela KA Matarmaja

Naik kereta api kelas ekonomi bukanlah peristiwa luar biasa dalam hidup saya. Setiap bulannya, minimal sekali, pasti saya akan naik kereta dan dari tiap perjalanan inilah lahir semangat baru untuk bertahan hidup di Jakarta. Continue reading “Sedu Sedap Naik Kereta Api Matarmaja”

Argo Parahyangan: Dulu Terabaikan, Kini Jadi Primadona

Interior eksekutif-8 KA Argo Parahyangan Tambahan

Sebagai orang Bandung yang bekerja di Jakarta, untuk urusan bepergian di antara kedua kota ini saya lebih memilih menaiki kereta api. Ada beberapa kelebihan yang bisa didapat dari kereta api, antara lain: tarifnya bersahabat, waktu tempuhnya yang tidak lama-lama amat, dan tentunya bebas macet. Continue reading “Argo Parahyangan: Dulu Terabaikan, Kini Jadi Primadona”

Menjajal Tawang Jaya, Kereta Api Terpanjang di Jawa

Di tengah ritme pekerjaan di Ibukota, akhir pekan nampaknya menjadi waktu jeda yang paling dinanti untuk bepergian ke luar kota. Tak ayal, tiap Jumat malam tiba, Stasiun Pasar Senen dibanjiri oleh ribuan orang yang siap bepergian ke aneka kota di pulau Jawa. Continue reading “Menjajal Tawang Jaya, Kereta Api Terpanjang di Jawa”

Sebelum Naik Gerbong Ekonomi Baru, Perhatikan 4 Fakta Ini Supaya Tidak Zonk

Ketika diluncurkan pertama kali di tahun 2016, kereta ekonomi terbaru yang katanya memiliki rasa eksekutif ini menuai rasa penasaran. Jika dilihat sekilas, tampilan kereta yang berkonfigurasi tempat duduk 2-2 ini memang tampak jauh lebih nyaman daripada kelas ekonomi biasa yang duduknya harus berhadap-hadapan. Tapi, hanya beberapa saat setelah diluncurkan dan dirangkaikan pada kereta api jarak jauh, pamor kereta baru ini pun meredup.

Jika kita bepergian dari Bandung menuju Jakarta atau sebaliknya, kereta kelas bisnis yang dulu dirangkaikan pada Argo Parahyangan sekarang tinggal sejarah. Sebelumnya, bertepatan dengan ulang tahun PT. KAI yang ke-71 pada 28 September 2016, kereta ekonomi baru ini digadang-gadang sebagai layanan prima dari PT. KAI untuk memanjakan penumpangnya. Pada awalnya, kereta kelas ekonomi baru ini ditujukan untuk menghapus kereta kelas bisnis. Praktis, saat debut perdananya, kereta ekonomi baru ini pun mulai dirangkaikan ke kereta-kereta yang sebelumnya menggunakan kelas bisnis, yaitu KA Mutiara Selatan dan KA Senja Utama Yogya.

Tapi, euforia kereta baru yang tampak mewah ini tak berlangsung lama. Tak sampai beberapa bulan berselang, kereta yang katanya memiliki rasa eksekutif itu menuai protes lantaran jarak antar kursinya yang membuat penumpang menjadi mati gaya. Antara satu kursi dengan kursi lainnya tidak terdapat ruang yang memadai. Akibatnya, penumpang dengan kaki yang cukup panjang lututnya pun bersentuhan dengan kursi di depannya. Untuk perjalanan panjang di atas 3 jam, kondisi kursi ini membuat penumpang merasa pegal. Selain itu, posisi sandaran kursi yang tegak dirasa membuat rasa tidak nyaman semakin menjadi-jadi. Akhirnya, PT. KAI pun mengembalikan rangkaian KA Mutiara Selatan dan Senja Utama Yogyka kembali kepada rangkaian bisnis.

Lantas, bagaimana dengan rangkaian yang sudah terlanjur dibuat? PT. KAI menyiasatinya dengan merangkaikannya pada kereta-kereta bisnis jarak dekat. KA Argo Parahyangan mendapatkan jatah menggunakan kereta ini. Akibatnya, tidak ada lagi kelas bisnis di Argo Parahyangan (kecuali jika kereta menggunakan idle rangkaian Harina).

Saat ini, kereta ekonomi 2016 dapat dinikmati di rangkaian kereta api berikut ini:

Nama Kereta Relasi Tarif Maksimal*
Argo Parahyangan Gambir – Bandung 80.000
Cirebon Ekspress Gambir – Cirebon 90.000
Tegal Bahari Gambir – Tegal 90.000
Menoreh Pasar Senen- Semarang Tawang 220.000
Kaligung Semarang Tawang – Tegal – Brebes 50.000
Ambarawa Ekspress Semarang Poncol – Surabaya Pasar Turi 90.000
Sancaka Yogyakarta – Surabaya Gubeng 155.000

Catatan:

Kereta ekonomi 2016 berbeda dengan ekonomi 2017 yang dinamai “premium”. Untuk ulasan lebih lengkap tentang KA Premium, silakan klik di sini.

