Aku Tidak Pernah Memilih untuk Jadi Penulis, Tapi Inilah Pekerjaanku Sekarang

karier

Pandanganku terarah kepada sebuah layar gadget berukuran 5 inchi di depanku, sementara itu jari-jariku mengusap-usap layar itu bolak-balik seperti sebuah setrikaan. Sejujurnya aku tidak tahu hendak berbuat apa ketika teman-temanku mulai bercerita panjang lebar tentang masalah-masalah yang mereka hadapi di pekerjaan  masing-masing. Continue reading “Aku Tidak Pernah Memilih untuk Jadi Penulis, Tapi Inilah Pekerjaanku Sekarang”

Iklan

5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan

blog2

“Pergi karena semangat, pulang karena rindu.”

Nama Jogja terdengar begitu istimewa, apabila kata itu terucap, tiba-tiba rasa rindu segera mendekap. Seringkali teman-teman bertanya heran, mengapa aku begitu baper dengan Jogja. Apakah ada pengalaman buruk atau manis yang pernah terjadi di sana?

Continue reading “5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan”

Mengawali dengan Semangat, Menutup dengan Manis

Ada awal, juga akhir. Ada suka, juga duka. 

Kadang, akhir tak selalu berakhir suka 

pun awal tak tentu dimulai dengan duka

adalah proses yang menjadikan kita kaya

kaya akan pengalaman, juga kenangan dari orang-orang tercinta

Masih berasa mimpi ketika menyadari kalau waktuku di Jogja kurang dari satu minggu tersisa. Rasa-rasanya baru kemarin memasuki kampus, ospek, kenalan sana-sini, mbribik gebetan, sibuk organisasi, dan sekarang semua itu seolah berjalan begitu cepat tak bersisa.

Satu bulan setelah pengumuman diterima bekerja di Jakarta, ada rasa sukacita yang bercampur aduk dengan sedih. Satu sisi senang karena bekerja, tapi ada rasa sedih karena harus meninggalkan Jogja dengan segudang isinya yang begitu memikat hati. Aku menyadari kalau masa transisi, atau masa perpindahan memang berat, tapi harus dijalani dengan tegar.

Ada satu hal yang membuatku begitu mencintai Jogja setengah mati, sampai-sampai ada teman yang bertanya, “kok lu bisa sebegitunya banget sih sama Jogja?”. Kadang aku pun tak tahu harus menjawab apa, karena rasa cinta itu hanya bisa dirasakan dengan hati, dan sulit dituangkan dalam beragam kata.

Merantau untuk Mengenali Hidup 

Keputusanku untuk pindah ke Jogjakarta empat tahun lalu rasa-rasanya adalah keputusan sepele pada waktu itu. Ada banyak kampus di Bandung, tapi aku memilih Jogja dengan satu alasan, yaitu nyaman. Berbekal kenyamanan itu, Jogja menjadi tempatku berlabuh selama empat tahun.

Berasal dari keluarga broken, membuatku tak menemukan jati diri yang pas semasa sekolah dahulu. Aku minder ketika teman-temanku terkenal dengan pencapaiannya sendiri, sedangkan aku merasa useless dan tak dicintai. Perlahan ketika perkuliahan dimulai, aku tahu kalau merasa rendah diri itu buruk. Alih-alih menyalahkan keadaan, lebih baik aku mulai menggali potensi diri.

Aku lupakan soal minderku, kucoba mulai berorganisasi, menekuni hobbyku dan bergaul dengan lebih banyak orang. Perlahan tapi pasti, pertemuanku dengan orang-orang baru inilah yang menempa karakterku, dari seorang yang lembek menjadi seorang yang kuat. Diperhadapkan dengan berbagai karakter teman mengajariku untuk mengerti orang lain terlebih dahulu ketimbang bersikap egois.

Dari merantau, aku mengenali apa itu yang namanya kangen dengan teman, juga keluarga. Jarak yang terpisah membuatku lebih menghargai suatu pertemuan. Jogja juga mengenalkanku pada apa yang disebut sebagai pertemuan dan perpisahan. Sambilanku sebagai travel guide mengantarku pada pertemuan dengan sahabat-sahabat dari berbagai negara. Ketika sudah dekat dengan mereka, tiba-tiba harus berpisah dan tidak tahu lagi kapan bertemu. Sedih memang, tapi perpisahan ini terjadi supaya aku menghargai arti pertemuan.

