Angkringan Bapak: Gerobak Temaram Tempat Rindu Berlabuh

resize

Tak lengkap rasanya jika bicara tentang Jogja tanpa menyebut angkringan di dalamnya. Ibarat sayuran tanpa garam, Jogja tanpa angkringan adalah kota yang hambar, kurang nikmat untuk dikenang. Dari gerobak angkringanlah kita dapat menyaksikan dan mengalami sendiri apa yang disebut oleh banyak orang tentang kesederhanaan dan kebersahajaan Jogja yang memikat.

Nampaknya malam yang telah larut tidak cukup kuat untuk membuat seorang bapak tua mengantuk. Pukul 00:30 beliau telah selesai menata gerobak angkringannya yang terletak persis di pinggir sungai Winongo. Cahaya bohlam kuning menyinari gerobak dengan temaram, sementara itu tembang jawa mengalun merdu dari radio tua yang turut dibawa serta oleh sang bapak. Mungkin bagi sebagian orang, alunan tembang Jawa itu berbau mistis, tapi bagi sebagian orang lain sepertiku, tembang jawa itu menjadikan romansa Jogja semakin terasa.

Malam itu begitu sunyi, hanya ada satu atau dua kendaraan saja yang sesekali melintas di depan angkringan bapak. Tatkala kami menepikan kendaraan di pinggiran trotoar, senyum sumringah segera tersungging di wajah sang bapak tua. “Monggo mas pinarak,” ucapnya dalam bahasa Jawa krama. Suaranya serak tapi tegas, tak tampak ada nada lelah dari ucapannya, padahal sebelumnya beliau baru saja mendorong gerobak seorang diri.

IMG_0189
Tenda temaram angkringan bapak

Aku menghela nafas, melepaskan jaket, dan dengan segera tanganku membuka karet-karet yang membungkus nasi kucing. “Pak, kula nyuwun teh panas setunggal nggih,” pintaku itu segera dijawab dengan “Nggih mas.” Hari itu aku tidak datang sendirian ke angkringan bapak, melainkan bersama seorang teman yang juga saat itu sedang mengalami insomnia. Daripada kami hanya berguling-guling di kasur tanpa mampu tertidur, lebih baik mencari tempat nyaman untuk mengobrol dan bertukar pikiran.

IMG_0173
Angkringan Bapak yang temaram

Entah sudah berapa kali aku melewatkan malam di angkringan ini, angkringan yang paling spesial menurutku. Karena pemilik sekaligus penjual angkringan ini adalah seorang bapak tua, maka aku memanggilnya dengan sebutan “Angkringan Bapak.” Aku pernah bertanya siapa nama asli si bapak, tapi di usia 23 ini ternyata ingatanku sudah payah, aku lupa sama sekali nama si bapak. Kali pertama aku mengunjungi angkringan ini adalah tahun 2010. Waktu itu aku masih bocah SMA yang dengan segera terpikat kesederhanaan Jogja dari gerobak angkringan bapak.

Jika ditanya oleh teman-teman angkringan mana yang paling nikmat, dengan segera aku akan menjawab “Angkringan Bapak”. Tapi, tidak banyak dari mereka yang akhirnya mau berkunjung ke angkringan bapak karena jam bukanya yang terlalu larut. Setiap hari, menjelang tengah malam sang bapak keluar dari rumahnya sambil mendorong gerobak angkringan. Dia menyiapakan semuanya sendiri. Memasak gorengan, menyalakan arang, memasang instalasi listrik, sampai memperbaiki radio usangnya pun sendiri. Kita baru bisa menikmati angkringan ini di atas jam 00:00, terlalu larut bagi mereka yang tidurnya cepat.

Setiap kali ada pengunjung yang mampir di angkringannya, bapak selalu menyambutnya dengan akrab. Dia tidak hanya menyajikan aneka makanan dan wedangan, tapi juga selalu mengajak pengunjungnya tertawa. Hari itu kami tertawa terbahak-bahak tatkala sang bapak mengejek kami berdua jomblo. “Rugi loh mas, kuliah lama-lama di Jogja tapi gak dapet gandengan!” Kemudian gelak tawa pun pecah, sesekali diiringin umpatan-umpatan dalam bahasa Jawa.

