Aku Tidak Pernah Memilih untuk Jadi Penulis, Tapi Inilah Pekerjaanku Sekarang

karier

Pandanganku terarah kepada sebuah layar gadget berukuran 5 inchi di depanku, sementara itu jari-jariku mengusap-usap layar itu bolak-balik seperti sebuah setrikaan. Sejujurnya aku tidak tahu hendak berbuat apa ketika teman-temanku mulai bercerita panjang lebar tentang masalah-masalah yang mereka hadapi di pekerjaan  masing-masing.

Aku dan teman-temanku menuntaskan studi di pendidikan tinggi pada tahun 2016 dan berganti status dari seorang mahasiswa menjadi “pengangguran sementara” sampai mendapatkan pekerjaan tetap. Usia pekerjaan kami barulah seumur jagung, jadi wajar ketika kami masih harus melakukan banyak penyesuaian diri dengan budaya yang baru—budaya kerja yang bukan lagi budaya mahasiswa.

Kebanyakan teman-temanku bekerja di perusahaan-perusahaan besar dengan deadline yang super padat. Ada yang mendapatkan gaji besar, ada pula yang mendapat pas-pasan. Ada yang begitu menikmati, tak jarang pula ada yang menderita dan ingin segera resign atau berharap dipecat saja. Kisah -kisah itulah yang selalu jadi bumbu pelengkap setiap kami bertemu di manapun.

Sekalipun aku dan teman-temanku sama-sama bekerja, tetapi aku memilih jalur yang agak melenceng. Aku tidak bekerja di sebuah perusahaan terkenal yang menawarkan presitise dan gaji mentereng walau sejujurnya aku pun ingin seperti itu. Tetapi, di suara hatiku yang terdalam, aku memilih untuk mengisi hidupku dengan sesuatu yang berbeda.

Awal mula perjalanan mencari karier

Setelah ujian pendadaran dan aku dinyatakan lulus, aku segera mencari kerja dengan mengikuti aneka macam Job Fair, dari yang virtual sampai datang ke kampus-kampus. Aku merasakan hidupku saat itu mirip seperti serial televisi yang berisi adegan seseorang tengah susah payah melamar kerja. Setumpuk CV bersama berkas lain kubawa.

Ada lima Job Fair yang kuikuti selama tiga bulan itu, tetapi aku tidak pernah sreg untuk mendaftarkan diriku di perusahaan-perusahaan yang terdaftar di sana. Kalaupun aku mendaftar, sebenarnya aku hanya coba-coba supaya bisa mengerti gambaran tentang psikotes dan wawancara kerja itu seperti apa. Satu, dua, tiga, empat hingga berkali-kali mendaftar dan aku pun gagal. Tapi aku tidak kecewa, toh karena aku juga tidak mau bekerja di perusahaan yang kulamar.

Sebetulnya sejak Agustus aku mengetahui ada sebuah lowongan kerja sebagai seorang editor dan penulis di sebuah lembaga pelayanan nirlaba. Aku sama sekali tidak tertarik untuk mengisi lowongan itu, mendengar kata “nirlaba” saja membuatku merinding. “Jika tidak mengejar laba, terus nanti aku digaji pakai apa?” pikirku. Jadi, kusingkirkan opsi untuk melamar ke organisasi itu.

Tapi, saat aku mengabaikan lowongan itu, pikiranku malah selalu membawaku ke situ. Saat aku naik motor, mandi, dan merenung, hati kecilku bicara kuat supaya aku melamar ke tempat itu. Aku masih bergeming dan tetap pada pendirianku untuk mencari perusahaan lain yang lebih bonafide.

Akhir Oktober aku memutuskan untuk pergi sejenak ke sebuah desa tempat temanku tinggal. Maksud hatiku adalah ingin melepaskan pikiran dari rasa stress mencari pekerjaan. Selama beberapa hari kuhabiskan dengan pergi ke pantai dan sawah. Tapi, ibarat nabi Yunus yang dipanggil-panggil oleh Tuhan, suara hatiku untuk mencoba melamar ke organisasi nirlaba itu semakin kuat hingga suatu malam akhirnya aku menyerah.

