Menjajal Hidup ala Warga Komuter

“Di Jakarta mah kalaupun gaji lumayan, pengeluarannya juga gede bro!” kata temanku. Sejak kuliah di Jogja dulu, aku sudah tahu dan yakin benar kalau hidup di Jakarta itu tidak murah, apalagi jika dibandingkan dengan biaya hidup di Jogja yang hanya dengan modal selembar goceng bisa dapat sepiring nasi telur plus sayur dan minum. Tapi, apa daya, pada akhirnya pekerjaan harus membawaku hidup dan menjadi bagian dari metropolitan penopang jutaan jiwa lainnya.

Continue reading “Menjajal Hidup ala Warga Komuter”

Editor, Bukan Sekadar Duduk di Kantor

Kepalaku pening setelah menatap layar laptop berjam-jam. Bokongku juga seolah sudah menempel sempurna dengan kursi. Dari langit terang hingga gelap, tulisan-tulisan seolah tidak pernah habis untuk diedit. Rutinitas edit-mengedit ini sepintas terlihat mudah karena editor seolah hanya duduk santai dan berurusan dengan untaian kata dan tanda baca, berbeda dengan jurnalis yang harus pergi sana-sini meliput aneka kejadian. Tapi, tanggung jawab seorang editor bukan sekadar ‘polisi’ tulisan yang sensitif terhadap EYD dan tanda baca, ataupun bukan pula ongkang-ongkang kaki di atas kursi. Lebih dari itu, seorang editor bertanggung jawab membantu penulis menghasilkan tulisan yang terbaik.

Continue reading “Editor, Bukan Sekadar Duduk di Kantor”

Ibu Kost Menyebalkan, Tapi…

Ibu Kost

Tujuh bulan di Jakarta, rasanya seperti gado-gado. Tawa, suram, sedih, dan marah semua harus dijalani setiap harinya. Jakarta, dengan kemacetan, semerawut, dan berita-berita kriminalnya sering membuatku muak. Tapi, di balik semua itu tersimpan sebuah pengalaman sederhana, juga menyebalkan yang ternyata membuat betah.

Continue reading “Ibu Kost Menyebalkan, Tapi…”

Bertemu Oma Tilly: Walau Tak Dapat Melihat, Tapi Masih Mau Menulis

oma1
Bersama oma Tilly Palar

Selalu saja ada hal menarik dari pekerjaan sebagai editor. Tulisan-tulisan yang masuk ke redaksi setiap harinya beraneka-ragam seperti sepiring rujak buah. Ada tulisan yang manis mengaharukan tapi ada juga tulisan yang kecut dan harus membuat si editor garuk-garuk kepala.

Beberapa minggu lalu, ada sebuah kiriman tulisan yang masuk. Biasanya pengirim-pengirim tulisan itu adalah anak-anak muda yang usianya dari 15 – 20 tahunan. Tapi, kali ini berbeda, seorang oma berusia 70 tahun mengirimkan tiga judul tulisan sekaligus ke email redaksi.

Setelah dibaca-baca, dari tiga tulisan yang dikirimkan, ada satu yang topiknya cukup relevan dengan kehidupan generasi muda masa kini. Sang oma yang bernama Tilly Palar itu menulis sebanyak delapan halaman cerita, tanpa spasi dan ukuran font 11! Beliau bercerita panjang lebar dan begitu rinci tentang pengalaman hidupnya ketika membesarkan anak-anaknya. Tulisan tersebut lebih cocok dengan tulisan-tulisan yang ditulis dalam sebuah novel.

Awalnya sempat ada rasa ragu, apakah tulisan ini harus diterima atau ditolak? Jika diterima, berarti harus berusaha keras untuk melakukan editing. Tulisan nan panjang itu harus dipangkas, karena pembaca website itu tidak suka tulisan yang terlalu panjang. Lalu, gaya bahasa juga harus disesuaikan ulang dengan karakter umum pembaca. Tapi, jika ditolak pun sebenarnya ada rasa tidak enak, terlebih karena beliau tentu sudah berusaha banyak untuk menuliskan delapan halaman itu.

Akhirnya proses penyuntingan pun dimulai. Karena faktor usia, agak sulit untuk berkorespondensi dengan beliau sehingga kami pun memutuskan untuk bertemu dan mengobrol langsung saja daripada harus berkorespondensi melewati email atau telepon.

Sang Oma tak lagi prima, tapi jiwanya tetap menyala

Singkat cerita, hari Minggu (2/4/17) aku menemui sang Oma di sebuah gereja di kawasan Lippo Karawaci, Tangerang. Dalam gambaranku waktu itu, sang Oma tentulah masih segar bugar dan terampil menggunakan perangkat gadget. Toh bisa menulis delapan halaman, pasti Oma yang keren deh. 

