Senja di Halaman Belakang

Menghabiskan senja di kaki gunung adalah momen yang begitu nyaman. Di kaki gunung Ungaran, angin sejuk bertiup lembut dan langitnya berwarna biru muda. Tak ada suara bising kendaraan bermotor ataupun suara klakson yang bersahutan. Satu-satunya suara yang berpadu dengan suasana senja waktu itu adalah lantunan lagu-lagu dari sebuah gereja Katolik yang berada di tengah dusun.

Continue reading “Senja di Halaman Belakang”

Surat untuk Temanku yang Tak Lagi Bujang Hari Ini

Aku masih tidak menyangka bahwa obrolan ngalor-ngidul di pelataran Candi Barong tahun 2013 lalu itu menjadi kenyataan. Waktu itu, kami saling mengejek diri kami masing-masing sebagai seorang jomblo. Johannes, alias Paijo, pernah berpacaran di negerinya, kemudian putus. Senada dengannya, bahkan lebih tragis lagi, aku belum pernah berpacaran sama sekali.

Continue reading “Surat untuk Temanku yang Tak Lagi Bujang Hari Ini”

Bermula dari Sekadar Live-In, Berlanjut Jadi Keluarga

IMG_3904
Bersama keluarga Ibu Helen, 4 Juni 2017

Dari sebuah desa di perbukitan Menoreh, perjalanan yang panjang dimulai. Dari sinilah, hasrat untuk pergi merantau dari rumah mencuat dan menjadi nyata satu tahun setelahnya.

Enam tahun lalu, sebagai seorang bocah SMA kelas XI yang tumbuh besar di kota, melihat desa yang hijau dipenuhi sawah adalah sukacita tak terkatakan. Bukan suatu kebetulan karena waktu itu pihak sekolah memilih sebuah desa yang masih amat asri untuk dijadikan lokasi live-in. Setiap siswa dibagi-bagi ke dalam kelompok kecil berjumlah dua orang. Dua orang inilah yang ‘diutus’ untuk tinggal, membaur, dan menyatu dalam keluarga angkat selama tiga hari dan dua malam.

Hari pertama, 1 Maret 2011, kami tiba di depan gereja Katolik St. Theresia Lisieux yang menjadi titik kumpul. Gereja ini unik, menaranya tinggi menjulang, loncengnya berbunyi nyaring, dan pemandangan di sekitarnya amat hijau. Secara demografi, desa Boro yang menjadi destinasi live-in ini memang banyak dihuni oleh penganut Katolik. Ada kapel-kapel kecil yang tersebar di sudut-sudut desa, juga sekolah dasar yang dikelola oleh yayasan Katolik berdiri di samping gereja.

Tatkala kami semua berkumpul menunggu instruksi, puluhan warga desa yang didominasi ibu-ibu turut hadir di pelataran gereja. Merekalah yang nantinya akan menjadi orangtua angkat kami selama tiga hari itu. Kami bertanya-tanya dalam hati. Seperti apakah rumah yang akan kami tempati nanti? Makanan seperti apa yang akan kami makan? Akan melakukan apa saja nanti di sana? Pertanyaan itu masih menjadi misteri hingga beberapa menit ke depan. Ketika aku merasa amat antusias untuk segera memulai aktivitas live-in, ada juga beberapa teman yang keburu takut. Belum mulai saja mereka sudah merasa tidak betah dan ingin segera pulang.

“Aryanto, Riky!” Nama kami dipanggil, dan seorang ibu bernama Helen menyambut kami dengan senyuman. Sempat canggung, aku menyalami tangan sang ibu, membalas senyumannya, dan mengenalkan diri. Kemudian, kami berjalan kaki meninggalkan pelataran gereja menuju rumah.

Rupa-rupanya, Tuhan mendengar doaku. Waktu itu, aku berdoa supaya boleh mendapatkan kesempatan tinggal di keluarga yang sederhana supaya aku bisa mendapat pengalaman maksimal. Rumah ibu Helen berlantai tanah. Bangunannya hampir permanen, dindingnya terbuat dari bata merah tanpa ditutup semen. Tepat di depan rumah, terhampar persawahan dan bukit-bukit nan hijau. Tak ada kompor gas, televisi, kulkas, ataupun radio. Suasana rumah begitu hening, hanya sesekali hening itu pecah tatkala anjing-anjing mulai menyalak.

