Sumatra Overland Journey (8) |Ganja di Tanah Syariat

sampul

Sebuah baliho besar bertuliskan “Anda Memasuki Kawasan Syariat Islam” terpampang besar tatkala angkutan yang kami naiki bersiap memasuki kota Takengon. Sebelumnya kami berangkat dari Banda Aceh dan membutuhkan waktu nyaris sepuluh jam untuk tiba di Takengon. Berhubung waktu itu adalah bulan Ramadhan, hampir di tiap jam kendaraan kami selalu singgah di masjid-masjid kecil.

Continue reading “Sumatra Overland Journey (8) |Ganja di Tanah Syariat”

Trowulan, Jejak Bisu Pudarnya Majapahit

pres

Lima seri buku tentang Gajah Mada sudah tuntas kubaca, tapi bukan puas yang kudapat, malah sebuah rasa penasaran. “Sebesar apa sih Majapahit itu?” gumamku. Jika aku ingat-ingat kembali pelajaran sejarah dulu, Majapahit selalu disebutkan sebagai kerajaan Hindu termashyur, tak hanya di Jawa bahkan katanya terkenal hingga di Asia. Majapahit jugalah yang kelak menjadi cikal-bakal dari berdirinya Nusantara modern yang kini kita kenal dengan nama Indonesia.

Kisah Majapahit ini begitu menarik buatku, ia tidak hanya berkisah tentang politik suatu kerajaan, tapi juga tentang kecanggihan teknologi, kegagahan pasukan, keagungan raja, hingga kisah asmara yang berujung pada tragedi berdarah. Kisah cinta antara Hayam Wuruk dengan seorang putri Sunda yang berujung pada pesta perkawinan ternyata harus diakhiri dengan meletusnya perang Bubat. Gajah Mada dituding sebagai penyebab terjadinya perang yang merusakkan hubungan antara Majapahit dan Sunda hingga akhirnya ia pun diasingkan. Kerajaan sempat kewalahan, jadi tak lama setelahnya Gajah Mada kembali dipanggil untuk menjabat sebagai Mahapatih.

Selain Gajah Mada, nama kitab Negarakertagama, Sutasoma, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, itu pun berasal dari Majapahit. Warisan non-fisik dari Majapahit itu masih tetap lestari setidaknya sampai saat ini. Tapi, aku kemudian bertanya-tanya, jika warisan non-fisiknya masih lestari, bagaimana dengan warisan fisik dari Majapahit itu sendiri? Apakah ia sudah sepenuhnya sirna dan dilupakan? Atau, masihkah ia berdiri tegak dan menjadi saksi bisu dari perjalanan bangsa ini?

Pertanyaan itulah yang membawaku pergi menjelajah 300 kilometer jauhnya ke arah timur.

Ekspedisi menuju Trowulan

Malam itu aku menanti bus patas di pinggiran Jalan Solo yang akan membawaku ke Surabaya. Tak sulit untuk bepergian dari Jogja ke Surabaya karena bus selalu tersedia 24 jam non-stop. Sebenarnya ada beberapa pilihan bus yang bisa dinaiki, namun rute Surabaya-Jogja adalah salah satu rute terganas di Jawa. Pasalnya, apapun perusahaan otobisnya, ugal-ugalan adalah tradisi tiada henti yang terus lestari sekalipun deretan peristiwa kecelakaan sering muncul di surat kabar.

Lima belas menit menanti, bus yang kutunggu akhirnya tiba. Bus patas EKA seharga Rp 100.000,- plus makan malam gratis menjadi tungganganku selama tujuh jam ke depan. Sepanjang jalan Jogja hingga Solo bus melaju santai. Tak ada adegan balapan ala Fast and Furious di sini, semua terasa begitu damai. Tapi, kedamaian ini tidak abadi. Selepas melewati Solo, jalan yang semula dua lajur berubah menjadi satu dan di sinilah adegan balapan dimulai.

Pendingin udara sengaja diturunkan suhunya sehingga beberapa penumpang akhirnya terlelap dalam tidur. Kesempatan ini segera digunakan sang sopir untuk memulai atraksinya. Dia melibas setiap kendaraan di depannya. Tak peduli jalanan kosong atau tidak, yang penting gas tetap ditancap. Aku merasa seperti sedang dalam perlombaan menuju surga. Bus bergetar hebat ketika gagal menyalip dan terperosok ke bahu jalan. Sebagian penumpang yang masih terjaga mengeratkan pegangannya kepada besi di samping kaca.

Drama mengerikan itu akhirnya berakhir ketika pukul 04:00 bus memasuki area terminal Bungurasih, Sidoarjo. Tujuanku sebenarnya adalah ke Trowulan, tapi karena ada beberapa teman yang ingin ikut denganku maka aku turun di Sidoarjo, lalu melanjutkan ke Surabaya terlebih dahulu sebelum kembali bertolak ke Trowulan.

