Air Terjun Kembang Soka: Sensasi Segarnya Mandi di Air Kapur

Setelah melewatkan 9 jam perjalanan di atas kereta api ekonomi Progo, tibalah aku di stasiun Lempuyangan. Walaupun di kereta sempat tertidur sejenak, tapi rasa kantuk sepertinya masih enggan beranjak dari kepala. Dari Lempuyangan, perjalanan panjang masih berlanjut. Destinasi hari itu adalah menjelajah Kulonprogo untuk menceburkan diri di air sungai yang segar.

Continue reading “Air Terjun Kembang Soka: Sensasi Segarnya Mandi di Air Kapur”

Kereta Api Progo, Si Penyambung Rindu antara Jogja dan Jakarta

Gerbong 7 KA Progo saat tengah berhenti di stasiun Purwokerto (16/7/17)

“Ayah jangan turun,” kata Rosi. Wajahnya semula sumringah jadi takut ketika ayahnya hendak keluar sebentar dari gerbong, padahal kereta belum berangkat. Rosi, bocah perempuan berusia 5 tahun dan ayahnya, mereka adalah penumpang di depanku, juga teman perjalanan selama 9 jam perjalanan menuju Jakarta di atas kereta api Progo.

Satu jam sebelum diberangkatkan pada pukul 14:45, rangkaian kereta api Progo telah tersedia di peron 3 Stasiun Lempuyangan. Hari itu, kedelapan gerbong kereta semuanya terisi penuh. Rute Yogya – Jakarta adalah rute yang gemuk, alias okupansinya tinggi. Di akhir pekan, sangat jarang atau mungkin juga mustahil menemukan kursi kosong yang tersisa untuk perjalanan kembali ke Jakarta. Untuk perjalanan hari itu, aku bahkan sudah memesan tiket nyaris 3 bulan sebelum keberangkatan.

Aku duduk di gerbong 8, kursi nomor 24E yang berhadapan dengan kursi nomor 23 D dan E. Sementara Rosi dan ayahnya duduk di depanku, di sebelahku duduk seorang mahasiswa yang irit bicara. Sejak memasuki gerbong, telinganya sudah dipasang headset dan tatapannya tak pernah lepas dari layar ponsel. Sementara dia asyik sendiri dengan gawainya, aku bersama Rosi dan ayahnya mengobrol bersama dan bertukar makanan.

“Turun mana mas?” tanya ayahnya Rosi. “Saya di Senen, mas, kalau mas-nya?” tanyaku balik. Aku sengaja memanggil ayahnya Rosi dengan sebutan “mas” daripada pak, karena dari penampilannya sih dia masih cukup muda. Duduk berhadapan dengan anak kecil itu ada untung dan ruginya. Sepanjang perjalanan, Rosi menyanyi dan berbicara tanpa lelah. “Ayah, ayah, itu sawah!” teriaknya. Ayahnya menanggapi santai, kemudian membuka tas berisi aneka perbekalan. Ada kue, buah-buahan, minuman, juga permen untuk sang buah hati. “Monggo mas, dimakan bareng-bareng,” kata ayah Rosi sembari menyodorkan makanan. Inilah rejeki dari naik kereta ekonomi! Keakraban yang dibangun sedari kereta belum berangkat ternyata berbuah menjadi dapat camilan cuma-cuma.

Rosi, bocah perempuan berusia 5 tahun yang duduk di depanku
Hamparan sawah nan luas di daerah Gombong, Jawa Tengah
Interior KA Progo. Konfigurasi tempat duduk 2-3 dan saling berhadapan

Sejak diresmikan pada tahun 2002 silam, entah sudah berapa ribu manusia yang dilayani oleh kereta api Progo. Sebelum kereta api Progo diluncurkan, dulu terdapat kereta api Empu Jaya yang merupakan singkatan dari Lempuyangan – Jakarta. Sepanjang perjalanannya, Empu Jaya banyak mengalami kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa. Pada tahun 2001, Empu Jaya menabrak lokomotif Cirebon Ekspress di daerah Brebes. Akibat peristiwa nahas ini, 31 nyawa melayang. Lokomotif KA Cirebon Ekspress juga hancur tak berbentuk karena ditabrak oleh Empu Jaya yang sedang dalam kecepatan tinggi. Tak lama setelah kecelakaan nahas itu terjadi, pihak kereta api akhirnya memutuskan untuk mengganti penamaan Empu Jaya menjadi Progo. Nama “Progo” diambil dari nama sungai yang membelah bagian barat Yogyakarta. Selain itu, nama “Progo” juga dinilai lebih baik daripada nama “Empu” yang dalam bahasa Jawa artinya adalah pembuat keris.

