Sumatra Overland Journey (3) | Jalan Panjang Menuju Bumi Syariat

Etape ketiga. Kami berpindah menuju provinsi paling barat di Nusantara. Aceh masih menjadi misteri bagi kami yang belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di tanahnya. Tapi, misteri itulah yang menjadi magnet, menarik kami untuk hadir dan merasakan langsung nuansa kehidupan di bawah naungan hukum syariat.

Senin, 29 Juni 2015. Perjalanan kami memasuki etape ketiga. Setelah sebelumnya membenamkan diri dalam belantara abadi di Bukit Lawang, destinasi kami selanjutnya adalah menjajaki Bumi Serambi Mekah.

Tatkala matahari baru menampakkan sinarnya, ransel-ransel kami telah siap untuk dipanggul. Hari itu, kami akan melakukan perjalanan nan panjang menuju Sabang. Dari Bukit Lawang, kami harus segera berangkat menuju Binjai, mengejar bus malam tujuan Banda Aceh. Menurut buku Lonely Planet yang kami pegang, disebutkan bahwa bus-bus itu akan melewati kota Binjai sebelum pukul 19:00. Sebenarnya, jika ingin perjalanan lebih pasti, kami bisa pergi dulu ke Medan, kemudian menaiki bus dari sana. Tapi, nama Medan telah kami coret dari daftar perjalanan kami. Sebisa mungkin, apapun keadaannya, kami tidak mau kembali ke Medan.

Ide mengunjungi Aceh sebenarnya tidak datang tiba-tiba. Sewaktu masih di Jogja, aku sempat bertukar pesan dengan Johannes. “How about if we try to spend Ramadhan in Aceh?” Pertanyaanku itu bersambut manis. Dengan segera Johannes mengiyakan. “Why not ?!” Pada mulanya sempat ada perasaan takut. Baik aku dan Johannes, kami tak memiliki imaji apapun tentang Aceh selain dari Tsunami 2004, GAM (Gerakan Aceh Merdeka), dan Syariat Islam.

Dari ketiga hal itu, salah satu yang paling menarik bagi kami adalah tentang Syariat itu sendiri. Kebetulan pula waktu kami menjelajah itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Kami penasaran dan ingin tahu bagaimana semaraknya suasana bulan suci di Bumi Serambi Mekah.

Dengan semangat yang tinggi, kami berjalan kaki meninggalkan Bukit Lawang. Perjalanan menuju Banda Aceh dimulai dengan menumpang mobil elf renta menuju kota Binjai. Di terminal yang amat lowong ini, seraya menunggu mobil datang, kami mengamati keadaan sekeliling.

Kami duduk di sebuah bangunan terbuka di tengah lapangan. Hari itu sudah bulan puasa, tapi sepertinya tidak ada perbedaan dengan hari biasa. Asap-asap rokok tetap mengambur ke udara. Bapak-bapak duduk di kursi panjang, sesekali tawa membuncah dan meja digebrak. “Woy! Hahahaha!” Mereka bermain kartu remi. Wajah-wajah sumringah para bapak itu seolah menunjukkan bahwa mereka amat bahagia. Di tengah suasana terminal yang sepi, gelak tawa mereka menjadi hiburan tersendiri.

Terminal Bukit Lawang. Kosong, sunyi, dan sepi.

Sekitar setengah jam menanti, mobil elf oranye akhirnya tiba di terminal. Mesin mobil dimatikan dan sang sopir segera menghampiri kami. “Berangkatnya setengah jam lagi!” Kecewa. Kami pikir mobil akan berangkat saat itu juga, tapi sopir yang penuh keringat itu sepertinya ingin beristirahat sejenak.

Setelah ransel dimasukkan ke bagian belakang mobil, aku iseng bertanya kepada pak sopir. “Bang, sampe Binjai berapa duit?”. “50 ribu,” tukasnya. Aku coba menawar menggunakan cara memelas dan memaksa. “Mana ada bang, kemarin aku dari Pinang Baris ke sini aja cuma 40 kok!” Sebenarnya aku tidak tahu persis harga yang resmi dipatok untuk perjalanan ke Binjai. Hanya, untuk menyelamatkan kantong, kami harus mendapatkan harga semurah mungkin. Jadi, tatkala hendak menaiki kendaraan, kami harus menggunakan dua jurus: ngotot dan memelas.

