Sumatra Overland Journey (4) | Menjejak Langkah di Titik Nol Indonesia

Titik Nol Kilometer Indonesia

Jam 3 pagi. Tatkala semua penumpang tertidur lelap, bus berhenti mendadak. Mesin bus mogok dan kami tertahan di jalanan sepi kota Bireun, Aceh tanpa tahu harus berbuat apa. Beberapa penumpang mulai gelisah. Ada yang menelepon kerabatnya, ada pula yang mengumpat kesal karena perjalanannya jadi terhambat.

Continue reading “Sumatra Overland Journey (4) | Menjejak Langkah di Titik Nol Indonesia”

Sumatra Overland Journey (2) | Bukit Lawang: Belantara Abadi Negeri Sumatra

 

Mobil elf renta yang membawa kami bergoyang-goyang tidak karuan di sepanjang jalan menuju Bukit Lawang. Lubang-lubang yang menganga itu menjadikan perjalanan ini jauh dari kata nyaman. Asap rokok penumpang pria turut berpadu dengan udara panas. Sungguh, lima jam perjalanan itu amat menyiksa.

Ketika akhirnya mobil tua itu tiba di tujuan akhir, betapa leganya hatiku. Petualangan yang menantang baru saja dimulai. Sebelumnya, kota Medan telah membuatku kecewa dan nyaris bangkrut, pun ruas-ruas jalan rayanya yang semrawut membuatku muak. Tapi, syukurlah semua mimpi buruk itu telah berlalu. Tak ada lagi kemacetan. Tak ada lagi sahut-sahutan klakson. Semua hiruk-pikuk metropolitan telah berganti menjadi nuansa pedesaan yang begitu asri.

Siang itu kami terdampar di terminal yang lebih layak disebut lapangan bola. Tak ada satupun kendaraan lain selain dari mobil tua yang baru saja kami tumpangi. Tak ada bangunan luas ataupun papan informasi petunjuk arah. Semua terasa begitu lowong, apalagi waktu itu matahari tengah bersinar dengan teriknya.

Kami membuka buku Lonely Planet yang menjadi pedoman perjalanan. Tatkala mata kami sibuk menerawang informasi tentang Bukit Lawang, seorang pemuda datang dan menepuk pundakku. Sambil menebar senyum, dia berkata “You need homestay, sir? Come with me, its cheap.” Hmmmm. “How much?” tanyaku. Dia menjawab ,“75, sir.” Aku tidak terlalu percaya dengan pemuda itu, jangan-jangan dia ingin menjebloskan kami ke penginapan dengan harga selangit. Lagipula, harga 75 ribu itu masih tergolong mahal bagi kami.

Pengalaman diberi harga tak wajar selama di Medan membuatku merasa antipati dengan tawaran-tawaran seperti itu. Sambil memanggul ransel, aku mengajak Johannes untuk berlalu dan meninggalkan pemuda itu. Menurut buku Lonely Planet, ada penginapan-penginapan yang harganya 50 ribu Rupiah per malam. Kami memilih untuk berpedoman pada buku saja.

Warga lokal memanfaatkan aliran air sungai Bahorok untuk mencuci baju

Tapi, pemuda itu terus mengikuti kami. Dengan kosa-kata bahasa Inggris yang ala kadarnya dia terus membujuk kami untuk ikut dengannya. Lama-lama kami tidak tega juga dan Johannes pun menjawab tawarannya. “We don’t want to stay at yours, unless you give us price 50 thousand.” Dia menggeleng dan mengatakan harga itu terlalu murah. Ya sudah, kami terus berjalan. Tapi, bukannya berhenti dan pulang, dia malah terus mengikuti kami. Akhirnya setelah melakukan tawar menawar yang cukup pelik, dia pun menyetujui harga yang kami inginkan, 50 ribu untuk kamar penginapan.

“Makasih ya, bang!” ucapku seraya tersenyum. Dia malah menjawabku dengan ekspresi kaget. “Loh, abang bisa bahasa Indonesia? Kirain orang Singapur bang!” Jawabannya malah membuatku balik merasa kaget. Masa iya wajahku menyerupai orang Singapura? Mungkin mataku yang agak sipit inilah yang jadi penyebabnya. Tapi, siapa peduli! Yang penting hari itu kami mendapatkan penginapan yang sesuai kantong.

Di tengah siang bolong kami berjalan kaki. Menembus jalan setapak melewati rumah-rumah sederhana. Sesekali anak-anak yang tengah bermain memanggil-manggil “Mister! Mister!” Aku tahu, yang mereka panggil itu Johannes, bukan aku. Tapi, dengan berlagak percaya diri aku turut melambaikan tanganku kepada mereka.

Di kanal irigasi yang sumbernya dari Sungai Bahorok, dua orang anak tengah bermain ban dan memintaku untuk menjepretnya.

Tiga puluh menit berjalan, tibalah kami di sebuah pondok sederhana yang terletak persis di tepi sungai Bahorok. Pondok ini berlantai keramik. Ada dua kasur kecil dan satu kamar mandi di dalamnya. Fasilitasnya hanya itu, tapi, tepat di depan pintu kamar tersaji pemandangan yang membuatku berdecak kagum. Aliran air sungai Bahorok yang jernih itu meluncur deras, menerjang batu-batu kali yang tersebar di alirannya.

“50 thousand is nice, Ary!” tukas Johannes. Aku amat bersyukur karena pemuda itu ternyata tidak menipu. Aku jadi merasa bersalah karena waktu di terminal malah sempat berpikiran negatif terhadapnya. Sebelum dia beranjak pergi, cepat-cepat kutemui dia. Kujabat tangannya seraya berkata “Makasih ya bang!” Kemudian ia berlalu. Katanya sih dia akan kembali ke terminal, mencari tamu-tamu turis mancanegara lainnya untuk diajak menginap di penginapan miliknya.

Aku masih terpukau akan pemandangan di sekitarku. Tatkala aku sibuk memotret, Johannes sudah melepas bajunya dan langsung menghujamkan badannya ke kasur. Kemudian tak sampai berapa lama, dia sudah ngorok. “Dasar bule pelor, nempel dikit, langsung molor” gumamku.

Tempat di mana penginapanku berdiri adalah tempat yang paling banyak diincar oleh backpacker-backpacker Barat. Ternyata, salah satu penginapan yang namanya tercantum di Lonely Planet juga berada di dekat lokasi penginapanku. Di seberang sungai yang dihubungkan dengan jembatan gantung terdapat pasar wisata yang menjual beraneka-ragam cindera mata. Jika kuperhatikan sekilas, pasar wisata ini mirip dengan pasar-pasar busana yang lumrah ditemui di sepanjang pantai Pangandaran, Jawa Barat.