Saat panggilan itu semakin dekat

Aku meminjam komputer milik temanku dan mencoba menyiapkan aplikasi lamaran yang diperlukan. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar sepuluh menit karena ternyata aku sudah membawa flashdisk yang berisikan data-data untuk melamar kerja. Setelah semua tulisan dan surat-surat terkumpul jadi satu dalam email, aku menghela nafas sejenak. “Aku manut deh, Tuhan,” ucapku dalam hati dan kutekan tombol send.

Satu hari tidak ada tanggapan, hari kedua aku menerima sebuah email yang berisikan undangan interview. Aku tidak tahu harus senang atau sedih saat itu, tapi aku mencoba tetap tenang dan mengikuti prosesnya. Waktu itu aku masih tinggal di Jogja jadi wawancara akan dilakukan via Google Hangouts dan menggunakan bahasa Inggris! Sekalipun aku sudah terbiasa bicara dengan bule-bule, tapi hari itu aku gugup, karena wawancara nanti bukan pembicaraan main-main.

Aku pergi mencari warnet dengan koneksi internet yang super cepat karena tidak ingin wawancara nanti terhambat. Saat wawancara dilakukan, aku bertambah gugup karena salah seorang pewawancaraku (yang kelak menjadi atasanku) adalah orang Singapura yang hanya bisa berbahasa Inggris. Enam puluh menit di bilik warnet itu adalah waktu yang paling menegangkan buatku. Setelah wawancara usai, aku merasa lega dan pasrah.

Waktu itu masih tersisa sekitar satu bulan sebelum aku resmi melepas status mahasiswa dan sejujurnya aku khawatir. Aku ingin sekali mendapatkan pekerjaan sebelum aku wisuda supaya tidak membebani orang tuaku yang sudah mengeluarkan biaya banyak sepanjang 22 tahun hidupku. Tapi hari itu belum ada jawaban dari organisasi tempatku melamar kerja.

Saat aku sedang menunggu jawaban itu, sebuah perusahaan media raksasa di Jakarta menelponku dan mengatakan kalau aku lolos psikotes dan harus melakukan wawancara lanjutan di kantornya di Jakarta. Sejujurnya pekerjaan inilah yang aku tunggu-tunggu, tapi entah mengapa hari itu aku tidak ingin bekerja di sana. Aku semakin bulat pada tekadku untuk bekerja di sebuah Non-Profit Organization yang memang sesuai dengan passionku.

Dipanggil menuju Ibukota

Aku ingat betul waktu itu adalah hari Senin ketika aku mengatur teleponku dalam mode silent, sehingga aku tidak tahu kalau ada lima panggilan telepon dari Jakarta. Jam 15:00 aku baru sadar kalau aku ditelpon, dengan panik segera aku menelpon balik dan aku kaget karena organisasi nonprofit tempatku melamar kerja itu memintaku untuk datang besok pagi ke Jakarta.

Dengan segera aku mengiyakan dan bergegas ke stasiun untuk naik kereta malam. Tapi, di luar dugaanku ternyata pihak kantor membelikanku sebuah tiket pesawat untuk ke Jakarta di hari Selasa pagi. Aku malah jadi bingung, antara harus terharu, sedih, atau bahagia. Malam itu aku berlatih wawancara dan menyiapkan portofolio yang perlu kubawa.

Singkatnya aku terbang ke Jakarta dan setibanya di bandara, aku dijemput oleh seorang dari kantor yang kelak menjadi managerku. Aku semakin bingung, kok aku yang pencari kerja malah difasilitasi seperti ini? Sepanjang jalan ke kantor pikiranku bergelora, aku bingung apakah jika diterima aku harus melepas tawaran wawancara di perusahaan besar yang beberapa hari menelponku?

Setelah bertemu dengan project manager dan melakukan wawancara selama beberapa jam, aku diminta untuk menunggu. Kemudian country director memanggilku ke ruangannya. Saat itu aku harus mantap menerima kenyataan. “Kalau diterima, berapapun gajinya akan kuambil”, gumamku dalam hati.

