Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

14 Februari 2014: Ketika Abu Vulkanik Mengguyur Hari Valentine

Stasiun Lempuyangan

Tiga tahun lalu, tepatnya di malam sebelum hari Valentine, linimasa media sosial dipenuhi informasi terbaru tentang aktivitas gunung Kelud yang kala itu sedang batuk-batuk. Malam itu angkasa Jogja cerah seperti biasanya, tak ada tanda-tanda apapun bahwa besoknya seisi kota akan menjadi kelabu.

Tanggal 14 waktu itu adalah tanggal keberangkatanku ke Surabaya. Saat subuh menjelang, kukemas barang-barang dan bersiap untuk berangkat. Tak ada curiga apapun waktu itu, semua begitu tenang karena pukul 04:00 seluruh anak di kost masih tertidur pulas. Ketika tiba waktunya berangkat, kubuka pintu kost dan kemudian aku tercengang. Titik-titik abu turun dengan senyap, perlahan tetapi pasti seluruh jalanan dan atap rumah berubah menjadi abu.

Hujan abu hari itu turun sejak dini hari dan baru berhenti menjelang pukul 06:30. Seluruh aktivitas kota Jogja hari itu lumpuh total. Sekalipun hari sudah beranjak pagi, jarak pandang di jalanan sangat rendah. Buatku yang baru pertama kali merasakan hujan abu, tentu ini adalah sensasi yang luar biasa.

Berhubung tiket kereta api menuju Surabaya sudah kubeli, aku tetap nekat berangkat ke stasiun Lempuyangan. Mungkin kereta tetap berangkat,” pikirku waktu itu. Perjalanan dari kost ke stasiun yang berjarak sekitar tujuh kilometer jadi peristiwa yang mencekam. Di sepanjang jalan hanya tampak pendaran lampu kendaraan bermotor dan setiap pengemudi harus ekstra hati-hati karena jalanan menjadi licin.

Seharusnya aku tidak usah berangkat, toh teman-teman juga sudah mengingatkan supaya aku membatalkan saja perjalanan ke Surabaya itu. Tapi, karena nekat akhirnya perjalananku ke stasiun berujung sia-sia. Kereta menuju Surabaya hari itu belum diputuskan akan berangkat atau tidak karena masih menunggu perkembangan lebih lanjut. Lagipula hari itu hampir seluruh Jawa bagian tengah dan timur tertutup abu vulkanik dari gunung Kelud yang tengah murka.

Sekalipun gagal berangkat, tapi pemandangan di stasiun hari itu sungguh menarik. Sepanjang mata memandang hanya berwarna abu-abu, aku membayangkannya seperti sebuah musim dingin di negara subtropis. Semua orang yang bepergian hari itu harus merelakan semua busananya kotor terkena abu dan wajib mengenakan masker.

Bencana yang merekatkan

Singkat cerita, aku dijemput oleh temanku di stasiun kemudian kembali lagi ke kost. Hari itu tidak ada satupun warung makan pinggir jalan yang buka. Tentu ini adalah bencana jilid dua bagi anak kost yang setiap harinya tidak pernah memasak.

Dengan uang seadanya, beberapa anak kost patungan membeli bahan makanan ke supermarket yang mulai buka di siang hari. Beberapa anak kost lainnya yang berkantong tebal memilih pergi ke restoran cepat saji dan mall. Tapi, semua harus antre berjam-jam karena hanya tempat-tempat itulah yang tetap buka untuk melayani konsumen.

Kami membeli chicken nugget, indomie, beras, sayur dan kentang goreng untuk dimakan bersama-sama. Dengan persediaan inilah kami bisa bertahan hingga tiga hari sampai beberapa warung mulai buka kembali.

Hujan abu di Jogja waktu itu membuat seisi kota sengsara hampir satu bulan penuh. Pasalnya, tidak ada hujan yang terjadi selama beberapa minggu setelah bencana itu terjadi. Setiap hari, kemanapun, bahkan di dalam ruangan harus selalu memakai masker. Apabila sudah selesai bepergian, harus segera mengganti baju karena kotor. Tapi, sulit sekali untuk mencuci baju karena abu masih berterbangan di mana-mana.

