Berkat Tuhan Sehabis Lulus

Kisah hidup mahasiswa itu beragam dan nyaris tak pernah bisa ditebak. Ada mereka yang lulus lama tapi cepat mendapat kerja atau wirausaha, ada pula yang lulus cepat namun menganggur lama. Pertanyaan mau kemana setelah lulus kuliah jauh lebih sulit dijawab ketimbang saat SMA dulu. IPK tinggi belum menjamin karier, pergaulan luas juga belum tentu menjamin akses pekerjaan, demikian juga dengan tebalnya CV. Tapi, satu hal yang pasti menjamin adalah ketekunan.

Sehari setelah dinyatakan lulus sebagai sarjana pada 5 September 2016 lalu pertanyaan “mau kerja di mana dan ngapain?” segera menghantui. Mau tidak mau pertanyaan itu menghinggapi di pikiran setiap saat. Setiap kali melihat website lowongan kerja, ada banyak banget lowongan tapi nyaris tak ada yang sreg di hati. Berpacu dengan waktu, segera kudatangi berbagai acara Job Fair yang diselenggarakan oleh banyak kampus. Tapi, usaha itu belum jadi jalan yang tepat untuk mengantarkanku mendapat pekerjaan impian.

Setiap kali datang Job Fair, nyali serasa ciut. Pasalnya, Job Fair diisi oleh orang-orang yang sangat membutuhkan pekerjaan. Berseragam rapi, membawa setumpuk berkas sambil harap-harap cemas bisa lolos seleksi. Aku pun demikian, hanya aku tak terlalu berharap banyak dengan Job Fair.

Selama seminggu penuh aku mengikuti tes seleksi psikotes yang diselenggarakan dari perusahaan tempatku melamar. Gagal di pertama kali tidak masalah, aku masih punya cukup semangat. Tapi, ketika gagal di yang kedua, ketiga dan seterusnya, perlahan semangat mulai tergerus. Juga ketika satu perusahaan yang diminati ternyata tidak menerima kita sebagai kriteria rekrutmennya, tambah menipislah semangat ini.

Aku belajar banyak dari setiap tes yang diikuti, belajar untuk teliti dan mengerti realita mencari pekerjaan. Satu hal yang membekas adalah kegagalan-kegagalan tersebut mengantarkanku untuk tekun dan tidak menyerah walau keadaan seolah memaksa untuk kita menyerah.

Sebulan setelah bergulat dengan aneka pekerjaan yang dilamar, aku memutuskan untuk berhenti sejenak. Momen berhenti ini kugunakan untuk mengoreksi diri dan menanyakan kembali “sebenarnya aku ini mau apa?”. Aku menyadari, ibarat mencari sebuah arloji di tumpukan segunung jerami, aku terlalu sibuk mengorek hingga tak menemukan arloji itu. Hingga ketika aku memutuskan untuk berhenti dan hening, perlahan aku mendengar suara detak arloji tersebut. Dari suara itulah akhirnya aku bisa menemukan letak arloji tersembunyi itu.

Nampaknya perumpaan ini menyadarkanku. Aku berhenti, menggali potensi diri, berserah dan mulai fokus dengan pekerjaan part time yang sebelumnya sudah kujalani sejak semester empat. Kesetiaan dalam perkara kecil akan membawa pada perkara besar, setidaknya aku percaya hal itu.

Doa Terjawab

Aku bergumam singkat, “Tuhan semesta, kemana engkau menuntun, ke situ aku berjalan.” Tepat hari Senin dua minggu lalu, aku melamar pekerjaan ke sebuah lembaga nirlaba yang bergerak dalam media online. Aku sangat tertarik dan bergairah untuk bisa bergabung dengan perusahaan itu, entah apa yang mendasarinya, tapi kupikir ini sesuai dengan passionku. 

Singkatnya, tiga hari setelah melamar aku mendapat panggilan dari bagian HR untuk melakukan wawancara. Berhubung aku tidak berada di Jakarta, maka pihak perusahaan menawarkanku untuk wawancara online menggunakan Google Hangouts. Aku mengiyakan dan mencari warnet dengan koneksi terbaik. Rasa gugup melanda karena pewawancaraku adalah tiga orang, di mana dua orang berlokasi di Singapura dan satu orang di Jakarta. Seluruh wawancara menggunakan Bahasa Inggris.