*Harga dapat berubah menurut kebijakan PT. KAI (Update harga Feb 2018)

Nah, sebelum memutuskan untuk menaiki kereta-kereta di atas, perhatikan 4 fakta berikut ini supaya perjalanan kita menyenangkan:

1. Kursi penumpang tidak bisa diputar dan diatur sandarannya

Tidak seperti kursi kelas bisnis atau eksekutif yang posisi kursinya dapat diputar sesuai dengan arah laju kereta, kursi di kereta ekonomi 2016 bersifat statis, tidak dapat diputar. Dalam satu kereta terdapat dua zona yang kesemuanya menghadap ke titik tengah kereta. Di kursi nomor 11 dan 12, posisinya saling berhadap-hadapan.

 

 

Bagi mereka yang tidak mudah mabuk, duduk di mana saja tidak menjadi masalah. Tapi, bagi mereka yang suka pusing saat bepergian, posisi duduk tentu bisa jadi masalah besar. Untuk menyiasatinya, kita harus mengenal posisi duduk dalam kereta. Berhubung saya adalah pengguna layanan KA Argo Parahyangan, berikut ini informasi yang bisa saya berikan:

  • Untuk keberangkatan dari Bandung menuju Jakarta, kursi yang posisinya searah dengan laju kereta api adalah kursi nomor 1-12.
  • Untuk keberangkatan dari Jakarta menuju Bandung, kursi yang posisinya searah dengan laju kereta api adalah kursi nomor 12-24.
  1. Di masing-masing kereta, terdapat kursi zonk

Apa itu kursi zonk? Kursi zonk adalah kursi yang tidak tersedia jendela. Rugi rasanya, sudah bayar tiket mahal, malah tidak dapat melihat pemandangan apapun.

Kursi nomor 1 dan 24 wajib dihindari karena kursi ini tidak terdapat jendela.

  1. Ukuran jendela di masing-masing kursi berbeda

Tidak semua kursi mendapatkan ukuran jendela yang sama. Ada kursi yang jendelanya besar, tapi ada juga yang jendelanya kecil.

Kursi yang jendelanya besar: nomor 2,5,8,10,11,12,15,18

  1. Walaupun kelas ekonomi, tapi harga di kereta ekonomi 2016 adalah tarif non-pso

Walaupun menyandang status sebagai kelas ekonomi, tapi harga kereta ekonomi 2016 itu berbeda dengan kereta ekonomi PSO (subsidi). KA Ekonomi PSO adalah kereta api yang mendapatkan subsidi dari pemerintah, sehingga harganya lebih murah. Berikut ini adalah rincian KA ekonomi PSO:

Nama KA Relasi Tarif
Pasundan Kiaracondong-Surabaya Gubeng 94.000
Kahuripan Kiaracondong-Blitar 84.000
Bengawan Pasar Senen – Purwosari 74.000
Serayu Pasar Senen – Purwokerto 67.000
Gaya Baru Malam Selatan Pasar Senen – Surabaya Gubeng 104.000
Matarmaja Pasar Senen – Malang 109.000
Brantas Pasar Senen – Blitar 84.000
Logawa Purwokerto – Jember 74.000
Sri Tanjung Lempuyangan – Banyuwangi Baru 94.000
Probowangi Surabaya Gubeng – Banyuwangi Baru 56.000
Tawang Alun Malang-Banyuwangi Baru 62.000

Secara keseluruhan, cukup nyaman untuk duduk di atas kereta ekonomi baru ini. Namun, jika harus duduk lebih dari 3 jam, rasanya cukup pegal dan tidak nyaman.

Kiri: kereta ekonomi 2016 ; kanan: kereta bisnis

 

Ekspedisi Kereta Api Bengawan: Melintasi 4 Provinsi dengan Tarif Merakyat

bengawan1

Melintasi empat provinsi di Jawa sejauh 570 kilometer bukanlah perjalanan yang pendek.

“Berhentinya berapa lama, ya?” tanya seorang bapak di bordes kereta. Dua jam sebelumnya, Bengawan, kereta api dari Purwosari tujuan Pasar Senen baru saja bertolak dari stasiun Lempuyangan. Para penumpang yang didominasi lelaki itu sudah gelisah. Tatkala kereta api berhenti sejenak untuk bersilang, mereka menghambur ke luar gerbong. “Lumayan, bisa udud dulu,” tandas bapak tadi seraya menyalakan sebatang rokok.