Kondisi sengsara itu berangsur-angsur pulih. Ada satu hal yang menarik dari bencana hujan abu ini. Kadang bencana datang untuk membawa berkah. Karena hujan abu ini teman-teman kost yang sedianya selalu sibuk sendiri akhirnya bisa berkumpul, duduk bersama, memasak dan berbagi cerita. Lalu, warga masyarakat bergotong-royong keluar dari rumah, saling membersihkan jalanan di depan kediamannya, juga saling mengangkut tumpukan abu yang sudah dimasukkan ke dalam karung.

Dua, tiga bulan berlalu sejak abu itu mengguyur, Jogja mulai pulih kembali seiring dengan hujan yang menyapu bersih setiap titik-titik abu. Tidak terasa, kini tiga tahun sudah berlalu sejak abu itu mengguyur bumi. Semoga Kelud tak lagi murka, dan semoga pula manusia tetap bermawas diri dan sadar bahwa dia adalah ciptaan yang kecil, yang tidak selayaknya memegahkan diri.

Sabang, Potret Keindahan Pariwisata Aceh

Sabang bisa jadi tidak setenar Bali, namun Sabang setidaknya selalu jadi daerah yang turut disebut ketika orang mengatakan Nusantara yang membentang luas hingga Merauke di timur. Sebetulnya, ada pulau yang lebih barat lagi daripada Sabang, yaitu pulau Rondo. Namun, pulau Rondo hanya dijadikan tempat mercusuar saja mengingat ukurannya yang kecil.

Selepas Banda Aceh, tepatnya pada 1 Juli 2015 kami melanjutkan perjalanan menyeberangi selat antara Sumatra dan Pulau Weh. Ferry bertolak dari pelabuhan Ulee-Lheue pukul 14:30 dan melesat lambat ke tengah lautan nan biru. Kala itu kami tak memiliki gambaran apapun soal keindahan Sabang, tapi lautan biru sepanjang perjalanan membuat kami yakin kalau Sabang layak mendapat predikat surga.

IMG_3078
Berlayar menuju Sabang menggunakan Ferry

Kelelahan akibat perjalanan semalam suntuk dari Binjai ke Banda Aceh, kami pun tertidur hingga beberapa saat sebelum Ferry berlabuh. Sekitar tiga jam kurang, Ferry mulai bersiap merapat ke Pelabuhan Balohan. Ketika kami menghampiri geladak, lautan nan biru menghampar luas dihiasi dengan bukit-bukit hijau yang menandakan kami semakin dekat dengan Pulau Weh.

Butuh waktu sekitar 30 menit untuk Ferry merapat sempurna di dermaga. Penumpang yang tak sabaran mulai berebut turun, ada yang dorong-dorongan bahkan ada pula yang memanjat pagar ketimbang menunggu antrian lancar.Tak acuh dengan ratusan penumpang lainnya, senyum tipis mengembang di wajah kami. “Sabang, kami segera datang!”

IMG_3093
Sesaat sebelum merapat di Pelabuhan Balohan

Seperti biasa, puluhan ojek dan penyewa mobil merangsek masuk ke antara kerumuman penumpang untuk mencari turis. Kami pun tak luput dari incaran, beragam penawaran mereka berikan. “Sir, need homestay? come with me!” sahutnya. Namun, kami menolak karena kami sudah menetapkan untuk mencari persewaan motor di Pelabuhan Balohan.

Keluar dari gerbang pelabuhan kami menemukan sebuah kios kecil bertuliskan sewa motor, namun kios itu tutup dan kami kebingungan. Seorang pemuda menghampiri kami sambil mengendarai sepeda motor Yamaha Mio tanpa spion dan helm. Dia menawarkan untuk menyewakan motor dengan harga Rp 150.000,- per hari. “Wah! Mahal kali bang, kami tak ada uang segitu besar, cuma mahasiswa dari Jogja. Lima puluh lah sehari, kami pakai lima hari!” tawarku. Namun, ia menolak dengan tetap mematok harga Rp 100.000,-

Kondisi saat itu adalah sama-sama butuh. Kami butuh motor untuk berkeliling Sabang sedangkan dia juga butuh uang. Akhirnya kami sepakat di harga Rp 70.000,- per hari. Ya sudah, tak apalah pikir kami, toh, motornya juga masih baru walaupun tak ada spion dan helm.