Sempat dibuat panik dan gugup, wawancara pun usai dan pihak perusahaan memberikan sebuah challenge untuk mengedit dan menerjemahkan artikel dari bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Semua persyaratan telah kupenuhi dan tibalah saatya menunggu dengan damai. Tapi, rasa was-was tetap ada. “Kalau gak lolos, mau ke mana lagi ya?” gumamku.

Tiga hari setelah pengumpulan berkas, pihak perusahaan menghubungiku via email dan telepon. Kala itu hari Senin dan mereka meminta aku harus hadir di Jakarta pada Selasa pagi untuk wawancara. Aku panik, bagaimana caranya aku ke Jakarta padahal saat itu sudah pukul 15:00 di Jogja. Naik pesawat aku tak punya uang, solusinya adalah naik kereta.

Baru bersiap-siap untuk ke stasiun, pihak perusahaan menelpon. Mereka tidak membolehkanku untuk naik kereta api dan menyediakan tiket pesawat pertama hari Selasa. Tidak selesai sampai di situ, setibanya di Bandara Soetta Jakarta, aku pun dijemput oleh pihak perusahaan dan diajak makan siang hingga tibalah waktu untuk melakukan wawancara tahap akhir.

Hari itu adalah hari bersejarah bagiku karena wawancara akhir di perusahaan ini memberiku pengalaman akan proses yang berbuah manis. Perusahaan menerimaku untuk menjadi bagian dari mereka. Semua di luar ekspektasi awalku. Tak lupa, seorang staff juga membantuku untuk mencari kost-kosan. Tak habis sampai di situ, ongkos untuk kembali ke Jogja pun ditanggung oleh perusahaan.

“Siapalah aku ini,” gumamku. Aku terharu atas pengalaman hari itu. Aku yang berstatus mencari kerja seharusnya aku yang berusaha sendiri untuk mencapai perusahaan itu. Tapi, mereka malah menyambutku dengan sukacita, jauh lebih dari apa yang pernah kupikirkan sebelumnya.

Aku speechless, tapi sungguh bersyukur. Aku merasa begitu kerdil dan tak berdaya, namun diberkan kesempatan sebesar ini. Ada seberkas sukacita yang mengalir karena pada akhirnya aku mendapatkan karier pertama yang sesuai dengan passionku. Aku tak mau bekerja di bidang marketing walaupun nyaris di setiap Job Fair hanya posisi inilah yang ditawarkan.

Di akhir tahun ini, perjalanku akan berpindah. Dari kota Jogja menuju Ibukota Jakarta. Dari seorang pejalan low budget menjadi staff sebuah kantor. Karier permanen pertamaku diawali dengan sebuah posisi sebagai seorang content developer dari sebuah website pelayanan rohani yang memang adalah passionku. Berbagi cerita, menulis, menginspirasi pembaca tetap akan jadi bagian hidupku yang tertuang dalam pekerjaan baru ini.

Aku harus belajar mencintai Jakarta sebagaimana aku mencintai Jogja.

Demi Mudik, Jarak Bukan Masalah

20140724_012219

Jupiter MX tercinta saat beristirahat di SPBU Losari

Mudik lebaran selalu menjadi momentum istimewa bagi hampir seluruh warga Indonesia. Lebaran tak hanya dinikmati oleh mereka yang Muslim, tapi oleh semua orang karena hampir seluruh kegiatan terhenti di hari istimewa ini. Gelombang jutaan pemudik yang terpusat dari kota besar mengalir dalam kurun waktu kurang dari satu minggu menuju kampung halaman. Alhasil, kota besar menjadi lengang tetapi jalur mudik menjadi padat bahkan macet. Menjadi unik karena berbagai upaya ditempuh orang demi merayakan hari istimewa bersama dengan orang terkasih.

Kesempatan libur lebaran 2014 ini menjadi momen pertama saya untuk mudik. Setelah menetap selama dua tahun di Yogyakarta, kali ini saya memilih mudik dengan cara sedikit menantang, yaitu mudik naik motor dari Jogja-Bandung pp sendirian. Sebetulnya ada rasa was-was mengingat setiap musim mudik tiba selalu ada ratusan pengendara motor yang naas mengalami kecelakaan bahkan meninggal. Namun, keinginan untuk bertemu keluarga sudah terlampau besar sehingga gambaran resiko buruk pun ditepis.

