Kala Senja di Meester Cornelis

Meester Cornelis? Pernah dengar namanya atau menyambanginya? Mungkin nama ini terdengar asing bagi kita, juga saya yang hidup di abad ke-21. Namun, jika kita telisik lebih dalam, Meester Cornelis sebetulnya bukanlah tempat yang asing. Setiap penumpang kereta api dari arah timur yang menuju Jakarta, pasti akan melewatinya. Meester Cornelis yang sekarang kita kenal adalah Jatinegara, sebuah kecamatan yang terletak di timur Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Continue reading “Kala Senja di Meester Cornelis”

Iklan

Memahami Jakarta dari Sunda Kelapa

Jika diibaratkan sebagai manusia, usia Jakarta tidak lagi belia. Detak jantunya tak beraturan karena jalan-jalannya begitu semerawut. Paru-parunya sesak karena polusi menyusupi setiap partikel udaranya. Nadinya pun kian menyempit karena setiap jengkal ruang kosong telah disulap menjadi hutan beton. Di usianya yang sepuh, Jakarta masih berjuang untuk memulihkan dan memuliakan dirinya menjadi sebuah megapolitan yang sehat dan ramah. Continue reading “Memahami Jakarta dari Sunda Kelapa”

Kawan, Sesekali Singgahlah ke Katedral

Aku bukan seorang pemeluk Katolik. Akan tetapi, aku sangat suka dengan Gereja Katedral dan sudah saban kali singgah di tempat ini. Ketika ada teman yang bertanya mengapa aku begitu getol pergi ke Katedral, jawabanku cuma satu: tempatnya adem, nenangin jiwa. Kalau mereka tidak puas dengan jawaban itu, aku akan menambahkan: Kalau gitu, mending coba aja mampir ke sana. Continue reading “Kawan, Sesekali Singgahlah ke Katedral”

Yang Tetap Bertahan di Jakarta

Setiap bulan sekali, ada sebuah pertemuan rutin yang kami sebut sebagai “Jakarta Squad”. Biasanya, kami duduk melingkar di kamar kos yang sempit, atau kadang pula berkumpul di loteng, memandangi gedung-gedung tinggi menjulang sambil mengoceh tentang banyak hal. Continue reading “Yang Tetap Bertahan di Jakarta”

Menjajal Hidup ala Warga Komuter

“Di Jakarta mah kalaupun gaji lumayan, pengeluarannya juga gede bro!” kata temanku. Sejak kuliah di Jogja dulu, aku sudah tahu dan yakin benar kalau hidup di Jakarta itu tidak murah, apalagi jika dibandingkan dengan biaya hidup di Jogja yang hanya dengan modal selembar goceng bisa dapat sepiring nasi telur plus sayur dan minum. Tapi, apa daya, pada akhirnya pekerjaan harus membawaku hidup dan menjadi bagian dari metropolitan penopang jutaan jiwa lainnya.

Continue reading “Menjajal Hidup ala Warga Komuter”