Pukul 16:00 transaksi sewa menyewa selesai. Tak ada kwitansi ataupun uang jaminan. Cukup hanya KTP yang dititipkan, setelah itu motor bebas dibawa sesuka hati. Perjalanan kami dimulai menuju Pantai Iboih yang menurut Lonely Planet adalah spot terbaik untuk menikmati Pulau Weh.

IMG_3156
Iboih nan sepi

Kami harus menempuh jarak 40 Km untuk tiba di Iboih. Tapi, jarak bukan hambatan karena jalan di Pulau Weh ini sangat mulus, nyaris tak ada lubang di setiap ruasnya. Jalanan akan menanjak dan melewati gapura bertuliskan “Selamat Datang di Sabang, Titik Nol Indonesia” kemudian jalan mulai berkelok dan memasuki belantara yang masih terjaga. Perlu diwaspadai, banyak kawanan monyet nongkrong di pinggiran jalan mengais rezeki. Tak jarang ada monyet yang ganas dan berusaha mencegat motor yang melintas.

IMG_3097
Senja di Iboih

Tiba di Iboih, semua rasa lelah terbayar. Pantai yang jernih, berarus tenang dan sepi pengunjung ini laksana surga. Kami harus mencari penginapan dengan harga backpacker yang terjangkau. Penginapan di dekat area parkiran umumnya dihuni turis lokal dengan biaya Rp 200-500 ribu, sedangkan untuk kelas backpacker terletak di pojokan, jadi harus berjalan kaki dulu naik bukit.

IMG_3140
Yulia’s Guest House. Harganya sekitar 75.000-200.000 per malam

Harga penginapan kelas backpacker ini fantastis. Dengan view menghadap lautan hanya dibanderol Rp 50.000 – 200.000,-. Kami mendapatkan sebuah pondokan dari Fatimah Homestay. Pemiliknya memberikan kami harga Rp 50.000,- untuk dua malam pertama dan Rp 75.000,- untuk malam selanjutnya. Kami terima tawaran itu mengingat lokasi pondok kayu memang langsung menghadap ke laut.

IMG_3127
Homestay Fatimah seharga Rp 50.000,- per malam

Namun, sekali lagi patut wapada karena menjelang sore monyet-monyet akan turun dari hutan dan duduk-duduk di teras pondok. Entah apa yang ada di pikiran monyet itu, tapi mereka seolah membajak pondokan kami setiap sore tanpa menggubris jika diusir.

IMG_3233
Siapa yang tak tergoda untuk nyemplung?

Selama lima hari kami habiskan di Sabang. Aktivitas utama hanya bengong, meditasi, snorkeling, makan dan berjalan-jalan. Johannes memilih untuk diving , sedangkan aku bertugas memotret dan jalan-jalan sendiri.

IMG_3111
Beningnya air laut di Iboih

Untuk urusan konsumsi setiap hari kami datang ke Mama Mia, sebuah gubuk kayu yang dihuni sepasang ibu tua dan anaknya. Mereka menyediakan makan lengkap sehari tiga kali dengan harga Rp 25.000,- per sekali makan. Menu yang disediakan lebih ke menu rumahan namun dengan tambahan sea food. 

Mama, begitu para turis menyebutnya. Beliau telah puluhan tahun menetap di Pantai Iboih. Dengan bahasa Inggris sederhana, beliau melayani setiap turis yang hadir dan mampir ke tempatnya. Ketulusan “MamaMia” membuatnya tak pernah sepi dihampiri oleh turis-turis asing.

IMG_3216
Desa Iboih, Sabang, Pulau Weh

 

IMG_3292
Bersama Markus Semrau dan Johannes Tschauner. Kami menjadi satu tim selama di Sabang

Puas dengan aktivitas harian snorkeling, kami pun mencoba pergi ke Titik Nol Kilometer Indonesia. Perjalanan menembus hutan yang masih rimbun ini hanya butuh waktu satu jam kurang. Tiba di Titik Nol kami disambut sebuah monumen yang sedang dalam tahap pembangunan. Merinding sekaligus takjub, karena tidak menyangka bisa pergi ke titik nol. Kami menghabiskan senja hingga pukul 19:30 di Titik Nol. Oh ya, di Sabang matahari baru tenggelam sempurna sekitar pukul 19:30 WIB, jadi hari terasa lebih panjang disana.