Merantau kadang memang membuat nyaman, namun tak selamanya nyaman itu baik untuk kita. Nyaris tak ada yang bertumbuh di zona nyaman selain rasa manja. Hidup itu adil dan memiliki prosesnya sendiri, ketika kita terlalu nyaman di suatu tempat, otomatis akan ada masanya di mana kenyamanan itu akan dicabut.

Tunas harapan yang kecil kini telah tumbuh dengan subur di sebuah pot bernama Jogja, namun pot ini tak lagi cukup untuk memuat akar-akar yang kian memanjang. Tuhan mencabutku dan menempatkanku pada pot baru bernama Jakarta.

Mengawali dengan Semangat, Menutup dengan Manis 

“Manisnya hidup, kita yang tentukan,” tagline dari iklan produk gila. Nampaknya slogan iklan itu ada benarnya juga. Jika hari ini aku memutuskan untuk terlarut dalam duka karena perpisahan, maka rasa manis itu akan berubah menjadi manis yang merusak, tak lagi sehat.

img_0991img_1477img_1534img_1546img_1549img_1592img_7830img_8653

Dulu ketika aku mengawali petualangan untuk empat tahun di Jogja, aku mengawalinya dengan harapan kecil. Kini ketika petualangan itu tuntas, ditutup dengan kenangan manis yang dibentuk dari pertemuan dengan banyak orang. Ada keluarga di KKP yang mengajariku untuk bekerja dengan passion. Keluarga HMPSKom yang mengajariku apa arti dari totalitas bekerja. Keluarga di OnFire yang mengajariku tentang arti pelayanan. Juga seisi rumah kostku yang mengajariku tentang apa itu berbagi rasa dan menerima perbedaan.

Dan…di ujung perjalanan ini, Jogja menjadi terasa begitu manis. Saking manisnya, air mata pun terasa manis. Bukan tangis sedih yang terurai, tapi tangis bahagia, sebuah sukacita karena diberi kesempatan untuk bertemu dan berproses bersama orang-orang pilihan yang luar biasa!

Catatan Student-Staff: Mahasiswa Rasa Karyawan

Kemarin (27/8) kampusku menyelenggarakan wisuda yang lumayan akbar. Tujuh ratus wisudawan dilepas dan siap bekerja atau mungkin masih menganggur. Di antara ketujuh ratus itu ada tiga rekanku yang sedikit banyak telah mewarnai perjalanan sebagai mahasiswa di pojokan kota Jogja. Tapi, tulisan ini dibuat bukan untuk menyanjung, menyelamati atau mencemooh mereka. Tulisan ini hanya sekedar refleksi tentang perjalanan dunia kuliah yang penuh lika-liku juga beban yang terkadang bisa berat, bisa juga ringan.

Flashback kembali ke masa-masa awal jadi maba, masih polos, belum ternodai oleh ritual dusta macam titip absen, tidur di kelas dan bolos kuliah, aku punya impian untuk bisa kuliah sambil bekerja. Buatku sendiri kuliah itu menelan biaya mahal, apalagi di kampus swasta dan jauh dari orang tua. Pengeluaran ini dan itu harus keluar setiap bulannya, hingga niscaya satu juta rupiah pun tidak akan cukup untuk hidup mahasiswa rantau di jaman ini.

Di semester empat, kampusku membuka lowongan pekerjaan sebagai student staff, alias kerja part time. Kantor yang membuka lowongan adalah kantor yang bergerak di bidang partnership juga promotion, di mana tugas kami adalah membranding kampus kepada siswa SMA, juga menguatkan kerjasama internasional dengan perguruan tinggi ataupun institusi lain dalam dan luar negeri.

Melewati segudang tahapan seleksi, terpilihlah enam orang sebagai student staff yang siap untuk dipoles menjadi 100% mahasiswa, 100% juga karyawan.