Saat ini, memang ada banyak pilihan untuk melanglang buana dari Jakarta ke Yogyakarta. Tetapi, buatku sendiri kereta api Progo adalah pilihan utama. Pertama, tarif Progo masih terjangkau di kantong, yaitu Rp 125.000,- per sekali jalan. Harga ini memang lebih mahal daripada kereta api Bengawan yang tarifnya Rp 80.000,- saja. Harga Progo memang dibuat lebih mahal karena berdasarkan peraturan kereta api, Progo menjadi kereta kelas ekonomi yang mandiri. Artinya, Progo tidak lagi mendapatkan subsidi harga dari pemerintah.

Selain Progo dan Bengawan, jalur antara Solo-Yogyakarta dan Jakarta juga diramaikan dengan kehadiran kereta-kereta lainnya. Untuk kelas ekonomi, terdapat duet mesra KA Bogowonto dan Gajahwong yang tarif maksimalnya adalah Rp 230.000,-. Untuk kelas bisnis, tersedia pasangan KA Fajar dan Senja Utama Yogya, juga Senja Utama Solo yang tarif maksimalnya Rp 280.000,-. Di atas dua kelas tadi, masih ada kereta api kelas wahid, yaitu KA Taksaka, Argo Lawu, Argo Dwipangga yang tarif maksimalnya Rp 400.000,-. Tarif-tarif tersebut adalah tarif hari biasa. Pada momen-momen khusus seperti Lebaran atau Natal, harganya bisa melambung lebih tinggi. Jadi, bisa dibayangkan kan, jika tak ada KA Progo, maka ritual melepas rindu dari Jakarta ke Jogja mustahil bisa dilakukan sebulan sekali. Selama sebulan aku memotong jatah uang makan malamku. Kemudian, uangnya ditabung untuk dibelikan tiket kereta api Progo.

Selain karena faktor harga, menurutku jadwal Progo adalah jadwal yang paling pas buatku. Untuk keberangkatan dari Jakarta menuju Yogyakarta, Progo berangkat pukul 22:20. Jadwal yang pas karena aku harus bekerja dulu hingga pukul 18:00. Sedangkan, untuk jadwal dari Yogyakarta menuju Jakarta, Progo diberangkatkan pukul 14:45. Menjelang sore, pemandangan hamparan sawah dan bukit-bukit yang tersaji di balik jendela gerbong masih tampak jelas, dan ini sungguh memanjakan mata.

Senada denganku, ayah Rosi juga mengungkapkan hal serupa. Baginya, kereta api Progo adalah jembatan pemuas rindunya. Setiap liburan dia selalu membawa anaknya pulang ke Yogyakarta, berkunjung ke rumah kakek-neneknya. “Maunya sih naik argo mas, yang enak, tapi harganya gak kuat,” kata ayah Rosi. Bagi penumpang yang berkantong tidak tebal, KA Progo adalah pahlawan sejati. Rasa rindu kepada Jogja bisa terlaksana berkat hadirnya kereta ini.

Sebelum memasuki Purwokerto, KA Progo berhenti selama 4 menit di Kroya, bertepatan dengan momen senja

Pukul 18:10, kereta api Progo yang kami tumpangi telah tiba di stasiun Purwokerto, lebih cepat lima menit dari jadwal semula yang seharusnya pukul 18:15. Walaupun kelasnya ekonomi, tapi soal ketepatan waktu, Progo memang juara. KA Progo adalah kereta dengan pemberangkatan paling awal untuk rute ke arah Jakarta. Bertolak dari Lempuyangan pada pukul 14:45, Progo membutuhkan waktu 8 jam 57 menit untuk tiba di tujuan akhir Pasar Senen pada pukul 23:42. Di kala tengah malam, kepadatan kereta api di lintas Bekasi – Jatinegara jauh lebih lengang karena Kereta Rel Listrik (KRL) berhenti beroperasi. Kepadatan kembali meningkat kala subuh. Kereta api jarak jauh harus berbagi rel yang sama dengan KRL, akibatnya keterlambatan pasti bisa dipastikan terjadi.