IMG_3193
Yeah, Titik Nol Indonesia

Jumat, 4 Juli 2015 kami berencana pergi ke Kota Sabang. Masak sudah jauh-jauh ke Pulau Weh tapi tidak mengunjungi kota Sabang. Sebelumnya, seorang kawan dari Takengon menginfokan kalau di Sabang itu ada tradisi unik, biasanya penduduk akan tidur siang mulai pukul 13:00-15:00. Wah, selow amat ya bisa ada waktu tidur siang. Awalnya aku tidak percaya, tapi setibanya di Sabang memang kebanyakan orang tidur pada waktu itu, suasana begitu santai.

IMG_3170
Jalanan di Pulau Weh

Di Sabang mayoritas warganya tidak menggunakan helm saat berkendara, termasuk kami. Awalnya was-was ketika melewati kantor Polisi, tapi ternyata banyak juga yang tak pakai helm, ya sudah kami biasa saja.

IMG_3168
Mas Paijo

Kota Sabang tidaklah besar, namun rapi dan asri. Pepohonan menghiasi setiap sudut kota. Untuk rumah ibadah, Sabang memiliki Masjid, Gereja dan juga Kelenteng kecil yang terdapat di dekat pasar. Nilai-nilai toleransi dan kebersamaan sejatinya sudah hadir bahkan dari pulau paling luar dan barat Indonesia.

IMG_3289
Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Sabang

Di sudut kota terdapat sebuah pantai bernama Pantai Kasih. Entah apa yang mendasari pemberian nama pantai ini, namun Pantai Kasih sungguh teduh. Gelombang relatif besar dan berangin, pasir putih lembut dan tak banyak orang di sana. Di ujung pantai berdiri sebuah homestay dengan nama Homestay Pantai Kasih.

IMG_3249 copy
Pantai Kasih

Selain pantai Kasih, terdapat banyak pantai lain di seputaran kota Sabang ini. Jika ingin melihat panorama spektakuler bisa mengelilingi jalan berbukit yang mengarah ke Pelabuhan Balohan, bisa dipastikan kita akan terpukau melihatnya.

IMG_3277
Jalan menuju pelabuhan Balohan

Satu pengalaman unik selama di Sabang adalah ketika siang bolong, kami kelaparan. Mama Mia tertidur pulas sehingga tak sopan jika kami membangunkan beliau. Akhirnya di tengah bulan Ramadhan kami berusaha mencari tempat makan siang. Mengelilingi wilayah Sabang, tepatnya di bagian selatan kami bertemu dengan seorang bule Perancis.

Kami putus asa dan kelaparan. Semua warung tutup, ataupun jika buka pastilah tak akan mungkin melayani pembeli di bulan Ramadhan. Kami hanya duduk-duduk di pinggir pantai sembari melamun, tiba-tiba dari sebuah gubuk warung yang tutup keluar seorang Bule sudah tua dan jangkung. Dia meneriaki kami, awalnya menggunakan bahasa Inggris.

IMG_3186
Pantai di Selatan Pulau Weh

Namun, kami kaget ketika kemudian dia berbicara dalam bahasa Indonesia logat sabang yang kental. Namanya Philip, seoarang Perancis yang terlanjur jatuh cinta dengan Sabang. Ia sudah menetap selama 25 tahun di Sabang namun setiap tahun pasti pulang ke Perancis untuk menunaikan pekerjaannya sebagai pembersih cerobong asap. Tinggal di Sabang, ia beralih profesi sebagai nelayan yang memiliki dua kapal.

 

IMG_3189
Pantai di depan gubuk milih Philip

Seraya bercerita ia bertanya, “Kalian lapar? Aku bisa masak mie buat kalian, tapi masuk ke dalam jangan sampai dilihat orang.” Oke, kami menurut. Dia memasakkan kami sebuah mie goreng lengkap plus jus sirsak campur terong belanda. Waw, segar sekali. Berdasar penuturannya, Philip telah dikaruniai seorang anak dari hasil pernikahannya dengan seorang wanita yang ia temui di Medan.