Pukul 08:00 ketika rombongan siap, kami berkendara melewati jalan utama menuju Trowulan. Cukup was-was mengendarai motor di jalan utama Surabaya-Mojokerto ini, pasalnya bus-bus berukuran besar itu tidak peduli dengan kehadiran motor. Jika mereka merasa sudah waktunya untuk tancap gas, motor hanyalah butiran debu di mata mereka, bahkan sehari setelah perjalanan itu aku membaca koran lokal yang menyebutkan baru saja terjadi tabrakan bus dan motor di situ.

Trowulan yang merana

Trowulan secara administratif terletak di jalan raya Jombang – Surabaya tepatnya di kabupaten Mojokerto. Posisinya strategis, tepat di jalan utama. Tapi, Trowulan tidaklah setenar Borobudur yang digandrungi ribuan turis setiap harinya. Ketika tiba di sana, Trowulan hanyalah sebuah desa yang cukup gersang dengan banyak pabrik batu bata di tiap sudutnya.

Jalanan berlubang mengiringi perjalan kami menjelajah situs-situs peninggalan Majapahit. Situs pertama yang kami kunjungi adalah Candi Tikus, tapi kondisinya cukup memprihatinkan. Pemerintah berusaha memugarnya menjadi lebih baik dengan melakukan renovasi di beberapa sudut candi. Tak banyak informasi yang kudapatkan di Candi Tikus, jadi perjalanan kembali dilanjutkan.

IMG_1887
Tumpukan batu bata, konon katanya ini adalah candi yang hancur dan saat ini sedang dipugar. 

Sepanjang jalan mengitari Trowulan, tak tampak ada semangat turisme yang dihidupkan di sini. Bubungan asap hitam pekat dari pabrik batu bata mewarnai perjalanan kami mengitari Trowulan. Tak tampak penunjuk arah yang jelas hingga kami harus berhenti beberapa kali untuk bertanya kepada warga mengenai situs-situs peninggalan Majapahit.

Sisa-sisa warisan fisik Majapahit yang masih berdiri megah adalah gapura Bajang Ratu. Gapura ini dibuat dari batu bata merah yang dibangun tinggi menjulang. Konon katanya, dulu, fungsi dari gapura ini adalah sebagai gerbang masuk ke area kotaraja, atau wilayah utama keraton Majapahit. Tapi, tidak disebutkan jelas mengenai kapan persisnya gapura ini dibangun.

Berdasarkan catatan resmi dari Dinas Purbakala, gapura Bajang Ratu pernah mengalami pemugaran oleh pemerintah kolonial Belanda, namun tidak ditemukan catatan yang pasti mengenai kapan dan berapa kali pemugaran itu dilakukan.

IMG_1920
Gapura Bajang Ratu

Jika melihat gapura Bajang Ratu, para penikmat sejarah maupun leluhur Majapahit mungkin bisa bernafas sedikit lega karena bangunan ini masih cukup terawat. Di tengah teriknya siang itu, pohon trembesi di pelataran gapura memberi keteduhan bagi turis-turis lokal yang enggan berfoto karena panas. Aku membaur dengan turis-turis itu, dan seraya meneduhkan diri di bawah pohon trembesi itu, pikiranku mencoba berkelana ke lima ratus tahun silam ketika Majapahit tengah berdaya. Pikiranku berimajinasi seperti apakah kutaraja Majapahit kala itu. Bagaimana penampakan wanita-wanita pada masa itu, apakah mereka jelita bak negeri dongeng, bagaimana sistem sosial waktu itu, tapi pertanyaanku itu tidak memiliki jawaban apapun selain daripada bangunan bata merah di depan mataku yang menjadi saksi bisu.

Media-media nasional pernah melakukan liputan tentang situs-situs di Trowulan dan salah satu isi liputannya adalah keresahan dari menjamurnya pabrik batu bata yang dapat mengancam keberadaan situs-situs lainnya. Beberapa situs-situs yang tidak berbentuk bahkan digerogoti oleh warga dengan cara mencabut batu-batu bata di situs itu kemudian menjualnya.

Terancamnya situs Majapahit itu sebenarnya bukan semata-mata ulah warga sendiri, tapi pemerintah juga kurang sigap memberikan sosialisasi kepada masyarakat lokal tentang berharganya warisan itu. Atau, bisa jadi kita jugalah yang turut andil dalam rusak dan hilangnya situs-situs sejarah itu karena kita tidak mau peduli dengan sejarah bangsa ini.