Selepas Purwokerto, Rosi dan ayahnya tertidur pulas. Sementara itu, suasana gerbong yang semula riuh juga mulai senyap. Tatkala penumpang terlelap, laju kereta meningkat. Mulai dari Purwokerto hingga Jakarta, lintasan ini telah dilengkapi dengan jalur ganda sehingga tidak ada lagi proses persilangan atau tunggu-menunggu kereta api. Selepas Cirebon, lintasan kereta api adalah lintasan lurus yang membuat laju kereta api bisa dipacu ke titik maksimal. Untuk KA Progo, kecepatan yang dipatok untuk lintas ini adalah 80 hingga 90 km/jam.

Tepat pukul 23:42, kereta api Progo mengakhiri perjalanan dinasnya dengan tepat waktu. Dua jempol untuk manajemen Kereta Api Indonesia. Walaupun harga Progo kini telah di atas seratus ribu, tapi hal ini berbanding lurus dengan pelayanannya, salah satunya dalam performa ketepatan waktu. Setibanya di Pasar Senen, kami saling berpamitan dan melanjutkan perjalanan ke kediaman masing-masing. Kuboyong ranselku ke depan stasiun dan menaiki ojek ke daerah paling barat di Jakarta. Kurang dari tujuh jam lagi, kisah perjalananku akan kembali lagi ke meja pekerjaan.

Terima kasih KA Progo. Tanpamu, datang ke Jogja mungkin hanya akan jadi angan buatku.

Matur nuwun, Progo

Sumatra Overland Journey (8) |Ganja di Tanah Syariat

sampul

Sebuah baliho besar bertuliskan “Anda Memasuki Kawasan Syariat Islam” terpampang besar tatkala angkutan yang kami naiki bersiap memasuki kota Takengon. Sebelumnya kami berangkat dari Banda Aceh dan membutuhkan waktu nyaris sepuluh jam untuk tiba di Takengon. Berhubung waktu itu adalah bulan Ramadhan, hampir di tiap jam kendaraan kami selalu singgah di masjid-masjid kecil.

Continue reading “Sumatra Overland Journey (8) |Ganja di Tanah Syariat”

Bermula dari Sekadar Live-In, Berlanjut Jadi Keluarga

IMG_3904
Bersama keluarga Ibu Helen, 4 Juni 2017

Dari sebuah desa di perbukitan Menoreh, perjalanan yang panjang dimulai. Dari sinilah, hasrat untuk pergi merantau dari rumah mencuat dan menjadi nyata satu tahun setelahnya.

Enam tahun lalu, sebagai seorang bocah SMA kelas XI yang tumbuh besar di kota, melihat desa yang hijau dipenuhi sawah adalah sukacita tak terkatakan. Bukan suatu kebetulan karena waktu itu pihak sekolah memilih sebuah desa yang masih amat asri untuk dijadikan lokasi live-in. Setiap siswa dibagi-bagi ke dalam kelompok kecil berjumlah dua orang. Dua orang inilah yang ‘diutus’ untuk tinggal, membaur, dan menyatu dalam keluarga angkat selama tiga hari dan dua malam.

Hari pertama, 1 Maret 2011, kami tiba di depan gereja Katolik St. Theresia Lisieux yang menjadi titik kumpul. Gereja ini unik, menaranya tinggi menjulang, loncengnya berbunyi nyaring, dan pemandangan di sekitarnya amat hijau. Secara demografi, desa Boro yang menjadi destinasi live-in ini memang banyak dihuni oleh penganut Katolik. Ada kapel-kapel kecil yang tersebar di sudut-sudut desa, juga sekolah dasar yang dikelola oleh yayasan Katolik berdiri di samping gereja.

Tatkala kami semua berkumpul menunggu instruksi, puluhan warga desa yang didominasi ibu-ibu turut hadir di pelataran gereja. Merekalah yang nantinya akan menjadi orangtua angkat kami selama tiga hari itu. Kami bertanya-tanya dalam hati. Seperti apakah rumah yang akan kami tempati nanti? Makanan seperti apa yang akan kami makan? Akan melakukan apa saja nanti di sana? Pertanyaan itu masih menjadi misteri hingga beberapa menit ke depan. Ketika aku merasa amat antusias untuk segera memulai aktivitas live-in, ada juga beberapa teman yang keburu takut. Belum mulai saja mereka sudah merasa tidak betah dan ingin segera pulang.