Hidup di Sabang bagai hidup di surga jelasnya. Damai dan tenang, tak ada beban hidup selain pergi melaut membuatnya ogah untuk pulang kembali ke Eropa. Namun, ia masih tidak mau melepas kewarganegaraan Perancisnya. Perbincangan kami dengan Philip sungguh mengasyikkan, ia punya segudang cerita unik pengalaman bersama warga Sabang.

“Dulu waktu Tsunami, hampir tidak ada korban di wilayah ini karena memang berbukit-bukit. Rumah juga dikit yang rusak tapi waktu itu bantuan datang banyak sekali,” kenangnya tentang peristiwa Tsunami. Jadi, jalanan yang mulus di Pulau Weh salah satu penyebabnya adalah masuknya bantuan Internasional untuk revitalisasi infrastruktur akibat bencana alam Tsunami.

Puas bercerita, kami dipatok harga Rp 30.000,- untuk sepiring mie dan segelas jus tadi. Harga yang cukup murah untuk ukuran Sabang. Berhubung matahari yang semakin tenggelam kami meninggalkan Philip di warungnya dan bergegas kembali ke Pantai Iboih.

Sabang, Permata Kebanggaan Aceh

Hari Senin, 7 Juli 2015 kami bertolak meninggalkan Sabang menuju Banda Aceh.Berat karena hati kami masih tertambat di Pantai Iboih. Sabang memberikan tak hanya pesona, melainkan sebuah potret akan kemajemukan dan kearifan Indonesia sebagai bangsa maritim.

Warga Sabang paham betul akan menjaga lingkungan. Setiap Kamis hingga Jumat, warga memperingatinya sebagai “hari istirahat” untuk lautan. Tak ada aktivitas yang dilakukan di pantai. Memancing, snorkeling, berenang dan lainnya semua harus ditunda selama 24 jam dengan tujuan memberikan waktu bagi laut untuk terbebas dari tangan manusia.

Kearifan dan ketenangan Sabang inilah yang menjadi magnet bagi ribuan bacpacker dunia untuk singgah. Tak ada penyesalan untuk mengunjungi Sabang, hanya kagum yang akan terus membekas hingga hari tua.

IMG_3212
Senja di Pulau Weh

mari-rayakan-sabang-marine-festival-2016-lewat_tulisan

Video Pesona Sabang :

Demi Mudik, Jarak Bukan Masalah

20140724_012219

Jupiter MX tercinta saat beristirahat di SPBU Losari

Mudik lebaran selalu menjadi momentum istimewa bagi hampir seluruh warga Indonesia. Lebaran tak hanya dinikmati oleh mereka yang Muslim, tapi oleh semua orang karena hampir seluruh kegiatan terhenti di hari istimewa ini. Gelombang jutaan pemudik yang terpusat dari kota besar mengalir dalam kurun waktu kurang dari satu minggu menuju kampung halaman. Alhasil, kota besar menjadi lengang tetapi jalur mudik menjadi padat bahkan macet. Menjadi unik karena berbagai upaya ditempuh orang demi merayakan hari istimewa bersama dengan orang terkasih.

Kesempatan libur lebaran 2014 ini menjadi momen pertama saya untuk mudik. Setelah menetap selama dua tahun di Yogyakarta, kali ini saya memilih mudik dengan cara sedikit menantang, yaitu mudik naik motor dari Jogja-Bandung pp sendirian. Sebetulnya ada rasa was-was mengingat setiap musim mudik tiba selalu ada ratusan pengendara motor yang naas mengalami kecelakaan bahkan meninggal. Namun, keinginan untuk bertemu keluarga sudah terlampau besar sehingga gambaran resiko buruk pun ditepis.

