Editor, Bukan Sekadar Duduk di Kantor

Kepalaku pening setelah menatap layar laptop berjam-jam. Bokongku juga seolah sudah menempel sempurna dengan kursi. Dari langit terang hingga gelap, tulisan-tulisan seolah tidak pernah habis untuk diedit. Rutinitas edit-mengedit ini sepintas terlihat mudah karena editor seolah hanya duduk santai dan berurusan dengan untaian kata dan tanda baca, berbeda dengan jurnalis yang harus pergi sana-sini meliput aneka kejadian. Tapi, tanggung jawab seorang editor bukan sekadar ‘polisi’ tulisan yang sensitif terhadap EYD dan tanda baca, ataupun bukan pula ongkang-ongkang kaki di atas kursi. Lebih dari itu, seorang editor bertanggung jawab membantu penulis menghasilkan tulisan yang terbaik.

Continue reading “Editor, Bukan Sekadar Duduk di Kantor”

Iklan

Sekelumit Ceritaku Sebagai Seorang Editor

Pekerjaan adalah panggilan hidup. Kalimat ini sekilas terdengar klise buatku yang waktu itu masih tidak tahu apa panggilan hidupku sebenarnya. Menjelang lulus kuliah, panggilan hidupku adalah untuk bekerja mencari gaji besar, hidup mapan, orangtua bahagia, dan pokoknya segalanya baik. Tapi, lewat waktu demi waktu, lambat laun aku mulai menyadari apa yang menjadi panggilan hidupku sebenarnya.

Continue reading “Sekelumit Ceritaku Sebagai Seorang Editor”

Bertemu Oma Tilly: Walau Tak Dapat Melihat, Tapi Masih Mau Menulis

oma1
Bersama oma Tilly Palar

Selalu saja ada hal menarik dari pekerjaan sebagai editor. Tulisan-tulisan yang masuk ke redaksi setiap harinya beraneka-ragam seperti sepiring rujak buah. Ada tulisan yang manis mengaharukan tapi ada juga tulisan yang kecut dan harus membuat si editor garuk-garuk kepala.

Beberapa minggu lalu, ada sebuah kiriman tulisan yang masuk. Biasanya pengirim-pengirim tulisan itu adalah anak-anak muda yang usianya dari 15 – 20 tahunan. Tapi, kali ini berbeda, seorang oma berusia 70 tahun mengirimkan tiga judul tulisan sekaligus ke email redaksi.

Setelah dibaca-baca, dari tiga tulisan yang dikirimkan, ada satu yang topiknya cukup relevan dengan kehidupan generasi muda masa kini. Sang oma yang bernama Tilly Palar itu menulis sebanyak delapan halaman cerita, tanpa spasi dan ukuran font 11! Beliau bercerita panjang lebar dan begitu rinci tentang pengalaman hidupnya ketika membesarkan anak-anaknya. Tulisan tersebut lebih cocok dengan tulisan-tulisan yang ditulis dalam sebuah novel.

Awalnya sempat ada rasa ragu, apakah tulisan ini harus diterima atau ditolak? Jika diterima, berarti harus berusaha keras untuk melakukan editing. Tulisan nan panjang itu harus dipangkas, karena pembaca website itu tidak suka tulisan yang terlalu panjang. Lalu, gaya bahasa juga harus disesuaikan ulang dengan karakter umum pembaca. Tapi, jika ditolak pun sebenarnya ada rasa tidak enak, terlebih karena beliau tentu sudah berusaha banyak untuk menuliskan delapan halaman itu.

Akhirnya proses penyuntingan pun dimulai. Karena faktor usia, agak sulit untuk berkorespondensi dengan beliau sehingga kami pun memutuskan untuk bertemu dan mengobrol langsung saja daripada harus berkorespondensi melewati email atau telepon.