P1050603
Dapur keluarga Ibu Helen

Ternyata, dari kesederhanaan itu, ibu Helen memperlakukan kami amat istimewa. Kami tidak dianggap hanya sekadar tamu, tapi seolah-olah kami adalah salah satu dari anaknya. Aneka hidangan tersaji di atas meja makan. Menu-menunya sederhana. Ada ikan goreng, daun singkong, tempe, tahu, dan segelas teh manis panas. Tatkala kami makan, ibu duduk di samping kami, mengajak kami ngobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal.

Ibu Helen telah menikah dengan Florensius Sumaryo, atau aku menyebutnya sebagai Pak Maryo. Mereka dikaruniai empat orang anak. Sang bapak bekerja di sebuah sekolah swasta di kota Yogya dan memacu sepeda motornya setiap hari pulang pergi sejauh 50 kilometer, dari kota Yogya menuju Kalibawang. Jarak yang jauh itu dilakoninya setiap hari. Sementara bapak bekerja di kota, ibu membaktikan dirinya sebagai seorang petani. Tiap pagi setelah bapak berangkat, ibu akan beranjak ke sawah hingga tengah hari. Apabila musim panen tiba, waktu kerja di sawah akan dihabiskan lebih lama.

Setiap paginya, kami mengikuti aktivitas ibu turun ke sawah. Bukannya membantu, tapi kami malah merusak padi-padi yang telah tertanam. Sebagaimanapun kami mencoba, tangan kami tidak berbakat untuk menanam padi secara lurus. Tanpa perhitungan matematika, tanpa alat bantu, padi-padi yang ditanam ibu berbaris rapi. Tak miring ke kanan atau ke kiri sama sekali.

P1050573
Babi merah muda di desa Boro

Di siang hari, kami pergi ke bukit-bukit untuk mencari kayu bakar. Dalam perjalanan pulang, kami mampir sejenak di kandang babi dan menatap satu per satu babi-babi gembur yang kelak hidupnya akan berakhir di meja makan. Tiga hari yang singkat itu kami gunakan semaksimal mungkin. Dan, ketika tiba harinya kami berpisah, rasa haru menyelimuti kami. Aku berjanji dalam hati, suatu saat aku akan kembali ke tempat ini.

***

Satu tahun berselang, ternyata aku memang kembali. Tatkala teman-teman memilih untuk tetap melanjutkan kuliah di Bandung, aku memilih Jogja sebagai kota tujuanku untuk melanjutkan hidup. Empat tahun dan enam bulan kuhabiskan di kota ini, larut dalam ritmenya yang santai dan sederhana. Selama waktu itu pulalah, rumah ibu Helen dan bapak Maryo selalu terbuka menyambutku. Di sela-sela kuliah, saat akhir pekan, atau kala liburan, aku selalu singgah di rumah mereka. Kadang, aku tak sekadar singgah, tapi juga menginap selama satu malam hanya untuk melepas penat dan mendengar suara jangkrik malam-malam.

Aku selalu datang dengan tangan hampa, tapi pulang dengan beragam oleh-oleh. Ada pisang, dukuh, rambutan, geblek, dan aneka panganan lainnya yang wajib dibawa. Aku tak kuasa menolak karena ibu selalu berkata, “Kamu itu anak kost! Jadi, ini semua harus dibawa.” Ibu benar, karena aku anak kost, sudah barang tentu harus berhemat. Makanan-makanan yang kubawa dari desa itu selalu jadi penyelamat ketika rasa lapar dan tanggal tua menghadang.

Sejak pertemuan pertama hingga saat ini, sudah enam tahun berlalu. Aku lupa sudah kali keberapa aku singgah ke rumah ibu. Ketika studiku di Jogja telah rampung dan pindah ke Jakarta, suasana rumah ibu Helen selalu menjadi hal yang kurindukan. Tatkala di kantor, di kost, ataupun berkendara, selalu ada suara hati yang berkata, “Ayo, pulang.”

Keinginan untuk ‘pulang’ itu terwujud. Tanpa memberitahukan ibu terlebih dahulu, di kala akhir pekan aku pergi ke Jogja dari Jakarta. Sepulang kantor, tanpa mandi, tanpa pulang kost terlebih dahulu, aku menaiki kereta api Progo menuju Jogja. Setibanya di Jogja, aku singgah sejenak di rumah kost yang dulu pernah kutinggali, kemudian menyewa sepeda motor dan memulai perjalananku ke Kulonprogo.