1. Bukan soal upah atau gaji

CIyeee, karyawan kampus nih ye!” usil teman-teman lainnya. Julukan sebagai karyawan kampus tidak menyakitkan kok, tidak juga membanggakan, intinya adalah biasa saja. Bekerja sebagai student staff, artinya kita di samping belajar akademik selaku mahasiswa, juga bekerja di kantor sesuai dengan jobdesc. Gaji yang diberikan memang tidak terlampau besar, tapi setidaknya cukup untuk tambah-tambah. Tapi, persoalan utama di sini adalah bukan mengenai gaji yang besar atau kecil, namun seberapa besar kita menghargai jerih lelah. 

Gaji yang kecil seakan menamparku kalau inilah realita dunia, cari uang itu susah! Kalau gampang mah tidak akan ada yang namanya tuyul! Aku menyadari, untuk sepeser uang dibutuhkan kerja keras. Terlebih lagi orang tua di kampung halaman yang bekerja banting tulang untuk menguliahkan anaknya. Kecuali orang tuanya sudah kaya meleleh sampai mandi berlian, ya itu lain lagi sih ceritanya.

Naif rasanya ketika mengeluh soal lelahnya kuliah lalu membiarkan diri larut dalam lelah itu dan kuliah menjadi amburadul. Memang sekarang banyak quotes inspiratif tapi kampret yang berseliweran di Instagram soal sekolah bukan kunci utama sukses karena tokoh sukses semacam Thomas Alva Edison dll juga dulu pernah drop out. Bagi yang menjadikan quote semacam itu jadi pembenaran, mungkin mereka sesat pikir. Orang macam Thomas Edison, dll mereka tidak bisa meneruskan pendidikan bukan karena malas! Tapi, karena keadaan yang tidak memungkinkan mereka untuk sekolah. Ada yang memang tingkat kecerdasannya rendah, orang tuanya terlalu miskin, atau juga sakit. Nah, kalau kita yang sakit tidak, IQ jongkok banget juga tidak, juga orang tua masih mampu, lalu menyia-nyiakan kesempatan kuliah hanya karena malas dan yakin hidup sukses, itu sih namanya mimpi.

2. Kehilangan rekan sepermainan

Sepanjang semester, teman sedikit demi sedikit mulai rontok, hanya yang sejati yang bertahan. Kesibukan bekerja mau tidak mau akan menghilangkan waktu hang out dengan teman. Pertemanan secara kuantitas akan menurun drastis ketika kita telah menemukan fokus diri. Jika pertemanan dahulu diukur dari seberapa sering kita kumpul bareng sekarang diukur dari seberapa peduli temanmu ketika kamu butuh bantuan.

Imaji weekend tiba yang harusnya bisa dijadikan waktu tidur di kost, main, atau cicil tugas perlahan akan memudar. Sedikit demi sedikit zona nyaman direnggut dan mau tidak mau harus tetap dijalani. Namun, kehilangan teman sepermainan itu membawa kita pada penemuan teman baru. Teman yang dibentuk dari sebuah kerja keras, dari passion yang dihidupi, bukan sekedar teman karena punya waktu main bersama.

3. Pekerjaan Mulia untuk seorang biasa

Diutus pergi membawa nama besar Universitas bukan hal main-main. Ada tanggung jawab yang harus diemban dengan sungguh-sungguh. Suatu kebanggaan, karena kampus kita memilih kita untuk turut membesarkan namanya.

Terlepas dari segala capek dan bete yang kita alami, dari kantor kita bekerjalah datang ribuan mahasiswa baru yang datang setiap tahunnya. Mereka datang dengan harapan tentang masa depan. Gimana mereka bisa mantap untuk masuk kuliah ketika kita sebagai wakil kampus malah tidak bangga dan maksimal dengan kuliah kita?

Well, pekerjaan sebagai student staff inilah yang menambah nilai hidup kita. Kita belajar detail dari setiap perintah mengarsip yang membosankan. Kita belajar sabar dan senyum ketika dimarahi sekalipun kita merasa tidak salah. Kita belajar tekun dan tanggung jawab ketika ditugasi pergi ke luar, sekalipun hanya satu kilometer dari kampus.

Segala lelah kita akan hilang tatkala kita melihat senyum dan semangat anak-anak sekolah yang mengharap masuk kuliah. Kita tidak hanya menceritakan soal biaya kuliah ataupun fasilitas kampus, tapi kita share tentang sukacita dan tantangan jadi mahasiswa.