Sang Oma tak lagi prima, tapi jiwanya tetap menyala

Singkat cerita, hari Minggu (2/4/17) aku menemui sang Oma di sebuah gereja di kawasan Lippo Karawaci, Tangerang. Dalam gambaranku waktu itu, sang Oma tentulah masih segar bugar dan terampil menggunakan perangkat gadget. Toh bisa menulis delapan halaman, pasti Oma yang keren deh. 

Setelah menunggu beberapa menit di depan pelataran gereja, sang oma pun datang. Beliau turun dari mobil, kemudian dituntun secara perlahan oleh seorang kawanku. Setelah mencapai tempat duduk, aku pun berkenalan dengan Oma.

Ternyata dugaanku salah. Kupikir oma ini keren, ternyata, dia jauh lebih keren! Di usianya yang ternyata sudah menginjak usia ke-70 tahun ini, beliau sudah tidak dapat lagi melihat. Pandangannya telah kabur sehingga dia harus dituntun kemanapun pergi. Beberapa tahun yang lalu pun beliau pernah mengalami serangan jantung.

Kondisi fisik yang terus menurun ternyata tidak sejalan dengan jiwanya. Semangatnya tetap menyala. Dengan senyum dia menyapaku. “Oh ini Ary ya, wah Oma senang sekali bisa duduk mengobrol bareng,” ucapnya hangat. Selama beberapa menit kami pun mengobrol. Beberapa pertanyaan kulontarkan kepadanya, dan oma pun menjawabnya dengan sangat detail, bahkan terlampaui detail. Ingatannya masih begitu kuat sehingga dia menjawab tiap pertanyaan dengan antusias.

oma2
Mewawancarai oma terkait tulisannya

Dalam kondisi telah rabun, oma masih semangat menulis. Tentu dia tidak mampu lagi menulis sendiri, melainkan ada seorang asistennya yang akan menuliskan apa yang diucapkan oleh oma.

Setelah semua pertanyaan usai dijawab oleh oma, kami pun mengobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal. Di ujung pembicaraan, oma kembali mengundangku untuk datang menemaninya bercerita di minggu depan, juga minggu depannya lagi. Terakhir, dia menyampaikan minatnya kalau beliau masih ingin menulis buku! Oleh karena itu beliau ingin sekali memiliki teman bicara yang dapat membantunya bertukar pikiran.

Tulisan oma mungkin tulisan yang biasa-biasa saja, tetapi roh semangatnya merasuk hadir di setiap kata-kata yang dituliskannya. Pertemuan dengan oma mengajariku satu hal, yaitu tidak pernah ada kata terlambat untuk berkarya dan belajar. Jika oma yang usianya telah senja dan fisik yang terbatas saja masih semangat menulis, terlebih aku yang usianya masih hijau bagai pisang yang masih mentah di pohon.

Demikianlah sepenggal kisah dari keseharian sebagai seorang editor.

“There is joy in the Lord.”

 

Jakarta Barat, 3 April 2017

Apa Nikmatnya Seharian Bekerja Hanya di Depan Komputer?

Aku hampir tidak percaya kalau saat aku menuliskan cerita ini, ternyata sudah lebih dari empat bulan kulalui di Jakarta. Perlahan tetapi pasti aku pun larut dalam rutinitas khas ibukota—masuk pagi, duduk berjam-jam di hadapan layar komputer, pulang, dan itu berlanjut setiap harinya sembari berharap akhir pekan datang lebih cepat.

Awalnya aku sempat menolak untuk hidup seperti ini, hingga lambat-laun ada kejadian-kejadian kecil yang membuatku menyadari betapa istimewanya sebuah panggilan karier yang sedang kulakukan saat ini.

Ketika impian tidak selaras dengan kenyataan

Sebagai anak muda di usia 20an, semangatku masih sangat membara dan jiwaku ingin dipenuhi petualangan. Namun, perlahan impian-impian itu semakin melunak mengikuti dengan kenyataan yang memang terjadi. Aku tidak mendapatkan pekerjaan sebagai seorang wartawan yang harus turun langsung ke lapangan untuk meliput kejadian. Aku bekerja sebagai seorang penulis dan editor—sebuah pekerjaan yang awalnya aku sendiri pun tidak tahu.