IMG_0169
Aneka kudapan

Selain humoris, bapak juga terkadang religius. Jika pembicaraan mulai menjadi melow, sesekali beliau menceritakan pengalaman hidupnya kemudian kata-kata “Alhamdullilah” atau “Puji Tuhan” terlontar dari ucapannya. Kadang ada penasaran ingin menanyakan apa agama si bapak dari kata-kata yang dia ucapkan itu, tapi aku sadar itu pertanyaan yang tidak penting karena untuk menjadi akrab kita tidak perlu melihat apa yang jadi agama orang itu.

IMG_0185
Penarangan satu-satunya, lampu bohlam temaram

“Pak, gak takut po pak sendirian tiap malam di sini?” tanyaku. “Memangnya kenapa kalau sendiri? Paling-paling kunthinak toh mas yang datang!” Jawab si bapak diiringi gelak tawa. Usia bapak tak lagi muda, namun raganya masih belum lelah berpeluh. Gerobak yang cukup besar ini dia dorong seorang diri, juga segala persiapan dia lakukan dengan tangannya sendiri. Tatkala tangan kanannya memegang ceret panas, tangan kirinya sibuk mengaduk gula-gula dalam gelas supaya terlarut. Konsentrasinya masih terjaga penuh. Dia dengan cepat menghitung total seluruh makanan dan wedangan yang kami minum, tanpa meleset.

IMG_0197
Sang bapak sedang membuat wedangan panas

Angkringan bapak memang tidak setenar angkringan-angkringan yang berada di pinggiran Malioboro, tapi menurutku, di angkringan bapaklah kita bisa menemukan nuansa Jogja yang sesungguhnya. Dalam tengah malam nan teduh, kita bisa bersantap kudapan ringan, ditemani teh panas dan lantunan tembang Jawa.

Tidak terasa tiga jam sudah kami habiskan duduk bersantai di angkringan bapak. Jam sudah menunjukkan pukul 03:00 dini hari, padahal dalam beberapa jam kami sudah harus duduk di kampus untuk kuliah! Selesai membayar, kami menyalami bapak lalu pamit pulang ke kost masing-masing.

Semenjak kepindahanku ke Jakarta, memori akan angkringan bapak masih membekas dalam setiap ingatanku. Tak ada tempat senikmat dan senyaman angkringan bapak. Gorengan dan wedangan yang disajikannya mengajarkanku bahwa kenikmatan hidup bisa ditemukan dalam gorengan seharga 500 rupiah. Ah, pak, andai Jakarta – Jogja bisa kutempuh dengan menggunakan pintu Doraemon, sudah tentu setiap malam aku akan duduk di gerobakmu.

Salam rindu untuk Yogyakarta,

Jakarta Barat – 4 Mei 2017

Wedang Uwuh, Si ‘Sampah’ yang Nikmat Diteguk

Ada yang berbeda dari angkringan Mas Bimo, tak tampak ada satupun gorengan yang tersaji di atas gerobaknya. Selidik demi selidik, ternyata Mas Bimo, ingin menciptakan konsep yang baru tentang angkringan, yaitu bukan hanya gerobak berisi kudapan pengenyang perut, tapi juga mengedukasi dan menyehatkan setiap pembelinya. Tapi, walaupun demikian, tetap ada nasi kucing aneka varian yang tersaji di gerobak ini.

Mas Bimo adalah orang Jogja yang merantau ke Bandung. Beberapa bulan lalu, terbersit di benaknya untuk mengubah rasa kangen kepada Jogja menjadi suatu bisnis yang bisa menghasilkan pundi-pundi. Setelah dipikir-pikir, tercetuslah ide mendirikan angkringan, apalagi di kota Bandung sendiri jumlah angkringan belum terlalu banyak.