Berhubung saya sudah bekerja jadi waktu mudik baru bisa dilakukan empat hari sebelum lebaran, mengingat kantor baru memberikan cuti pada tanggal tersebut. Tepat hari Rabu, 23 Juli 2014 pukul 15:00 saya berangkat dari Babarsari, Sleman, Yogyakarta. Menggunakan sepeda motor Jupiter MX keluaran 2009 yang sudah diservis perjalanan mudik terasa riang. Motor melaju santai menembus ramainya Jogja, mulai dari jalan Solo hingga Malioboro yang kala itu padat oleh wisatawan.

Tidak ada kepadatan kendaraan hingga sekitar pukul 16:00 saya sudah keluar dari DIY menuju Purworejo. Pukul 16:40 tiba di Purworejo, Jawa Tengah dan istirahat sejenak di SPBU di barat kota. Disana membeli segelas teh panas dan tiga buah gorengan dari seorang ibu yang berjualan disana. Seraya menyeruput teh, sang Ibu tak henti-hentinya bercerita mengenai perjuangan cintanya dengan seorang mahasiswa yang kandas di tengah jalan.

Setelah 20 menit beristirahat, perjalanan dilanjutkan. Tepat pukul 17:00 motor kembali dipacu melewati jalan raya Purworejo-Kebumen yang sudah padat oleh kendaraan ke arah timur. Tiba di Gombong, Kebumen pada pukul 18:45 akibat jalanan yang padat merayap. Di sini saya singgah selama 1 jam di rumah seorang kawan untuk mandi dan alhamdullilah puji Gusti dapat makan malam gratis dan diberikan tempe mendoan mentah sebanyak satu karung.

20140723_234723

 

rest area SPBU Prupuk, Tegal

Pukul 20:00 perjalanan dilanjutkan kembali. Rute yang dilewati adalah Kebumen – Wangon – Ajibarang. Jalur selatan menuju Nagreg tidak dipilih karena saya ingin mencoba jalanan baru. Hujan deras mengguyur ketika tiba di Ajibarang. Sepanjang jalur Ajibarang hingga Prupuk, Tegal kendaraan didominasi oleh bus yang mengarah ke Purwokerto. Akibatnya kendaraan yang mengarah ke Jakarta harus banyak mengalah lantaran jalurnya dimakan oleh bus yang menyalip sembarangan.

Pukul 23:00 tiba di SPBU Prupuk, Tegal. Terdapat puluhan pemudik yang beristirahat disini, kebanyakan mereka berasal dari Jakarta dan hendak mudik ke Purwokerto, Cilacap, dan Jogjakarta. Sekitar 45 menit beristirahat, perjalanan dilanjutkan kembali dengan mengambil arah Prupuk – Ketanggungan – Cirebon. Jalur arah timur padat merayap dan sempat macet total di Ketanggungan akibat membeludaknya jumlah kendaraan imbas dari ditutupnya jembatan Comal.

Pukul 01:30 tiba di Losari, Jawa Barat. Mata sudah tidak kuat menahan kantuk. Tanpa ragu sebuah SPBU langsung disambangi dan mulai tidur disana hingga pukul 03:00. Walau hanya tidur singkat, namun cukup untuk memulihkan kembali stamina. Perjalanan etape terakhir ini dilanjutkan dengan penuh semangat, hingga tepat pukul 07:20 tiba dengan selamat di kota halaman tercinta, Bandung. Total perjalanan kali ini adalah 17 jam dengan bensin 9 liter.

 

PERJALANAN BALIK BANDUNG – YOGYAKARTA 

Setelah sembilan hari puas menikmati hangatnya kebersamaan keluarga, Sabtu, 2 Agustus 2014 dengan berat hati meninggalkan Bandung kembali. Pukul 17:30 berangkat dari Cibereum, Bandung membelah kota Bandung ke arah timur. Jalanan padat sepanjang Cicaheum – Cileunyi harus ditempuh selama hampir satu jam. Tidak ada kemacetan sepanjang ruas Cileunyi-Nagreg. Memasuki area Limbangan kemacetan parah terjadi arah Jakarta. Kendaraan yang hendak ke barat terhenti total nyaris tak bergerak.