Kembali aku mengingat kisah-kisah tentang keagungan Majapahit di masa lampau. Tapi, ingatanku itu perlahan ambyar ketika mataku memandang realita. Keraton nan megah itu telah sirna, tak berjejak. Satu-satunya jejak kebesaran dan keluasan keraton itu adalah kolam Segaran yang berarti samudera buatan. Kolam itu adalah kolam raksasa yang dibuat oleh pemerintah kerajaan waktu itu. Hinga kini kolam Segaran masih bisa dinikmati. Walau airnya keruh, tapi warga sekitar gemar duduk berlama-lama di tepiannya. Ada yang berpacaran, tapi tak sedikit pula yang menanti pancingannya digigit oleh ikan.

Menutup perjalanan hari itu, aku teringat sebuah perkataan yang mengatakan, “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya.” Tapi, setelah melihat Trowulan, aku menjadi skeptis. Apakah kita adalah bangsa yang besar itu, atau sebaliknya? Atau, justru pemikirankulah yang salah?

Ah, sudahlah, lupakan. Seiring hujan yang tumpah ke bumi, saat itu jugalah aku meninggalkan bumi Trowulan dengan imaji akan kemashyuran dari Majapahit.

 

Mojokerto, 29 April 2015 

Ditulis kembali menjadi kepingan kisah di Jakarta, 28 April 2017

IMG_1948
Namo Buddhaya. Semoga semua makhluk berbahagia. 09

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Memburu Halimun Pagi Tanah Priangan

pres1

Bagi seorang pekerja kantoran, tanggal merah di hari Senin adalah suatu sukacita yang amat besar. Akhir pekan yang lebih panjang satu hari itu adalah momen yang amat berharga untuk dilewatkan begitu saja. Alih-alih melewatkan hari libur dengan tidur lebih lama, aku memilih untuk bangun lebih awal dan memburu halimun pagi yang tentu saja mustahil untuk ditemukan di tengah padatnya Jakarta.

“Tat, besok pagi lu pergi ke mana eh?” tanyaku di hari Minggu malam. “Gak kemana-mana, mau pergi ke mana emang?” sahut temanku itu. “Pergi yuk, motret gitu ke mana,” jawabku. Saat itu pukul 22:30, bermula dari pembicaraan singkat di atas sepeda motor, lima jam kemudian kami kembali berada di jalanan untuk memburu kabut pagi di pegunungan Bandung selatan.

uo
Blogger and Vlogger

Tidak terlalu sulit untuk mengajak temanku itu untuk pergi. Tugas akhirnya yang belum selesai bukan jadi alasan dia untuk menolak ajakanku, pasalnya, karena hobby temanku itu adalah memotret dan membuat vlog maka ajakan jalan-jalan ini cukup menarik buatnya. Tanpa banyak persiapan, pukul 03:30 kami bertemu kembali dan memacu sepeda motor membelah jalanan kota Bandung yang masih amat sepi. Tujuan kami pagi itu adalah kawasan Ciwidey, Bandung Selatan yang berjarak sekitar 45 kilometer dari pusat kota.

Melibas jalanan yang sepi, kami memacu sepeda motor pada kecepatan konstan di sekitar 80 kilometer per jam dengan harapan bisa tiba di lokasi tepat sebelum matahari terbit. Sekalipun kondisi lalu lintas mendukung, mengendarai motor dengan kecepatan setinggi itu tetap riskan karena banyak sekali lubang-lubang menganga yang tidak terlihat di jalanan. Beberapa kali sepeda motor kami harus melibas lubang-lubang itu, untung saja tidak ada insiden apapun yang terjadi.

Perjalanan subuh-subuh ke Ciwidey mengingatkanku akan masa-masa sekolah lima tahun silam. Waktu itu pelajaran olahraga diselenggarakan setiap hari Jumat pukul 05:30, jadi, paling lambat pukul 04:45 aku sudah harus mengayuh sepeda supaya tidak terlambat tiba di sekolah. Namun, udara Bandung yang dingin selalu menjadi godaan terbesar untuk menggowes sepeda pagi-pagi, alih-alih bersemangat, aku malah mengulur waktu untuk tidak beranjak dari balik selimut. Akibatnya, tak jarang aku pun terlambat datang ke sekolah.

Tahun-tahun yang berlalu membuat Bandung kian padat,nampaknya itu jugalah yang membuat udara Bandung tidak sedingin dulu, setidaknya itu yang kurasakan. Sepanjang jalan hingga memasuki daerah Soreang, udara terasa tidak terlalu dingin hingga kami mulai melalui jalanan yang menanjak. Lambat laun suhu udara menurun. Tepat di hutan masuk area Cimanggu, udara dingin terasa begitu menusuk dan membuat buku-buku jari kami yang tak ditutupi sarung tangan menjadi kaku.

