Arsip

Sebuah baliho besar bertuliskan โ€œAnda Memasuki Kawasan Syariat Islamโ€ terpampang besar tatkala angkutan yang kami naiki bersiap memasuki kota Takengon. Sebelumnya kami berangkat dari Banda Aceh dan membutuhkan waktu nyaris sepuluh jam untuk tiba di Takengon. Berhubung waktu itu adalah bulan Ramadhan, hampir di tiap jam kendaraan kami selalu singgah di masjid-masjid kecil.

Lima seri buku tentang Gajah Mada sudah tuntas kubaca, tapi bukan puas yang kudapat, malah sebuah rasa penasaran. โ€œSebesar apa sih Majapahit itu?โ€ gumamku. Jika aku ingat-ingat kembali pelajaran sejarah dulu, Majapahit selalu disebutkan sebagai kerajaan Hindu termashyur, tak hanya di Jawa bahkan katanya terkenal hingga di Asia. Majapahit jugalah yang kelak menjadi cikal-bakal dari berdirinya Nusantara modern yang kini kita kenal dengan nama Indonesia.

Bagi seorang pekerja kantoran, tanggal merah di hari Senin adalah suatu sukacita yang amat besar. Akhir pekan yang lebih panjang satu hari itu adalah momen yang amat berharga untuk dilewatkan begitu saja. Alih-alih melewatkan hari libur dengan tidur lebih lama, aku memilih untuk bangun lebih awal dan memburu halimun pagi yang tentu saja mustahil untuk ditemukan di tengah padatnya Jakarta.

  Siang bolong nan panas tidak menyurutkan niatku untuk berjalan-jalan di tepi pantai. Hempasan ombak dan aroma pantai adalah obat yang manjur untuk memanjakan mata yang sehari-harinya berkutat di depan laptop. Destinasi yang kutuju hari itu adalah pantai Teluk Penyu, sebuah pantai berpasir hitam yang konon katanya menyimpan cerita-cerita misteri.

Momen senja baru saja berlalu. Semburat jingga di langit telah tertutup oleh gelapnya malam. Dari kejauhan, sorot lampu yang terpancar lokomotif semakin mendekat. Lama-lama makin terang dan suara gesekan antara besi dengan besi pun semakin terdengar. Puluhan penumpang yang tadinya duduk-duduk santai jadi bergegas menyiapkan diri. Kereta yang akan mengantar mereka menuju Ibukota akan segera datang.