Sore itu, di stasiun Sruweng, kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Bengawan terhenti lajunya karena harus berbagi rel dengan KA Gaya Baru Malam Selatan yang bertolak menuju Surabaya. “Minggir, minggir!” penjaga stasiun berteriak, sementara itu dalam jarak beberapa ratus meter saja, rangkaian kereta api Gaya Baru melaju dengan kecepatan penuh, menyisakan angin yang menghempaskan debu-debu di pelataran stasiun. Satu menit kemudian, Bengawan melanjutkan perjalanannya kembali ke arah barat.

Tidak ada kursi kosong yang tersisa di tiap-tiap gerbong Bengawan hari itu. Tas-tas, koper, dan kardus memenuhi semua kabinet bagasi. Seiring kereta yang melaju cepat, masing-masing penumpang mengeluarkan jurusnya untuk bisa menikmati perjalanan. Di ujung gerbong, sekelompok bapak-bapak tertawa meledak. Mereka bercanda dalam bahasa Jawa. Sesekali, candaan mereka membuat penumpang lain tersenyum kecut.

bengawan4
Suasana kabin KA Bengawan

Beberapa penumpang lain menghanyutkan diri mereka dalam dunia maya. Tatapan mereka tertuju ke layar ponsel, sementara badannya bergoyang-goyang mengikuti irama gerbong. Ada pula yang memilih tidur. Seorang bapak di sebelah kiriku malah membawa sarung, mengenakannya di pinggang, dan tertidur pulas, seolah-olah gerbong itu adalah kediaman pribadinya.

Pukul 17:00, tatkala kereta mulai mendekati stasiun Gombong, waktu berbuka puasa juga semakin dekat. Suasana gerbong jadi semakin riuh. Penumpang yang tadinya saling diam akhirnya membuka obrolan seputar menu berbuka. Kelompok bapak-bapak di ujung gerbong sudah siap dengan satu plastik besar es sirup yang mereka bawa. Sementara itu, penumpang lainnya telah siap dengan perbekalan masing-masing.

“Para penumpang yang terhormat, saat ini waktu berbuka puasa telah tiba,” kata seorang pramugara lewat pengeras suara. Pengumuman itu segera disambut dengan “Alhamdullilah”. Penumpang di depanku membawa serta dua bungkus kolak pisang dalam tasnya. Dengan hati-hati, dia membuka ikat karet di ujung plastik. Matanya terpejam sejenak—mungkin berdoa—kemudian dia meraih sendok dan memakan hidangan manis itu dengan lahap.

Kala penumpang tengah asyik dengan menu berbuka puasa mereka, Bengawan telah tiba di Stasiun Gombong dan berhenti selama 10 menit. Hanya segelintir penumpang yang naik dari Stasiun Gombong, mungkin karena kursi kereta sebelumnya telah penuh sejak berangkat dari Jogja. Sebenarnya, pemberhentian Bengawan di stasiun Gombong itu bukan sekadar untuk menaik-turunkan penumpang, melainkan karena harus berbagi rel dengan kereta lainnya.

bengawan3
Stasiun Gombong

Di tahun 2017 ini, manajemen kereta api berusaha untuk membuat jalur tunggal menjadi ganda untuk membuat perjalanan kereta api menjadi lebih efektif. Sepanjang jalur dari Jakarta hingga Solo, hampir semuanya telah berjalur ganda, kecuali di petak antara Purwokerto hingga Kutoarjo. Keberadaan jalur tunggal ini tinggal menghitung hari, karena untuk saat ini jalur Purwokerto-Kroya sedang digarap jalur ganda. Artinya, tinggal menunggu waktu, jalur Kroya hingga Kutoarjo pun akan segera dibuat ganda.

Bagi sebagian orang, perjalanan yang makin cepat tentu makin baik. Tapi, buatku sendiri, perjalanan yang baik itu tidak melulu harus selalu cepat. Ketika kereta api harus berhenti beberapa saat untuk menanti kereta lainnya melintas, momen ini adalah momen yang paling kunantikan. Aku bisa turun ke luar gerbong, mengamati keadaan, mengobrol dengan petugas stasiun, juga mengambil beberapa foto sebagai bahan koleksi.

Kereta api Bengawan lainnya yang bertolak dari Jakarta telah tiba di stasiun Gombong. Pengeras suara stasiun segera menggema, “Kereta api Bengawan tujuan akhir Pasar Senen siap diberangkatkan.” Satu panggilan itu dengan segera menarik puluhan penumpang yang berkeliaran di sekitaran gerbong segera masuk kembali. “Priiiiitttt…” peluit panjang melengking dan kereta api kembali melaju.