Menanti mentari terbit dari tepian telaga

Kami beruntung karena waktu masih menunjukkan pukul 04:30. Destinasi pertama yang kami pilih adalah Situ Patenggang, sebuah danau alami yang terletak di tengah hamparan perkebunan teh. Berhubung hari masih subuh, tidak ada penjaga gerbang masuk, jadi kami tidak perlu membayar retribusi tiket masuk.

Sepengetahuanku, Situ Patenggang, layaknya kisah-kisah tentang tempat lain di Indonesia, juga ada cerita cinta yang menjadi latar belakangnya. Di tengah-tengah danau terdapat sebuah batu cinta yang konon katanya siapa saja yang berperahu menuju tempat itu akan awet langgeng atau menemukan pasangan. Tapi, mitos tetaplah mitos. Sewaktu duduk di bangku SMA dulu aku pernah menaiki perahu bebek mengitari batu cinta itu, tapi tetap saja sampai detik ini masih sendiri.

Menikmati Situ Patenggang di pagi-pagi buta adalah sensasi tersendiri. Suasana begitu tenang, tidak ada suara kendaraan bermotor ataupun suara manusia. Bintang-bintang di langit bertaburan begitu cerah, sementara melodi alam berupa suara kodok memecah keheningan pagi itu.

IMG_0907
Telaga Patenggang, 05:30 WIB

Aku berjalan ke tepian danau dan berdiam diri sejenak, sementara itu temanku sibuk dengan kameranya sendiri. Dia merekam setiap suasana untuk kemudian dijadikan sebagai video. Kami berdua memiliki cara berbeda dalam menikmati alam, jika temanku sibuk melakukan dokumentasi, aku memilih untuk duduk, memejamkan mata, dan membiarkan suasana pagi yang syahdu itu merasuk ke dalam jiwaku.

Seiring waktu yang terus beranjak, langit yang semula gulita mulai memancarkan semburat cahaya terangnya. Bintang-bintang yang semula berpendar di angkasa mulai sirna tertutup oleh cahaya lebih terang, sementara itu beberapa rombongan turis lokal mulai datang memecah suasana hening.

IMG_0969
Halimun pagi di tengah hamparan kebun teh

“Hayu, mau lanjut ke Ranca Upas?” tanya temanku. Kujawab dengan anggukan setuju. Tatkala kami kembali berkendara, sesekali kami berhenti untuk memandang halimun yang merayap turun di tengah hamparan kebun teh. Halimun-halimun itu mengalir lembut dari punggung-punggung bukit. Halimun pagi begitu istimewa buatku karena Jakarta tak memiliki halimun semacam ini, yang ada hanyalah asap pekat dari kendaraan bermotor yang sejak pagi telah mengotori atmosfer.

Berlumpur-ria di Ranca Upas

Destinasi kedua kami adalah Ranca Upas, sebuah bumi perkemahan yang terkenal karena terdapat rusa-rusa jinak di dalamnya. Namun kami cukup kecewa karena setibanya di lokasi, bumi perkemahan ini lebih cocok seperti kamp pengungsian. Tenda–tenda tersebar di seluruh lokasi dan saling berdekatan. Lalu, mobil-mobil ber-nopol “B” memenuhi jalanan utama dan lahan parkir. Nampaknya hari itu Ranca Upas tengah kebanjiran tamu.

UPAS2
Rusa Ranca Upas

Ramainya Ranca Upas hari itu juga menjadi berkah bagi warga sekitar. Penjual cireng, cilok, batagor, siomay, telur gulung, nasi timbel, dan kopi telah siap sedia. Mereka menyapa setiap pengunjung Ranca Upas, bahkan ada pula yang menjajakan dagangannya ke tiap-tiap tenda. Pemandangan itu membuatku mengernyit, “Ini sih bukan camping, wong segala ada,” gumamku dalam hati.

Tapi, terlepas dari ramainya pengunjung, ada beberapa spot yang tetap nyaman untuk dinikmati karena tak banyak pengunjung yang mau menuju ke sana. Berjalanlah agak ke ujung, ke arah padang rumput, namun siap sedialah karena kaki kita akan segera terjerembab dalam lumpur pekat. Cukup sulit berjalan dalam lumpur yang tingginya semata kaki ini. Hal ini terbukti dari banyaknya sandal-sandal yang ‘nyangkut’ di lumpur lalu ditinggalkan pemiliknya begitu saja.

Rumput-rumput liar di padang ini masih dibasahi oleh tetesan embun. Embun-embun itu mewujud dalam butiran-butiran kecil air yang amat cantik jika kita amati dengan seksama. Temanku segera mengeluarkan senjata andalannya, kamera, kemudian menjepret setiap tetesan embun itu dengan amat detail.