Hari itu, tidak ada aktifitas berarti yang kami lakukan. Setelah Johannes terbangun, kami memilih untuk tidak mandi di kamar mandi, melainkan dengan membawa handuk kecil, kami menelusuri sungai. Aliran air di sini amat jernih dan menyegarkan. Airnya pun sejuk, tapi tidak terlalu dingin. Karena dalam beberapa hari itu tidak turun hujan, maka aliran air tidak terlalu deras dan kami bisa bermain hingga ke tengah sungai.

Johannes mencelupkan dirinya ke dalam air
Hanya kami berdua yang bermain di tepian sungai kala itu.

Suasana sore itu amat damai. Tak ada suara apapun selain dari suara-suara alam. Gemericik air, sahut-sahutan suara burung, dan suara angin semua berpadu menjadi satu menghasilkan simfoni alam yang amat merdu. Tanpa berpikir lama, kami berdua segera menenggelamkan badan ke dalam air. Satu, dua, tiga, byurrr. Amat segar. Kami merasa seperti berada di surga, walaupun kami sendiri belum pernah pergi ke surga.

Mimpi buruk kedua

Hari itu, Sabtu, 27 Juni 2015. Malam harinya kami menyusun rencana berapa lama akan kami habiskan di Bukit Lawang. Johannes amat bersemangat untuk bertemu Orang Utan secara langsung. Bukit Lawang adalah salah satu habitat alami Orang Utan yang terkenal di seluruh dunia. Inilah yang membuat lokasi wisata terpencil di tengah hutan ini menjadi amat terkenal di kalangan backpacker. “How about if we do trekking tomorrow?” Tanya Johannes. Aku mengangguk, dan mengikuti apa saja kemauannya. Setelah kesepakatan terwujud, kami beranjak menemui asosiasi guide lokal.

Tidak tanggung-tanggung, harga yang dipatok untuk satu kali trekking di Bukit Lawang adalah 80 Euro. Harga itu hanyalah untuk paket 2 hari 1 malam, sedangkan paket paling wahid untuk trekking satu minggu dibandrol hingga ratusan Euro. Mataku terbelalak. Buatku itu cukup aneh, bagaimana bisa masuk hutan biayanya lebih mahal daripada belanja ke mal?

Tapi, aku tidak terlalu ambil pusing karena Johannes yang membayari biaya trekking itu. Jadi aku hanya manut seraya tersenyum bahagia dalam hati. Setelah semua keperluan administrasi selesai, pemandu yang besok akan mengantar kami menjelajah jantung rimba Sumatra membawa kami untuk berkenalan dengan tim. Peserta trekking di Bukit Lawang akan dikelompokkan dalam kelompok kecil yang beranggotakan lima orang plus dua pemandu. Waktu itu, aku bergabung bersama Johannes, Annete, seorang backpacker dari Belanda, dan sepasang ayah anak dari Rusia.

Pukul 09:00 pagi kami tengah bersiap di pelataran sebuah kafe. Aku begitu bersemangat karena trekking dalam bayanganku adalah berjalan-jalan santai di hutan, mirip seperti jalan kaki di Tahura antara Dago dan Maribaya di Bandung. Dengan percaya diri, aku membawa serta ransel ukuran 35literku. Di dalamnya kujejali dua botol mineral besar, kamera, baju, handuk, dan sempat-sempatnya membawa satu buah buku.

Seharusnya kami segera berangkat, tapi sepasang ayah dan anak Rusia itu ternyata mengalami diare. Jadi, dengan ikhlas kami menanti hingga 30 menit. Setelah semua anggota rombongan siap, perjalanan pun dimulai. Dua orang pemandu berjalan masing-masing di depan dan belakang. Mereka bertugas menjaga agar kami tidak hilang tersesat. Perjalanan ini dalam waktu normal akan ditempuh 8 hingga 10 jam. Ya, ya, aku masih bersemangat.

Etape pertama amatlah mulus. Kami berjalan menyisir sungai. Walaupun jalanan berbatu, tapi aku masih tetap bisa mengikuti langkah kaki mereka. Tak sampai lima menit berlalu, mimpi buruk kedua segera dimulai. Jika dua hari sebelumnya aku harus mengalami mimpi buruk bersama kecoak-kecoak, hari itu aku kembali menyaksikan mimpi buruk, yang bahkan teramat buruk buatku.

Gambaran trekking yang menyenangkan seketika ambyar tatkala trek yang kulihat itu tidak berbentuk. “Kita ke mana ini?” tanyaku. Pertanyaanku segera dijawab dengan memanjat. Salah seorang pemandu segera memanjat sebuah batu cadas, kemudian dia mengulurkan tangannya untuk menarik tiap anggota naik. Aku menelan ludah dalam-dalam. “Mampus aku!” Aku pun jadi orang yang paling terakhir untuk naik ke atas batu cadas itu.

Perjalanan semakin liar. Trek hutan yang masih perawan itu dipenuhi oleh lumpur-lumpur, batu-batu cadas. Tak jarang trek yang kami lalui berakhir di depan tebing. Seperti laba-laba, kami harus merayap pelan-pelan. Tak sampai 30 menit, kakiku gemetar, wajahku memerah bak tomat kebakaran. Semua tim panik, mereka takut aku meninggal tiba-tiba jadi kami pun beristirahat sejenak.

Dua orang pemandu itu agak takut dengan keadaanku. Aku dapat mendengar mereka bergumumam, “Payah kali itu orang lokal! Baru segini dah mau mati dia.” Emosiku terbakar. Aku merasa malu. Bagaimana bisa, aku yang lahir dan besar di Indonesia, yang katanya kaya dengan hutan, eh malah harus mati di tengah hutan? Aku bergumam keras dalam hati. “Bisa, bisa bisa bisa!” Kemudian perjalanan dilanjutkan.

Setiap 15 menit, aku meminta berhenti. Aku tak tahu apa yang ada di pikiran anggota timku yang lain. Entah mereka marah, kesal, atau apapun, aku tidak peduli. Perjalanan trekking itu membuatku mengucap doa setiap menitnya. “Ya Tuhan, jangan mati sekarang, belum lulus, belum nikah. Tapi, kalau harus mati, jangan sakit, ya Tuhan!” Rupanya, Tuhan mendengar doaku.

Dalam perjalanan, kami berjumpa dengan beberapa Orang Utan.

Menjelang tengah hari, Johannes menarawarkan dirinya untuk menggendong ranselku. Otomatis punggungku pun terasa lebih lega dan aku bisa bergerak dengan leluasa. Setelah melakukan trekking selama lima jam, tibalah kami di tahap yang lebih mengerikan. Jika sebelumnya perjalanan didominasi dengan trek menanjak, kali ini kami harus menuruni bukit. Rasa takutku jadi berlipat ganda. Jika trek menanjak membutuhkan tenaga ekstra, trek turun membutuhkan nyali yang ekstra.