“Aryanto, Riky!” Nama kami dipanggil, dan seorang ibu bernama Helen menyambut kami dengan senyuman. Sempat canggung, aku menyalami tangan sang ibu, membalas senyumannya, dan mengenalkan diri. Kemudian, kami berjalan kaki meninggalkan pelataran gereja menuju rumah.

Rupa-rupanya, Tuhan mendengar doaku. Waktu itu, aku berdoa supaya boleh mendapatkan kesempatan tinggal di keluarga yang sederhana supaya aku bisa mendapat pengalaman maksimal. Rumah ibu Helen berlantai tanah. Bangunannya hampir permanen, dindingnya terbuat dari bata merah tanpa ditutup semen. Tepat di depan rumah, terhampar persawahan dan bukit-bukit nan hijau. Tak ada kompor gas, televisi, kulkas, ataupun radio. Suasana rumah begitu hening, hanya sesekali hening itu pecah tatkala anjing-anjing mulai menyalak.

P1050603
Dapur keluarga Ibu Helen

Ternyata, dari kesederhanaan itu, ibu Helen memperlakukan kami amat istimewa. Kami tidak dianggap hanya sekadar tamu, tapi seolah-olah kami adalah salah satu dari anaknya. Aneka hidangan tersaji di atas meja makan. Menu-menunya sederhana. Ada ikan goreng, daun singkong, tempe, tahu, dan segelas teh manis panas. Tatkala kami makan, ibu duduk di samping kami, mengajak kami ngobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal.

Ibu Helen telah menikah dengan Florensius Sumaryo, atau aku menyebutnya sebagai Pak Maryo. Mereka dikaruniai empat orang anak. Sang bapak bekerja di sebuah sekolah swasta di kota Yogya dan memacu sepeda motornya setiap hari pulang pergi sejauh 50 kilometer, dari kota Yogya menuju Kalibawang. Jarak yang jauh itu dilakoninya setiap hari. Sementara bapak bekerja di kota, ibu membaktikan dirinya sebagai seorang petani. Tiap pagi setelah bapak berangkat, ibu akan beranjak ke sawah hingga tengah hari. Apabila musim panen tiba, waktu kerja di sawah akan dihabiskan lebih lama.

Setiap paginya, kami mengikuti aktivitas ibu turun ke sawah. Bukannya membantu, tapi kami malah merusak padi-padi yang telah tertanam. Sebagaimanapun kami mencoba, tangan kami tidak berbakat untuk menanam padi secara lurus. Tanpa perhitungan matematika, tanpa alat bantu, padi-padi yang ditanam ibu berbaris rapi. Tak miring ke kanan atau ke kiri sama sekali.

P1050573
Babi merah muda di desa Boro

Di siang hari, kami pergi ke bukit-bukit untuk mencari kayu bakar. Dalam perjalanan pulang, kami mampir sejenak di kandang babi dan menatap satu per satu babi-babi gembur yang kelak hidupnya akan berakhir di meja makan. Tiga hari yang singkat itu kami gunakan semaksimal mungkin. Dan, ketika tiba harinya kami berpisah, rasa haru menyelimuti kami. Aku berjanji dalam hati, suatu saat aku akan kembali ke tempat ini.

***

Satu tahun berselang, ternyata aku memang kembali. Tatkala teman-teman memilih untuk tetap melanjutkan kuliah di Bandung, aku memilih Jogja sebagai kota tujuanku untuk melanjutkan hidup. Empat tahun dan enam bulan kuhabiskan di kota ini, larut dalam ritmenya yang santai dan sederhana. Selama waktu itu pulalah, rumah ibu Helen dan bapak Maryo selalu terbuka menyambutku. Di sela-sela kuliah, saat akhir pekan, atau kala liburan, aku selalu singgah di rumah mereka. Kadang, aku tak sekadar singgah, tapi juga menginap selama satu malam hanya untuk melepas penat dan mendengar suara jangkrik malam-malam.

Aku selalu datang dengan tangan hampa, tapi pulang dengan beragam oleh-oleh. Ada pisang, dukuh, rambutan, geblek, dan aneka panganan lainnya yang wajib dibawa. Aku tak kuasa menolak karena ibu selalu berkata, “Kamu itu anak kost! Jadi, ini semua harus dibawa.” Ibu benar, karena aku anak kost, sudah barang tentu harus berhemat. Makanan-makanan yang kubawa dari desa itu selalu jadi penyelamat ketika rasa lapar dan tanggal tua menghadang.