Kaki kami yang dipenuhi lumpur membuat kami cukup sulit untuk menyebrang sebuah jembatan kayu. Lumpur yang menempe membuat jalan menjadi sangat licin, terpeleset sedikit saja maka kami bisa tercebur ke dalam sungai kecil. Tapi, walaupun lumpur itu menyulitkan kami berjalan, tapi setidaknya kami bersyukur karena masih bisa berkotor-ria dengan alam. Kami tidak tahu kapan lagi sang Pencipta memberi kami kesempatan untuk menikmati alam hasil karya-Nya yang agung itu.

 

Padang rumput di Ranca Upas menurutku adalah spot terbaik untuk menghirup aroma pagi. Sejauh mata memandang, semuanya hijau, lalu bukit-bukit menjulang sebagai latar belakang. Setelah dipuaskan oleh indahnya panorama alam, kami menutup perjalanan kami dengan dua mangkuk indomie rebus yang kami pesan di sebuah warung. Semangkuk mie rebus di tengah udara dingin pegunungan adalah kenikmatan yang tidak ada taranya. Ditambah segelas teh manis panas dan gorengan, percayalah, pagi yang kami lewatkan itu adalah salah satu dari pagi terindah yang pernah ada.

Teluk Penyu: Paduan Antara Samudera dan Masa Lalu

Siang bolong nan panas tidak menyurutkan niatku untuk berjalan-jalan di tepi pantai. Hempasan ombak dan aroma pantai adalah obat yang manjur untuk memanjakan mata yang sehari-harinya berkutat di depan laptop. Destinasi yang kutuju hari itu adalah pantai Teluk Penyu, sebuah pantai berpasir hitam yang konon katanya menyimpan cerita-cerita misteri.

Saat motor yang kami tumpangi melintas di tepian pantai, beberapa petugas parkir mengarahkan kami untuk segera memarkirkan motor. Tapi kami tidak menghiraukan mereka, motor tetap kami pacu hingga menemukan bagian pantai yang sepi dari pengunjung. Setelah mendapatkan tempat yang kami kira nyaman, kami menepikan motor dan memesan sebuah degan utuh. Sambil meneguk segarnya air kelapa, kami memandang lautan nan luas yang menghampar di depan pandangan kami.

Panas bukan alasan untuk tidak bermain air

Jam menunjukkan pukul sebelas dan matahari bersinar dengan begitu terik. Bocah-bocah kecil tak peduli dengan panasnya matahari, mereka berlari menghambur ke arah ombak yang datang. Sementara itu, beberapa perempuan tampak ragu untuk berjalan lebih lanjut karena panas yang menyengat.

Bangunan yang menjorok ke tengah laut
Keseharian di Teluk Penyu, memancing

Di pantai Teluk Penyu, ada bangunan menyerupai jembatan yang menjorok ke tengah laut. Bangunan panjang itu bukanlah jembatan karena tengah-tengahnya bolong, tapi pengunjung masih bisa berjalan melewati tepiannya. Sekolompok bapak-bapak memanfaatkan bangungan itu untuk memancing. Mereka duduk begitu teduh, tak peduli seberapa teriknya matahari. Fokus mereka hanyalah satu, menanti umpan digigit oleh ikan-ikan.

Aku coba untuk duduk di dekat bapak-bapak itu sambil sesekali bertegur sapa dengan mereka. Karena lupa membawa tabir surya, hanya satu jam berselang, kulitku terbakar seketika. Matahari pantai tidak begitu bersahabat buat orang yang sehari-harinya duduk di dalam kantor.

Benteng Pendem, sebuah lorong waktu 

Masih di kawasan pantai Teluk Penyu, terdapat sebuah benteng nan luas yang merupakan peninggalan Belanda. Konon katanya benteng tersebut angker dan menyimpan cerita misteri. Bahkan ada juga yang berkata kalau dari benteng itu ada terowongan khusus yang terhubung ke pulau Nusakambangan.

Supaya rasa penasaran ini terpuaskan, kusambangilah benteng ini. Setelah membayar retribusi sebesar Rp 5.000,- per orang, langkah kakiku berjalan masuk ke beberapa bagian utama benteng. Benteng Pendem umurnya telah melebihi satu abad, maka tak heran jika benteng ini memiliki begitu banyak kisah-kisahnya.

Benteng Pendem mulai dibangun pada abad ke-19 dan selesai pengerjaannya pada pertengahan tahun 1879. Dulu, nama Benteng Pendem adalah Kusbatterij op de Landtong te Tjilacap yang artinya adalah “benteng yang ada di atas tanah, menjorok  ke laut, dan menyerupai lidah.”