Masih tersisa waktu 6,5 jam sampai Bengawan tiba di Pasar Senen. Setelah perut terisi penuh, satu per satu penumpang jatuh tertidur. Ada yang tidur dengan duduk tegak di kursi, tapi ada pula yang membawa koran dan menyembunyikan tubuh mereka di kolong kursi-kursi. Sebelum kereta api melakukan transformasi, dulu, penumpang bebas melakukan apa saja di dalam gerbong kereta. Mulai dari merokok, tidur bergelimpangan, semua bebas dilakukan tanpa ada sanksi. Akibatnya, gerbong menjadi tidak nyaman dan aman. Di setiap stasiun, puluhan pedagang, pengamen, dan pengemis merangsek masuk, bahkan di antara mereka ada pula penyusup berupa tukang copet. Namun, syukurlah karena itu dulu, sekarang kereta api telah berbenah diri.

Bengawan adalah kereta api kelas tiga, alias kelas ekonomi. Untuk perjalanan sejauh 570 kilometer dari Jakarta menuju Solo, Bengawan membutuhkan waktu 9 jam 20 menit, melintasi provinsi DKI Jakarta-Jawa Barat-Jawa Tengah-D.I Yogyakarta. Jarak yang jauh itu cukup dibanderol dengan tarif sebesar Rp 74.000,-. Tarif yang amat merakyat! Bandingkan dengan tarif bus umum, pesawat, atau kereta api lainnya, tarif ini amat murah.

bengawan2
Gerbong 7 KA Bengawan

Karena tarifnya yang nyaman di kantong, Bengawan selalu jadi pilihan yang pertama kucari setiap kali akan bertolak ke Yogyakarta. Namun, untuk mendapatkan tempat duduk di Bengawan, dibutuhkan usaha lebih. Sangat sulit mendapatkan kursi kosong di gerbong Bengawan, terutama saat akhir pekan atau libur panjang tiba. Tiga bulan sebelumnya pun tiket kereta ini sering ludes duluan!

Lintas dari Jakarta ke Yogya sebenarnya bisa dilayani dengan beberapa kereta, namun jika dibandingkan dengan kereta ekonomi sejenis, Bengawan memang menjadi juaranya. KA Progo yang merupakan kelas tiga, dibanderol seharga Rp 125.000,- per sekali jalan. KA Gaya Baru Malam Selatan dibanderol Rp 104.000,-. KA Jaka Tingkir dibanderol dari Rp 170.000 hingga Rp 230.000,-. KA Krakatau dibanderol Rp 270.000,-. KA Gajahwong dan Bogowonto dibanderol Rp 150.000 hingga Rp 220.000,-. Jadi, jelas toh bahwa Bengawan adalah sang pemenang tarif termurah.

Tarif murah KA Bengawan ini disebabkan karena kebijakan pemerintah untuk memberikan subsidi kepada beberapa rangkaian kereta api kelas ekonomi. Kereta Api Progo sudah tidak lagi masuk ke dalam golongan yang diberi subsidi, oleh karena itu tarifnya naik. Tahun 2014 yang lalu, aku masih sempat menikmati KA Progo dengan tarif Rp 50.000,- dari Pasar Senen menuju Lempuyangan.

Namun, kita patut berbangga karena terlepas dari harga tiketnya, kereta api Indonesia terus berbenah diri. Perjalanan kini menjadi lebih aman dan nyaman. Stasiun disterilkan. Pemesanan tiket bisa dengan mudah secara online. Setiap gerbong kelas apapun kini telah dilengkapi dengan pendingin udara, jadi tidak ada lagi istilah ‘mati kepanasan’ di dalam gerbong.

Dengan hadirnya pendingin udara, otomatis semua perjalanan kereta api menjadi perjalanan bebas asap rokok. Penumpang tidak lagi diperkenankan untuk merokok di dalam rangkaian gerbong. Jadi, bagi sebagian perokok, momen kereta berhenti dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menyalakan batang rokok mereka di luar gerbong.

Tak terasa, Bengawan terus melaju ke arah barat. Selepas stasiun Cirebon Prujakan, laju kereta ditingkatkan. Bengawan tidak berhenti di satupun stasiun di sepanjang lintasan ini. Pukul 23:45, Bengawan tiba di Bekasi, dan pukul 00:20 tiba dengan tepat waktu di stasiun Pasar Senen.

Menutup perjalanan hari itu, sebuah motor ojek telah menantiku di depan stasiun Senen. Perjalananku masih panjang, 18 kilometer menuju kamar kost. Perjalanan di atas Bengawan mungkin membuat punggungku lelah, tapi jiwaku bersuka, dan kantongku pun nyaman.