Seperti biasa, aku tidak membawa apapun untuk diberikan ke rumah ibu Helen. Bukan karena aku pelit, tapi, kalau membawa sesuatu, ibu pasti mengomel dan memaksaku untuk tidak usah merepotkan diri. Aku tidak tahu apa reaksi ibu nanti. Ketika aku diwisuda, aku lupa memberitahunya, bahkan tak sempat juga untuk mampir ke rumahnya karena waktu yang amat terbatas. Satu minggu setelah wisuda, aku harus pindah dan bekerja di Jakarta. Semua persiapan dilakukan terburu-buru. Waktu pindah semakin dekat, tapi hatiku semakin tidak rela untuk melepas Jogja.

Ketika motorku memasuki jalanan dusun di depan rumah ibu Helen, anjing-anjing kampung segera menghambur dan menyalak. Mereka menganggap aku adalah orang asing, dan tatkala motorku makin mendekat, makin hebat pula suara gonggongan mereka. Motorku diparkir, kulepas helm, dan menyapa seorang perempuan yang menggendong bayi di depan rumah. “Permisi, ibu Helen ada?” Perempuan itu mengernyitkan dahi, kemudian menjawab dengan pertanyaan, “Ada, sebentar. Ini dari siapa?” “Bilang saja dari Ary,” jawabku. Perempuan itu ternyata adalah menantu dari ibu Helen. Anaknya yang pertama telah menikah dan dikaruniai seorang anak perempuan.

Nyaris dua tahun aku tidak berkunjung ke rumah ibu Helen dan ternyata ada banyak perubahan yang terjadi. Ibu Helen telah memiliki cucu, anak-anaknya kini sudah ada yang menikah, bekerja, dan juga kuliah. Rumahnya pun mengalami perubahan. Temboknya kini telah ditutupi semen dan dicat berwarna hijau, juga ada sebuah televisi tabung di ruang tengahnya. Rumah itu tak lagi sepi, suara balita dan televisi memecah keheningan.

Ibu Helen tiba dan melihatku. Reaksinya adalah langsung menjewerku. “Kemana aja hampir dua tahun nggak datang ke sini. Tak pikir koe sudah lupa sama rumah ini.” Aku menyalami tangannya dan memohon maaf karena waktu itu terlalu sibuk mengurusi beragam kegiatan di kampus, dan ketika wisuda tiba pun tidak punya cukup waktu untuk datang mampir. Syukur, kamu wes nyambut gawe, atiku yo melu seneng. Aku pikir koe wes lupa sama rumah ini, Ry” ucap ibu Helen.

Sambil mengomel, ia beranjak ke dapur. Seperti biasa, ibu Helen menyajikan segelas teh panas manis sebagai pelengkap obrolan. Kami bertukar cerita, ngalor-ngidul, dan sesi curhat pun dimulai. Waktu terus bergulir, kami bernostalgia dan terkekeh-kekeh mengingat bagaimana pertemuan pertama kami di tahun 2011 berlangsung. Dulu, ibu Helen merasa heran. Bagaimana bisa, seorang bocah SMA yang tinggal di kota, begitu kerasan atau betah tinggal di rumahnya yang amat sederhana ini? Dia pikir, setelah live in itu usai, ya usai saja, tidak ada kelanjutannya. Tapi, ternyata pemikirannya salah. Ada ikatan batin antara aku dan beliau. Aku menganggap beliau seperti ibuku sendiri, yang kehadirannya aku rindukan, dan wejangannya aku dengarkan dengan saksama.

Sebagaimana ibu Helen tidak pernah melupakanku dari kenangannya, demikian juga dengan aku. Enam tahun telah berlalu, tapi ikatan kebersamaan itu tidak pudar. Jarak boleh membentang jauh, tapi itu bukan alasan untuk rindu menjadi padam. Tak banyak perubahan yang terjadi pada ibu Helen. Dia selalu menyambutku dengan hangat, dengan jeweran sayang, juga dengan segelas teh panas. Usianya kini semakin menanjak, uban-uban menjamur di rambutnya yang hitam. Aku pun serupa. Aku tidak lagi bocah SMA yang lugu. Ada kantong mata menggantung hitam di wajahku akibat begadang. Punggungku pun lebih sering sakit karena kelamaan duduk.