Aku iri melihat Johannes, Anette, dan dua Rusia itu bisa turun dengan cepat. Seperti siluman kera, mereka berjalan dengan luwes, sambil tangannya memegang erat dahan-dahan yang bergantung. Johannes dan Annet sempat beberapa kali terjatuh hingga tangannya terluka. Tapi, mereka acuh tak acuh terhadap luka itu. Mereka terus menuruni bukit dengan perlahan tapi pasti.

Melihat gaya mereka menuruni bukit, aku malah tertegun. Doaku semakin intens kuucapkan dalam hati. Jika mereka menuruni bukit itu menggunakan kaki, aku menggunakan pantat. Ternyata, cara ini terbukti ampuh! Walaupun aku memakan waktu jauh lebih lama, tapi setidaknya aku selamat sampai tujuan.

Setibanya di bibir sungai, mereka semua tertawa melihatku. Badan penuh keringat, wajah merah, kaki bergetar, dan pantat penuh lumpur. Alih-alih mengejek, mereka malah menjabat tanganku dan berkata, “Great job, Ary! You did it!” Aku termangu. Seharusnya mereka marah karena aku membuat trekking ini jadi jauh lebih lama. Bagaimana bisa mereka malah memberiku semangat dan mengucapkan selamat?

Kusimpan pertanyaan itu dalam hati. Sebelum aku mendapatkan jawabannya, kami harus segera menyeberangi sungai sebelum hari semakin gelap. Karena malam sebelumnya hujan turun cukup deras, debit air di sungai menjadi tinggi. Rasa takutku kembali membuncah. Air sungai nan deras itu menerjang tubuh hingga setinggi dada. Sesekali aku hampir terhanyut, namun tangan Johannes terus memegangku dengan erat hingga aku pun tiba dengan selamat di seberang sungai.

Kemah tempat kami melewatkan malam
Sungai Bahorok berada persis di depan perkemahan kami

Akhirnya, perjalanan hari itu selesai! Kami membutuhkan waktu 11 jam untuk tiba di lokasi. Setiap persendianku terasa mau putus. Pantatku lecet, juga sekujur kaki dan tangan. Ada darah-darah segar yang menetes karena sepanjang jalan aku membiarkan pacet-pacet hinggap di kulit.

Gulita di tengah belantara

Tim berbagi tugas. Aku menyiapkan tiang gantungan untuk menjemur pakaian kotor. Dua pemandu menyalakan api dan mempersiapkan makan. Johannes dan Annet membantu mendirikan tenda. Sedangkan dua orang Rusia itu malah jatuh tertidur.

Ketika langit telah sepenuhnya menjadi gulita, api unggun menjadi sumber cahaya satu-satunya. Sambil mengahangatkan diri, kami menikmati santapan makan malam amat sederhana. Mie rebus dicampur dengan daun-daun yang kami petik di hutan. Karena perut yang lapar, santapan itu terasa amat istimewa. Seketika perut kami menjadi hangat.

Malam itu begitu teduh. Tak ada distraksi apapun yang memisahkan kami dengan kehangatan alam. Baterai ponselku telah sepenuhnya wafat, demikian juga dengan ponsel anggota tim lainnya. Lagipula, buat apa berpusing soal baterai ponsel, toh tidak ada sinyal juga di sana.

Setelah perut kami semua terisi, tibalah kami pada sesi yang paling menyenangkan, yaitu diskusi. Akhirnya, setelah berjam-jam mengadu nasib di tengah belantara, kami dapat saling mengenal. Orang pertama yang mengenalkan dirinya adalah Anette. Dia adalah seorang perempuan Belanda yang ‘ditugasi’ oleh perusahaannya untuk pergi berlibur. Bosnya, kata Anet, menyuruhnya untuk melakukan traveling selama tiga minggu, bebas ke manapun yang dia mau. Karena Anet menyuaki petualangan, maka dia memilih Sumatra sebagai destinasi utamanya.

Setelah Anet selesai, kini giliran dua Rusia yang adalah sepasang ayah dan anak memperkenalkan diri. Alex, nama sang Ayah adalah seorang insinyur yang ditugaskan bekerja di Banda Aceh. Dalam rangka liburan sekolah, dia mengajak putranya yang tinggal di Rusia untuk datang berkunjung ke Indonesia. Ayah dan anak ini membuatku iri. Aku lahir dan tumbuh di keluarga broken-home. Jangankan bepergian bersama ayah, ditepon untuk ditanyai kabar pun tidak pernah.

Sesi berkenalan itu berubah menjadi pembicaraan tak keruan. Tatkala Anet memilih untuk tidur, pembicaraan kami mulai menjurus ke sesuatu tentang seks. Sejujurnya aku merasa takut. Di Jawa, biasanya tabu atau pamali apabila berbicara sesuatu yang jorok di tengah hutan. Bisa-bisa membuat makhluk halus marah. Aku memilih untuk pergi tidur daripada hantu-hantu hutan menyerangku.

Malam itu aku tidur dengan amat nyenyak. Tentunya dengan bantuan berlembar-lembar koyo salonpas yang kutempel di sekujur tubuh. Tulang-tulang yang remuk itu seolah bersatu kembali. Kupejamkan mata rapat-rapat seraya berbisik, “Matur nuwun, Gusti!”

Hari itu, ada secuil kebanggaan dan rasa syukur tak terkatakan dalam hatiku. Destinasi kedua ini mengajarkanku untuk mengalahkan rasa takut. Walaupun aku harus berjalan terseok-seok, menuruni bukit dengan pantat hingga lecet, tapi aku belajar untuk berjuang. Ada kalanya perjalanan hidup tidak sesuai dengan ekspektasi. Ada kalanya trek kehidupan yang dilalui seolah menjerumuskan kita ke lubang maut. Tapi, satu yang aku syukuri adalah Dia yang membawaku memulai perjalanan ini, tentu Dia jugalah yang membimbingku hingga aku bisa tampil sebagai pemenang.

***

Senin, 29 Juni 2015. Ketika mentari mulai naik, halimun pagi masih mendekap sebagian sudut belantara. Sementara sarapan pagi dibuat, dua Rusia sudah asyik mencemplungkan dirinya ke dalam aliran air. “Gila” pikirku. Apa mereka tidak dingin ya, tapi mungkin air sungai ini tidak apa-apanya untuk mereka. Toh, di negaranya mereka terbiasa hidup di tengah es.

Sarapan pagi kembali disajikan. Masih dengan menu berupa mie, namun ditambahi dengan aneka buah segar sebagai penutup. Buah-buah itu didapat dari hutan. Ada nanas, papaya, pisang, dan jambu air. Kami menyantap dengan lahap semua makanan itu.