Bermodalkan sebuah pekarangan kecil di depan terminal Elang, Mas Bimo membeli gerobak angkringan yang didatangkan langsung dari Klaten, Jawa Tengah. Lalu, dia menata gerobak itu layaknya angkringan yang lumrah ditemui di Jogja. Namun, berhubung masih baru, ketel dan perabot masak lainnya masih mengkilap, belum menghitam sebagaimana layaknya angkringan-angkringan di Jogja.

 

Makanan dihangatkan dengan cara dibakar
Ceret yang masih mengkilap
Aneka kudapan

“Saya pengen setiap orang yang makan di sini, seolah berada di Jogja,” tutur Mas Bimo. Dia ingin menghadirkan nuansa Jogja yang nyaman di kota Bandung. Sekalipun secara kultur ada perbedaan antara Jawa dan Sunda, tapi udara Bandung yang sejuk memang jadi nilai lebih untuk mengundang orang duduk-duduk dan menikmati sajian hangat.

Malam itu adalah kali pertama aku mengunjungi angkringan di kota Bandung. Minggu siang sehabis ibadah, pendeta di gerejaku memberi info kalau ada angkringan baru yang ‘Jogja banget’. Berhasil dibuat penasaran olehnya, akhirnya pukul 19:30 kami beranjak ke angkringan itu.

‘Ngangkring’ malam itu dipersembahkan oleh Pak Pendeta 😀

Karena konsep yang diusung oleh Mas Bimo adalah angkringan sehat, maka menu andalan yang dijual di sini adalah aneka wedangan. Ada wedang jahe, wedang uwuh, wedang secang, bir jawa, dan wedangan teh kimpul.

Wedang uwuh, si ‘sampah’ yang nikmat diteguk

Selama di Jogja dulu, salah satu minuman yang paling kusukai adalah wedang uwuh. ‘Uwuh’ berarti sampah. Tapi, tenang saja karena bukan sampah sungguhan yang dijadikan bahan pembuatan wedang uwuh. Jika dilihat secara sekilas, aneka dedaunan dan rempah yang telah direbus itu menyerupai sampah, sehingga disebutlah wedang uwuh.

Wedang Uwuh

Wedang uwuh sendiri dibuat dari jahe yang digeprek, lalu direbus. Kemudian dicampurkan dengan cengkeh, daun kayu manis, daun sereh, pala, gula batu, dan serutan kayu secang yang membuat warna wedang menjadi merah. Dari komposisinya saja kita bisa tahu kalau minuman herbal ini sudah dipastikan sehat bagi badan dan tidak diragukan lagi.

Untuk menghidupkan lagi nostalgi tentang Jogja, segelas wedang uwuh yang dibandrol seharga Rp 8.000,- kupesan. Setelah kuseruput pelan-pelan, tiap tegukan wedang uwuh ini benar-benar “Jogja banget!” dan seketika kenangan-kenangan lawas singgah dan bersemayam dalam pikiran. Malam itu, di tengah dinginnya udara Bandung, kehatangan Jogja kembali datang mendekap.

Terima kasih angkringan Mas Bimo karena sudah menghadirkan Jogja kecil di tengah kota Bandung.

5 Hal yang Membuat Jogja Selalu Layak Kurindukan

blog2

“Pergi karena semangat, pulang karena rindu.”

Nama Jogja terdengar begitu istimewa, apabila kata itu terucap, tiba-tiba rasa rindu segera mendekap. Seringkali teman-teman bertanya heran, mengapa aku begitu baper dengan Jogja. Apakah ada pengalaman buruk atau manis yang pernah terjadi di sana?

Memang, aku tidak terlahir di Jogja, hanya empat tahun dari 23 tahun hidupku yang terselip di Jogja. Di waktu yang singkat itulah Jogja mengasuhku lewat kesederhanaan dan keramahannya. Aku diajari tentang arti membaur dari angkringan pinggir jalan, aku juga belajar tentang arti kenyang dari sebungkus nasi tempe. Ada banyak pelajaran yang telah kupetik dan kini membekas di hidupku.