Jurus itu membuahkan hasil, setidaknya untuk hari itu. Perjalanan dari Bukit Lawang ke Binjai hanya dipatok tariff Rp 25.000,- per orang. Hmm, kalau begitu, di perjalanan dari Medan ke Bukit Lawang kami ditipu. Bagaimana caranya, perjalanan pergi dihargai Rp 40.000,- sedangkan perjalanan pulangnya hanya Rp 25.000,-? Sudahlah, kami tak mau terlalu berpusing. Yang penting hari itu harga murah kami dapatkan.

Menuju kota Binjai

Deru mesin diesel mobil elf membuat telinga kami berasa budheg. Mobil terhempas ke kanan dan kiri. Sopir dengan lihai melakukan manuver supaya mobil ini tidak masuk ke dalam lubang-lubang yang menganga di sepanjang jalanan. Belantara telah berganti menjadi pemukiman penduduk, kemudian berganti lagi menjadi ladang sawit yang menghampar amat luas.

Sumatra yang dulu amat lebat dan dijuluki paru-paru dunia, kini mulai kritis. Kupikir itu hanya isapan jempol belaka. Tapi, tatkala mataku memandangi hamparan sawit, aku menyadari bahwa sesungguhnya deforestasi itu nyata. Penebangan hutan memang buruk untuk kebaikan iklim, tapi apalah daya isu tentang iklim jika ia harus berhadapan dengan ekonomi? Tentunya, di zaman sekarang ini, uang punya suara yang lebih kuat.

Kritisnya belantara Sumatra ini didukung dengan data yang dirilis Kementrian Kehutanan. Dalam kurun waktu 1990-2010, Sumatra telah kehilangan 7,5 juta hektar hutannya. Dari total keseluruhan pulau, hanya 8% yang masih dikategorikan sebagai hutan perawan, salah satunya adalah di Taman Nasional Gunung Leuser, yang di dalamnya termasuk Bukit Lawang.

Salah satu faktor penyebat direnggutnya keperawanan belantara Sumatra adalah karena si sawit. Kelapa sawit adalah komoditas yang cukup seksi. Statistik mengatakan, bahwa pada 2016, ekspor sawit Indonesia mencapai 12% dari total produksi ekspor nasional. Dan, dari angka itu lahir nilai uang sebesar Rp 231, 4 triliun yang mengalir dari transaksi sawit-menyawit. Selain uang, sawit pun menyerap tenaga kerja hingga 5,6 juta orang. (Tempo Online, 2 Februari 2017; 18:42)

Jika bumi adalah pribadi, kupikir hutan adalah rambutnya. Aku membayangkan bagaimana perasaan bumi ketika hutan-hutannya yang lebat itu dibakar. Hangus tak bersisa, kemudian, tak lama, dari tanah yang hangus itu ditanami oleh pohon-pohon sawit. Ibarat digunduli paksa, kemudian diberikan rambut baru yang keras. Ah, bumi, maafkan kami manusia yang amat jahat kepadamu.

Sementara Johannes tertidur, sawit-sawit itu membuatku berpikir. Satu sisi aku mengutuk sawit sebagai pemerkosa hutan Sumatra, tapi tanpa kusadari, aku pun punya andil dalam pengrusakan itu. Bagaimana tidak, tiap hari aku mengonsumsi makanan yang digoreng dengan miyak sawit. Bukankah aku juga adalah orang yang amat bergantung dengan sawit kalau begitu? Perenungan itu membuat meringis. “Iya juga ya,” pikirku.

Brakk! Mobil kami tiba-tiba berhenti mendadak. Rupa-rupanya, ada seekor kucing yang menyebrang. Sopir berusaha menghindari kucing itu, kemudian dia turun melihat apakah kucing itu tewas terlindas atau selamat. Tapi, dia tak menemukan apapun di kolong mobil.

Tak sampai lima menit berlalu, di tengah mobil yang sedang berpacu terdengar suara “miaauuww!” Aku mengernyitkan dahi. “Jo, do you hear it, miauw?” Johannes mengangguk dan memintaku untuk memberitahu si sopir. “Pak, kayaknya ada kucing nyangkut di kolong,” tuturku. Tapi, bapak sopir bergeming. Seketika dia menjadi ganas. “Biar sajalah, tanggung ini, dikit lagi sampai Binjai.”