Di hari kedua tidak banyak yang kami lakukan. Kami berjalan-jalan di sekitar lokasi kemah. Bermain air, mandi di air terjun, menyeruput teh panas, dan juga berkemas untuk perjalanan pulang.

Aku bisa bernafas lega karena perjalanan pulang ini akan jadi perjalanan paling mengasyikkan. Kami akan pulang dengan river tubbing. Di lokasi kemah ternyata sudah disediakan empat ban besar, mungkin seukuran ban truk. Ban-ban itu kemudiaan diikat secara berbaris menyerupai kereta api. Di bagian depan dikhususkan untuk seorang pemandu. Dia membawa tongkat panjang yang berfungsi mencegah ban menabrak cadas. Sedangkan di bagian paling belakang, seorang pemandu bertugas menjaga barang bawaan yang sebelumnya telah dibungkus plastik raksasa agar tidak terhempas. Dia juga membawa kayu panjang untuk membantu mengarahkan laju ban-ban kami.

Setelah segala perbekalan dikemas, kami bersiap pulang. Masing-masing kami siap di posisi. Tidak ada satupun di antara kami yang menggunakan pelampung. Tapi, kami tenang-tenang saja. Dalam hitungan satu, dua, tiga, kami pun hanyut terbawa aliran sungai yang deras. Perjalanan terasa kian menantang tatkala ban kami harus melewati jeram yang panjang. Tubuh kami terguncang-guncang, terayun ke kanan kiri. Seraya berpegangan tangan erat, kami menjerit-jerit kegirangan.

Perjalanan pulang menggunakan ban-ban karet selama dua jam lebih

Sungai Bahorok memang luar biasa. Aliran airnya amat jernih dan mengalir deras. Kehadiran kawasan konservasi Bukit Lawang telah menjadi penyelamat aliran air ini. Jika suatu saat hutan-hutan ini beralih menjadi ladang sawit, tentu cerita akan berubah. Sungai Bahorok yang kemudian mengalir ke hilir, menjadi berkat bagi ribuan jiwa yang tinggal di sisinya.

Perjalanan river tubbing kami telah mendekati tujuan akhir. Dari jauh aliran sungai mulai melambat dan bangunan-bangunan penginapan terlihat samar. Dua jam lebih kami habiskan dengan terayun-ayun di atas ban. Setelah tiba di lokasi, kami pun berpamitan. Sayang sekali karena tidak sempat berfoto bersama.

Sekembalinya di penginapan, kami menyusun rencana selanjutnya dari perjalanan ini. Setelah dari Bukit Lawang, kami memiliki dua pilihan. Pergi ke Nias, atau ke Aceh. Pilihan kami jatuh kepada Aceh. Setelah berkutat dengan pegunungan, tujuan kami selanjutnya adalah pesisir Aceh.

Senja di Bukit Lawang

 

 

Sumatra Overland Journey (1) | Medan: Kota Terburuk untuk Backpacker?

Dua puluh satu tahun menghabiskan hidup di tanah Jawa membuatku bertanya-tanya, seperti apakah rupa Sumatra itu? Yang aku tahu, dulu kerajaan Sriwijaya pernah berdiri di sana, dan kini bencana kabut asap sering menjadi tamu tahunan yang bercokol di pulau Sumatra. Tapi, selebihnya, aku tidak tahu apa-apa tentang pulau nan besar itu hingga di Juni 2015, tanpa pengalamanan apapun, sebuah perjalanan ribuan kilometer mengitari Sumatra menyambutku.

Kamis, 25 Juni 2015

Di bandar udara Husein Sastranegara, Bandung, perasaanku campur aduk, antara senang bukan kepalang, tapi juga takut. Dalam beberapa jam aku akan segera memulai perjalanan backpacking pertamaku yang rencananya akan berlangsung satu bulan. Tujuanku waktu itu adalah Sumatra, tapi aku sendiri belum tahu bagian mana dari Sumatra yang nanti akan kujelajahi. Yang aku tahu hanyalah hari itu aku begitu bersemangat untuk sebuah petualangan baru ini.

Sebelum hari keberangkatan tiba, tidak banyak persiapan yang kulakukan. Johannes Tschauner, sahabatku dari Jerman yang menjadi sponsor perjalanan ini hanya memberitahuku untuk bertemu di Bandara Kuala Namu, Deli Serdang pada hari Kamis, 25 Juni 2015. Selebihnya kami tidak banyak berkomunikasi, hanya sesekali mengkonfirmasi mengenai tiket pesawat yang telah kami pesan masing-masing.

Pukul 14:30, sebuah pesawat jenis Airbus-320 tiba di pelataran bandara dan tak lama kemudian panggilan boarding untuk pesawat tujuan Medan pun diumumkan. Hari itu aku mempercayakan perjalananku dengan maskapai Citilink, dan betapa beruntungnya aku karena pesawat dengan kode registrasi PK-GQG yang digunakan hari itu masih sangat anyar! Usianya baru 0,3 bulan sejak pesawat itu didatangkan dari pabriknya di Toulouse, Perancis.

Tanpa ada keterlambatan waktu, burung besi yang kutumpangi segera mempersiapkan dirinya untuk mengangkasa. Setelah maskapai singa merah turun menyentuh bumi, kini giliran maskapai hijau menyiapkan ancang-ancang untuk mengudara. Deru mesin menyeruak keras, suaranya terdengar jelas ke dalam kabin. Beberapa detik berselang, pesawat telah mengangkasa dan perkasa melawan gravitasi bumi menuju ketinggian 35.000 kaki.

Cakrawala membentang di ketinggan 35.000 kaki

Penerbangan dari Bandung ke Medan memakan waktu dua jam. Hari itu langit sangat cerah, jadi, sebagai orang yang jarang naik pesawat, segera kukeluarkan kamera dan jepret sana-sini. Sebenarnya di luar jendela tidak ada apapun yang menarik selain gumpalan awan, tapi apa yang tersaji di balik jendela pesawat itu membuatku takjub. Tatkala tubuh pesawat masuk ke dalam awan-awan yang menggumpal, goncangan kecil pun terjadi. Harus kuakui, rasa antusiasku sempat memudar tatkala pesawat terus bergoyang. Pikiranku melayang dan berspekulasi aneh-aneh, akankan pesawat itu mendarat dengan selamat? Atau jangan-jangan pesawat ini akan terjun bebas mencium bumi? Ah, entahlah gumamku. Segera kusingkirkan pikiran-pikiran buruk itu dan berpikir tentang petualangan apa yang nanti akan menyapa di tanah Sumatra.