Sebenarnya aku sempat melayangkan protes kepada Tuhan. “Kayaknya aku salah deh, aku seolah gak hidup kalau rutinitasku begini terus. Pergi pagi, pulang malam, begitu terus,” keluhku selama hampir dua bulan penuh. Lama-lama, keluhan-keluhan yang kunaikkan itu menjadi motivasiku. Aku jadi tidak bersemangat melakukan apapun, termasuk menulis. Sekalipun aku menulis dan mengedit, rohku tidak merasuk dalam setiap kata-katanya.

Aku tidak melihat ada keistimewaan di balik mengedit puluhan tulisan yang masuk setiap bulannya. Merapikan susunan kata, memperbaiki EYD, dan menuangkan ideku ke dalam tulisan kuanggap sebagai rutinitas yang menjemukan. Akhirnya, mau tidak mau, hidupku dikendalikan oleh mood yang selalu negatif. Belum lagi ketika kenangan masa lalu itu datang, dengan segera aku akan merasa sedih dan menyesali keadaan saat ini.

Bulan lewat bulan berlalu, aku berusaha menemukan diriku untuk larut dalam setiap aktivitas yang kulakukan. Aku tidak mungkin memberkati orang-orang lewat setiap kata yang kurangkai apabila aku sendiri tidak menemukan sukacita dalam pekerjaan itu. Berbagai upaya kulakukan, mulai dari membaca buku, bertemu teman, hingga pergi berdoa ke Katedral pun kulakoni demi menemukan jiwaku kembali.

Kejadian kecil yang menegurku

Di penghujung bulan Februari aku merasa kalau semangat hidupku berada di titik nadir. Aku berusaha mencari semangat itu kesana-kemari, tetapi tak juga kutemukan semangat itu. Akhirnya aku pun menyerah dan mulai pasrah dengan apa yang akan terjadi di depanku. Jika di hari-hari selanjutnya semangatku tak kunjung bangkit, maka aku pikir kesudahan karierku akan dekat.

Tapi, aku salah besar. Dia yang memulai pekerjaan baik di dalamku, Dia juga yang akan menuntunku ke dalam rencana-Nya.

Suatu ketika, ada sebuah artikel yang kutulis tentang masa lajang. Ya, aku adalah seorang lelaki single yang belum pernah sekalipun merasakan indahnya berpacaran seumur hidup.

Saat artikel itu selesai ditulis dan diterbitkan di website tempatku bekerja, ternyata artikel itu laris manis. Secara kuantitas memang tidak terlau banyak, tapi ada banyak sekali pembaca yang merespon tulisan itu. Ada yang meresponnya dengan meninggalkan komentar di akhir tulisan, bahkan ada pula yang mengirimiku pesan langsung lewat media sosial.

Kemudian, beberapa minggu setelahnya aku menerima sebuah tulisan yang berisikan kesaksian sederhana dari seorang perempuan. Tulisan itu berkisah tentang keluarganya yang tak punya uang untuk membeli kentang, padahal besoknya sang ibu harus berjualan donat yang terbuat dari kentang.

Penulis cerita itu tidak putus asa. Dia masuk ke dalam kamarnya dan berdoa, dan sekalipun ini zaman modern, ternyata mujizat masih terjadi. Ketika ayahnya pulang, mereka menemukan dua buah kentang lainnya di kolong tangga. Singkat cerita, dengan dua kentang itu sang ibu dapat membuat donat dan berjualan keesokan harinya.

Awalnya kupikir cerita itu terlalu sederhana dan tidak akan menarik banyak pembaca. Tapi, aku salah besar! Dalam beberapa jam setelah artikel itu ditayangkan, artikel itu dibaca oleh ribuan orang, dan dibagikan ulang oleh beratus-ratus orang. Aku tercengang, bukan semata-mata karena kuantitas pembaca yang banyak, tapi kepada kesederhanaan cerita itu yang membuat orang sadar kalau doa itu masih memiliki kuasa.