Seketika aku merasa ngeri. Aku tak sanggup membayangkan apa yang terjadi pada si kucing di kolong mobil kami. Sepanjang satu jam perjalanan yang tersisa, kami terus mendengar suara miauw..miauw.. Suara kucing malang itu beradu dengan deru diesel yang amat keras. “Duh, aduh, meng..meng” gumamku dalam hati.

Persinggahan di Binjai

Satu-satunya yang aku tahu tentang Binjai adalah karena buah durian yang sering disebut dengan durian Binjai. Karena mobil yang kami tumpangi tujuannya adalah ke Medan, maka kami pun diturunkan di pinggir jalan.

Ketika kami turun dan memanggul ransel, puluhan tukang ojek yang sok kenal mengerubungi kami. Ada yang menawarkan jasa ojek, ada yang menawarkan kamar hotel, ada pula yang sok tahu menebak-nebak. “Where you going mister? Aceh, Medan? Come with me.” Kami tak yakin niat mereka sepenuhnya baik. Kami terus berjalan, tak menggubris satu pun dari mereka.  Kemudian, beberapa dari mereka berlalu, tapi ada pula yang mengumpat. “Sombong kali, kau!”

Acuh tak acuh, kami terus berjalan menuju terminal. Hari itu jam baru menunjukkan pukul 14:00. Ada banyak kios-kios bis yang berjejeran di pelataran terminal. Dari kios-kios itu, para agen-agen bus berteriak lantang. “Ke mana bang? Where you go, mister?” Langkah kami tertuju kepada sebuah kios yang terletak di paling pojok terminal. CV Putra Pelangi Perkasa, tertulis di bagian atas kios itu. Agen bus yang menjaga kios hari itu adalah seorang perempuan. Dengan nada ketus dia bertanya, “Ke Aceh? Kapan? Hari ini sisa dua kursi.” Untung kami datang dengan tepat, karena ternyata kursi yang tersisa hanya cukup untuk kami berdua.

Harga yang dibandrol untuk perjalanan ke Banda Aceh adalah Rp 200.000,-. “Gak bisa kurang, bu?” tanyaku. Dia menggeleng, mengatakan bahwa harga itu adalah harga yang amat ‘spesial’. Seharusnya, dia bisa saja menaikkan harga lebih tinggi. Ya sudah, kami tidak punya pilihan lain. Setelah membayar total biaya tiket sebesar Rp 400.000,-, kami masih memiliki waktu empat jam sampai bus tiba di Binjai.

Hari itu, ponsel butut Johannes rusak. Jadi, sembari menunggu bus, kami masuk ke sebuah mal yang berlokasi persis di seberang terminal. “Pokoknya jam setengah enam balik ke sini ya!” ucap si ibu agen bus sebelum kami pergi.

Perasaan kami cukup lega. Aceh tinggal selangkah lagi di depan. Tak apalah kami membayar cukup mahal, yang penting bisa tiba di Banda Aceh dengan selamat.

Dengan badan kumal dan memanggul ransel berat, kami masuk ke dalam mal. Pengunjung yang tadinya sibuk dengan urusannya, sesekali menorehkan pandangannya ke arah kami. Mereka menatap gerak gerik kami dari ujung kepala hingga kaki. Mungkin mereka merasa aneh melihat satu bule berjanggut berjalan bersama satu lelaki ceking, sambil memanggul ransel raksasa pula.

Waktu itu kami ingin masuk ke dalam swalayan untuk sekadar melihat-lihat. Saat kami hendak menitipkan tas, si mbak malah menolak. “Bawa saja bang.” Sial, pikirku. Ransel seberat 15 kilogram itu membuat punggungku tegang. Ingin rasanya kulepaskan saja sejenak.

Kami seperti orang salah kostum. Mau petualangan kok masuk ke supermarket? Satpam, pengunjung, semua memandang heran ke arah kami. Tiba-tiba ada seorang ibu. Dia berjalan ke arah kami dan tersenyum lebar. Sepertinya aku bisa menebak apa maksud ibu itu. Dia meminta berfoto dengan Johannes.