Sejak pertemuan pertama hingga saat ini, sudah enam tahun berlalu. Aku lupa sudah kali keberapa aku singgah ke rumah ibu. Ketika studiku di Jogja telah rampung dan pindah ke Jakarta, suasana rumah ibu Helen selalu menjadi hal yang kurindukan. Tatkala di kantor, di kost, ataupun berkendara, selalu ada suara hati yang berkata, “Ayo, pulang.”

Keinginan untuk ‘pulang’ itu terwujud. Tanpa memberitahukan ibu terlebih dahulu, di kala akhir pekan aku pergi ke Jogja dari Jakarta. Sepulang kantor, tanpa mandi, tanpa pulang kost terlebih dahulu, aku menaiki kereta api Progo menuju Jogja. Setibanya di Jogja, aku singgah sejenak di rumah kost yang dulu pernah kutinggali, kemudian menyewa sepeda motor dan memulai perjalananku ke Kulonprogo.

Seperti biasa, aku tidak membawa apapun untuk diberikan ke rumah ibu Helen. Bukan karena aku pelit, tapi, kalau membawa sesuatu, ibu pasti mengomel dan memaksaku untuk tidak usah merepotkan diri. Aku tidak tahu apa reaksi ibu nanti. Ketika aku diwisuda, aku lupa memberitahunya, bahkan tak sempat juga untuk mampir ke rumahnya karena waktu yang amat terbatas. Satu minggu setelah wisuda, aku harus pindah dan bekerja di Jakarta. Semua persiapan dilakukan terburu-buru. Waktu pindah semakin dekat, tapi hatiku semakin tidak rela untuk melepas Jogja.

Ketika motorku memasuki jalanan dusun di depan rumah ibu Helen, anjing-anjing kampung segera menghambur dan menyalak. Mereka menganggap aku adalah orang asing, dan tatkala motorku makin mendekat, makin hebat pula suara gonggongan mereka. Motorku diparkir, kulepas helm, dan menyapa seorang perempuan yang menggendong bayi di depan rumah. “Permisi, ibu Helen ada?” Perempuan itu mengernyitkan dahi, kemudian menjawab dengan pertanyaan, “Ada, sebentar. Ini dari siapa?” “Bilang saja dari Ary,” jawabku. Perempuan itu ternyata adalah menantu dari ibu Helen. Anaknya yang pertama telah menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan.

Nyaris dua tahun aku tidak berkunjung ke rumah ibu Helen dan ternyata ada banyak perubahan yang terjadi. Ibu Helen telah memiliki cucu, anak-anaknya kini sudah ada yang menikah, bekerja, dan juga kuliah. Rumahnya pun mengalami perubahan. Temboknya kini telah ditutupi semen dan dicat berwarna hijau, juga ada sebuah televisi tabung di ruang tengahnya. Rumah itu tak lagi sepi, suara balita dan televisi memecah keheningan.

Ibu Helen tiba dan melihatku. Reaksinya adalah langsung menjewerku. “Kemana aja hampir dua tahun nggak datang ke sini. Tak pikir koe sudah lupa sama rumah ini.” Aku menyalami tangannya dan memohon maaf karena waktu itu terlalu sibuk mengurusi beragam kegiatan di kampus, dan ketika wisuda tiba pun tidak punya cukup waktu untuk datang mampir. Syukur, kamu wes nyambut gawe, atiku yo melu seneng. Aku pikir koe wes lupa sama rumah ini, Ry” ucap ibu Helen.

Sambil mengomel, ia beranjak ke dapur. Seperti biasa, ibu Helen menyajikan segelas teh panas manis sebagai pelengkap obrolan. Kami bertukar cerita, ngalor-ngidul, dan sesi curhat pun dimulai. Waktu terus bergulir, kami bernostalgia dan terkekeh-kekeh mengingat bagaimana pertemuan pertama kami di tahun 2011 berlangsung. Dulu, ibu Helen merasa heran. Bagaimana bisa, seorang bocah SMA yang tinggal di kota, begitu kerasan atau betah tinggal di rumahnya yang amat sederhana ini? Dia pikir, setelah live in itu usai, ya usai saja, tidak ada kelanjutannya. Tapi, ternyata pemikirannya salah. Ada ikatan batin antara aku dan beliau. Aku menganggap beliau seperti ibuku sendiri, yang kehadirannya aku rindukan, dan wejangannya aku dengarkan dengan saksama.

