Cuek di Awal, Tuai Bencana Kemudian

“Ke Indomaret yuk, Ry,” kata-kata yang sering dilontarkan Brian tiap menjelang tengah malam. Dan, tak pernah kutolak pula ajakan itu. Kami lalu berjalan kaki, melompati portal depan gang yang selalu ditutup selepas jam sebelas. Hasil perjalanan itu beragam: Brian membawa nasi padang yang katanya cemilan tengah malam, dan aku menjilati es krim seharga lima ribuan.  Brian adalah kawan kalongku. Beserta dengan seisi kosan lainnya, kami … Lanjutkan membaca Cuek di Awal, Tuai Bencana Kemudian

Empat Tahun Bikin Blog, Dapat Apa?

Konon katanya, tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan. Sewaktu awal-awal pindah ke Jakarta di tahun 2016, saya meramalkan nasib saya tidak akan sebebas dulu. Waktu di Jogja, keluyuran bisa dilakukan dengan mudah, tapi kalau sudah di Jakarta, kayaknya nggak bakal bisa deh. Tiga bulan pertama kerja, jalan-jalan yang saya lakukan cuma mudik ke Bandung. Lalu, terbitlah rindu untuk do something. Daripada mengeluh terus karena … Lanjutkan membaca Empat Tahun Bikin Blog, Dapat Apa?

Uang THR untuk Beli Anak Babi

Sudah dua tahun lebih di Jakarta saya tinggal sekamar bersama seorang kawan dari Nias, namanya Themas. Usia kami terpaut tiga tahun. Dia bekerja di lantai tiga, saya di lantai dua. Kami cuma ketemu saat malam. Itu pun jarang mengobrol karena biasanya kami langsung tidur. Per tanggal 15 Maret 2020, kantor kami memberlakukan sistem kerja dari rumah. Tapi, saya dan Themas tetap tinggal di kantor. Meski … Lanjutkan membaca Uang THR untuk Beli Anak Babi

2020: Krisis-krisis yang Akan Menjadi Normal

Naik gunung Bromo bulan Maret, agenda wajib saya dan Andre di tahun 2020. Sudah sejak kuliah kami mendamba naik ke gunung ini, tapi kesempatan tak pernah sampai. Barulah di tahun ini kami menemukan tanggal yang sepakat. Rencana disusun rapi. Saya memesan penginapan dan sewaan motor, Andre mengurus tiket kereta.  Tapi, Januari lalu dunia gempar dengan munculnya virus corona di Wuhan yang dengan cepat melumpuhkan Tiongkok. … Lanjutkan membaca 2020: Krisis-krisis yang Akan Menjadi Normal

Sepanjang Jalan Jogja-Cilacap

Minggu, 22 Maret 2015.  Kira-kira jam sepuluh pagi, langit Jogja mendung. Tidak ada rencana apa-apa hari itu selain malas-malasan di kosan. Tapi, tiba-tiba hape bergetar. Ada telepon masuk dari Roland.  “Wei, kenapa?” tanya saya.  “Ar…,” suara dari seberang telepon. Nadanya bergetar.  “Eh, kenapa Lan? Di mana kamu?”  “Papa meninggal barusan,” jawabnya sesenggukan.  Suasana hati Roland kalut, dia ingin segera pulang supaya bisa melihat wajah almarhum … Lanjutkan membaca Sepanjang Jalan Jogja-Cilacap