Setelah menunggu beberapa menit di depan pelataran gereja, sang oma pun datang. Beliau turun dari mobil, kemudian dituntun secara perlahan oleh seorang kawanku. Setelah mencapai tempat duduk, aku pun berkenalan dengan Oma.

Ternyata dugaanku salah. Kupikir oma ini keren, ternyata, dia jauh lebih keren! Di usianya yang ternyata sudah menginjak usia ke-70 tahun ini, beliau sudah tidak dapat lagi melihat. Pandangannya telah kabur sehingga dia harus dituntun kemanapun pergi. Beberapa tahun yang lalu pun beliau pernah mengalami serangan jantung.

Kondisi fisik yang terus menurun ternyata tidak sejalan dengan jiwanya. Semangatnya tetap menyala. Dengan senyum dia menyapaku. “Oh ini Ary ya, wah Oma senang sekali bisa duduk mengobrol bareng,” ucapnya hangat. Selama beberapa menit kami pun mengobrol. Beberapa pertanyaan kulontarkan kepadanya, dan oma pun menjawabnya dengan sangat detail, bahkan terlampaui detail. Ingatannya masih begitu kuat sehingga dia menjawab tiap pertanyaan dengan antusias.

oma2
Mewawancarai oma terkait tulisannya

Dalam kondisi telah rabun, oma masih semangat menulis. Tentu dia tidak mampu lagi menulis sendiri, melainkan ada seorang asistennya yang akan menuliskan apa yang diucapkan oleh oma.

Setelah semua pertanyaan usai dijawab oleh oma, kami pun mengobrol ngalor-ngidul tentang banyak hal. Di ujung pembicaraan, oma kembali mengundangku untuk datang menemaninya bercerita di minggu depan, juga minggu depannya lagi. Terakhir, dia menyampaikan minatnya kalau beliau masih ingin menulis buku! Oleh karena itu beliau ingin sekali memiliki teman bicara yang dapat membantunya bertukar pikiran.

Tulisan oma mungkin tulisan yang biasa-biasa saja, tetapi roh semangatnya merasuk hadir di setiap kata-kata yang dituliskannya. Pertemuan dengan oma mengajariku satu hal, yaitu tidak pernah ada kata terlambat untuk berkarya dan belajar. Jika oma yang usianya telah senja dan fisik yang terbatas saja masih semangat menulis, terlebih aku yang usianya masih hijau bagai pisang yang masih mentah di pohon.

Demikianlah sepenggal kisah dari keseharian sebagai seorang editor.

“There is joy in the Lord.”

 

Jakarta Barat, 3 April 2017

Melewatkan Tengah Malam Bersama Pak Gojek

Ojek1Hari itu jam sudah hampir menunjukkan tengah malam dan aku masih berkeliaran di jalanan Jakarta yang masih belum sepi juga. Macet parah sepanjang jalan Bandung ke Jakarta membuat badan ini lelah dan rasanya ingin segera tiba di kost. Supaya cepat, lebih baik naik Gojek saja deh, pikirku.

Setelah melakukan order di aplikasi, tak lama pengemudi gojek pun datang, lengkap dengan atributnya yang berwarna hijau. “Pak Aryanto yang ke Sumur Bor, ya?” tanya pengemudi Gojek itu. “Iya pak, saya naik ya,” sahutku sembari bersiap naik ke atas jok. Motor yang digunakan malam itu adalah bebek matic yang terlihat kusam karena kotor. Tapi aku tidak terlalu peduli karena yang ada dalam pikiran hanyalah ingin segera mendaratkan badan di kasur.

Jalanan berangsur-angsur sepi sehingga motor pun dipacu lumayan cepat. “Asli mana pak?” tanyaku memulai pembicaraan. “Saya asli Jakarta, kalau mas?” sahutnya kembali. Seiring kami mengobrol lebih larut, laju motor pun mulai melambat. Obrolan malam itu terasa hangat sekalipun angin dengan keras menerpa. Kami mengobrol banyak hal, soal pekerjaan, jalanan Jakarta yang macet, politik, hingga carut marut konflik antara angkutan online dengan konvensional.

Sebuah kejadian tengah malam

Setelah motor yang kami tumpangi melewati jalan layang, ada sesuatu yang aneh. Motor kami mulai bergoyang dan tidak stabil. “Wah, kayaknya harus berhenti sebentar nih mas,” ucap pengemudi Gojek itu. Akhirnya kami menepi, dan setelah aku turun ternyata ban belakang motor sudah bocor dan rata.

Bapak pengemudi Gojek itu pun panik, demikian juga dengan aku yang berharap ingin pulang cepat tapi malah mendapatkan peristiwa semacam ini. Ketika kulihat jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 00:10. Pikiranku mulai mengeluh, “Gile, mau sampai kost jam berapa ini. Mana pagi harus kerja juga,” gumamku dalam hati.