Inilah wujud bakti pelayanan kita juga, bukan seberapa sering kita hadir di rumah ibadah, tapi seberapa jauh kita melibatkan Tuhan hadir dalam pekerjaan kita. Ketika kita semangat, tidak cepat marah, dan menciptkan kedamaian, di situ ada Ia yang maha Agung dilibatkan dalam setiap perkara kita.

IMG_8934

Kelak, kesetiaan dalam perkara kecil akan membawa kita pada perkara besar.

Teruntuk rekanku, Silvia Bakti, Yohanes Bobby dan Adelia Putranti, kalian sudah purna tugas di sini, tapi perjalanan kali di kenyataan dunia kerja sesungguhnya baru di mulai.

Teruntuk yang masih setia mengemban tugas, Yashinta, Dicna, Shanty, Efando, Tian, Abdullah, Ancilla, Toni Hasa, Deta Agustina, Deta Anjani, Elmo, Ideo, Karol, Veka, dan Yomon. Perjalanan kalian belum selesai, jangan menyerah karena keadaan.

Great love for you all, karyawan kampus!

Ketika KKN Tak Sekedar Dua SKS

Jalanan di Samigaluh sungguh sepi, tak ada lagi anak muda yang nongkrong bergerombol di minimarket ataupun warung mie ayam di pasar Plono. Papan-papan kayu penunjuk arah telah hilang sempurna. Samigaluh telah kembali ke ritmenya yang sepi dan tenang.

Desember 2015 lalu, kecamatan di utara Kulonprogo ini kedatangan tamu sebanyak 800 orang mahasiswa dari Atma Jaya untuk melakukan KKN  alias Kuliah Kerja Nyata selama satu bulan. Mahasiswa yang hidup di kota mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan atmosfer pedesaan Samigaluh yang terletak di perbukitan Menoreh.

Empat bulan semenjak Kuliah Kerja Nyata (KKN) rampung dilaksanakan, sisa-sisa rasa kangen masih terasa. Selepas KKN, setiap anggota kelompok larut kembali dalam kesibukannya. Ada yang sudah selesai sidang, menanti wisuda, mengejar skripsi, juga ada yang masih kuliah. Ada kelompok lain yang putus hubungan antar anggota, ada pula yang masih berkontak setia.

Eh, ayo ke rumah simbah minggu depan!” celetuk salah satu rekan, dan segera dibalas dengan “Oke!” dari rekan lainnya. Syukur beribu syukur, kelompok kami masih tetap menjaga tali komunikasi meskipun masa KKN telah usai. Bagi kami, sulit untuk membuang begitu saja kenangan selama KKN. Bagaimana tidak, selama satu bulan sejak pagi membuka mata hingga malam mata terpejam kami harus melihat dan tinggal serumah dengan rekan sekelompok.

Kami ditempatkan di rumah keluarga Wagiran, seorang kepala desa Banjarsari yang baiknya bukan main. Rumah Simbah Wagiran terletak di ujung bukit dusun Jumblangan XIV, tak ada tetangga, hanya ada hutan dengan bunyi khas serangganya. Satu bulan kami habiskan disana dengan begitu cepat akibat terlalu menikmati kebersamaan selama KKN.

Jumblangan XIV, Kampung Halaman Kedua Kami

Di kampus, KKN dihargai seharga 2 sks, jauh lebih kecil ketimbang mata kuliah biasa yang umumnya berbobot 3 sks. Walaupun hanya 2 sks, namun KKN jauh lebih ribet ketimbang mata kuliah lainnya. Repotnya KKN sebetulnya bukan karena enggan tinggal di pedesaan, melainkan ada aturan-aturan yang cukup berat serta terkadang koordinasi di kelompok yang tidak rapi.

Selama KKN berlangsung, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus membaur dengan sesama anggota kelompok dan juga induk semang. Bahagia tidaknya kelompok ditentukan dari bagaimana kelompok tersebut memaknai sebuah KKN. Jika antar anggota mementingkan dirinya sendiri, tentu kelompok tersebut akan terjerumus dalam konflik.

