Di tengah kepadatan rutinitas, momen fajar rasa-rasanya bukanlah masa yang istimewa dalam keseharian kita. Kita bangun, bersiap diri, lalu larut dalam kesibukan. Sinar mentari pagi dan udara sejuk yang mengalir tak lagi membuat mulut kita mengucap syukur atas nikmat kehidupan dari yang kuasa. Namun, berada di Negeri Tembakau, tepat di lembah antara Arga Sumbing dan Sindoro, momen fajar itu terasa begitu agung, juga magis. Membuat mata ini memandang takjub dan hati… Baca Selengkapnya

Dua kali masuk ke Singapura, semua berjalan lancar. Di Bandara Changi, saya menunjukkan paspor, scan dua jempol, difoto wajah, dan selesai. Tapi, minggu lalu ceritanya berbeda. Paspor saya ditahan dan saya diinterogasi oleh petugas imigrasi. Proses ini memakan waktu hampir dua jam. Buat saya yang baru pertama kali mengalami hal ini, rasanya ngeri-ngeri sedap.  

Weekend kemarin saya pulang ke Bandung. Setelah menuntaskan segala urusan, Minggu sorenya saya kembali lagi ke Jakarta.

“Dulu waktu kamu belum lahir, Gunung Galunggung meletus. Bandung gelap gulita. Hujan abu, ke mana-mana jadi susah.” Saya ingat, perkataan ini diucapkan Mama di tahun 2006, sewaktu berita tentang letusan Gunung Merapi menghiasi layar kaca.

Nafasnya sedikit tersengal dan bulir-bulir keringat muncul di atas keningnya. Kaka baru saja berjalan sekitar satu kilometer, dari halte busway Pesakih menuju kantor. Setelah beristirahat barang semenit dua menit untuk mendinginkan badan, ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu mulai bekerja.

  Prriiiitt… Semboyan 35 berbunyi. Dari peron nomor lima Stasiun Tugu, Yogyakarta, Kereta Api (KA) Taksaka Malam melaju perlahan menuju Jakarta. Lima belas menit setelahnya, di jalur yang sama, KA Jayakarta Premium datang dari Surabaya Gubeng untuk berhenti sejenak kemudian kembali bertolak ke barat.