Pukul 21:00 tiba di Ciawi, Tasikmalaya. Disini seraya berhenti, mengisi perut juga dengan sepiring nasi goreng seharga Rp 10.000,-. Kemacetan total kendaraan yang mengarah ke Jakarta terus terjadi hingga memasuki kota Ciamis. Memasuki kota Banjar pukul 23:00 dan bertemu dengan seorang pemudik motor dari Jakarta tujuan Karangpucung. Kami berjalan beriringan mengingat ruas jalan Banjar-Lumbir merupakan hutan yang gelap.

Hujan gerimis turun hingga memasuki Majenang. Mulai dari Wanareja, seluruh kendaraan terhenti total, baik yang mengarah ke Jakarta atau Jogja. Padatnya kendaraan dan ketidaktaatan akibat memakan jalur membuat kendaraan tak bisa bergerak sama sekali. Hanya motor yang dapat menembus kemacetan itu dengan berjalan di bahu jalan. Puluhan polisi berusaha keras mengatur lalu lintas agar dapat dilalui kembali. Kendaraan terhenti total dimulai dari Wanareja hingga Karangpucung.

Macet merayap di ruas Ciawi-Tasikmacet merayap di ruas ciawi-tasikmalaya

Pukul 00:45 baru tiba di Majenang, tak ada tempat istirahat karena SPBU sudah dipadati oleh ratusan pemudik yang kelelahan akibat macet. Perjalanan dilanjutkan kembali dan hujan besar turun di Karangpucung. Disini kendaraan sudah terurati macetnya, namun insiden terjadi. Sebuah bus Murni Jaya menyalip kencang saat tikungan tajam membuat saya membanting stir dan terjerembab dalam lumpur. Untung tidak terluka, hanya terjatuh biasa. Hujan semakin deras dan jalanan kian sepi, beruntung ada dua pemudik motor tujuan Purwokerto sehingga kami berjalan berdampingan melewati gelapnya hutan ruas Karangpucung-Lumbir.

Pukul 03:30 baru tiba di Jatilawang. Badan serasa remuk dan kaki penuh lumpur memaksa saya singgah di SPBU Jatilawang. Namun, lagi-lagi penuh oleh ratusan pemudik. Beruntung masih ada beberapa jengkal lantai kosong di depan musholla. Setelah membersihkan diri di WC umum, saya rehat sejenak. Tanpa pamit, badan segera jatuh tidur hingga adzan maghrib membangunkan pukul 04:50. Satu persatu pemudik motor melanjutkan perjalanannya, saya yang terakhir.

Pukul 05:00 hujan kembali mengguyur deras dan perjalanan dilanjutkan kembali. Memasuki Karanganyar, Kebumen pukul 06:30. Disini saya bertemu dengan seorang Bapak yang hendak mudik dari Jakarta menuju Pacitan. Ia telah menempuh perjalanan selama 36 jam dari Jakarta menuju Wangon akibat macet sepanjang ruas Cikampek dan Prupuk, Tegal. Kami berpisah karena saya mengendarai lebih cepat tak tahan ingin cepat sampai Jogja.

Pukul 08:20 tiba di Wates, Kulonprogo. Rasa bahagia dan semangat untuk cepat sampai kembali memuncak. Berhubung jalanan di DIY mulus tak berlubang motor pun dipacu hingga 100Km/jam. Tepat pukul 09:10 tiba dengan selamat di Babarsari, Yogyakarta.

Perjalanan mudik kali ini memang penuh resiko, tetapi inilah gambaran dari betapa besar harga sebuah kebersamaan. Jutaan orang rela bertaruh nyawa bersama anak isterinya dengan berkendara motor ratusan kilometer demi keluarga. Inilah hal yang tak dapat dibeli dengan uang, mereka bisa saja menghabiskan tabungan mereka untuk mudik satu kali tetapi itu berarti mereka harus menunda mudik selanjutnya. Tak semua orang diberi hidup berkelimpahan secara ekonomi, tetapi ada yang berkecukupan alias pas-pasan, tetapi rasa kasih sayang pada keluarga tidak pernah berkekurangan. 

Hidup memang adalah sebuah perjalanan, sebuah perjalanan mudik panjang menuju kekekalan. Setiap kita memiliki jalur mudiknya masing-masing, jalanilah itu dengan setia hingga kelak kita menghadap Pencipta. 

Salam,

Yogyakarta, 4 Agustus 2014