Menutup perjumpaan kami hari itu, kami mengambil foto bersama. Ketika waktu mengharuskan aku kembali berpisah, setidaknya foto itu akan jadi kenangan yang manis kalau sejak dahulu hingga sekarang kami masih tetap bersama.

Ibu Helen mengajarkanku bahwa keluarga tidak selalu harus sedarah itu bukan sekadar teori. Aku telah mengalaminya. Seorang yang bukan siapa-siapa tetapi mendapatkan keistimewaan untuk menjadi bagian hidup dari seseorang.

P1050619
Bersama Ibu Helen dan Daru. 3 Maret 2011

 

 

Bantul, 1 Mei 2017: Ketika Pilihan Karier Kami Jatuh Bukan di Tempat Profit

resiz

Hari itu adalah hari buruh internasional. Ketika jagad media berisik membahas demo di Jakarta yang berujung bakar-bakaran bunga, kami bertemu di sebuah gang sempit, tepatnya di warung mangut lele yang paling terkenal se-antero Yogyakarta. Sambil mencicip ikan lele bertabur cabe, keringat bercucuran membasahi wajah, tapi pembicaraan kami hari itu bukan tentang lezatnya ikan lele, melainkan tentang sebuah topik yang cukup berat, yaitu idealisme.

Dulu semasa kuliah kami adalah teman satu perjuangan yang secara kebetulan berada di satu jurusan dan rumah kost yang sama. Latar belakang yang berbeda di antara kami ternyata bukan jadi jurang pemisah, melainkan jadi sesuatu yang menarik untuk kami pelajari lebih dalam. Aku lahir dan besar di Bandung, sedangkan temanku yang bernama Aloysius Dinora alias Dino ini lahir dan besar di Buntok, Kalimantan Tengah. Dari sekian banyak perbedaan itu, Yogyakartalah yang akhirnya mempertemukan kami.

Awal mula pergumulan di pikiran

Pada tahun 2015 kami sama-sama memilih magang di Jakarta. Aku di lembaga riset politik, sedangkan dia di lembaga public relations. Setiap kali bertemu waktu itu, pertanyaan yang selalu saling kami tanyakan adalah, “Jadi, nanti habis lulus mau kerja di Jakarta?” Aku selalu menjawab entahlah karena sebagai mahasiswa Jurnalistik, aku sendiri masih belum yakin dengan pilihan karier yang kelak harus kuambil. “Yang penting skripsi dulu deh, kerjaan nanti nyusul,” pikirku.

Pertanyaan itu semakin menguat ketika masa-masa skripsi kami semakin mendekati final. Aku yang lulus terlebih dahulu harus menerima kenyataan bahwa Jakarta adalah segalanya itu hampir menjadi kenyataan. Aku mencari pekerjaan ke sana-sini dengan harapan bukan Jakarta yang menjadi tempatku berlabuh. Tapi, kenyataan memang bicara lain. Harapanku terbentur dengan realita. Akhirnya, karena satu dan lain hal aku terpaut di Jakarta dan berkarier sebagai seorang editor untuk sebuah situs rohani yang dikelola oleh lembaga nirlaba.

Setelah lulus dan hijrah ke Jakarta, belakangan aku mendengar kabar bahwa Dino telah diterima bekerja di sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan. Dino tidak memilih untuk pergi melanjutkan kariernya di Jakarta. Pilihannya jatuh ke sebuah kabupaten di selatan Yogyakarta yang katanya memiliki upah minimum regional yang benar-benar minimum.

Esensi bekerja bukan pada gengsi

Pertemuan kami siang bolong di kedai mangut lele itu memberikan kami pandangan baru akan tantangan pekerjaan masing-masing. Dino belajar tentang tantangan yang kuhadapi di Jakarta, demikian juga aku belajar darinya tantangan maupun hambatan yang harus dia hadapi di Bantul. Sekalipun berbeda kota, tapi ada satu kesamaan dari kami berdua: kami sama-sama bekerja bukan untuk perusahaan profit, melainkan untuk lembaga non-profit.