Hmmmm, kejadian-kejadian itu membuatku sadar diri. Selama ini aku terlalu berfokus kepada hal-hal yang besar hingga aku lupa kalau hal besar itu sendiri disusun dari hal-hal kecil. Terlalu berfokus pada hal besar membuatku kehilangan kenikmatan dalam bekerja. Aku kehilangan setiap detik berharga dan membiarkan rohku menguap, tak lagi bersama kata-kata yang kutulis.

Segera setelah aku menyadari itu, aku memohon ampun kepada sang Pencipta. Aku tahu kalau Dialah yang mengizinkanku hadir dalam pekerjaan ini. Ketika aku tidak menikmati pekerjaan ini, tentu aku tidak sedang menghormati Dia yang memberikan pekerjaan ini kepadaku.

Pola pikir adalah segalanya

Ketika kita berdoa, jarang sekali Tuhan mengubah keadaan kita dengan segera, atau mungkin juga Dia takkan pernah mau mengubah keadaan kita. Tapi, satu yang aku tahu adalah Dia mau kita yang berubah pertama kali.

Sampai detik ini, pekerjaanku tetap sama–duduk di depan layar komputer berjam-jam, tapi aku telah menemukan jiwaku hadir dalam pekerjaan ini. Dulu aku mencari semangatku yang hilang ke berbagai tempat hingga aku menyadari bahwa semangat itu tidak ditemukan di tempat lain, tapi di dalam diriku sendiri.

Sekalipun aku pergi jauh-jauh ke gunung dan pantai untuk mencari inspirasi, tetapi ketika aku tetap mengeraskan hati dan menutup mata akan hal-hal kecil, semuanya tidak ada artinya.

Pekerjaan adalah sebuah panggilan. Ya, panggilan untuk mengisi dompet dengan uang, dan mengisi jiwa dengan pengalaman. Aku menemukan petulanganku dari setiap kata yang kuketik, dari setiap tulisan yang kuedit, dari setiap cerita yang puluhan teman-teman kontributor kirimkan.

Petualangan itu tidak harus selalu tentang bagaimana aku pergi berpindah tempat, tapi tentang di mana aku dapat menaklukan tantangan yang menghadang. Ketika aku merasa bosan, maka petualangan yang harus kulakukan adalah mencari jalan untuk membunuh rasa bosan itu. Ketika aku merasa putus asa, maka petualanganku adalah mencari jalan kelegaan.

Ada petualangan dari setiap untaian kata yang dikirimkan oleh kontributor. Dari kata-kata mereka, aku seolah dibawa masuk menyelami kehidupan dan pergumulan mereka. Percaya atau tidak, itulah yang membuatku kaya! Ya, kaya akan cerita kehidupan. Ada sukacita dari merangkai kata. Ibarat sebuah permadani yang indah, kata-kata ini adalah benang-benang kecil yang menjadikan permadani itu sebagai suatu kesatuan yang indah.

Menutup tulisan ini, ada sebuah kutipan yang ingin kuambil dari tulisan Stephie Kleden-Beetz dalam bukunya yang berjudul Cerita Kecil Saja:

“Bila pena sudah berbuah, ada yang senang karena disanjung, tak sedikit yang khawatir merasa disindir. Majunya sebuah negeri tidak hanya diukur oleh alat-alat elektronik yang canggih atau komputer yang super. Maju atau “dalam”-nya sebuah negeri justru diukur oleh kesusastrannya. Inilah kekayaan rohani negeri mana pun. Teknik boleh terus maju, tetapi roh harus tetap hidup dan jaya. Roh semacam ini tersembunyi di dalam sastra, perbendaharaan negeri yang harus dipupuk.”

Ada kuasa dalam berkata-kata

Ada sukacita dalam menyunting setiap kata

Jika aku merasa lelah dan hidupku seolah rata

Aku harus ingat kalau Tuhanku tetap beserta….
Jakarta Barat, 30 Maret 2017