Hampir tiga bulan telah berlalu sejak aku hijrah dari Jogja ke Jakarta. Waktu yang berlalu bukan alasan yang membuat rindu kian memudar. Inilah hal-hal yang membuat Jogja tak mungkin tergantikan:

  1. Angkringan “Bapak”, sebuah gerobak tanpa kasta

Angkringan di Jogja ibarat bintang di langit, ada di mana-mana. Setiap angkringan punya cerita. Jika ingin makan di angkringan yang elite, datanglah ke angkringan pendopo JAC yang harganya lumayan bikin kantong meringis. Jika ingin angkringan ber-wifi khas mahasiswa, bisa mampir ke angkringan “Tobat” yang berdiri sejak mendapat hidayah.

Dari puluhan angkringan yang pernah kusinggahi, ada satu angkringan yang paling favorit dan tak pernah absen kusinggahi. Angkringan “Bapak” aku menyebutnya. Angkringan ini unik karena baru buka pukul 00:00 tengah malam. Sang Bapak tua mendorong sendiri gerobak angkringannya, lalu menaikkannya di atas trotoar samping jembatan sungai Winongo, menata tikar, dan mulai memasak air panas. Semuanya ia lakukan sendiri, tapi nyaris tak ada raut sedih ataupun lelah di wajahnya.

blog3
Sebungkus nasi kucing seharga Rp 1.500,- beserta kudapan lainnya

Angkringan “Bapak” ini aku temuka pertama kali tahun 2010. Waktu itu aku masih SMA dan nekat backpackeran ke Jogja sendirian dari uang jajan yang disisihkan selama berbulan-bulan. Sebagai orang luar Jogja dan masih polos, melihat angkringan adalah sesuatu yang luar biasa bagiku. Selepas tahun 2010, di tahun 2012 aku kembali ke Jogja dan menetap untuk melanjutkan kuliah. Yes! Lalu aku menjadi pelanggan tetap angkringan Bapak.

Sensasi yang tak pernah terlupakan dari makan di angkringan “Bapak” adalah ketenangannya. Bayangkan, duduk di pinggir jembatan saat lewat tengah malam. Suasana begitu tenang, ditemani alunan lagu-lagu kuno berbahasa Jawa, menyeruput teh panas legit kentel sambil mengudap gorengan dan nasi kucing.

Nasi kucing di sini dibanderol Rp 1,500,- saja. Sepintas, nasi kucing tidaklah terlihat istimewa. Ia hanya sekepal nasi yang dibalut daun pisang dan dibubuhi sedikit tempe atau sambal teri di atasnya. Tapi, menikmati sebungkus nasi kucing tidak cukup hanya dengan lidah, tapi harus dengan hati. Makanan yang sederhana inilah yang merekatkan banyak orang di Jogja. Ada tukang becak hingga mahasiswa yang duduk bersama di gerobak angkringan dan mengobrol ngalor-ngidul hingga menjadi akrab.

img_0197
Angkringan Bapak

Aku lupa nama Bapak penjual angkringan itu. Tapi aku selalu ingat nada khasnya bicara. Dia selalu mengajak setiap pembelinya bercanda, kadang candaannya suka nyerempet saru, tapi ya itulah yang membuat angkringan ini hangat.

  1. Rumah Kost yang Bukan Sekadar Kost

Selain angkringan, salah satu yang selalu membuat baper adalah mengingat kenangan tentang kost. Selama 4 tahun di Jogja, teman-teman kost sudah jadi seperti keluarga. Kami tinggal satu atap dan mau tidak mau saling mengamati dari awal bangun hingga tidur malam. Lambat laun, nyaris tak ada lagi sekat-sekat antar penghuni kost.

blog6
Rumah Kost Manunggal Budi

Jika yang satu sakit, teman-teman kost yang akan membelikan makan, kadang juga membantu kerokan. Jika sedang galau dan insomnia, teman kost juga yang menemani pergi ke angkringan atau pos ketan susu. Karena kepercayaan itulah kost kami menjadi kost yang sangat aman. Tak perlu khawatir jika lupa menutup atau mengunci pintu, toh tidak bakal ada yang nyolong.