“Selamat ya! Kami memutuskan untuk menerimamu bergabung dengan kami, dan kami senang untuk menyambut anak muda yang memiliki passion kuat menjadi bagian dari pelayanan ini,” ucap sang Ibu direktur. Aku menjabat erat tangannya dan setelah mendengar pemaparannya tentang pekerjaan yang nantinya akan kupegang, aku semakin mantap.

Kububuhkan tanda tanganku di atas surat perjanjian bahwa mulai 1 Desember 2016 aku akan menjadi staff pelayanan dari Our Daily Bread Ministries, sebuah lembaga pelayanan global yang telah berdiri sejak tahun 1938 dan melayani jutaan orang di seluruh dunia dengan berbagai materi yang mengantarkan setiap orang Kristen untuk lebih dekat dengan Tuhan.

Satu bulan setelah itu petualanganku berganti. Dulu aku bertualang dengan menjelajah pulau-pulau, melihat laut dan gunung, tapi kini petualanganku menjadi sebuah penjelajahan dalam dunia maya. Aku bekerja sebagai seorang content developer yang bertugas menulis, mengedit, dan mengisi situs website dengan konten-konten yang menarik. Petualanganku telah berganti, tetapi visi dan misi hidupku tetaplah sama.

Setelah tiga bulan bekerja…..

Tiga bulan telah kulalui dan kini aku menjadi bagian dari jutaan warga Jakarta. Tentu ada suka duka yang kualami, ada proses adaptasi yang harus kulakukan, dan hingga kini pun aku masih belajar banyak hal-hal baru.

Tim kerjaku terdiri dari beberapa orang content-developer yang berlokasi di Tiongkok, Singapura, dan Malaysia. Jadi setiap dua minggu sekali kami melakukan rapat online. Sebagai content-developer Indonesia, aku bertanggung jawab untuk mengisi konten-konten artikel dalam bahasa Indonesia, menerjemahkannya ke bahasa Inggris atau juga sebaliknya.

Satu hal paling berharga yang aku pelajari adalah tentang kecukupan hidup. Ketika dunia mengajarkanku untuk mengejar kelimpahan, Tuhan mengajariku untuk mengejar kecukupan. Sebab, di dalam kecukupanlah aku bisa merasa puas dan bersyukur.

Pekerjaan yang kulakukan ini bukanlah persoalanku menyambung hidup dan membahagiakan orang tua lewat gaji yang kuterima semata. Tetapi,lebih dari itu, pekerjaan ini mengajariku untuk hidup dengan tulus. Ketika aku melihat ke atas, ke orang yang lebih “sukses” tentu aku akan minder, tetapi ketika aku mampu mengucap syukur atas keadaanku sekarang, di situlah aku sedang belajar untuk hidup dalam kedamaian.

Aku percaya bahwa tanggung jawab demi tanggung jawab akan Tuhan berikan tepat pada waktu-Nya. Dan hari ini, ketika Dia memintaku untuk melayani-Nya sebagai seorang penulis, itu bukan tawaran sembarangan. Kelak, kemana Dia menuntunku pergi, ke sana pulalah aku kan menuju.

*aku masih tetap jadi bolang, alias si bocah ilang yang selalu keluyuran setiap akhir pekan 

Banyak Jalan, Banyak Cerita – Jalancerita.com

Aryanto Wijaya
Aryanto Wijaya

Baca Juga:

Petualanganku Menjadi Seorang Content Developer

Tidak terasa, tepat hari ini satu bulan telah berlalu sejak hari pertamaku kerja dimulai. Berpindah kota dari Jogja ke Jakarta bukanlah perkara yang mudah, aku butuh berminggu-minggu untuk melarutkan diriku bersama dengan ritme kota khas metropolitan. Aku memang pernah terpikir untuk kerja di Jakarta saat masih mahasiswa dulu, tapi tak pernah membayangkan juga kalau itu akan jadi kenyataan.

Iklan

5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan

blog2

“Pergi karena semangat, pulang karena rindu.”