Benteng Pendem adalah garis pertahanan Belanda di pesisir selatan Jawa. Tapi, pada tahun 1942, Belanda tidak mampu menahan serangan dari serdadu Jepang. Alhasil, sejak saat itu Benteng Pendem jatuh ke tangan Jepang. Tiga tahun setelahnya, Benteng Pendem jatuh kembali ke tangan Belanda.

Berdasarkan referensi tertulis, dikatakan kalau hingga tahun 1952, Benteng Pendem sempat dijadikan lokasi untuk melatih tentara oleh pemerintah Indonesia. Barulah belakangan ini Benteng Pendem mulai dipugar dan menjadi objek wisata.

Aura misteri abad lampau 

Barak

Meskipun hari itu matahari sedang cerah-cerahnya, tapi cahayanya tidak mampu menembus beberapa bagian dari Benteng Pendem. Benteng nan luas ini terbagi menjadi beberapa bagian, ada barak, tempat persenjataan, tempat meriam, kolam , juga penjara. Karena waktu yang terbatas, aku hanya sempat berkunjung ke bagian barak dan penjara. Dua bagian yang kukunjungi membuat bulu kuduk sedikit bergidik seraya membayangkan apa yang sejatinya terjadi di benteng ini di abad yang lampau.

Papan penunjuk arah yang telah usang

Bagian barak adalah bangunan yang pertama kali kita jumpai jika berjalan kaki mengikuti papan penunjuk arah. Bangunan dengan arsitektur khas Eropa ini berdiri memanjang. Pintu masuknya berbentuk setengah lingkaran, mirip seperti terowongan kereta api. Di bagian dalamnya hanyalah ada ruangan yang lebar dan berdinding batu bata. Bagian barak ini tidak terlalu menarik menurutku, jadi kulanjutkan untuk maju ke bagian penjara.

Penjara, mendengar namanya saja otakku mulai berpikir secara liar. Aku membayangkan seperti apa kondisi orang-orang yang dulu dijebloskan dalam penjara itu. Apakah ada dari mereka yang meninggal lalu arwahnya gentayangan? Pikirku dalam hati.

salah satu ruangan penjara

Bagian penjara ini merupakan bangunan yang terbuat dari bata merah dan cukup tinggi. Ada beberapa pintu utama, dan lorong-lorong kecil di dalamnya. Awalnya aku berniat menjelajah ke seluruh lorong di dalamnya, tapi harus kuakui nyaliku tiba-tiba menciut. Ketika aku memasuki bagian dalam, suasana begitu lembab dan gelap gulita, lalu tanah yang kupijak ternyata lumpur. Karena tidak menyewa pemandu, aku pikir perjalanan merangsek ke lorong lebih jauh lagi bukanlah ide yang baik.

Jadi, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di depan bangunan penjara ini. Seingatku, dulu aku pernah melihat tayangan televisi yang menjadikan Benteng Pendem sebagai tempat untuk melakukan uji nyali. Hari itu aku memang tidak melakukan uji nyali, tapi perasaanku seolah seperti akulah yang menjadi peserta dari tayangan uji nyali itu.

Mas, koin mas!
Salah satu sudut benteng yang terletak di pinggir kolam

Sekitar dua jam kuhabiskan untuk mengelilingi Benteng Pendem yang luas ini. Setelah rasa penasaran dipuaskan, aku berjalan-jalan ke bagian kolam yang airnya ternyata bening. Ada sekitar lima bocah yang dengan segera menceburkan diri ke dalam air. Lalu mereka berteriak, “Mas, uang koinnya, lempar aja ke sini,” pinta mereka. Kurogoh tasku, lalu sesuai permintaan mereka, kulemparkan lima buah koin lima ratusan ke arah kolam. Dengan cekatan mereka segera menyelam, dan tak sampai satu menit, koin-koin itu sudah ada di genggaman mereka.

Menutup perjalanan hari itu, aku duduk-duduk sejenak di pinggiran benteng. Pikiranku membayangkan, jika aku bisa memiliki mesin waktu, aku ingin pergi ke abad 20, ke masa ketika Benteng Pendem masih berfungsi sebagai benteng pertahanan Belanda. Apakah hal-hal seram yang aku bayangkan itu memang nyata? Entahlah, aku tidak tahu jawabannya. Tapi, yang jelas, terkadang sejarah memang ditakdirkan untuk selalu menjadi misteri.