Pukul 17:20 pesawat mendarat dengan sempurna di landas pacu bandara Kuala Namu. Aku memandang dengan takjub dari dalam jendela kabin. Bagiku, Kuala Namu tampak begitu megah, persis seperti apa yang ditulis di berita-berita. Landasan pacunya panjang, bandaranya mewah, juga lengkap ada kereta api khusus yang bisa mengantarkan penumpang langsung ke kota Medan.

Setelah mengantre bagasi selama setengah jam, agenda selanjutnya adalah mencari rekan sekolahku dulu yang berjanji akan menjemputku di Medan. Seorang lelaki bertubuh gempal menepuk pundakku, ternyata dia adalah Suryadi, temanku di SMA dulu yang sekarang menetap di Medan. Sambil bercakap dan melepas kangen, kami berpindah menuju pintu kedatangan internasional. Kulihat di papan informasi bahwa pesawat yang bertolak dari Bangkok telah mendarat.

Aku coba mengingat kembali rupa Johannes, rekanku dari Jerman itu, jangan sampai aku malah lupa dan tidak mengenalinya. Sambil aku mengingat kembali rupa wajahnya, tak lama sesosok bule berjanggut keluar sambil memanggul dua ransel ukuran besar. Mataku terbelalak melihat Johannes yang dahulu polos, kini berjanggut tebal bak belantara Amazon. Kami berpelukan erat, menepuk punggung masing-masing, dan seolah tidak percaya bahwa akhirnya jarak ribuan kilometer antara Indonesia dan Jerman itu akhirnya luluh. Hari itu kami tak lagi berjarak, dan kami siap memulai petualangan 30 hari di tanah Sumatra!

Kami tidak menggunakan angkutan kereta api menuju pusat kota Medan. Sebenarnya aku sangat ingin mencoba bagaimana rasanya duduk di kereta bandara itu, tapi tarif satu kali jalannya dibandrol seharga Rp 100.000,-. Terlalu mahal! Jadi, kami memilih menggunakan angkutan yang ramah kantong, yaitu bus Damri seharga Rp 20.000,- sampai ke pusat kota Medan.

Medan, sebuah mimpi buruk

Sebagai backpacker, hemat adalah kunci utama dari perjalanan kami. Sebisa mungkin, jika memang itu bisa dilakukan, kami akan tinggal di rumah-rumah warga lokal daripada menyewa penginapan. Selain dari menghemat uang, tentu kami akan mendapatkan banyak pengalaman baru dari warga lokal. Setidaknya, itulah yang ada di pikiran kami saat itu.

Kami belum menyusun rencana apapun hari itu, semua masih belum jelas. Satu-satunya yang kami tahu adalah malam itu kami akan bermalam di Medan, di rumah teman SMA yang sudah menjemputku di bandara. Tidak ada firasat buruk apapun saat kami tiba di Bandara, semua berjalan begitu mulus. Kami bertiga begitu akrab mengobrol dan bercerita tentang pengalaman masing-masing.

Ketika kami tiba di pusat kota Medan, langit sudah gelap karena jam telah berada di angka 20:00. Udara Medan cukup gerah hari itu dan kami ingin segera tiba di rumah temanku itu, mandi, lalu tidur dengan nyenyak. Tapi, mimpi buruk itu sejatinya baru dimulai di sini.

Rumah temanku berada persis di tengah-tengah pasar Petisah, sebuah pasar tradisional cukup besar. Bau busuk begitu menyengat di sepanjang jalan, sementara lampu jalanan yang temaram sesekali membuatku melihat kecoak-kecoak berseliweran di jalanan. Aku bergidik, tapi berusaha tetap berpikir positif.

“Krakk!” sebuah pintu besi dibuka. Tibalah kami di sebuah rumah yang tidak mirip rumah. Rumah itu adalah sebuah toko plastik tiga lantai. Lantai satu digunakan sebagai lapak berjualan, lantai dua dan tiga sebagai rumah tinggal. “Mari, silahkan masuk, dek,” sambut ibu temanku sang pemilik rumah. Aku menyalami lengannya dan memperkenalkan diriku, sekaligus memperkenalkan Johannes yang tak bisa berbahasa Indonesia. Di pojokan ruangan terdapat tempat pedupaan dengan dewi Guan Yin yang bertaktha. Nampaknya rumah ini masih kental dengan nuansa dan budaya Tionghoa.

Meja pedupaan di tiap lantai rumah

Sebelum naik ke lantai dua, aku melepaskan sepatu, tapi mataku dengan cepat menangkan gerakan-gerakan yang terbersit di depan mata. Kuarahkan pandanganku lebih teliti ke dinding, satu kecoak terbang kemudian merayap perlahan di atas tumpukan plastik. Kemudian, mataku terbelalak dan seketika itu juga ingin menangis tatkala melihat ada puluhan kecoak berseliweran di mana-mana.

“Kenapa to, kamu takut sama kecoak? Di sini mah sudah biasa kecoak banyak,” ucap temanku dalam logat bahasa Sunda yang hancur. Aku merasa ingin melarikan diri saat itu juga, tapi rasanya tidak mungkin karena dengan demikian aku tidak hormat kepada temanku yang sudah memberikan tumpangan. Johannes mencoba menenangkanku, “It’s okay Ary, don’t worry

Aku tidak dapat tenang, melainkan berpura-pura tenang seraya mulut berkomat-kamit tiada henti memohon mujizat dari Tuhan. Jika Tuhan tidak bisa mengenyahkan seluruh kecoak di rumah itu, setidaknya kecoak itu tidak mendekati tubuhku, itu saja doaku.

Kami diberikan sebuah kamar kecil di pojok ruangan yang sejatinya nyaman untuk beristirahat. Tapi, kamar itu jarang sekali digunakan, sehingga tatkala kami datang, sebuah tikus hitam besar menyambut kehadiran kami. Rasanya aku mau mati lemas, tapi aku sebisa mungkin menenangkan diriku. Malam itu adalah mimpi buruk. Perjalanan yang kupikir akan begitu menyenangkan berubah menjadi acara uji nyali ketika aku harus dihadapkan pada binatang yang paling kubenci di jagad raya, kecoak!

Sebelum beranjak tidur, aku dan Johannes berpikir keras tentang kota mana saja yang akan kami kunjungi dalam waktu satu bulan ini. Awalnya kami ingin tinggal di Medan selama tiga malam, tetapi kami belum dapat memastikan apakah kami tinggal lebih lama atau lebih cepat. Karena lelah, sebelum keputusan yang tepat diambil, kami jatuh tertidur.

26 Juni 2016

Kota Medan yang Edan!