Johannes hanya bisa pasrah. Sebagai bule yang ramah, Indonesia telah membuatnya menjadi selebriti mendadak. Berjalan ke manapun, selalu saja ada orang yang terpesona pada tubuh bulenya. “Why, they love to take picture with bule? For what?” Sambil terkekeh, aku menjawab pertanyaan Johannes.  “Don’t know, maybe they love you?”

Bicara soal perilaku orang Indonesia kepada bule memang unik. Bagi Johannes, orang Indonesia itu sangat teramat ramah. Bahkan, saking ramahnya, mereka jadi usil dan kepo, alias sok ingin tahu. Dengan senyum merekah, ibu tadi bertanya. Siapa namanya? Ngapain di Indonesia? Berapa lama? Kamu suka sama perempuan Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan dengan penuh semangat. Bagi Johannes, pertanyaan itu aneh untuk ditanyakan, apalagi pertanyaan terakhir. Johannes hanya tertawa kecil sambil menggeleng-geleng kepala tiap pertanyaan itu diberikan.

Sesi foto itu ternyata berlanjut. Ketika kami tiba di kios ponsel, si mbak penjaganya terpincut dengan wajah Johannes. Alih-alih berkonsentrasi melayani konsumen, dia malah senyum-senyum sendiri. Hari itu Johannes membeli sebuah ponsel ala kadarnya seharga Rp 250.000,- saja. Ponsel Nokia itu dibelinya karena ponsel lamanya wafat tak bangkit lagi.

Johannes adalah bule yang unik. Dia tidak pernah terpikirkan untuk membeli sebuah smartphone. Baginya, bisa menelpon dan sms saja sudah cukup. Titik. Media sosial pun dia hanya memiliki Facebook. Diminta membuat Whatsapp pun dia ogah. Memang, bule yang tidak update.

Menuju bumi syariat

Kami kembali di terminal tepat pukul 17:30. Si ibu agen bus itu sibuk menelpon. Suaranya keras dan terdengar lugas. Sepanjang hari-hariku di Sumatra, aku terbiasa mendengar orang bicara keras-keras di tempat umum. Sangat kontras dengan di Jogja di mana seseorang berbicara dengan suara pelan.

Setelah menutup telponnya. Ibu itu memanggil kami, dia meminta kami naik bentor di pojok terminal untuk diantar ke pinggir jalan raya. “Busnya gak masuk terminal, jadi kalian naik saja dari pinggir jalan. Nah, itu bentor, kalian diantar naik itu.” Ongkos bentor itu sudah ditanggung oleh pihak agen bus. Hari itu, penumpang dari terminal hanya kami berdua, jadi sopir bus merasa enggan untuk singgah ke dalam terminal.

Di pinggir jalan raya kami melihat banyak bus-bus besar berseliweran. Hampir semuanya bertujuan ke Aceh. Bus-bus Sumatra ini unik menurutku. Di kaca depannya terpasang tralis besi yang kekar. Belakangan aku tahu bahwa tralis itu berfungsi untuk melindungi kaca dari lemparan batu. Orang iseng macam apa yang suka melempar batu ke bus?

Aku jadi ingat ketika dahulu sering menaiki kereta api dari Bandung ke Jombang. Biasanya, selepas stasiun Cipeundeuy, selalu saja ada orang kurang kerjaan yang melempar batu ke arah gerbong. Pernah suatu ketika, sebuah batu bata merah yang dilempar memecahkan kaca. Batu itu masuk ke dalam gerbong. Untunya, batu itu mendarat di bordes kereta sehingga tidak ada orang yang terluka.

Tralis besi dipasang sebagai pelindung kaca bus dari lemparan batu.

Perilaku kurang kerjaan itu nampaknya masih lestari. Entah apa yang memotivasi pelaku melakukan itu. Tapi, yang jelas, perilaku itu sama sekali tidak terpuji.

