Natal: Sebuah Perjalanan Pulang

Natal: Sebuah Perjalanan Pulang

Semenjak kuliah, aku jarang pulang ke rumah saat Natal tiba. Dengan alasan hemat ongkos, aku memilih berdiam di kost dan mengerjakan aktifvitas lain, toh orang tua juga tidak menuntut aku untuk pulang. Tapi, kini setelah aku bekerja, pemikiranku berubah. Jika dahulu pulang sebagai sesuatu yang opsional, kini pulang adalah kerinduan. Lanjutkan membaca “Natal: Sebuah Perjalanan Pulang”

Ah, Jakarta!

Ah, Jakarta!

Aku termenung dan tak sabar ingin segera sampai di tujuan sementara bus yang kutumpangi tetap tidak bergerak terjebak dalam macet. Jakarta, sebuah kota yang sempat kupikir akan mendatangkan sukacita karena menemukan pekerjaan di sana, tapi nyaris satu bulan berada Ibukota, aku belum menemukan diriku larut dalam ritme khas metrpolitan. Rutinitas, semerawutnya jalanan, macet, bising dan kesepian menjadi konsumsiku setiap hari. Lanjutkan membaca “Ah, Jakarta!”

Kado Merantau dari Tuhan

Kado Merantau dari Tuhan

Kadang, merantau itu sedih, tapi terkadang juga mengasyikkan. Intinya, ketika merantau ada banyak dinamika pahit manis yang dialami. Kita belajar buat menerima, juga melepas, dan terpenting belajar untuk hidup di macam-macam keadaan. Lanjutkan membaca “Kado Merantau dari Tuhan”

Senja dan Samudera, Sebuah Paduan Sempurna

Senja dan Samudera, Sebuah Paduan Sempurna

“Senja di ibukota, belum tentu seindah ini,” sahut temanku. Pernyataan itu membuatku terperanjat, mengingat waktuku di Jogja kurang dari satu bulan, dan selepas itu akan sulit untuk menemukan waktu berdua dengan alam. Lanjutkan membaca “Senja dan Samudera, Sebuah Paduan Sempurna”

Hangatnya Senja di Lereng Arga Lawu

Hangatnya Senja di Lereng Arga Lawu

Selepas tengah hari, suhu udara di ketinggian semakin menyusut. Matahari yang sinarnya meredup seolah kalah bersaing dengan udara pegunungan yang dingin. Dari sebuah perkebunan teh di Lereng Lawu inilah nuansa senja dihidupkan, namun ditemani dengan sepoci teh panas. Lanjutkan membaca “Hangatnya Senja di Lereng Arga Lawu”

Mangunan: Menyapa Fajar dari Kayangan

Mangunan: Menyapa Fajar dari Kayangan

 

Lima tahun lalu, nama Mangunan belum banyak didengar publik, khususnya wisatawan sebagai destinasi populer di Yogyakarta. Namun, sejak potret Mangunan dengan sungai awannya yang mengalir lembut tersebar di jagad maya, perlahan namanya merangkak naik dan berhasil menarik hati banyak pengunjung untuk menyambanginya.  Lanjutkan membaca “Mangunan: Menyapa Fajar dari Kayangan”

Umbul Cokro, Si Bening dari Klaten

Umbul Cokro, Si Bening dari Klaten

Potret sungai mengalir jernih nampaknya telah menjadi barang langka, terutama untuk mereka yang tinggal di perkotaan. Langka bukan berarti punah, di sudut kabupaten Klaten masih terjaga sebuah kawasan mata air yang kini menjadi terkenal karena kejernihannya, saking jernihnya seolah bisa langsung diminum. Terdapat tiga mata air atau umbul yang kini menjadi primadona Klaten, yaitu Umbul Ponggok, Umbul Manten dan Umbul Cokro. Lanjutkan membaca “Umbul Cokro, Si Bening dari Klaten”