Nama Jogja terdengar begitu istimewa, apabila kata itu terucap, tiba-tiba rasa rindu segera mendekap. Seringkali teman-teman bertanya heran, mengapa aku begitu baper dengan Jogja. Apakah ada pengalaman buruk atau manis yang pernah terjadi di sana?

Continue reading “5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan”

Mengawali dengan Semangat, Menutup dengan Manis

Ada awal, juga akhir. Ada suka, juga duka. 

Kadang, akhir tak selalu berakhir suka 

pun awal tak tentu dimulai dengan duka

adalah proses yang menjadikan kita kaya

kaya akan pengalaman, juga kenangan dari orang-orang tercinta

Masih berasa mimpi ketika menyadari kalau waktuku di Jogja kurang dari satu minggu tersisa. Rasa-rasanya baru kemarin memasuki kampus, ospek, kenalan sana-sini, mbribik gebetan, sibuk organisasi, dan sekarang semua itu seolah berjalan begitu cepat tak bersisa.

Satu bulan setelah pengumuman diterima bekerja di Jakarta, ada rasa sukacita yang bercampur aduk dengan sedih. Satu sisi senang karena bekerja, tapi ada rasa sedih karena harus meninggalkan Jogja dengan segudang isinya yang begitu memikat hati. Aku menyadari kalau masa transisi, atau masa perpindahan memang berat, tapi harus dijalani dengan tegar.

Ada satu hal yang membuatku begitu mencintai Jogja setengah mati, sampai-sampai ada teman yang bertanya, “kok lu bisa sebegitunya banget sih sama Jogja?”. Kadang aku pun tak tahu harus menjawab apa, karena rasa cinta itu hanya bisa dirasakan dengan hati, dan sulit dituangkan dalam beragam kata.

Merantau untuk Mengenali Hidup 

Keputusanku untuk pindah ke Jogjakarta empat tahun lalu rasa-rasanya adalah keputusan sepele pada waktu itu. Ada banyak kampus di Bandung, tapi aku memilih Jogja dengan satu alasan, yaitu nyaman. Berbekal kenyamanan itu, Jogja menjadi tempatku berlabuh selama empat tahun.

Berasal dari keluarga broken, membuatku tak menemukan jati diri yang pas semasa sekolah dahulu. Aku minder ketika teman-temanku terkenal dengan pencapaiannya sendiri, sedangkan aku merasa useless dan tak dicintai. Perlahan ketika perkuliahan dimulai, aku tahu kalau merasa rendah diri itu buruk. Alih-alih menyalahkan keadaan, lebih baik aku mulai menggali potensi diri.

Aku lupakan soal minderku, kucoba mulai berorganisasi, menekuni hobbyku dan bergaul dengan lebih banyak orang. Perlahan tapi pasti, pertemuanku dengan orang-orang baru inilah yang menempa karakterku, dari seorang yang lembek menjadi seorang yang kuat. Diperhadapkan dengan berbagai karakter teman mengajariku untuk mengerti orang lain terlebih dahulu ketimbang bersikap egois.

Dari merantau, aku mengenali apa itu yang namanya kangen dengan teman, juga keluarga. Jarak yang terpisah membuatku lebih menghargai suatu pertemuan. Jogja juga mengenalkanku pada apa yang disebut sebagai pertemuan dan perpisahan. Sambilanku sebagai travel guide mengantarku pada pertemuan dengan sahabat-sahabat dari berbagai negara. Ketika sudah dekat dengan mereka, tiba-tiba harus berpisah dan tidak tahu lagi kapan bertemu. Sedih memang, tapi perpisahan ini terjadi supaya aku menghargai arti pertemuan.

Merantau kadang memang membuat nyaman, namun tak selamanya nyaman itu baik untuk kita. Nyaris tak ada yang bertumbuh di zona nyaman selain rasa manja. Hidup itu adil dan memiliki prosesnya sendiri, ketika kita terlalu nyaman di suatu tempat, otomatis akan ada masanya di mana kenyamanan itu akan dicabut.