Berhubung saya sudah bekerja jadi waktu mudik baru bisa dilakukan empat hari sebelum lebaran, mengingat kantor baru memberikan cuti pada tanggal tersebut. Tepat hari Rabu, 23 Juli 2014 pukul 15:00 saya berangkat dari Babarsari, Sleman, Yogyakarta. Menggunakan sepeda motor Jupiter MX keluaran 2009 yang sudah diservis perjalanan mudik terasa riang. Motor melaju santai menembus ramainya Jogja, mulai dari jalan Solo hingga Malioboro yang kala itu padat oleh wisatawan.

Tidak ada kepadatan kendaraan hingga sekitar pukul 16:00 saya sudah keluar dari DIY menuju Purworejo. Pukul 16:40 tiba di Purworejo, Jawa Tengah dan istirahat sejenak di SPBU di barat kota. Disana membeli segelas teh panas dan tiga buah gorengan dari seorang ibu yang berjualan disana. Seraya menyeruput teh, sang Ibu tak henti-hentinya bercerita mengenai perjuangan cintanya dengan seorang mahasiswa yang kandas di tengah jalan.

Setelah 20 menit beristirahat, perjalanan dilanjutkan. Tepat pukul 17:00 motor kembali dipacu melewati jalan raya Purworejo-Kebumen yang sudah padat oleh kendaraan ke arah timur. Tiba di Gombong, Kebumen pada pukul 18:45 akibat jalanan yang padat merayap. Di sini saya singgah selama 1 jam di rumah seorang kawan untuk mandi dan alhamdullilah puji Gusti dapat makan malam gratis dan diberikan tempe mendoan mentah sebanyak satu karung.

20140723_234723

 

rest area SPBU Prupuk, Tegal

Pukul 20:00 perjalanan dilanjutkan kembali. Rute yang dilewati adalah Kebumen – Wangon – Ajibarang. Jalur selatan menuju Nagreg tidak dipilih karena saya ingin mencoba jalanan baru. Hujan deras mengguyur ketika tiba di Ajibarang. Sepanjang jalur Ajibarang hingga Prupuk, Tegal kendaraan didominasi oleh bus yang mengarah ke Purwokerto. Akibatnya kendaraan yang mengarah ke Jakarta harus banyak mengalah lantaran jalurnya dimakan oleh bus yang menyalip sembarangan.

Pukul 23:00 tiba di SPBU Prupuk, Tegal. Terdapat puluhan pemudik yang beristirahat disini, kebanyakan mereka berasal dari Jakarta dan hendak mudik ke Purwokerto, Cilacap, dan Jogjakarta. Sekitar 45 menit beristirahat, perjalanan dilanjutkan kembali dengan mengambil arah Prupuk – Ketanggungan – Cirebon. Jalur arah timur padat merayap dan sempat macet total di Ketanggungan akibat membeludaknya jumlah kendaraan imbas dari ditutupnya jembatan Comal.

Pukul 01:30 tiba di Losari, Jawa Barat. Mata sudah tidak kuat menahan kantuk. Tanpa ragu sebuah SPBU langsung disambangi dan mulai tidur disana hingga pukul 03:00. Walau hanya tidur singkat, namun cukup untuk memulihkan kembali stamina. Perjalanan etape terakhir ini dilanjutkan dengan penuh semangat, hingga tepat pukul 07:20 tiba dengan selamat di kota halaman tercinta, Bandung. Total perjalanan kali ini adalah 17 jam dengan bensin 9 liter.

 

PERJALANAN BALIK BANDUNG – YOGYAKARTA 

Setelah sembilan hari puas menikmati hangatnya kebersamaan keluarga, Sabtu, 2 Agustus 2014 dengan berat hati meninggalkan Bandung kembali. Pukul 17:30 berangkat dari Cibereum, Bandung membelah kota Bandung ke arah timur. Jalanan padat sepanjang Cicaheum – Cileunyi harus ditempuh selama hampir satu jam. Tidak ada kemacetan sepanjang ruas Cileunyi-Nagreg. Memasuki area Limbangan kemacetan parah terjadi arah Jakarta. Kendaraan yang hendak ke barat terhenti total nyaris tak bergerak.