Selain dari teman-teman yang solid, Ibu Kost adalah ibu yang super baik. Sewaktu salah satu teman kost kami berulang tahun, beliau datang dan membawakan kami makanan beragam jenis dan kue ulang tahun. Lalu kami berkumpul di bawah dan makan malam bersama. Tak cukup di situ, ketika aku dan seorang teman lulus kuliah, beliau kembali datang dan menggelar tumpengan.

img_8539
Masukkan keterangan

Kostku dahulu dibangun atas dasar kepercayaan. Jika ada keluarga atau teman menginap, tidak perlu membayar uang tambahan selama mampu menjaga ketertiban. Dan salah satu yang membuat kostku semakin erat adalah kehadiran Mbak Oneng yang dinobatkan oleh Ibu Kost untuk merawat kost itu. Kehadiran Mbak Oneng membuat kost kami semakin asyik. Kadang-kadang kalau dia memasak, anak-anak kost bisa mencicipi masakannya.

  1. Simbah Ngatilah di Samigaluh 

“Lek do maem riyen, mas, mbak!” adalah kalimat yang paling sering diucapkan Simbah selama aku dan teman-teman Kuliah Kerja Nyata (KKN) tinggal di rumahnya. Simbah selalu memaksa kami untuk makan lebih banyak walau perut kami sudah penuh. Simbah adalah sebuah anugerah bagiku, sosok ketulusan seorang perempuan Jawa yang tidak tergerus arus zaman.

Simbah Ngatilah adalah istri dari seorang kepala Desa Banjarsari, Samigaluh, D.I Yogyakarta. Waktu itu di bulan Desember 2015 – Januari 2016 aku menumpang di rumah beliau selama satu bulan karena proyek KKN dari kampus. Rumah Simbah adalah surga bagiku karena terletak di atas bukit yang masih hijau pepohonan, tanpa ada tetangga, hanya ada suara soang dan kambing yang menemani. Satu bulan di rumah Simbah waktu itu lebih terasa seperti di rumah sendiri ketimbang di lokasi KKN. blog5

Setelah KKN usai dilaksanakan, hubungan kami dengan Simbah tidak putus. Memang jarak memisahkan kami, dan sekarang pun sulit untuk bisa sering berkunjung ke rumah Simbah. Dulu saat kami berpamitan untuk pulang, Simbah sempat menangis karena merasa dirinya akan kesepian kembali setelah ditinggal “cucu-cucunya” ini.

Beberapa bulan sekali kami datang berkunjung ke rumah Simbah dan ia selalu menyambut kami dengan sukacita. Baru saja kami tiba di sana, beliau lansung pergi ke hutan mencari buah rambutan atau pisang untuk nanti kami bawa pulang. Tak cukup di situ, beliau segera menyiapkan perapian dan memasak buat kami. img_2032

Aku terharu dan berpikir, “siapakah aku ini?” tapi Simbah menganggap anak-anak KKN di rumahnya sebagai cucu. Simbah tidak mau diberi uang listrik, padahal listrik rumahnya setiap hari tersedot karena kami. Dan Simbah juga memanggilku dengan panggilan “Kelik”, sebagai panggilan akrabnya.

4. Jangan sampai kuliah menganggu jalan-jalan 

Itulah prinsip yang kupegang selama kuliah dulu. Tapi jangan pikir karena prinsip itu kuliahku berantakan ya karena di akhir studi aku bisa lulus dengan predikat cum laude. Jadi kurasa prinsip itu tidaklah salah sekalipun banyak orang yang terkadang nyinyir setiap kali melihat postingan jalan-jalanku.