Tunas harapan yang kecil kini telah tumbuh dengan subur di sebuah pot bernama Jogja, namun pot ini tak lagi cukup untuk memuat akar-akar yang kian memanjang. Tuhan mencabutku dan menempatkanku pada pot baru bernama Jakarta.

Mengawali dengan Semangat, Menutup dengan Manis 

“Manisnya hidup, kita yang tentukan,” tagline dari iklan produk gila. Nampaknya slogan iklan itu ada benarnya juga. Jika hari ini aku memutuskan untuk terlarut dalam duka karena perpisahan, maka rasa manis itu akan berubah menjadi manis yang merusak, tak lagi sehat.

img_0991img_1477img_1534img_1546img_1549img_1592img_7830img_8653

Dulu ketika aku mengawali petualangan untuk empat tahun di Jogja, aku mengawalinya dengan harapan kecil. Kini ketika petualangan itu tuntas, ditutup dengan kenangan manis yang dibentuk dari pertemuan dengan banyak orang. Ada keluarga di KKP yang mengajariku untuk bekerja dengan passion. Keluarga HMPSKom yang mengajariku apa arti dari totalitas bekerja. Keluarga di OnFire yang mengajariku tentang arti pelayanan. Juga seisi rumah kostku yang mengajariku tentang apa itu berbagi rasa dan menerima perbedaan.

Dan…di ujung perjalanan ini, Jogja menjadi terasa begitu manis. Saking manisnya, air mata pun terasa manis. Bukan tangis sedih yang terurai, tapi tangis bahagia, sebuah sukacita karena diberi kesempatan untuk bertemu dan berproses bersama orang-orang pilihan yang luar biasa!

Catatan Student-Staff: Mahasiswa Rasa Karyawan

Kemarin (27/8) kampusku menyelenggarakan wisuda yang lumayan akbar. Tujuh ratus wisudawan dilepas dan siap bekerja atau mungkin masih menganggur. Di antara ketujuh ratus itu ada tiga rekanku yang sedikit banyak telah mewarnai perjalanan sebagai mahasiswa di pojokan kota Jogja. Tapi, tulisan ini dibuat bukan untuk menyanjung, menyelamati atau mencemooh mereka. Tulisan ini hanya sekedar refleksi tentang perjalanan dunia kuliah yang penuh lika-liku juga beban yang terkadang bisa berat, bisa juga ringan.

Flashback kembali ke masa-masa awal jadi maba, masih polos, belum ternodai oleh ritual dusta macam titip absen, tidur di kelas dan bolos kuliah, aku punya impian untuk bisa kuliah sambil bekerja. Buatku sendiri kuliah itu menelan biaya mahal, apalagi di kampus swasta dan jauh dari orang tua. Pengeluaran ini dan itu harus keluar setiap bulannya, hingga niscaya satu juta rupiah pun tidak akan cukup untuk hidup mahasiswa rantau di jaman ini.

Di semester empat, kampusku membuka lowongan pekerjaan sebagai student staff, alias kerja part time. Kantor yang membuka lowongan adalah kantor yang bergerak di bidang partnership juga promotion, di mana tugas kami adalah membranding kampus kepada siswa SMA, juga menguatkan kerjasama internasional dengan perguruan tinggi ataupun institusi lain dalam dan luar negeri.

Melewati segudang tahapan seleksi, terpilihlah enam orang sebagai student staff yang siap untuk dipoles menjadi 100% mahasiswa, 100% juga karyawan.

1. Bukan soal upah atau gaji

CIyeee, karyawan kampus nih ye!” usil teman-teman lainnya. Julukan sebagai karyawan kampus tidak menyakitkan kok, tidak juga membanggakan, intinya adalah biasa saja. Bekerja sebagai student staff, artinya kita di samping belajar akademik selaku mahasiswa, juga bekerja di kantor sesuai dengan jobdesc. Gaji yang diberikan memang tidak terlampau besar, tapi setidaknya cukup untuk tambah-tambah. Tapi, persoalan utama di sini adalah bukan mengenai gaji yang besar atau kecil, namun seberapa besar kita menghargai jerih lelah. 

