14 Februari 2014: Ketika Abu Vulkanik Mengguyur Hari Valentine

 

Tiga tahun lalu, tepatnya di malam sebelum hari Valentine, linimasa media sosial dipenuhi informasi terbaru tentang aktivitas gunung Kelud yang kala itu sedang batuk-batuk. Malam itu angkasa Jogja cerah seperti biasanya, tak ada tanda-tanda apapun bahwa besoknya seisi kota akan menjadi kelabu.

Lanjutkan membaca “14 Februari 2014: Ketika Abu Vulkanik Mengguyur Hari Valentine”

Menyapa Fajar nan Hangat di Puncak Suroloyo

Langit masih gelap dan bunyi jangkrik masih terdengar jelas saat kami memarkirkan kendaraan di pelataran Puncak Suroloyo. Jam baru menunjukkan pukul 04:50, tapi kami tidak datang terlalu awal untuk menyaksikan pesona fajar. Langit yang semula pekat perlahan mulai meluntur namun masih tertutup awan-awan kelabu.

Lanjutkan membaca “Menyapa Fajar nan Hangat di Puncak Suroloyo”

Lembah Karmel Cikanyere: Tetirah untuk Jiwa yang Lelah

Sabtu pagi, waktu di mana sebagian warga Jakarta masih terlelap dalam tidurnya, motor bebekku telah dipacu membelah jalanan Ibukota. Tujuan yang hendak dicapai pagi itu adalah Cikanyere yang berjarak sekitar 120 kilometer ke arah selatan. Untuk sesaat perjalanan terasa lancar tanpa kendala hingga persimpangan-persimpangan jalan datang menyapa, aku pun kebingungan dan akhirnya salah jalan.

Lanjutkan membaca “Lembah Karmel Cikanyere: Tetirah untuk Jiwa yang Lelah”

Sebuah Amplop dari Jerman

Di zaman ketika segala pesan dikirimkan secara elektronik, minggu kemarin aku menerima sepucuk surat yang tersimpan rapi dalam sebuah amplop kecil. Kupikir itu hanyalah surat biasa yang berisikan promosi dari bank, tapi tebakanku salah. Setelah kulihat nama pengirimnya, ternyata amplop kecil itu dikirimkan jauh-jauh dari Eropa, melintasi samudera dan benua untuk tiba di tanganku. Lanjutkan membaca “Sebuah Amplop dari Jerman”

Bertetirah ke Jantung Ibukota

Hari minggu menjelang siang tatkala sebagian jalan arteri Ibukota masih lumayan lengang, ratusan manusia berjubel memadati Katedral. Satu per satu mobil mengantre mencari tempat parkir, sebagian yang tak sabar segera membunyikan klakson sementara pedagang makanan di luar pagar Katedral laris manis melayani pembeli.

Lanjutkan membaca “Bertetirah ke Jantung Ibukota”

Natal: Sebuah Perjalanan Pulang

Semenjak kuliah, aku jarang pulang ke rumah saat Natal tiba. Dengan alasan hemat ongkos, aku memilih berdiam di kost dan mengerjakan aktifvitas lain, toh orang tua juga tidak menuntut aku untuk pulang. Tapi, kini setelah aku bekerja, pemikiranku berubah. Jika dahulu pulang sebagai sesuatu yang opsional, kini pulang adalah kerinduan. Lanjutkan membaca “Natal: Sebuah Perjalanan Pulang”

Ah, Jakarta!

Aku termenung dan tak sabar ingin segera sampai di tujuan sementara bus yang kutumpangi tetap tidak bergerak terjebak dalam macet. Jakarta, sebuah kota yang sempat kupikir akan mendatangkan sukacita karena menemukan pekerjaan di sana, tapi nyaris satu bulan berada Ibukota, aku belum menemukan diriku larut dalam ritme khas metrpolitan. Rutinitas, semerawutnya jalanan, macet, bising dan kesepian menjadi konsumsiku setiap hari. Lanjutkan membaca “Ah, Jakarta!”

Kado Merantau dari Tuhan

Kadang, merantau itu sedih, tapi terkadang juga mengasyikkan. Intinya, ketika merantau ada banyak dinamika pahit manis yang dialami. Kita belajar buat menerima, juga melepas, dan terpenting belajar untuk hidup di macam-macam keadaan. Lanjutkan membaca “Kado Merantau dari Tuhan”