Beberapa hari lalu, saya iseng membuka hardisk dan membongkar foto-foto lawas di dalamnya. Di salah satu folder yang dibuat tahun 2010, saya menemukan foto sesosok anak kelas dua SMA yang sedang duduk di atas kereta api Lodaya tujuan Solobalapan. Si anak itu tidak sedang hendak pergi ke Solo, dia cuma iseng jalan-jalan kala malam ke stasiun dan numpang foto. Dan…anak itu ialah saya sendiri.

Selasa (20/11) yang lalu, rekan-rekan di kantor mengajak saya pergi jalan-jalan. “Ke Hutan Kota Srengseng yuk,” kata mereka. Saya mengernyit. Baru pertama kali dengar nama itu. Setahu saya, kawasan hijau yang mirip-mirip hutan di Jakarta itu cuma di Taman Suropati, atau kalau mau melipir lebih jauh lagi ya Kebun Raya Bogor, kawasan hijau yang bentuknya paling mirip dengan hutan.

Hampir lima tahun pernah tinggal di Jogja, tapi belum pernah sekalipun saya menyambangi kompleks Imogiri. Barulah di bulan kemarin, kesempatan berkunjung ke sana akhirnya terwujud.

  Beberapa saat lagi Kereta Api (KA) Argo Dwipangga akan tiba di jalur 5 Stasiun Tugu, Yogyakarta. Kereta berangkat dari Stasiun Solo Balapan dengan tujuan akhir menuju Stasiun Gambir, Jakarta.

  Delapan dekade lalu perang mahadahsyat pernah berkecamuk. Perang yang bermula di Eropa dengan cepat menjalar ke berbagai penjuru dunia, tak terkecuali kepulauan Nusantara yang kala itu masih bernama Hindia-Belanda. Meski pada tahun 1945 perang dinyatakan berakhir dan dimenangkan oleh pihak Sekutu, jerit dan pilu keganasannya tak pernah benar-benar sirna. Kemenangan sekalipun tak mampu memulihkan luka dari perang.

  Jumat (12/10) akhirnya terwujud juga keinginan saya untuk menjajal Kereta Api Brantas (KA) yang belum pernah saya naiki sepanjang hidup.