 

Cilacap, 15 April 2017

Kereta Api Serayu, 16 April 2017: Kenikmatan Perjalanan di Atas Gerbong Ekonomi

WhatsApp Image 2017-04-21 at 2.50.33 PM (1)Momen senja baru saja berlalu. Semburat keemasan di langit telah tertutup oleh gelapnya malam yang baru saja dimulai. Dari kejauhan, sebuah cahaya sorot yang terpancar dari lokomotif semakin mendekat. Tatkala kereta itu hampir tiba di stasiun, suara gesekan antara besi dengan besi pun semakin terdengar. Puluhan penumpang yang semula duduk santai bergegas untuk berdiri dan menanti di pinggiran peron.

Hari itu, kereta api Serayu Malam baru saja memulai perjalanan dinasnya yang lumayan panjang. Kereta diberangkatkan dari stasiun Purwokerto tepat pukul 17:00. Sebelum tiba di tujuan akhir, Jakarta Pasar Senen, kereta ini harus melibas malam sepanjang 12 jam, melewati jalur berkelok dan menanjak dari Banjar hingga Purwakarta.

Ketika kereta telah berhenti dengan sempurna di peron 2 stasiun Sidareja, aku bergegas mencari posisi gerbong nomor lima yang ada di bagian belakang. Berhubung hari itu adalah akhir dari libur Paskah, maka seluruh kursi kereta telah terisi penuh. Seharusnya aku duduk di kursi nomor 3E yang berada persis di sebelah jendela. Tapi, seorang perempuan telah terlebih dahulu duduk di tempat itu dan memohon supaya dia boleh duduk di situ sepanjang perjalanan dan aku memilih untuk mengalah.

WhatsApp Image 2017-04-21 at 2.50.33 PM (3)
Senja di stasiun Sidareja, Jawa Tengah

Setelah proses naik turun penumpang rampung, kereta kembali bertolak ke arah barat. Suara berisik dari bawah gerbong berpadu dengan tawa dan teriakan dari puluhan bapak-bapak yang sepertinya adalah satu rombongan. Dalam bahasa Jawa ngapak, mereka bercanda tentang banyak hal. Sesekali tawa mereka semakin meledak tatkala pramugari kereta datang menjajakan makanan. Pramugari itu hanya tersenyum kecut ketika bapak-bapak tadi melayangkan banyak rayuan kepadanya.

Dua jam berlalu, beberapa penumpang termasuk kelompok bapak-bapak itu memilih untuk tidur. Ketika keadaan gerbong sedikit lebih tenang, aku menyapa seorang penumpang yang duduk di sebelahku. Seperti biasa, setiap obrolan yang dilakukan di atas kereta selalu dimulai dengan pertayaan, “Turun di mana pak?” Kalimat itu adalah kalimat sakti. Apabila lawan bicara adalah orang yang ramah, buntut dari kalimat itu bisa menghasilkan obrolan nan panjang dan ngalor-ngidul. Tapi, apabila lawan bicara ternyata adalah orang yang irit ngomong, obrolan akan terasa kaku.

IMG_3334
Kereta Api Serayu relasi Purwokerto – Kiaracondong – Pasar Senen saat berhenti silang di stasiun Ciawi, Tasikmalaya, Jawa Barat

Penumpang sebelahku itu bernama Pak Supri

“Nanti dari Senen, rumahnya mana mas?” tanyanya kepadaku. “Saya di Kalideres pak, masih lumayan jauh dari Senen,” jawabku. Penumpang sebelahku itu bernama pak Supri. Dengan nada bicara bersemangat dia bercerita kalau dia bekerja sebagai cleaning service di sebuah gereja di kawasan Jakarta Utara selama lebih dari 15 tahun.

“Alhamdullilah mas, tapi saya Muslim kok,” tambahnya sambil terkekek. Bekerja di tempat yang secara jelas berbeda iman dari kepercayaan yang dianutnya, Pak Supri tidak merasa khawatir. “Saya betah di sana mas, sudah punya anak tiga, dan gak ada pikiran mau pindah kerjaan,” katanya lagi.

Sambil mengobrol, tangan Pak Supri tidak pernah lepas dari sebuah telepon pintar yang digenggamnya. Sembari telepon itu diisi daya, puluhan notifikasi saling bersahutan. Kelihatan olehku kalau nyaris setiap detik selalu ada pesan masuk di Whatsappnya. Tidak ketinggalan, Facebook dan Instagramnya juga memunculkan notifikasi yang bersahut-sahutan.

Menyadari kalau aku memperhatikannya, dia kemudian tertawa. “Saya sih gak bisa lepas dari hape mas. Selalu aja ada yang nyari. Tapi alhamdullilah jadi punya banyak teman,” katanya. Kemudian dia memamerkan beberapa orang yang dia kenal di Facebook, mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, hingga orang-orang luar negeri kenalannya diperlihatkan padaku.