Bus Putra Pelangi yang kami tumpangi tiba. Bus yang gagah itu berwarna putih. Lampu di dalam kabinnya berwarna-warni, seperti warna pelangi, membuat bus itu lebih mirip seperti akuarium berjalan. Kami duduk di kursi bagian belakang. Ah, betapa nyamannya kursi bus ini. Selama beberapa hari kami harus duduk di mobil tua renta dengan kursi yang ala kadarnya. Ketika menemukan jok kursi yang empuk, hati kami pun turut luluh.

Akuarium berjalan.
Menuju Banda Aceh.

Pukul 18:15, bus kami melaju meninggalkan Binjai menuju Banda Aceh. Kami tak tahu seperti apa rupa Bumi Serambi Mekah itu, namun hati kami amat yakin bahwa petualangan yang seru menanti kami di sana.

 

 

 

Banda Aceh, Pesona di Balik Repihan Tsunami

Banda Aceh, sebuah kota yang masih sangat asing di telinga kami. Yang kami tahu hanyalah berita soal kota yang kini telah bangkit dan mapan menata diri dari bencana Tsunami 2004 silam. Tak banyak yang kami tahu, tapi kami ingin tahu banyak mengenai Aceh. Terlebih lagi Aceh selama bulan Ramadhan, kami yakin ada sesuatu yang istimewa disana.

IMG_3041
Suasana Banda Aceh di pagi hari 1 Juli 2015

Selasa, 30 Juni 2015

Hari keenam perjalanan kami melintasi Sumatra. Puas menikmati lebatnya belantara Gunung Leuser di Bukit Lawang, kami siap menapaki rute selanjutnya yaitu lintas timur Sumatra, Medan menuju Banda Aceh. Bermodalkan informasi dari warga sekitar Bukit Lawang, kami bergegas berangkat ke Binjai sebelum hari beranjak sore.

Dengan berat hati, kami meninggalkan Bukit Lawang. Tawa dan teriakan anak-anak yang bermain di sungai seolah memaksa kami untuk tinggal lebih lama, namun waktu tak memberi kami kesempatan itu. Berjalan kaki di bawah terik matahari dan memanggul ransel belasan kilogram, kami menuju terminal Bukit Lawang. Tempat yang sama seperti kami datang tiga hari yang lalu.

IMG_3033
Keceriaan anak-anak Bukit Lawang menggoda kami untuk tinggal lebih lama

Kala itu pukul 11:00, tak ada bis satupun yang parkir. Kami mendekat ke bangunan terminal di mana terdapat beberapa warga sedang berkumpul dan ngopi. Kala itu Ramadhan, namun entah warga di sana acuh tak acuh, bahkan mereka merokok bagai kereta api sekalipun mereka seorang Muslim. Kami hanya berdiskusi sedikit dengan beberapa orang disana, mereka selalu menanyakan dari mana asalku. Bagi mereka, unik melihat seorang Indonesia kurus ceking berjalan berdampingan dengan seorang Bule Jerman yang jangkung. Jika tidak dikira aku sebagai guidenya si Bule, kadang juga aku dikira sebagai pasangan homosex, tapi semuanya itu salah total.

IMG_3031
Memanggul ransel belasan kilogram setiap hari

Kembali ke kisah perjalanan, pukul 11:30 sebuah bis oranye tiba dan parkir. “Bang, mau ke Medan? Bentar ya, saya makan dulu, jam 12 lah kita berangkat.” ucap sopir bis tersebut. Kami manggut-manggut dan memasukkan tas ransel ke dalam bagasi. Tepat pukul 12:00 sopir pun masuk ke dalam bis dan kami siap berangkat. Kami kaget, karena kami hanya ditarik biaya Rp 25.000 untuk sampai ke Binjai. What?! Padahal kami bayar Rp 40.000,- per orang untuk perjalanan Medan-Bukit Lawang, intinya kami kena tipu lagi waktu itu. Tapi ya sudah, yang penting sekarang kami berangkat.

20150630_123519
Selfie dulu sembari menunggu bis super panas ini berangkat

Berdasarkan info yang beredar, bis-bis besar dari Medan menuju Banda Aceh akan melewati Binjai sekitar pukul 17:00-18:00, jadi kami tak perlu ke Medan lagi, cukup berhenti di Binjai dan bengong di pinggir jalan menanti bis.