Seekor kecoak merayap naik ke perutku. Dalam keadaan tertidur, aku pikir itu tangan Johannes yang berusaha membangunkanku. Tapi, kok aku merasa sentuhan itu begitu lembut. Tatkala aku membuka mata, sontak aku terbangun, dan berteriak seperti orang kesurupan. Kecoak itu berjalan anggun di atas perutku! Dan itu adalah suatu kekejian yang begitu mengerikan!

Aku segera mengambil handuk dan mandi seraya berharap kuman-kuman yang dibawa kecoak itu turut mati terkena sabun. Setelah kami bergantian mandi, kami segera mengemas ransel dan bersiap berkeliling Medan. Waktu itu panduan kami adalah buku Lonely Planet yang lumrah dipakai sebagai panduan bertualang bagi wisatawan Barat. Tapi, berhubung ada temanku, maka yang bertidak sebagai tour guide adalah Suryadi.

Rute pertama, kami dibawa mengelilingi pasar Petisah. Pasar ini begitu ramai oleh beragam jenis manusia. Teriakan ibu-ibu penjual sayur lebih kuat daripada suara klakson bus akap, belum lagi pekikan klakson dari bentor dan mobil-mobil yang terjebak macet. Pagi itu bukanlah pagi yang syahdu, tapi syukurlah karena semangkuk bubur mengandung babi menjadi hidangan pembuka. Ketika kami memasuki pasar, dengan segera kami menjadi pusat perhatian. Johannes yang berjanggut itu mendadak menjadi primadona. “Mister, mister!” sahut orang-orang di dalam pasar. Johannes menanggapinya dengan tersenyum dan terus berjalan.

Hidangan pagi

Sebuah bentor, becak motor menjemput kami bertiga. Ketika si sopir melihat sosok bule di hadapannya, dia tersenyum lebar dan berusaha menyapa ramah. Tapi, kemudian dia berbisik ke arahku, “Bang, ongkosnya dobel ya! Kan temenmu bule!” Aku menanggapinya dengan protes. “Gak bisa lah bang!” kemudian aku meminta temanku untuk mencoba negosiasi harga. Namun, entah mengapa, sepertinya temanku memiliki pemikiran serupa dengan sopir itu bahwa bule pasti banyak uang. Mau tidak mau, kami membayar harga yang cukup mahal. Hari itu, untuk perjalanan ke Istana Maimun, Rumah Tjong A Fie, dan Masjid Deli, kami membayar Rp 150.000,-.

Masjid Deli nan megah
Salah satu sudut kediaman rumah Tjong A Fie

Sepanjang perjalanan, tatkala bentor yang kami tumpangi berhenti di lampu merah, pengendara-pengendara lain berteriak-teriak, “Mister, mister!” Awalnya panggilan “Mister” itu sepertinya sebagai wujud keramahan mereka terhadap orang asing, tapi lama kelamaan itu jadi menganggu ketika mereka mulai bertanya yang aneh-aneh. Dan, entah mengapa, apakah waktu itu kami sedang sial atau tidak, setiap kali kami mengunjungi tempat makan, para penjualnya selalu menaikkan harga dengan tidak wajar. Kami membeli nasi goreng polos, hanya ditambahi telur dadar di atasnya dan dipatok tarif Rp 22.000,-!

Bahaya, pikir kami. Terlalu lama di Medan bisa membuat kami bangkrut, apalagi temanku yang sejatinya bertindak sebagai tour guide itu juga tidak terlalu cakap. Dia tidak mengerti bahwa kami bukanlah turis yang liburan ala koper, melainkan adalah traveler nekat yang pergi menjelajah dengan persediaan dana terbatas.

Saat kami tengah berjalan di pinggiran kota, seorang preman menghampiri kami dan memaksa meminta sejumlah uang. Temanku bergeming, aku panik berkeringat dingin, sementara itu Johannes tak paham apapun karena dia tak mengerti bahasa Indonesia. Aku tidak tahu bagaimana membela diri, yang kulakukan waktu itu adalah berkomat-kamit, berdoa, seraya memelas bahwa kami tidak punya uang. Entah mengapa, secara ajaib, si preman itu memperbolehkan kami pergi walaupun dia mengumpat kata-kata kasar.

Malam harinya, temanku itu tidak membawa kami ke tempat makan yang murah meriah, melainkan dia membawa kami ke rumah makan Chinese Food yang cukup besar. Awalnya kami ragu untuk makan di situ, tapi dia meyakinkan kami bahwa menu di sini sangat enak. Kami hanya berani memesan dua jenis menu untuk tiga orang, babi goreng dan fu yung hai. Memang makanannya amat lezat, tapi sebagai backpacker, kantong kami menjerit keras.

Seusai makan malam, kami memutuskan untuk segera pergi dari Medan keesokan paginya. Kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Bukit Lawang, pergi jauh-jauh dari keramaian Medan yang begitu aduhai. Ketika kami melihat-lihat kembali buku Lonely Planet, di sana tertulis bahwa Medan bisa dikatakan sebagai worst city untuk seorang backpacker. Aku pikir apa yang ditulis di situ hanyalah pandangan subjektif dari si penulis, tapi ternyata aku setelah aku mengalami apa itu Medan, aku pun berpandangan yang sama.

Dalam perjalananku selanjutnya, aku bertemu dengan sesama backpacker lainnya. Tanggapan mereka atas Medan itu beragam. Ada yang mengutuk, tapi ada juga yang menyanjung. Pengalaman tiga hari di Medan itu cukup membuatku bergidik, apalagi jika mengingat kerajaan kecoak yang pernah kudatangi.

Lonely Planet, buku ini sangat membantu kami dalam menyusun rencana perjalanan. Bahkan, buku ini juga menyediakan informasi untuk penginapan kelas backpacker yang harganya di bawah Rp 50.000,- per malam

Di balik semerawutnya Medan

Walaupun aku tidak betah, tapi Medan membukakan mataku akan sebuah realitas. Lahir dan dibesarkan di Jawa membuatku asing terhadap budaya-budaya yang lahir dan berkembang di Sumatra. Streotip-streotip yang berkembang di masyarakat seringkali mempersempit imajinasi dan pemahaman kita akan sesuatu.

Di Jawa, berbicara dengan nada keras kepada lawan bicara tidak terlalu lumrah, kecuali jika keduanya sudah saling mengenal erat. Tapi, lain Jawa, lain pula Medan. Seorang ibu di perempatan bisa berbicara begitu keras dan bertanya tentang janggutnya Johanes. Pertanyaan yang sesungguhnya tidak penting, tapi ibu itu ingin menunjukkan keramahannya lewat bertanya, walau menurutku dia melakukannya di tempat yang tidak tepat.