Saat kami mengobrol, secara jujur aku bercerita bahwa memang sering ada perasaan minder ketika melihat teman-teman lain yang kariernya melejit dengan cepat. Kami tahu bahwa sekalipun dari luar karier mereka tampak cemerlang, tetap ada tantangan tersendiri yang mungkin juga berat yang harus dihadapi oleh mereka.

Menjawab pergumulanku itu, aku belajar dari sesosok Dino. Sebenarnya, dia pun mengalami pergumulan serupa denganku. Bicara soal gaji, kami sebagai lelaki di usia 20-an tentu berharap bisa memiliki karier yang menjamin penghasilan. Kelak kami akan menikah dan menafkahi keluarga, sehingga kami pikir perihal uang adalah hal yang sangat serius. Gaji dia di Bantul tidaklah besar, demikian juga dengan gajiku di Jakarta.

Tapi, seringkali permasalahan datang dan terjadi bukan karena uang itu sendiri, melainkan karena gengsi, begitulah Dino memberitahuku. Lalu, aku termenung sejenak. “Iya juga sih,” pikirku.

Hidup di zaman sekarang ini mau tidak mau kita sering terlibat dalam adu gengsi. Setiap hari kita dapat dengan mudah melihat apa yang menjadi pencapaian teman-teman kita lewat fitur-fitur di media sosial. Ketika kita sedang dikejar deadline dan melihat postingan teman yang sedang liburan, bisa-bisa kita langsung sambat (mengeluh) dan menghakimi. Bisa jadi kita menghakimi diri kita sendiri karena pekerjaan yang kita lakukan, atau bisa jadi kita menghakimi orang itu atas postingan liburan yang dia lakukan.

Alih-alih menemukan kedamaian dalam bekerja, gengsi membuat pekerjaan menjadi sebuah kompetisi yang menguras tenaga. Pekerjaan yang sejatinya berguna tuk mengisi dompet dan pengalaman malah berubah menjadi perlombaan tuk menunjukkan kesuksesan. Rasa-rasanya aku pernah terjebak dalam pemikiran seperti itu, dan untung saja aku dapat dengan segera bertobat.

Tak terasa, obrolan seputar gengsi siang itu segera berakhir tatkala ikan lele yang tersaji di atas piring tinggal tersisa tulang saja. Ada kepuasan hari itu, bukan saja karena perut yang berbahagia, melainkan pikiran yang tercerahkan. Sungguh, aku begitu bersyukur karena Tuhan boleh memberiku kesempatan hari itu berada di Bantul. Sulit bertemu teman berpikir di Jakarta, kalaupun ada teman seperti itu, tentu sulit ditemui karena kesibukan masing-masing.

Kami berdua menyadari bahwa keputusan kami bekerja di ladang non-profit secara sekilas memang tidak terkesan membanggakan. Tapi, inilah kehidupan yang kami pilih. Kami ingin mewarnai dunia dengan tekad dan semangat yang kami miliki. Kami percaya, ketika kami berbahagia dengan melihat orang lain berbahagia, niscaya Tuhanlah yang akan mencukupkan segalanya lewat cara-cara yang tidak pernah kami duga sebelumnya.

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dari Jakarta ke Sidareja—Perjalanan Singkat Bertemu Sahabat

IMG_3307Sidareja, mungkin tak banyak orang yang kenal dengan nama ini, sebuah kecamatan yang berjarak 350 kilometer dari Jakarta. Sidareja bukanlah nama tempat yang tersohor, tapi tempat inilah yang selalu jadi agenda wajibku tatkala akhir pekan atau tanggal merah datang menyapa.

Jauh-jauh hari sebelum libur Paskah mendekat, aku sudah bersiap di depan laptop untuk membeli tiket kereta api secara daring. Waktu itu masih satu setengah bulan sebelum hari Jumat Agung, tapi tiket kereta api Serayu Malam dari Jakarta Pasar Senen menuju Purwokerto telah ludes tak bersisa. Alhasil, aku hanya bisa gigit jari sambil berpikir keras mencari alternatif transportasi lain.