Ketika awal dibentuk, masih terjadi jaim di kelompok kami. Pertanyaan “Kamu ya jadi ketua?” langsung segera dibalas dengan “Duh, nggak, jangan aku please. Aku sibuk ,aku gak bisa, aku takut, aku gak berpengalaman, bla bla” . Walaupun, pada akhirnya tetap ada beberapa anggota yang harus ditumbalkan, entah menjadi ketua, bendahara atau sekretaris. Namun, yang jelas ketika jabatan sudah diemban, maka tak ada alasan untuk menolak.

Dari pedukukan Jumblangan XIV kami belajar banyak hal. Di minggu pertama KKN, satu per satu dari delapan anggota kelompok kami diserang kutu sapi. Awalnya hanya gatal di sela-sela jari, kemudian menyebar hingga seluruh tubuh. Praktis, setiap malam kami berkumpul di ruang tamu bukan untuk bergosip tapi saling mengoles salep anti kudis yang didapat dari puskesmas.

Dari penyakit kutu sapi itu kami malah tertawa, saling mengetawai satu sama lain. “Elu sih si Raja Kudis!” , “Enak aja, lu si ratu kudis!” saling tuding siapa orang pertama yang tertular kudis sudah jadi rutinitas wajib selama KKN, walaupun tak ada satupun yang merasa tersinggung akibat tudingan itu.

Dari kutu sapi ternyata ada pelajaran yang bisa kami petik. Ungkapan berani kotor itu baik memang ada benarnya. Jika kami tidak terserang kutu sapi dan harus saling garuk mengagaruk tiap malam, tentu tak ada hal istimewa untuk kami kenang selama KKN berlangsung, mungkin bisa juga kami akan langsung menghilang tatkala KKN ini usai dilakukan.

Satu hal yang menarik adalah, penderitaan akan menjadi sukacita ketika dilalui bersama dan dengan ikhlas. Keterbatasan yang terjadi membuat kami harus saling bergantung, juga memahami satu dengan lainnya.

Keterbatasan juga adalah Guru Terbaik!

Kami berdelapan memiliki latar belakang yang berbeda, ada yang berasal dari kelas ekonomi menengah atas, atau juga orang biasa. Hari pertama tiba di Jumblangan, kami harus membiasakan diri karena kamar mandi menjadi satu dengan kandang ternak, serta posisinya terbuka membuat siapapun yang mandi bisa diintip dengan mudah.

Kamar mandi yang terbatas masih harus dilengkapi dengan air yang tak melulu ada. Ketika air kering, kami harus memanggul ember ke bawah bukit, mandi laksana bidadari kahyangan. Belum lagi setiap malam listrik harus mati dan membuat kami yang gadget addicted harus bertobat dari ketergantungan.

 

Keterbatasan itu seolah tak berarti ketika kami membandingkannya dengan Simbah Ngatilah dan Wagiran. Merekalah sosok orang tua angkat kami selama satu bulan. Mereka rela rumahnya diusik oleh delapan mahasiswa yang bukan cucu kandungnya. Tapi, mereka tak pernah mengeluh akan kehadiran kami, malahan merasa senang walaupun kami hanya bisa berbicara dalam bahasa Jawa sederhana.

Kini, setelah empat bulan KKN berlalu, akhirnya kami bertemu kembali di Jumblangan, kampung halaman kedua kami. Kami paham dan sadar, selepas ini akan sangat sulit untuk sekedar bertemu. Jarak akan memisahkan, waktu akan menjauhkan dan kesibukan akan melunturkan komunikasi. Namun, satu yang kami percaya, kenangan dan pengalaman yang telah terbangun bersama tak kan memudar begitu saja. Kenangan itu akan tetap hidup dan menjadi perenungan kami tatkala ada kesepian ataupun kesukaran melanda!

Dua sks yang pernah dijalani niscaya jadi pengalaman terbaik! Tak ada teori yang mesti dihafal, namun ada keringat yang harus tercucur, ada amarah yang harus dipendam, ada capek yang mesti disembunyikan, juga ada senyum yang mesti tersebar. Semua itu demi sebuah kebersamaan, kini dan seterusnya!

  • Samigaluh, 22 Mei 2016

Kelompok 92: Paimin, Joko Mprid, Kelik, Sukotjo, Waginah, Denok, Ayu, Zubaedah

foto bareng simbah low res
Kelompok 92 KKN 68 UAJY