Lalu, ketika kami duduk makan bersama di pasar Petisah, kami melihat ada begitu banyak budaya yang hadir dan bercampur. Ada orang Tionghoa, Melayu, Arab, juga India. Layaknya kawasan pecinan di Indonesia, toko-toko besar di kawasan Petisah itu dimiliki oleh orang-orang Tionghoa dengan pembeli yang berbagai macam orang. Orang-orang Tionghoa Medan nampaknya jauh berbeda dari Tionghoa di Jawa. Sekalipun aku sendiri masih memiliki darah keturunan Tionghoa, tapi lidahku telah mati terhadap bahasa Mandarin. Satu-satunya yang menandai aku orang Tionghoa hanyalah mata yang lumayan sipit, sudah itu saja!

Di kamar tempat kami menginap, tergantung kertas berwarna-warni berisikan mantra-mantra doa.

Orangtuaku tidak memberiku nama Tionghoa sama sekali, pun tidak mengajariku atau memaksaku untuk belajar bahasa Mandarin. Satu-satunya kebudayaan Tionghoa yang masih kulakukan dan kusenangi hanyalah ritual bagi-bagi angpao saat Imlek. Selebihnya, aku tidak tahu sama sekali. Menyalakan dupa, berpakaian serba merah, semua telah lenyap dari kamus kehidupanku.

Berada di Petisah membuatku merasa jadi orang Tionghoa yang tidak Tionghoa. Ketika aku membeli bubur babi, baik itu penjual maupun pembeli berbicara dalam bahasa Mandarin tradisional, atau bahasa Khek. Aku hanya melongo, sekalipun mereka mengenali wajahku sebagai orang keturunan, tapi aku tak berkutik apabila mereka mulai bertanya menggunakan bahasa yang begitu asing buatku.

Perbedaan etnis sejatinya adalah sentimen yang paling sensitif. Kerukunan yang telah dibangun bertahun-tahun bisa saja sirna tatkala ada kesalahan kecil yang dibesar-besarkan. Dari kacamataku, aku tidak melihat orang-orang Medan itu cukup membaur, setidaknya itu yang aku lihat di Petisah. Temanku itu adalah seorang Tionghoa yang cukup protektif. Dia memandang dunia luar itu sebagai sesuatu yang menyeramkan dan rapuh. Belakangan, aku mengerti mengapa dia selalu membawa kami ke restoran mahal. Rupanya, dia ingin makan di tempat yang aman, karena menurutnya orang Tionghoa tidak aman apabila bepergian dan makan di tempat pinggiran.

Tapi, menurutku itu sama sekali tidak masuk akal! Pergaulanku dengan berbagai jenis manusia sudah melunturkan segala jenis antipati. Tapi, apa yang dilakukan oleh temanku itu sejatinya adalah cerminan dari kenyataan. Di masyarakat yang konon katanya telah modern ini, masih saja ada orang yang membiarkan pikirannya dikuasai sekat-sekat pemisah dan ketakutan. Aku mengerti bahwa itu tidak sepenuhnya salah mereka, terkadang lingkungan pun memaksa orang-orang menjadi protektif. Akan tetapi, mau sampai kapan kita terus membatasi diri?

Aku tidak tahu bagaimana keadaannya di bagian lain kota Medan, tapi apa yang kulihat hari itu membuatku termenung. Apakah memang kita lebih nyaman hidup secara terkotak-kotak?

Selamat tinggal Medan

Sabtu pagi, 27 Juni 2015. Selama tiga hari di Medan, kami mengeluarkan uang cukup besar, nyaris Rp 1 juta karena temanku itu membawa kami masuk ke restoran-restoran yang mahal. Setelah berpamit, berpelukan, dan berfoto, kami pergi menuju ke terminal Pinang Baris menggunakan bentor.

Sebelum kami pamit dan bertolak menyingkir dari Medan, kami berfoto dan menghaturkan terima kasih kepada Suryadi, yang telah menyediakan rumahnya untuk kami menginap selama dua malam.

Tiga hari di Medan mampu membuatku berbicara dengan nada sedikit berani. Setibanya di terminal, puluhan calo bagaikan laron segera mengerubungi kami. Mereka memaksa bahkan sempat menarik-narik ransel yang kami panggul. Tapi, kami acuh tak acuh, kami terus berjalan mencari bus warna oranye seperti yang dituliskan di buku Lonely Planet.

Ketika kami menemukan bus itu, waktu keberangkatan hampir tiba dan bus tepat hanya tersisa dua kursi. Sebelum naik, aku bertanya dulu mengenai harga. Si kenek mematok tarif Rp 100.000,- sekali jalan. “Mana ada bang harga segitu, mahal kali, terakhir aku naik sini Cuma 25!” ucapku. Aku terpaksa berbohong, padahal aku belum pernah sekalipun ke Sumatra. Tapi, ternyata itu cukup ampuh, akhirnya kami diberikan harga Rp 40.000,- per orang untuk tiba di Bukit Lawang.

Perjalanan hari itu ditutup dengan duduk di atas bus oranye tua selama enam jam. Meninggalkan hiruk-pikuk Medan menuju kanopi hijau Sumatra, Taman Nasional Gunung Leuser!.

Di atas bentor, kami beranjak menuju terminal Pinang Baris. Betapa senangnya kami hari itu, selamat tinggal, Medan!

 

Berlanjut……………..

 

 

Dua Pejalan Nekat—Disatukan Karena Tekad!

backpacker1

Kami tak terlalu sering bertemu, seingatku hanya tiga kali pertemuan yang pernah kami lakukan. Dua kali di Bogor dan satu kali di Yogyakarta. Tapi, jarangnya bertemu bukan menjadi jurang yang membuat pembicaraan kami tidak nyambung, malah tiap kali bertemu mulut kami seolah tak mau berhenti bicara tentang pengalaman dan mimpi kami masing-masing.

Continue reading “Dua Pejalan Nekat—Disatukan Karena Tekad!”

Sensasi Pertama Kali Naik Kereta Kelas Wahid!

argo1
Kereta api Gajayana tengah berhenti di Stasiun Tugu Yogyakarta (26/2/17)

Berburu tiket kereta api untuk berangkat di akhir pekan sekarang jadi aktivitas yang mengasyikkan sekaligus menantang. Mengasyikkan jika kursi kelas ekonomi masih tersedia, tapi menantang ketika tiket kelas ekonomi ludes dan harus mencari alternatif lain. Ketika tiket murah yang dicari ternyata ludes, hanya ada tiga pilihan yang kini tersedia—naik kelas ke bisnis atau eksekutif, cari alternatif lain dengan naik bis, atau gagal berangkat.