Pak Sopir menyetir bis dengan sangat gemulai dan lelet bak siput. Perjalanan terasa bosan, apalagi segerombolan ibu-ibu berseragam PNS masuk secara bergerombol dan tak menyisakan tempat bagi kami. Ya sudah, kami pasrah. Panas, suara mesin yang berisik sangat membuat kami mual. Namun, mual kami hilang ketika bis kami menabrak seekor kucing dan melakukan pengereman mendadak. Aneh, kucing tersebut tidak mati, atau mungkin sekarat. Sepanjang perjalanan hingga ke Binjai, kami mendengar suara Miauuw..Miauuww… dari kolong bis. Hih, bergidik kami membayangkan kondisi si kucing. Tapi apa daya, si Sopir tidak peduli pada kucing, yang ia peduli hanya setoran jadi tetap saja bis melaju.

Pukul 15:00 kami tiba di Binjai. Jujur, kami tidak tahu jalan mana yang menuju ke Banda Aceh. Kami paranoid untuk bertanya, karena sulit menemukan orang jujur rasanya. Dengan menahan kencing dan sok pede, kami berjalan lurus tanpa berhenti. Puluhan tukang bentor, angkot, bis dan prema meneriaki, mendekati kami sambil memaksa. Kami tak hiraukan mereka, tujuan kami hanya satu, menemukan tanah kosong untuk kencing dan juga terminal bis.

20150630_163728
Terminal Binjai. Sedikit bis yang masuk kesini, kebanyakan langsung melintas di jalan utama lintas Sumatra

Di pojok jalan kami melihat plang penunjuk arah terminal sejauh 200 meter. Langkah dipercepat dan tibalah kami di pelataran terminal yang tak luas-luas amat. Lagi-lagi puluhan calo mendekati kami, berlaku baik, dan menawarkan sejuta rayuan. Tapi, dengan jurus kebal rayuan kami berjalan tak menggubris. Tujuan kami adalah agen bus CV. Putra Pelangi yang terletak di ujung terminal.

Kami beruntung karena untuk keberangkatan ke Banda Aceh kala itu masih tersisa dua kursi, ya tepat dua kursi untuk kami di posisi belakang. Kami pun memesannya dengan harga Rp 200.000,- per kursi, sayang sekali mbak nya tidak memberikan diskon padahal kami sudah memelas dan bau teri. Tapi ya sudah, yang penting dapat tiket.

Bis baru tiba di Binjai paling cepat pukul 17:30 sedangkan kala itu baru pukul 15:00. Petualangan singkat pun kami mulai. Dengan pakaian kucel, kaki berlumpur, memanggul ransel belasan kilogram kami nekat masuk ke Binjai Mall untuk ngadem. Wow, kami bagaikan artis ibukota. Dilirik aneh lalu ditertawakan oleh pengunjung Mall tapi kami tak peduli, malah bersyukur kami jadi bahan hiburan untuk mereka.

Puas ngadem, kami kembali ke terminal. Pukul 17:15 kami dijemput dengan bentor, mbak penjaga tiket bilang kalau bis tidak akan masuk terminal. Jadi, kami diantar naik bentor ke jalan utama Lintas Sumatra. Tak sampai menunggu lama, bis besar dengan tralis besi di depannya tiba di depan kami. Muka sumringah namun badan bau keringat, kami pun naik dan duduk di kursi paling belakang.

20150630_185817
Bis Putra Pelangi. Bis khas Sumatra selalu menggunakan tralis besi tambahan supaya aman dari pelemparan batu

Kami bahagia, sungguh bahagia karena bisnya bagus, tidak seperti bis butut Medan-Bukitlawang. Selfie, satu, dua tiga, lalu kami pun tertidur. Selang beberapa jam kami berhenti di sebuah restoran Padang untuk buka puasa. Lagi-lagi jadi bahan sorotan karena semua penumpang pria di bis turun untuk menunaikan shalat sedangkan kami berdua tidak. Syukurlah semua penumpang mengerti bahwa kami bukan orang Muslim dan sesudahnya mereka mengajak kami untuk makan bersama.

20150630_180600
Selfie dulu di bus mewah.