Sebagaimana ibu Helen tidak pernah melupakanku dari kenangannya, demikian juga dengan aku. Enam tahun telah berlalu, tapi ikatan kebersamaan itu tidak pudar. Jarak boleh membentang jauh, tapi itu bukan alasan untuk rindu menjadi padam. Tak banyak perubahan yang terjadi pada ibu Helen. Dia selalu menyambutku dengan hangat, dengan jeweran sayang, juga dengan segelas teh panas. Usianya kini semakin menanjak, uban-uban menjamur di rambutnya yang hitam. Aku pun serupa. Aku tidak lagi bocah SMA yang lugu. Ada kantong mata menggantung hitam di wajahku akibat begadang. Punggungku pun lebih sering sakit karena kelamaan duduk.

Menutup perjumpaan kami hari itu, kami mengambil foto bersama. Ketika waktu mengharuskan aku kembali berpisah, setidaknya foto itu akan jadi kenangan yang manis kalau sejak dahulu hingga sekarang kami masih tetap bersama.

Ibu Helen mengajarkanku bahwa keluarga tidak selalu harus sedarah itu bukan sekadar teori. Aku telah mengalaminya. Seorang yang bukan siapa-siapa tetapi mendapatkan keistimewaan untuk menjadi bagian hidup dari seseorang.

P1050619
Bersama Ibu Helen dan Daru. 3 Maret 2011

 

 

Terjerat Nuansa Senja di Pantai Kesirat

resize

Jalan aspal nan sempit mengiringi sepeda motor bebek kami membelah area perkebunan yang berbukit-bukit milik warga setempat. Tujuan kami sore itu adalah sebuah pantai sering disebut-sebut orang sebagai tempat yang romantis dan nyaman untuk menikmai senja. Sekalipun tujuan kami sore itu adalah tempat yang romantis, tapi kami bukanlah sepasang kekasih, melainkan dua orang anak kost yang sedang mencari wangsit.

Bermula dari foto-foto unggahan warganet di media sosial, kami berhasil dibuat penasaran. Dalam foto-foto itu, pantai Kesirat digambarkan sebagai pantai tak berpasir yang menghadap ke arah samudera. Sebuah pohon berdiri gagah menjulang ke lautan, tepat di bawahnya terdapat sebuah dingklik panjang yang sengaja diletakkan untuk pengunjung menikmati senja.

Perjalanan menuju pantai Kesirat kami tempuh selama sekitar dua jam menggunakan sepeda motor. Kami bertolak dari kota Yogyakarta pukul 14:30 dan tiba di pantai Kesirat pukul 16:30. Tak ada pengunjung pantai hari itu, hanya kami berdua, seolah pantai itu adalah pantai pribadi milik kami.

Tak sulit menemukan pantai Kesirat walaupun tak banyak papan penunjuk arah, tapi kita bisa menggunakan GPS, “Gunakan Penduduk Setempat” alias tanya saja kepada warga. Dengan bahasa Jawa krama pas-pasan, kami sempat tersesat dua kali dan memutar beberapa kilometer. Sebenarnya bukan warga yang salah memberi kami informasi, tapi kami tidak peka terhadap tikungan-tikungan yang seringkali membingungkan.

IMG_9675
Pantai Kesirat
IMG_5126
Buih samudera
IMG_5105
Menatap senja

Menjelang senja, pantai Kesirat laksana sebuah nirwana nan syahdu. Deburan ombak samudera menghempas tebing tinggi. Buihnya terhampar hingga ke atas bukit tempat kami berdiri. Menatap kejauhan, halimun-halimun tipis dari gugusan ombak mulai terbentuk laksana asap yang menjulang naik.

Nuansa senja telah menjerat kami. Sekalipun hari itu pantai sepi, tapi kami kurang beruntung karena mendung menutupi matahari yang seharusnya pamit ke peraduannya. Dalam keadaan mendung pun, senja di Kesirat sungguh nyaman dan syahdu, apalagi jika langi sedang cerah, tentu proses pamit sang surya ke peraduan akan menjadi lebih nyaman untuk dipandang.

Hari telah sepenuhnya menjadi gelap dan kami pun pamit kepada samudera tuk kembali ke habitat kami, di kota nan padat.