Akhirnya kuputuskan untuk kembali menggunakan bis malam menuju Sidareja. Sebenarnya, naik bis itu tidak buruk-buruk amat, malah lebih mudah daripada naik kereta karena lokasi terminal hanya satu kilometer dari kantor, jadi tentu lebih mudah mencapainya. Tapi, dua bulan lalu saat naik bis dari Jakarta ke Sidareja, bis yang kutumpangi malah mogok dan seluruh penumpangnya ditelantarkan di pinggiran tol Jagorawi sampai tengah malam. Tapi, apa boleh buat, daripada liburan hanya membusuk di kost, lebih baik bersusah sejenak di atas bus.

Ketika hari keberangkatan tiba, mimpi burukku ternyata tidak terjadi. Perjalanan dari Jakarta menuju Sidareja ditempuh selama 15 jam karena macet parah yang mengular dari Jakarta Barat hingga Bekasi Timur. Macet itu sungguh menyiksa! AC bis yang dingin menjadi pemicu tubuh untuk memproduksi urin, tapi tidak tersedia wc di dalam bus. Menahan pipis berjam-jam adalah hal yang paling menyebalkan dari bepergian menaiki bis malam.

Selamat datang di Sidareja

Pukul 07:30, bis yang kutumpangi tiba di terminal Sidareja. Baru saja bis menepi, puluhan tukang ojek dengan logat ngapak-nya segera merangsek ke dalam bis untuk mencari penumpang. Tapi, mereka sepertinya agak menyesal karena kebanyakan penumpang telah dijemput oleh kerabatnya masing-masing. Dengan lunglai, satu per satu tukang ojek itu turun ke luar bus.

Pagi itu masih sepi. Kehidupan di desa belum menunjukkan geliatnya sekalipun matahari telah benderang. Toko-toko di sekitar terminal masih tutup, juga jalanan begitu lengang. Tak lama sebuah sepeda motor tua menghampiriku. Pengemudinya bertubuh gempal dan matanya masih sembab karena baru bangun tidur. Dia tidak memakai helm, ataupun atribut keselamatan lainnya.

Senyumku tersungging, demikian juga senyumnya. Kami berjabat tangan erat, lalu saling menepuk pundak dan mengejek satu sama lain. “Gendut koe, mirip Kim Jong Un! Jam segini baru bangun piye toh,” ejekku. Memang candaan kami sesekali diselingi dengan ejekan, tapi inilah yang membuat kami akrab. Sekalipun jarak telah memisahkan, tapi kami berdua masih dan tetap berkawan erat. Sahabatku itu bernama Roland, yang sering kusebut Kim Jong Un dan masih bergulat dengan skripsinya yang belum kunjung tuntas.

IMG_0546
Jaga toko 

Rumah temanku, tempat aku tinggal adalah sebuah rumah yang sederhana. Rumah ini tidak punya pekarangan baik di depan ataupun belakangnya. Bagian depan rumah adalah toko kelontong yang sudah berdiri sejak puluhan tahun silam. Toko kelontong ini telah bertahan melewati rintangan zaman. Sekalipun di kanan dan kiri mini-market sudah menjamur, tapi toko ini tetap tidak kehilangan pesonanya.

Menemukan rumah kesekian di Sidareja

Sejatinya, tidak ada yang istimewa dari Sidareja. Layaknya desa-desa pada umumnya, di Sidareja menghampar sawah nan luas, sungai-sungai yang meliuk, dan senyuman hangat dari tiap penduduknya. Tapi, bagiku sendiri, Sidareja tidak hanya sebuah desa, tapi dia juga adalah rumahku yang kesekian.

IMG_3042
Senja di tepi persawahan Sidareja

Aku dan temanku itu baru saling mengenal empat tahun lalu karena kami sama-sama menempuh kuliah di Jogja. Karena pernah beberapa kali duduk dalam satu kelas yang sama, akhirnya kami menjadi teman dan akrab. Salah satu hal yang membuat pertemanan ini menjadi akrab adalah ejekan dan guyonan. Dulu, tiap kali bertemu selalu saja ada ejekan baru yang tercipta. Lalu, ketika aku sudah lulus duluan, ejekan-ejekan yang dulu pernah dibuat ternyata masih abadi. Itu tidak melukai hati kami masing-masing, tapi ternyata malah menjadi pupuk yang menyuburkan pertemanan.

Sekalipun aku adalah orang lain, tapi penghuni rumah kediaman temanku itu selalu menyambutku dengan hangat. Ada makanan yang special selalu tersaji di meja makan setiap kali aku datang. Aku bebas melakukan apapun di sana, seolah aku telah menjadi bagian dari rumah itu selama bertahun-tahun.