Lucu tapi agak merinding. Selama ini aku mengira kalau orang Aceh itu seram, apalagi terhadap orang yang tak seiman, Tetapi, itu tidak terbukti. Kami duduk bersama di satu meja makan dalam hidangan buka puasa, kami tertawa juga berbagi cerita. Pukul 19:30 bis kembali melaju menuju Banda Aceh. Hujan turun dengan lebatnya sehingga kami larut dalam balutan mimpi.

Pukul 03:00 bis yang kami tumpangi mogok di Bireun. Alhasil kami terlunta-lunta di pinggiran jalan sembari menunggu bis lain yang akan mengangkut kami. Takut, lapar dan mengantuk mengintai kami. Ini wilayah asing, kami bahkan tak tahu harus bicara apa karena semua orang menggunakan bahasa daerah masing-masing.

Pukul 04:00 bis dari Medan tujuan Banda Aceh lainnya tiba dan mengangkut kami, lagi-lagi kami beruntung. Kernet bis dengan baik hati mempersilahkan kami masuk ke bis karena kami dianggap orang baru yang tak paham Aceh, sedangkan semua penumpang lainnya masih harus menunggu di Bireun karena bis tambahan yang datang hanya tersisa dua kursi kosong.

Sebelumnya, di Banda Aceh kami sudah berkontak dengan Tri Nopianto, rekan relawan yang bekerja di sebuah koperasi di Banda Aceh. Beliau sudah enam tahun melayani disana dan kami beruntung karena beliau bersedia menjemput kami di Terminal. Artinya, kami tidak harus keluar uang untuk bayar angkot atau becak atau bentor. Hore!!

Bis hampir tiba di Banda Aceh, namun satu hal yang membuat kami muak selama perjalanan 14 jam ini. Pertama, lagu dangdut yang liriknya amburadul dan diputar dalam volume maksimal sungguh memekikkan telinga. Kedua, supir bis mengatur AC dingin sekali, bahkan Johannes yang hidup di Eropa pun harus menggigigil kedinginan.

Syukurlah tepat pukul 09:30 kami tiba di Banda Aceh. Ketika turun dari bis, puluhan sopir bentor dan ojek mengerubungi kami. Sosok penyelamat pun tiba, mas Tri, sapaan akrab dari Tri Nopianto masuk dalam kerumunan dan memegang tanganku. “Mas Ari ya dari Jogja?” tanyanya. “Wah mas Tri, nggih mas, ini aku Ary!” jawabku gembira.

20150701_085201
Diajak Mas Tri berkeliling naik L-300 Special Livery ke Pasar Peunayong

Mas Tri yang berperawakan kurus dan kecil mendadak kehilangan logat Acehnya. Ia larut dalam logat bahasa Jawa khas Solo. Sungguh baik dirinya, ia menjemput kami di terminal menggunakan mobil Mitsubishi Colt L-300 bak terbuka. Ransel kami yang berat itu diletakkan di belakang, sedangkan kami semua duduk di depan.

Sebelum singgah di kediamannya, kami diajak berkeliling sejenak dan menikmati sarapan di Pasar Peunayong. Waw, aku kaget, aku pikir tak ada orang Tionghoa di Aceh. Tapi, di Pasar Peunayong semua diisi pedagang Tionghoa yang masih bisa berbahasa Khek. Sedangkan aku yang keturunan Tinghoa jangankan berbahasa Khek, punya nama Tionghoa saja tidak punya.

Banda Aceh
Pasar Peunayong, atau dikenal juga dengan sebutan Pasar Tionghoa

Mas Tri menjelaskan kalau di Pasar Peunayong ini adalah satu-satunya tempat dimana warga yang tak berpuasa bisa sarapan dengan bebas. Aktivitas warga sangat ramai, dan seperti biasa kedatangan kami disambut meriah karena Johannes adalah bule berjaggut yang diidolakan ibu-ibu pasar.

Bahagianya bisa sarapan pagi di Pasar Peunayong. Sarapan ini menghancurkan streotip buruk mengenai Aceh. Memang di Aceh ketika Ramadhan semua orang harus menghormati dengan tidak makan di tempat umum, namun Peunayong adalah pengecualian. Tapi, sebelum membeli makanan pedagang disana akan memastikan dulu apakah pembelinya Muslim atau tidak, sebab jika ia Muslim, ia harus menjalankan ibadah puasa.

