Kalau ditanya soal moda transportasi apakah yang paling sering saya gunakan, maka jawaban saya adalah kereta api. Moda transportasi berbasis rel besi ini punya keunggulan yang tidak didapat dari angkutan umum lainnya: lebih nyaman, aman, dan tepat waktu.

Semangat saya membuncah kala seorang kawan mengajak pergi jelajah akhir pekan ke Rangkasbitung. Kota ini belum pernah saya sambangi sebelumnya. Tapi, saya mendapat bocoran dari tulisan beberapa blogger, katanya kota kecil di barat Jakarta ini punya sebuah museum yang terlalu sayang untuk tidak disinggahi.

  Minggu, 30 September 2018 lalu saya pulang dari Cirebon menaiki kereta api Tegal Ekspress. Perjalanan hari itu menandai ke-72 kalinya saya menaiki kereta api lintas provinsi sepanjang tahun 2017-2018.

Sebagai kota pelabuhan yang letaknya persis di pinggir laut, cuaca panas terik adalah bagian tak terpisahkan dari Kota Cirebon. Tapi, jangan enggan dulu untuk berkunjung ke sini. Melipir sedikit ke selatan, ada dua loka istimewa yang tak boleh dilewatkan.

  Pernah mendengar nama Panyaweuyan? Kalau nama itu diketik di mesin pencari, maka muncul berbagai laman yang menggambarkan keindahan kebun sayur yang berjejer rapi di punggung-punggung bukit. Sedap dipandang. Saya tidak sengaja menemukan postingan tempat ini saat sedang buka Instagram. Kira-kira tiga bulan setelah itu, saya pun menyambanginya dan dibuat kagum oleh panorama Terasering Panyaweuyan yang rasanya seperti gambaran kecil sebuah swargaloka.

“Ketemu di Stasiun Palmerah jam 8 ya Ry!” kata Advent, rekan saya yang akan menjadi kawan perjalanan jelajah Sabtu ini. Jam 07:45 saya sudah tiba di Stasiun Tanahabang. Buru-buru saya berlari, pindah peron dari jalur dua ke lima untuk menaiki KRL tujuan Rangkasbitung yang berangkat tepat pukul 07:50. Tapi saya bernasib sial. Stasiun dipadati penumpang. Eskalator pun mampet. Alhasil saya pun tertinggal kereta.