Gaji yang kecil seakan menamparku kalau inilah realita dunia, cari uang itu susah! Kalau gampang mah tidak akan ada yang namanya tuyul! Aku menyadari, untuk sepeser uang dibutuhkan kerja keras. Terlebih lagi orang tua di kampung halaman yang bekerja banting tulang untuk menguliahkan anaknya. Kecuali orang tuanya sudah kaya meleleh sampai mandi berlian, ya itu lain lagi sih ceritanya.

Naif rasanya ketika mengeluh soal lelahnya kuliah lalu membiarkan diri larut dalam lelah itu dan kuliah menjadi amburadul. Memang sekarang banyak quotes inspiratif tapi kampret yang berseliweran di Instagram soal sekolah bukan kunci utama sukses karena tokoh sukses semacam Thomas Alva Edison dll juga dulu pernah drop out. Bagi yang menjadikan quote semacam itu jadi pembenaran, mungkin mereka sesat pikir. Orang macam Thomas Edison, dll mereka tidak bisa meneruskan pendidikan bukan karena malas! Tapi, karena keadaan yang tidak memungkinkan mereka untuk sekolah. Ada yang memang tingkat kecerdasannya rendah, orang tuanya terlalu miskin, atau juga sakit. Nah, kalau kita yang sakit tidak, IQ jongkok banget juga tidak, juga orang tua masih mampu, lalu menyia-nyiakan kesempatan kuliah hanya karena malas dan yakin hidup sukses, itu sih namanya mimpi.

2. Kehilangan rekan sepermainan

Sepanjang semester, teman sedikit demi sedikit mulai rontok, hanya yang sejati yang bertahan. Kesibukan bekerja mau tidak mau akan menghilangkan waktu hang out dengan teman. Pertemanan secara kuantitas akan menurun drastis ketika kita telah menemukan fokus diri. Jika pertemanan dahulu diukur dari seberapa sering kita kumpul bareng sekarang diukur dari seberapa peduli temanmu ketika kamu butuh bantuan.

Imaji weekend tiba yang harusnya bisa dijadikan waktu tidur di kost, main, atau cicil tugas perlahan akan memudar. Sedikit demi sedikit zona nyaman direnggut dan mau tidak mau harus tetap dijalani. Namun, kehilangan teman sepermainan itu membawa kita pada penemuan teman baru. Teman yang dibentuk dari sebuah kerja keras, dari passion yang dihidupi, bukan sekedar teman karena punya waktu main bersama.

3. Pekerjaan Mulia untuk seorang biasa

Diutus pergi membawa nama besar Universitas bukan hal main-main. Ada tanggung jawab yang harus diemban dengan sungguh-sungguh. Suatu kebanggaan, karena kampus kita memilih kita untuk turut membesarkan namanya.

Terlepas dari segala capek dan bete yang kita alami, dari kantor kita bekerjalah datang ribuan mahasiswa baru yang datang setiap tahunnya. Mereka datang dengan harapan tentang masa depan. Gimana mereka bisa mantap untuk masuk kuliah ketika kita sebagai wakil kampus malah tidak bangga dan maksimal dengan kuliah kita?

Well, pekerjaan sebagai student staff inilah yang menambah nilai hidup kita. Kita belajar detail dari setiap perintah mengarsip yang membosankan. Kita belajar sabar dan senyum ketika dimarahi sekalipun kita merasa tidak salah. Kita belajar tekun dan tanggung jawab ketika ditugasi pergi ke luar, sekalipun hanya satu kilometer dari kampus.

Segala lelah kita akan hilang tatkala kita melihat senyum dan semangat anak-anak sekolah yang mengharap masuk kuliah. Kita tidak hanya menceritakan soal biaya kuliah ataupun fasilitas kampus, tapi kita share tentang sukacita dan tantangan jadi mahasiswa.

Inilah wujud bakti pelayanan kita juga, bukan seberapa sering kita hadir di rumah ibadah, tapi seberapa jauh kita melibatkan Tuhan hadir dalam pekerjaan kita. Ketika kita semangat, tidak cepat marah, dan menciptkan kedamaian, di situ ada Ia yang maha Agung dilibatkan dalam setiap perkara kita.