Sempat terpikir saat itu untuk mengikhlaskan saja biaya ojek yang sudah kubayar itu, lalu mencari taksi atau ojek lain supaya bisa cepat sampai ke kost. Tapi, hati kecilku berkata lain. “Coba bayangkan kalau kamu adalah si bapak Gojek. Kan ban bocor ini bukan maunya dia,” hati kecilku bicara.

Tapi pikiran lainnya segera muncul di benakku. Sejujurnya ada rasa takut waktu itu, bagaimana tidak, Jakarta itu rawan kriminalitas, apalagi ini sudah tengah malam dan di pinggir jalan raya. Beberapa detik aku berpikir, dan akhirnya aku menyerah kepada hati kecilku. Kulirik sekeliling apakah ada tempat tambal ban, ternyata tidak ada.

“Ya sudah pak, kita jalan aja sampai nemu tukang tambalnya ya pak,” ucapku. Akhirnya kami pun berjalan. Aku berjalan lebih dulu sementara si bapak Gojek menuntun motornya di belakangku.

Rasa khawatir kian menjadi karena sepanjang jalan tidak ada tukang tambal ban yang buka. Akhirnya aku melambatkan langkah dan berjalan di sebelah si Bapak. Sambil berjalan, kami pun mengobrol supaya rasa lelah sedikit terusir.

Sekitar 2 kilometer kami berjalan, barulah ada sebuah tukang tambal ban yang ternyata masih buka. Sementara motor diperbaiki, kami pun mengobrol ngalor-ngidul, dari A sampai Z. Nama pengemudi Gojek itu adalah Pak Kholiq. Di usianya yang tidak terlampau tua, beliau sudah dikaruniai seorang cucu.

Malam itu, rencananya pak Kholiq akan segera pulang setelah selesai mengantarku. Beliau sudah lelah karena sepanjang siang hingga malam berkeliling seantero Jakarta untuk menjemput dan mengantar penumpang. Tapi, harapannya untuk pulang cepat juga pupus karena ternyata ban motornya yang bocor.

“Mas, saya jadi gak enak nih, maaf ya jadi lama,” ucapnya. “Loh kok minta maaf pak, kan bocornya bukan bapak yang mau, hehe” jawabku sambil tertawa. Singkat cerita, setelah setengah jam diperbaiki, ban motor itu pun sembuh dan kami melanjutkan perjalanan.

Setibanya di depan gang kostku, aku menyelipkan beberapa rupiah tambahan sebagai apresiasiku atas si Bapak, juga untuk membayar biaya tambal ban tadi. Kemudian kami pun berpamitan.

Sebuah pelajaran untuk menjadi penumpang yang baik 

Jika malam itu aku mencari Gojek lain, tentu itu bukan tindakan yang salah, apalagi saat badan sudah lelah. Tapi, aku sendiri pun bertanya-tanya mengapa hari itu aku memilih untuk berjalan kaki sejauh 2 kilometer, di Jakarta yang konon katanya mengerikan, apalagi di tengah malam!

Seharusnya malam itu aku lebih takut pada kriminalitas Jakarta dan membiarkan pikiran buruk menguasaiku. Tapi, itu semua tidak terjadi. Kejadian malam itu membuktikan bahwa di kota yang dipenuhi imaji akan kekejaman tanpa bela rasa ini, kemanusiaan dan kebaikan masih ada.

Perjalananku berjalan kaki di tengah malam bersama Pak Kholiq pada akhirnya sama-sama menguatkan dan menghibur hati. Satu sisi aku dikuatkan kembali sekaligus ditegur tentang beratnya bekerja di ibukota, namun di satu sisi lain Pak Kholiq juga terhibur karena dia memiliki teman ngobrol sepanjang jalan itu sehingga baik aku dan dia tidak merasa lelah karena berjalan.

Malam itu aku kembali yakin dan percaya bahwa kebaikan tidak akan pernah dikalahkan oleh kejahatan. Rasa khawatir yang berlebihan itu tidak pernah baik, dan jangan pernah biarkan itu mematikan kebaikan yang ada dalam hati kita. Waspada memang perlu, tetapi tetap buka pintu hati dan selalulah berdoa. Aku percaya bahwa Tuhan ambil bagian dalam setiap niatan tulus yang kita perbuat.

Ketika aku merenungkan kembali peristiwa itu, aku teringat akan sebuah ayat yang dikatakan oleh Guru Agungku. “Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.”

Malam itu aku belajar menjadi penumpang yang baik. Menjadi penumpang yang menemani sang Pak Gojek berjalan kaki di tengah gulita malam, juga penumpang yang melaksanakan teladan sang Guru Agungnya.

 

Daan Mogot, 2 Januari 2017