Jogja adalah surga wisata dan menjadi gerbangku untuk bertemu dengan teman-teman dari dunia luar. Dari Jogjalah aku belajar bahasa Inggris secara otodidak dan bertemu dengan rekan-rekan backpacker dari seluruh dunia. Yap, semua terjadi di Jogja. Jika waktu itu aku tidak tinggal di Jogja, mungkin tidak ada namanya jalan-jalan keliling Indonesia.

IMG_5500.JPG
berkeliling ke sekolah di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Desember 2015

Aku bersyukur karena kampus tempatku belajar ternyata mendukungku untuk tak hanya kuliah, tapi juga untuk berkarya lewat jalan-jalan. Selama kuliah sejak semester empat hingga sembilan, aku bekerja sebagai seorang student staff di Kantor Kerjasama dan Promosi.

Tugasku adalah mengenalkan kampusku kepada anak-anak SMA di seluruh Indonesia. Bekerja di kantor ini adalah suatu kehormatan karena kampusku yang besar ini mempercayakan tanggung jawab kepada mahasiswa yang memang belum banyak pengalaman. Aku belajar mengelola waktu antara kuliah dan pekerjaan, belajar juga ilmu-ilmu marketing, belajar tentang menjadi seorang pekerja yang baik.

Bandar Lampung, Medan, Siantar, Pontianak, Bangka Belitung, Madiun, Semarang, hingga Palangkaraya telah kusinggahi karena pekerjaan ini. Ada satu sukacita besar ketika bisa bekerja sesuai dengan passion. Melihat semangat anak-anak sekolah di berbagai daerah di Indonesia itu sungguh menarik. Di kantor ini kami tidak hanya bercerita mempromosikan kampus, tapi kami juga berbagi pengalaman tentang tantangan, juga harapan yang bisa diperoleh ketika mereka memutuskan pergi ke Jogja.

5. Teman-teman istimewa: madhang ora madhang, sing penting guyub!

Makan atau tidak, yang penting ngumpul. Inilah semangat kebersamaan dari teman-teman Jogja. Kini saat aku bekerja di Jakarta, teman-teman kampus dari Jogja adalah teman yang bisa dibilang paling kompak dan memiliki solidaritas tinggi. Dibesarkan di kota yang sama membuat kita bisa sama-sama baper ketika saling menyebut kata “Jogja”.

Selama empat tahun, aku mendapati temanku telah menjadi sebuah keluarga. Saat kuliah teman-teman itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dan ketika liburan tiba seringkali aku ikut mudik ke rumah mereka. Berawal dari iseng-iseng ikut mudik inilah yang akhirnya membawaku memiliki keluarga baru. HMPSKOOM

Pergi kemanapun selalu ada teman, mulai dari Aceh, hingga Papua. Saat pertengahan 2015 ketika sedang berada di Aceh Tengah, aku sempat bingung karena tidak mendapat tempat untuk menginap. Beruntung ada teman satu kampus yang berasal dari daerah sana. Kami memang tidak terlalu dekat, tapi kemudian temanku itu memberiku nomor orang tuanya dan akhirnya aku mendapatkn tempat bermalam di sana.

Salah satu harta terbesar di masa muda adalah teman-teman. Memiliki teman itu memperkaya pemikiran kita. Lewat diskusi, curhat, makan bareng, nangis bareng, di situlah pemikiran kita dibentuk dan saling membentuk. Lewat kegiatan-kegiatan organisasi di kampus yang diikuti, kehadiran teman-teman itu terlalu indah untuk dilupakan.

****

Tiga bulan hampir berlalu sejak aku meninggalkan Jogja. Rasa rinduku pada Jogja tak akan pudar. Ibarat benih yang ditanam di tanah dan bertumbuh, demikian juga rasa rindu itu. Waktu dan jarak menjadi matahari dan air yang menumbuhkan benih itu.

Mungkin Jogja tak kan pernah lagi jadi tempatku menetap, tapi dia akan selalu jadi tempat untuk kembali mengingat masa manis. Tempat untukku bertetirah dan menikmati dunia lewat segelas teh panas dan nasi kucing.
Jakarta Barat, 8 Februari 2017