Pukul 21:00 tiba di Ciawi, Tasikmalaya. Disini seraya berhenti, mengisi perut juga dengan sepiring nasi goreng seharga Rp 10.000,-. Kemacetan total kendaraan yang mengarah ke Jakarta terus terjadi hingga memasuki kota Ciamis. Memasuki kota Banjar pukul 23:00 dan bertemu dengan seorang pemudik motor dari Jakarta tujuan Karangpucung. Kami berjalan beriringan mengingat ruas jalan Banjar-Lumbir merupakan hutan yang gelap.

Hujan gerimis turun hingga memasuki Majenang. Mulai dari Wanareja, seluruh kendaraan terhenti total, baik yang mengarah ke Jakarta atau Jogja. Padatnya kendaraan dan ketidaktaatan akibat memakan jalur membuat kendaraan tak bisa bergerak sama sekali. Hanya motor yang dapat menembus kemacetan itu dengan berjalan di bahu jalan. Puluhan polisi berusaha keras mengatur lalu lintas agar dapat dilalui kembali. Kendaraan terhenti total dimulai dari Wanareja hingga Karangpucung.

Macet merayap di ruas Ciawi-Tasikmacet merayap di ruas ciawi-tasikmalaya

Pukul 00:45 baru tiba di Majenang, tak ada tempat istirahat karena SPBU sudah dipadati oleh ratusan pemudik yang kelelahan akibat macet. Perjalanan dilanjutkan kembali dan hujan besar turun di Karangpucung. Disini kendaraan sudah terurati macetnya, namun insiden terjadi. Sebuah bus Murni Jaya menyalip kencang saat tikungan tajam membuat saya membanting stir dan terjerembab dalam lumpur. Untung tidak terluka, hanya terjatuh biasa. Hujan semakin deras dan jalanan kian sepi, beruntung ada dua pemudik motor tujuan Purwokerto sehingga kami berjalan berdampingan melewati gelapnya hutan ruas Karangpucung-Lumbir.

Pukul 03:30 baru tiba di Jatilawang. Badan serasa remuk dan kaki penuh lumpur memaksa saya singgah di SPBU Jatilawang. Namun, lagi-lagi penuh oleh ratusan pemudik. Beruntung masih ada beberapa jengkal lantai kosong di depan musholla. Setelah membersihkan diri di WC umum, saya rehat sejenak. Tanpa pamit, badan segera jatuh tidur hingga adzan maghrib membangunkan pukul 04:50. Satu persatu pemudik motor melanjutkan perjalanannya, saya yang terakhir.

Pukul 05:00 hujan kembali mengguyur deras dan perjalanan dilanjutkan kembali. Memasuki Karanganyar, Kebumen pukul 06:30. Disini saya bertemu dengan seorang Bapak yang hendak mudik dari Jakarta menuju Pacitan. Ia telah menempuh perjalanan selama 36 jam dari Jakarta menuju Wangon akibat macet sepanjang ruas Cikampek dan Prupuk, Tegal. Kami berpisah karena saya mengendarai lebih cepat tak tahan ingin cepat sampai Jogja.

Pukul 08:20 tiba di Wates, Kulonprogo. Rasa bahagia dan semangat untuk cepat sampai kembali memuncak. Berhubung jalanan di DIY mulus tak berlubang motor pun dipacu hingga 100Km/jam. Tepat pukul 09:10 tiba dengan selamat di Babarsari, Yogyakarta.

Perjalanan mudik kali ini memang penuh resiko, tetapi inilah gambaran dari betapa besar harga sebuah kebersamaan. Jutaan orang rela bertaruh nyawa bersama anak isterinya dengan berkendara motor ratusan kilometer demi keluarga. Inilah hal yang tak dapat dibeli dengan uang, mereka bisa saja menghabiskan tabungan mereka untuk mudik satu kali tetapi itu berarti mereka harus menunda mudik selanjutnya. Tak semua orang diberi hidup berkelimpahan secara ekonomi, tetapi ada yang berkecukupan alias pas-pasan, tetapi rasa kasih sayang pada keluarga tidak pernah berkekurangan. 

Hidup memang adalah sebuah perjalanan, sebuah perjalanan mudik panjang menuju kekekalan. Setiap kita memiliki jalur mudiknya masing-masing, jalanilah itu dengan setia hingga kelak kita menghadap Pencipta. 

Salam,

Yogyakarta, 4 Agustus 2014