WhatsApp Image 2017-04-21 at 2.59.49 PM
Bersama pak Supri

Teknologi telah merambah semua orang, tak hanya anak muda, bahkan orangtua seperti Pak Supri pun tidak mau kalau update dibanding anak muda. Sesekali dia mengambil foto dengan kamera depannya, lalu mengirimkannya ke grup Whatsapp keluarganya yang terdiri dari dia, istri, dan anaknya yang pertama.

Anak Pak Supri yang pertama telah bekerja di Padang, Sumatra Barat sedangkan anak keduanya baru duduk di kelas 2 SD, dan anak ketiganya masih balita. “Loh kok beda umur anak pertama sama keduanya jauh amat pak?” tanyaku. “Iya mas, abis kerja di Jakarta toh, jadi jarang pulang, susah bikin!” jawabnya sambil tertawa.

Tidak ada opsi ‘tidur cantik’ di kereta ekonomi

Pukul 21:30 ketika kereta api telah melewati Stasiun Tasikmalaya, Pak Supri memutuskan untuk tidur. Karena tak lagi mengobrol, aku mulai mengeluarkan kamera handphone dan mengambil beberapa jepretan dari penumpang yang tertidur.

WhatsApp Image 2017-04-21 at 2.50.33 PM (2)
Penumpang di sebelah kiriku

Posisi kursi yang tegak membuat penumpang harus kreatif untuk bisa tidur. Ada yang membawa bantal, ada yang saling bersandar dengan pasangannya, ada pula yang tidur dengan mengangkat kaki dan mulutnya mangap. Bagi yang baru pertama kali menaiki kereta ekonomi, bisa jadi hal ini menjadi masalah. Tapi bagi kebanyakan warga, kursi yang tegak, perjalanan panjang, dan penuh sesak bukan masalah selama harga tiket murah bisa membawa mereka bertemu dengan orang tercinta.

Beberapa tahun lalu, sebelum pihak kereta api melakukan reformasi pelayanan, penumpang masih diperbolehkan untuk tidur bergeletakan di lantai kereta. Akibatnya, jika mau berjalan kaki ke WC harus ekstra hati-hati karena ada banyak tubuh manusia bertebaran di lantai. Jika salah langkah, bisa-bisa menginjak kepala atau kaki penumpang yang sedang tidur.

Karena tidur di lantai dirasa tidak baik untuk kenyamanan penumpang, akhirnya pihak kereta api secara resmi melarang penumpang untuk tidur di lantai dan merokok di bordes kereta.

Beberapa penumpang membawa penutup kepala. Ketika mereka sudah mulai mengantuk, mereka menutup seluruh kepalanya supaya lebih nyaman bagi mereka dan orang lain. Tapi, tak sedikit pula penumpang yang tidur apa adanya. Suara dengkuran dan mulut-mulut yang menganga jadi pemandangan yang sangat lumrah sepanjang perjalanan malam di atas gerbong kereta ekonomi.

IMG_3342
Tidur nyenyak berkat bantuan headset

Seharusnya kereta api Serayu Malam hari itu tiba di Pasar Senen pukul 04:02, tapi jadwal kedatangannya meleset jauh. Kereta harus terlambat selama satu jam, sehingga tepat di pukul 05:02, kereta baru merapat di stasiun Pasar Senen.

Aku berpamitan dengan pak Supri dan segera mencari ojek untuk melanjutkan perjalanan ke Kalideres. Pagi itu menjadi pagi yang melelahkan karena pukul 08:00, kantor sudah memanggil untuk kembali bekerja.

Jadi, nikmatnya di mana?

Kenikmatan dan sensasi dari bepergian naik kereta ekonomi bukanlah terdapat di fasilitasnya. Memang saat ini tiap gerbong kereta sudah jauh lebih baik karena dilengkapi dengan pendingin udara, tapi bukan di situ letak kenikmatannya.

Gerbong kereta ekonomi menyajikan aneka ragam manusia. Dari tua, muda, petani, backpacker, yang cantik, ganteng, hingga yang apa adanya. Tapi, semua itu bukan menjadi batasan. Pola tempat duduk yang berhadap-hadapan mau tidak mau membuat tiap penumpang kehilangan jarak proksemiknya, sehingga minimal akan tersenyum dengan penumpang sebelahnya (walaupun banyak juga kok yang cuek bebek).

DSC_0704
Kalau mau selonjor, harus koordinasi dengan penumpang di depan

Tempat duduk yang sempit juga mengharuskan tiap penumpang harus kooperatif. Karena antar lutut penumpang saling beradu, maka apabila hendak meluruskan kaki, harus berkoordinasi dengan penumpang yang ada di depannya. Jadi, secara tidak langsung, kereta ekonomi mengajarkan kita untuk tidak egois.