Rekan Seperjalanan

Perjalanan yang menyenangkan, adalah perjalanan yang dilalui bersama teman.

Inilah orang-orang yang sedikit banyak telah mewarnai dan memberi rasa kepada perjalanan saya:

 

Johannes Rudolf Tschauner

Johannes atau sering disapa Paijo adalah seorang berkebangsaan Jerman yang bertemu secara tidak sengaja pada Minggu sore, 8 September 2013. Bermula dari pertemuan itu, kami menjadi akrab dan sering melakukan perjalanan mengelilingi Jawa Tengah menaiki sepeda motor bersama-sama.

Saat ini Paijo telah kembali ke negara asalnya dan menikah. Namun, kami tetap berkawan akrab, saling berbagi cerita antara dua kehidupan yang terpisah jarak ribuan kilometer.

Bersama Paijo, kami melakukan perjalanan Sumatra Overland Journey selama 30 hari di tahun 2015.

Roland Effendi

Roland atau kerap disapa Jong Un, dia adalah teman yang hadir di kala suka, dan lebih sering lagi hadir di kala duka untuk mengajak tertawa dan meringankan rasa duka itu. Perawakannya yang gemuk dan logatnya yang sangat Ngapak membuat hari-hari tanpa kehadirannya seperti ada yang kurang.

Tegar Pambudi

Tegar atau kerap disapa Pak Budi adalah seorang pecinta gunung garis keras. Kisah paling menyebalkan yang pernah terjadi selama berkawan karib dengannya adalah hari di mana dia hampir tersesat di Gunung Slamet yang membuat banyak orang heboh dan panik mencari jejaknya. Namun, syukurlah dia tidak jadi hilang dan kami pun akhirnya terus berkawan hingga sekarang.

Yoses dan Enrico

Kami bertiga bertemu pertama kali di sebuah kelas sekolah Minggu pada tahun 2001. Dua orang inilah yang mewarnai perjalanan hidup dari masa kecil ke masa remaja, menjadikan kedua masa ini begitu manis dan konyol untuk dikenang.

Keluarga Manunggal Bujang 2012

Tinggal seatap selama hampir lima tahun bersama dengan orang-orang ini itu sungguh sulit dideskripsikan dengan kata-kata. Perbedaan karakter sering membuat kami saling berkonflik. Tapi, seiring waktu berlalu, perbedaan yang seharusnya memicu pertengkaran itu berubah menjadi penyedap persahabatan ketika kami akhirnya memutuskan untuk saling memahami. Memang betul apa kata pepatah; kita berteman karena menemukan persamaan, tapi kita bersahabat karena memahami perbedaan. 

Gerombolan Cici Medok

Di balik wajah-wajah Oriental ini, tersimpan logat Jawa yang begitu kental. Saking kentalnya, intonasi nan medhok dari mereka sering terngiang-ngiang di pikiran, bahkan saat kami telah berpencar semuanya. Ke-empat srikandi ini adalah sosok istimewa, rekan seperjuangan saat kuliah dulu yang selalu menyemangati untuk serius belajar. Masuk bareng, lulus juga bareng adalah motto kami. Dan, puji syukur motto itu berhasil terwujud.