IMG_8934

Kelak, kesetiaan dalam perkara kecil akan membawa kita pada perkara besar.

Teruntuk rekanku, Silvia Bakti, Yohanes Bobby dan Adelia Putranti, kalian sudah purna tugas di sini, tapi perjalanan kali di kenyataan dunia kerja sesungguhnya baru di mulai.

Teruntuk yang masih setia mengemban tugas, Yashinta, Dicna, Shanty, Efando, Tian, Abdullah, Ancilla, Toni Hasa, Deta Agustina, Deta Anjani, Elmo, Ideo, Karol, Veka, dan Yomon. Perjalanan kalian belum selesai, jangan menyerah karena keadaan.

Great love for you all, karyawan kampus!

Ketika KKN Tak Sekedar Dua SKS

Jalanan di Samigaluh sungguh sepi, tak ada lagi anak muda yang nongkrong bergerombol di minimarket ataupun warung mie ayam di pasar Plono. Papan-papan kayu penunjuk arah telah hilang sempurna. Samigaluh telah kembali ke ritmenya yang sepi dan tenang.

Desember 2015 lalu, kecamatan di utara Kulonprogo ini kedatangan tamu sebanyak 800 orang mahasiswa dari Atma Jaya untuk melakukan KKN  alias Kuliah Kerja Nyata selama satu bulan. Mahasiswa yang hidup di kota mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan atmosfer pedesaan Samigaluh yang terletak di perbukitan Menoreh.

Empat bulan semenjak Kuliah Kerja Nyata (KKN) rampung dilaksanakan, sisa-sisa rasa kangen masih terasa. Selepas KKN, setiap anggota kelompok larut kembali dalam kesibukannya. Ada yang sudah selesai sidang, menanti wisuda, mengejar skripsi, juga ada yang masih kuliah. Ada kelompok lain yang putus hubungan antar anggota, ada pula yang masih berkontak setia.

Eh, ayo ke rumah simbah minggu depan!” celetuk salah satu rekan, dan segera dibalas dengan “Oke!” dari rekan lainnya. Syukur beribu syukur, kelompok kami masih tetap menjaga tali komunikasi meskipun masa KKN telah usai. Bagi kami, sulit untuk membuang begitu saja kenangan selama KKN. Bagaimana tidak, selama satu bulan sejak pagi membuka mata hingga malam mata terpejam kami harus melihat dan tinggal serumah dengan rekan sekelompok.

Kami ditempatkan di rumah keluarga Wagiran, seorang kepala desa Banjarsari yang baiknya bukan main. Rumah Simbah Wagiran terletak di ujung bukit dusun Jumblangan XIV, tak ada tetangga, hanya ada hutan dengan bunyi khas serangganya. Satu bulan kami habiskan disana dengan begitu cepat akibat terlalu menikmati kebersamaan selama KKN.

Jumblangan XIV, Kampung Halaman Kedua Kami

Di kampus, KKN dihargai seharga 2 sks, jauh lebih kecil ketimbang mata kuliah biasa yang umumnya berbobot 3 sks. Walaupun hanya 2 sks, namun KKN jauh lebih ribet ketimbang mata kuliah lainnya. Repotnya KKN sebetulnya bukan karena enggan tinggal di pedesaan, melainkan ada aturan-aturan yang cukup berat serta terkadang koordinasi di kelompok yang tidak rapi.

Selama KKN berlangsung, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus membaur dengan sesama anggota kelompok dan juga induk semang. Bahagia tidaknya kelompok ditentukan dari bagaimana kelompok tersebut memaknai sebuah KKN. Jika antar anggota mementingkan dirinya sendiri, tentu kelompok tersebut akan terjerumus dalam konflik.

Ketika awal dibentuk, masih terjadi jaim di kelompok kami. Pertanyaan “Kamu ya jadi ketua?” langsung segera dibalas dengan “Duh, nggak, jangan aku please. Aku sibuk ,aku gak bisa, aku takut, aku gak berpengalaman, bla bla” . Walaupun, pada akhirnya tetap ada beberapa anggota yang harus ditumbalkan, entah menjadi ketua, bendahara atau sekretaris. Namun, yang jelas ketika jabatan sudah diemban, maka tak ada alasan untuk menolak.