Beberapa minggu yang lalu aku menjatuhkan pilihanku ke nomor dua, yaitu berganti moda transportasi dengan naik bis. Hasilnya, perjalanan dari Jakarta ke Cilacap yang kalau naik kereta ekonomi Serayu bisa ditempuh 9 jam, menjadi 14 jam dengan naik bis. Itupun ditambah dengan bis yang mogok dan aku ditelantarkan di pinggiran tol Jagorawi hampir tiga jam tanpa kepastian.

Tidak ingin kejadian nestapa di jalanan itu berulang, akhirnya untuk keberangkatan pulang dari Yogyakarta ke Jakarta aku membeli tiket KA Argo Dwipangga seharga Rp 380.000,-. Harganya lumayan fantastis walau memang tidak semahal harga pesawat. Tapi, dengan harga setinggi itu aku bisa bepergian bolak-balik Jakarta- Jogja hingga tiga kali jika naik KA Ekonomi Bengawan yang harganya hanya Rp 74.000,- sekali jalan.

Kereta api yang berubah wajah

Sebetulnya, secara keseluruhan pelayanan kereta api di Indonesia, khususnya di Jawa saat ini sudah mengalami banyak sekali kemajuan. Tahun 2009 saat duduk di SMP kelas IX, kereta api selalu jadi transportasi andalanku untuk bepergian ke timur ataupun barat kota Bandung. Perjalanan puluhan kilometer dari Bandung ke Padalarang atau Cicalengka hanya dibandrol Rp 1.000,- saja. Jauh lebih murah dari tarif angkot pada masa itu.

Tapi, harga yang murah ternyata berbanding lurus dengan pelayanan. Dulu, hampir di setiap kereta ekonomi kenyamanan penumpang dianaktirikan. Tidak peduli seberapa penuh gerbong kereta, penumpang demi penumpang tetap merangsek masuk menjejali gerbong yang kian sesak. Tak hanya itu, copet-copet bergentayangan meraba-raba bawaan penumpang yang kala itu sedang apes. Semua itu masih ditambah dengan udara pengap, teriakan pedagang dan pengamen yang hilir mudik tiada henti.

Tapi, pemandangan itu kini sudah sirna ditelan badai! Kereta api jauh dan sangat manusiawi saat ini. Kereta ekonomi hingga eksekutif sudah dilengkapi dengan pendingin udara, stasiun disterilkan, setiap penumpang harus bertiket sehingga tidak ada lagi kereta kelebihan muatan, sistem reservasi telah online, dan jadwal keberangkatan kedatangan juga on time!

Pengalaman pertama kali naik Argo

Sekalipun hampir setiap bulan bepergian naik kereta api, tapi kereta dengan kelas eksekutif tidak pernah jadi pilihanku untuk bepergian. Dengan keterbatasan uang sebisa mungkin aku harus mendapatkan tiket semurah mungkin supaya agenda traveling bisa terus jalan setiap bulannya. Tapi berhubung di akhir Februari ada urusan penting di Yogyakarta yang tidak bisa ditunda, jadi mau tidak mau tiket semahal apapun harus dibeli.

argo2
Interior KA Argo Dwipangga (KA 9 Solo Balapan – Gambir)

Sekalipun harga tiket lumayan mahal, tapi ternyata fasilitas yang ditawarkan di kereta api Argo Dwipangga juga sebanding dengan harga. Minggu malam (26/2) kereta Argo Dwipangga datang membawa 11 rangkaian gerbong eksekutif keluaran terbaru. Kereta berangkat dari Solo Balapan pukul 20:00 dan tiba tepat waktu di Yogyakarta pukul 20:52.

argo3
Stasiun Tugu, stasiun penuh kenangan

Setelah sembilan menit menaikkan ratusan penumpang yang hendak beranjak ke Ibukota, kereta mulai melaju. Seketika aku berasa seperti orang udik, maklum karena jarang sekali naik kereta eksekutif dan pengalaman naik kereta api Argo Dwipangga ini adalah perjalanan pertamaku naik kereta dengan gerbong keluaran terbaru plus tiketnya dibeli dengan uang hasil keringat sendiri.

Membelah malam dalam kenyamanan

Getaran di dalam gerbong tidak terlalu kentara sehingga penumpang bisa beristirahat dengan nyaman tanpa guncangan yang berarti. Lalu jarak antar kursi yang lega juga membuat penumpang lebih leluasa. Dua layar televisi besar terpasang di depan dan belakang gerbong, tapi karena di kereta malam, kebanyakan penumpang lebih memilih tidur daripada menonton tv.

Di atas tempat televisi berada, ada papan indikator yang menunjukkan posisi gerbong, kursi penumpang dan jam. Ada yang menarik karena di gerbong eksekutif baru ini, penumpang juga bisa tahu berapa kecepatan kereta api yang dinaikinya dan stasiun mana yang akan dilewati oleh kereta. Suhu udara di dalam gerbong juga pas, sekitar 22-24 derajat celcius.

Untuk menempuh jarak sekitar 500 kilometer, kereta api Argo Dwipangga hanya berhenti di stasiun Kutoarjo, Purwokerto, Cirebon, Jatinegara dan Gambir sehingga waktu tempuhnya bisa lebih cepat dari 8 jam perjalanan. Satu jam setelah kereta api meninggalkan Yogyakarta, lampu gerbong yang benderang mulai diredupkan untuk mempersilahkan penumpang beristirahat. 

Kursi reclining seat dalam gerbong juga lumayan nyaman diduduki walaupun terasa agak keras. Untuk menambah kenyamanan tidur juga telah disediakan selimut dan bantal. Tapi karena ACnya tidak terlalu dingin jadi selimut itu tidak kugunakan. Oh ya, kereta Argo Dwipangga ini adalah salah satu kereta api pertama di Indonesia yang menggunakan rangkaian eksekutif 2017. Selain Dwipangga, jika ingin menjajal gerbong baru ini penumpang bisa naik kereta api Gajayana, Bima relasi Malang-Gambir, Argo Lawu relasi Solo Balapan – Gambir, juga Sembrani relasi Gambir – Pasar Turi, dan kereta dengan kelas-kelas Argo lainnya.

Tujuh setengah jam membelah malam, akhirnya si ular besi Dwipangga mengakhiri dinas malamnya di Stasiun Gambir pada pukul 04:50, meleset beberapa menit dari jadwal seharusnya karena kereta harus antre mendapatkan tempat parkir.

Sekalipun gerbong sudah didesain sedemikian nyaman, tapi tetap saja punggungku sakit dan pegal. Tapi, di situlah kenikmatan sebuah perjalanan traveling. Badan pegal adalah bonus, dan hati senang adalah anugerah. Jika suatu saat mendapatkan rejeki lebih, tidak ada salahnya berpaling sebentar ke kereta kelas eksekutif. Jadi, kapan kita mau naik kereta bareng nih?

 

Jogjakarta – 26 Februari 2017