IMG_3038
Ayam potong yang dijual di Pasar Peunayong

Puas makan di Peunayong kami bergegas menuju kediaman Mas Tri di Pantai Ulee-Lheue (dibaca: Ulele). Kediaman Mas Tri sangat sederhana. Rumahnya yang hanya sepetak diwarnai dengan cinta kasih dari sang istri juga sepasang putri kembarnya.

Pelayanannya di Banda Aceh menuntunnya pada passion hidup. Bukan uang yang ia cari, melainkan membantu warga Aceh untuk lepas dari jerat kemiskinan lewat program edukasi dan simpan pinjam dari koperasi binaan Yayasan Rebana Indonesia.

Sembari disuguhi kopi, kami bercerita sana sini tentang kisah kami masing-masing. Satu hal yang membuat kami tersentuh adalah kegigihan Mas Tri. Ia berjuang menambah penghasilan dengan berjualan air galon juga tepung terigu. Namun, ia mengakui bahwa Tuhan selalu mencukupi kebutuhan hidupnya dan keluarga.

20150701_091051
Penulis bersama Trinopi

Tak jauh dari kediaman Mas Tri terdapat Tsunami Disaster Evacuation Centre dan juga Makam Massal. Seraya menunggu Ferry menuju Sabang yang akan berangkat pukul 14:15 kami sempatkan diri berkeliling kesana.

Kami merinding ketika menyambangi lahan ex Rumah Sakit Meuraxa yang hancur disapu Tsunami. Tersisa beberapa gelintir saja bangunan dan juga sebuah helikopter yang hancur. Tak jauh dari sana terdapat lapangan rumput luas, tapi itu bukan sekedar lapangan rumput. Melainkan, terbaring lebih dari 15.000 jiwa syuhada Tsunami disana yang tak dapat lagi teridentifikasi identitasnya.

IMG_3047
Bangunan sisa RS. Meuraxa yang kini dijadikan monumen

Kami merenung, membayangkan kondisi belasan tahun silam di Tanah Aceh ketika gelombang maut itu menerpa daratan. Bergidik, itulah perasaan kami. Doa-doa juga kami panjatkan di depan makam itu.

IMG_3061
Kuburan Massal Ulee-Lheue dimana terbaring 15.000 syuhada Tsunami

Kemudian kami juga menyambangi sebuah bangunan tinggi hasil kerjasama Indonesia dan Korea dalam hal mitigasi bencana Tsunami. Bangunan tinggi ini sejatinya diperuntukkan untuk edukasi dan juga saranan evakuasi Tsunami apabila bencana itu kembali hadir.

Sayang seribu sayang, bangunan ini tidak terawat. Jalan masuk diportal oleh bambu, namun kami diperbolehkan masuk dan naik hingga ke atas oleh Satpam. WC yang rusak, cat mengelupas dan kosong melompong membuat kami miris. Mengapakah bangunan yang sejatinya diperuntukkan untuk sarana penyelamatan jika bencana Tsunami datang lagi ini malah ditelantarkan bak anak tiri.

IMG_3052
Helikopter yang terbengkalai

Ya sudah,mungkin biarlah itu jadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Tiba di puncak bangunan kami terkesima melihat pemandangan Banda Aceh yang indah. Di utara terhampar samudera biru, sedangkan di sisi lainnya menara Masjid indah menjulang seolah ingin menggapai langit. Sungguh harmoni yang indah, sebuah kota yang kini telah gagah bangkit dari kemelut duka Tsunami.

IMG_3057
Banda Aceh selayang pandang

Cuaca kala itu sangat panas, bisa dipastikan jika kami berdiam lebih lama lagi maka akan gosong bagai ikan pepes. Pukul 12:30 kami turun dan kembali ke kediaman Mas Tri. Kami dijamu makan siang super nikmat dan kemudian berpisah sejenak untuk berangkat menuju Titik Nol Indonesia di Pulau Weh.

Pukul 14:30 kami sudah tiba di Ferry dan berlayar menuju pulau terluar Indonesia. Namun, kisah kami di Banda Aceh masih akan terus berlanjut di hari selanjutnya.

IMG_3069
Meninggalkan daratan utama Sumatra menuju Pulau Weh, Indonesia