Dari pedukukan Jumblangan XIV kami belajar banyak hal. Di minggu pertama KKN, satu per satu dari delapan anggota kelompok kami diserang kutu sapi. Awalnya hanya gatal di sela-sela jari, kemudian menyebar hingga seluruh tubuh. Praktis, setiap malam kami berkumpul di ruang tamu bukan untuk bergosip tapi saling mengoles salep anti kudis yang didapat dari puskesmas.

Dari penyakit kutu sapi itu kami malah tertawa, saling mengetawai satu sama lain. “Elu sih si Raja Kudis!” , “Enak aja, lu si ratu kudis!” saling tuding siapa orang pertama yang tertular kudis sudah jadi rutinitas wajib selama KKN, walaupun tak ada satupun yang merasa tersinggung akibat tudingan itu.

Dari kutu sapi ternyata ada pelajaran yang bisa kami petik. Ungkapan berani kotor itu baik memang ada benarnya. Jika kami tidak terserang kutu sapi dan harus saling garuk mengagaruk tiap malam, tentu tak ada hal istimewa untuk kami kenang selama KKN berlangsung, mungkin bisa juga kami akan langsung menghilang tatkala KKN ini usai dilakukan.

Satu hal yang menarik adalah, penderitaan akan menjadi sukacita ketika dilalui bersama dan dengan ikhlas. Keterbatasan yang terjadi membuat kami harus saling bergantung, juga memahami satu dengan lainnya.

Keterbatasan juga adalah Guru Terbaik!

Kami berdelapan memiliki latar belakang yang berbeda, ada yang berasal dari kelas ekonomi menengah atas, atau juga orang biasa. Hari pertama tiba di Jumblangan, kami harus membiasakan diri karena kamar mandi menjadi satu dengan kandang ternak, serta posisinya terbuka membuat siapapun yang mandi bisa diintip dengan mudah.

Kamar mandi yang terbatas masih harus dilengkapi dengan air yang tak melulu ada. Ketika air kering, kami harus memanggul ember ke bawah bukit, mandi laksana bidadari kahyangan. Belum lagi setiap malam listrik harus mati dan membuat kami yang gadget addicted harus bertobat dari ketergantungan.

 

Keterbatasan itu seolah tak berarti ketika kami membandingkannya dengan Simbah Ngatilah dan Wagiran. Merekalah sosok orang tua angkat kami selama satu bulan. Mereka rela rumahnya diusik oleh delapan mahasiswa yang bukan cucu kandungnya. Tapi, mereka tak pernah mengeluh akan kehadiran kami, malahan merasa senang walaupun kami hanya bisa berbicara dalam bahasa Jawa sederhana.

Kini, setelah empat bulan KKN berlalu, akhirnya kami bertemu kembali di Jumblangan, kampung halaman kedua kami. Kami paham dan sadar, selepas ini akan sangat sulit untuk sekedar bertemu. Jarak akan memisahkan, waktu akan menjauhkan dan kesibukan akan melunturkan komunikasi. Namun, satu yang kami percaya, kenangan dan pengalaman yang telah terbangun bersama tak kan memudar begitu saja. Kenangan itu akan tetap hidup dan menjadi perenungan kami tatkala ada kesepian ataupun kesukaran melanda!

Dua sks yang pernah dijalani niscaya jadi pengalaman terbaik! Tak ada teori yang mesti dihafal, namun ada keringat yang harus tercucur, ada amarah yang harus dipendam, ada capek yang mesti disembunyikan, juga ada senyum yang mesti tersebar. Semua itu demi sebuah kebersamaan, kini dan seterusnya!

  • Samigaluh, 22 Mei 2016

Kelompok 92: Paimin, Joko Mprid, Kelik, Sukotjo, Waginah, Denok, Ayu, Zubaedah

foto bareng simbah low res
Kelompok 92 KKN 68 UAJY