Ada sayur bening, gorengan, mie goreng, ayam goreng, dan kerupuk yang menjadi suguhan setiap kali makan digelar. Sang ibu pemilik rumah tahu betul kalau aku adalah anak kost yang merana di ibukota, jadi dengan semangat dia membuatkan makanan itu. Kalau nasi di piringku dilihatnya terlalu sedikit, dia akan memaksaku untuk mengambil lebih banyak lagi, lagi, dan lagi sampai aku menyerah.

Tiga hari yang kuhabiskan di Sidareja membuatku merasa amat bersyukur karena diberi anugerah dan kesempatan Tuhan untuk menikmati kebaikan-Nya lewat orang-orang yang hadir di sekitarku.

Tiga hari di Sidareja adalah hari-hari yang menyembuhkan penatku. Aku belajar dan menikmati kehidupan sebagai seorang warga desa, juga sebagai seorang pedagang Tionghoa. Setiap hari, aku ikut duduk menjaga toko dan sedikit-sedikit belajar tentang bahasa ngapak dan barang-barang yang dijual.

Ketika mini-market datang menyerbu Sidareja, toko temanku ini masih bertahan dan laris karena memiliki banyak kelebihan. Memang secara fasilitas tidak senyaman mini-market modern, tapi soal kelengkapan barang jangan ditanya. Barang-barang dari zaman super lawas hingga saat ini masih lengkap tersedia, dan itulah yang dicari oleh pembeli yang kebanyakan adalah petani.

Berbagai jenis tembakau, kertas rokok, kemenyan, pil-pil obat oplosan, jamu kuat lelaki, obat nyamuk cap king-kong hingga beragam kuliner dan perkakas kecantikan semua tersedia di toko ini. Hebatnya, pembeli desa adalah pembeli yang loyal. Untuk urusan obat nyamuk, warga desa di sini hanya mau membeli obat nyamuk cap king-kong, bukan yang lain. Sekalipun obat nyamuk sekarang telah tersedia dalam berbagai jenis, tapi obat nyamuk bakar cap king-kong ini tidak pernah susut pamornya. Memang luar biasa cap king-kong ini.

Bagiku yang tinggal di Jakarta, bahasa Jawa ngapak di Sidareja ini selalu unik untuk didengar. Jika dulu di Jogja orang-orang berbicara bahasa Jawa dengan halus, Sidareja jauh dari kata halus. “Aduh, wetenge inyong kencod!” adalah kalimat favoritku! Aduh, perutku lapar, begitulah arti kalimat itu. Bahasa Jawa ngapak dilantunkan dengan cepat dan intonasinya unik! Sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Perjalanan tidak selalu tentang tempat

Setelah melewatkan tiga hari di Sidareja, tibalah saatnya untuk aku kembali bekerja ke Jakarta. Saat berpamitan untuk pulang, ibunda dari temanku itu berpesan, “Kamu jangan sombong ya. Jangan lupa sama rumah ini. Kalau ada libur harus ke sini, ini rumahmu juga loh. Ditunggu ya, ati-ati di jalan!” ucapnya sambil tersenyum lebar.

Kata-kata itu bukan hanya isapan jempol. Hingga detik itu, sudah lebih dari lima kali aku bolak-balik berkunjung ke Sidareja sejak tahun 2013 lalu. Sambutan rumah itu setiap kali aku datang tetaplah sama, bahkan lebih hangat setiap harinya.

Hari itu aku kembali menyadari bahwa perjalanan tidak selalu bicara soal tujuan yang eksotis, tapi seringkali perjalanan adalah tentang siapa yang kita temui. Perjalanan adalah sarana terbaik untuk membentuk kita. Orang bijak pada masa lampau pernah berkata, “Besi menajamkan besi, dan manusia menajamkan manusia.” Pertemuanku dengan rupa-rupa manusia dalam perjalanan, itulah yang membentuk diriku. Yap, membentuk diriku untuk senantiasa memahami perbedaan, rendah hati, dan bijaksana dalam berpikir maupun bertindak.

Terima kasih Sidareja untuk tiga hari yang singkat namun penuh cerita ini!
Sampai bertemu di lain kesempatan ya!