1 November 2016: Babak Baru Perjalanan di Jakarta

1 November 2016: Babak Baru Perjalanan di Jakarta

Tepat hari ini, setahun lalu adalah hari yang tidak akan saya lupakan. Usaha seorang sarjana yang belum diwisuda dalam mencari-cari pekerjaan akhirnya membuahkan hasil. Saya dipanggil ke Jakarta untuk sebuah wawancara kerja.

Lanjutkan membaca “1 November 2016: Babak Baru Perjalanan di Jakarta”
Editor, Bukan Sekadar Duduk di Kantor

Editor, Bukan Sekadar Duduk di Kantor

Kepalaku pening menatap layar laptop berjam-jam. Bokongku rasanya sudah menempel sempurna dengan kursi. Dari langit terang sampai gelap, tulisan-tulisan tidak pernah habis untuk diedit. Rutinitas edit-mengedit ini sepintas terlihat mudah. Editor kerjanya duduk dan memelototi deretan kata, lengkap dengan tanda bacanya. Lanjutkan membaca “Editor, Bukan Sekadar Duduk di Kantor”

Sekelumit Ceritaku Sebagai Seorang Editor

Sekelumit Ceritaku Sebagai Seorang Editor

Pekerjaan adalah panggilan hidup. Kalimat ini sekilas terdengar klise buatku yang waktu itu masih tidak tahu apa panggilan hidupku sebenarnya. Menjelang lulus kuliah, panggilan hidupku adalah untuk bekerja mencari gaji besar, hidup mapan, membahagiakan orang tua, dan pokoknya mengejar segala yang baik. Tapi, lewat waktu demi waktu, lambat laun aku mulai menyadari apa yang menjadi panggilan hidupku sebenarnya.

Lanjutkan membaca “Sekelumit Ceritaku Sebagai Seorang Editor”

Ketika Pilihan Karier Kami Jatuh Bukan di Tempat Profit

Ketika Pilihan Karier Kami Jatuh Bukan di Tempat Profit

 

Hari itu adalah Hari Buruh Internasional. Ketika jagad media berisik membahas demo di Jakarta yang berujung bakar-bakaran bunga, kami bertemu di sebuah gang sempit, di warung mangut lele yang paling terkenal di seantero Yogyakarta. Sambil mencicip ikan lele bertabur cabe, keringat bercucuran membasahi wajah, tapi pembicaraan kami hari itu bukan tentang lezatnya ikan lele, melainkan tentang sebuah topik yang cukup berat: idealisme.

Lanjutkan membaca “Ketika Pilihan Karier Kami Jatuh Bukan di Tempat Profit”

Bertemu Oma Tilly: Walau Tak Dapat Melihat, Tapi Masih Mau Menulis

Bertemu Oma Tilly: Walau Tak Dapat Melihat, Tapi Masih Mau Menulis

Selalu saja ada hal menarik dari pekerjaan sebagai editor. Tulisan-tulisan yang masuk ke redaksi setiap harinya beraneka-ragam seperti sepiring rujak buah. Ada tulisan yang manis mengaharukan tapi ada juga tulisan yang kecut dan harus membuat si editor garuk-garuk kepala. Lanjutkan membaca “Bertemu Oma Tilly: Walau Tak Dapat Melihat, Tapi Masih Mau Menulis”

Apa Nikmatnya Seharian Bekerja Hanya di Depan Komputer?

Apa Nikmatnya Seharian Bekerja Hanya di Depan Komputer?

 

Aku hampir tidak percaya kalau saat aku menuliskan cerita ini, ternyata sudah lebih dari empat bulan kulalui di Jakarta. Perlahan tetapi pasti aku pun larut dalam rutinitas khas ibukota—masuk pagi, duduk berjam-jam di hadapan layar komputer, pulang, dan itu berlanjut setiap harinya sembari berharap akhir pekan datang lebih cepat. Lanjutkan membaca “Apa Nikmatnya Seharian Bekerja Hanya di Depan Komputer?”