Ada kalanya di tengah ritme hidup yang semakin rumit, kita perlu berhenti sejenak. Berhenti untuk terlarut dalam liturgi, ataupun bisikan angin. Ketika jiwa telah kembali penuh, kembalilah kita pada ibadah yang sejati, “Pergilah dan perbuatlah demikian.” Jalanan Yogyakarta tak lagi selenggang dulu, kini perlu waktu bermenit-menit untuk bisa lolos dari satu lampu merah ke lampu merah berikutnya. Perjalanan menuju Prambanan di jam-jam sibuk bisa jadi perjalanan yang cukup melelahkan lantaran macet yang… Baca Selengkapnya

Kereta Api Sri Tanjung mengantarkan kami bertiga melintasi tiga provinsi, dari D.I Yogyakarta menuju kabupaten palig timur di tanah Jawa, Banyuwangi. Biasanya ketika bepergian ke Timur, orang akan langsung menuju Bali dan melewatkan Banyuwangi, padahal kabupaten di tanah Blambangan ini juga tak kalah menarik ketimbang pulau Dewata. Rabu pagi 23 Maret 2016, pukul 06:30 kami sudah berdiri manis di peron menanti kereta Sri Tanjung yang tengah dilangsir. Kereta diparkir di jalur II… Baca Selengkapnya

Laju bus yang lambat harus berpacu dengan waktu yang beranjak sore. Bus tua nan sesak mengantarkan kami menembus jalan berliku menuju Parapat, sebuah kota kecil di tepi kaldera Toba yang dilintasi jalan Trans-Sumatra. Perlahan tapi pasti, bau keringat ditambah kesesakan dalam bus memicu rasa mual namun syukurlah panorama Toba dari kejauhan mengobati diri dari kepenatan perjalanan. Tak sampai dua jam, bus bernama “Sejahtera” yang kami tumpangi dari Pematangsiantar ini tiba di Parapat. Beruntung… Baca Selengkapnya

Hampir lima puluh jam perjalanan kami membelah pegunungan tengah Aceh. Tiba di Berastagi seolah melupakan penatnya badan dari perjalanan panjang. Pusat kota Berastagi begitu sejuk, ditambah semerbak aroma makanan dari pedagang kaki lima juga puncak Sibayak yang menjulang menjadi magnet kota kecil ini. Walaupun kecil, Berastagi jadi tempat persinggahan bagi para backpacker yang hendak melakukan perjalanan ke utara menuju Aceh ataupun ke selatan menuju Toba. Bagi kami Berastagi adalah kebahagiaan. Sebelumnya, selama di Aceh… Baca Selengkapnya

Pertama kali seumur hidup, kami digirng masuk ke dalam kantor polisi bersama seluruh penumpang minibus. Perempuan tua renta yang duduk di samping kami ternyata kedapatan membawa ganja seberat lima kilogram untuk dibawa ke Medan. Kaget sekaligus miris, bagaimana bisa sesosok wanita renta berkerudung itu menyembunyikan barang haram di balik tas bahkan jilbabnya. Namun, itulah yang terjadi di Aceh Tenggara dimana ganja masih menjadi ironi antara kemiskinan dan bisnis yang menggiurkan. 13 Juli 2015,… Baca Selengkapnya

Jika Eropa memiliki Swiss yang khas dengan pegunungan Alpennya, Jawa yang memiliki dataran tinggi Dieng, Sumatra juga memiliki Takengon sebuah kota yang tak kalah dengan kota-kota dataran tinggi lainnya. Terletak di Aceh Tengah, Takengon sering juga dijuluki sebagai “Kota Dingin” karena jam 12 siang pun masih terasa sejuk. Perjalanan kami telah menyentuh hari ke-12 dari total 30 hari. Bertolak dari Banda Aceh, kami menaiki sebuah mobil travel atau disebut juga taksi. Terlambat 30 menit dari… Baca Selengkapnya