Menerjang Badai dari Ponorogo ke Surakarta

Tata, adik kelasku semasa kuliah dulu membalas Instagram Storyku. “Mampir kak ke rumahku di Ponorogo,” tulisnya.

Ajakan mampir seperti itu jadi pesan yang sering kuterima di sepanjang perjalananku berkeliling Jawa. Biasanya aku menolak dengan halus. Bukan karena tak ingin bertandang, tapi karena jalurnya yang tidak sejalan dengan rencana perjalananku.

“Kebetulan aku nanti bakal lewat Ponorogo sih, Ta. Tapi, ini kamu beneran ngajak atau cuma iseng nih?” kutanya balik meminta penegasan.

“Beneran, kak. Mampirlah sini.”

“Oke deh kalau gitu, share lokasimu di WA ya, Ta.”

***

Chat di atas kukirimkan saat aku sedang berhenti menikmati semangkuk soto di Kesamben, Blitar. Perjalananku hari itu akan menyusuri jalur kantong, dari Malang menuju Trenggalek, lalu ke Surakarta melalui jalan potong Ponorogo-Purwantoro. Ajakan Tata menggiurkanku. Senang rasanya apabila bisa jumpa dengan kawan-kawan semasa kuliah dulu, apalagi sejak aku meninggalkan Jogja aku tak pernah lagi bertemu dengan Tata.

Semangkuk soto babat di Kesamben. Saat touring jarak jauh, soto adalah comfort-food yang ramah di kantong dan perut.

Linimasa perjalananku agak bergeser ketika terbersit ide ingin berdoa dulu ke Gereja Puhsarang. Itu letaknya di Kediri, sedangkan rencana awalku adalah dari Blitar langsung ke Trenggalek. “Tak apalah,” pikirku. Tambah satu jam dua jam, masih aman. Toh aku motoran sendiri. Syahdan, aku baru sampai di Trenggalek lepas jam dua siang. Kulihat di peta, Ponorogo masih lumayan jauh.

Sekitar jam 4 lewat, aku tiba di Ponorogo. Dengan pedenya, kupikir rumah Tata itu di pusat kota. Kulihat di sisi timur awan mendung sudah menggantung pekat. Ketika kubuka lokasi yang Tata bagikan di WhatsApp, mataku pun melotot. Rumah Tata ada di Desa Pulung, jaraknya 20km ke timur, ke arah mendung pekat itu.

“Cilaka,” dalam hatiku membatin. Dilema.

Jika kubatalkan saja perjumpaan ini dan langsung bergegas ke Solo, aku tidak enak hati. Sudah janji kok tidak ditepati.

Tapi, jika kulanggengkan rencana ini, sudah pasti aku akan dihadang badai…dan yang kutakutkan: aku belum pernah motoran di jalur Ponorogo-Purwantoro. Pernah kulihat di Google Maps jalannya berkelok, gelap, dan sepi. Aku tidak takut demit, tapi aku takut dibegal…atau ban motorku yang tiga hari sebelumnya bocor terkena ranjau paku di Surabaya akan kembali bocor. Jika itu terjadi, mungkin yang bisa kulakukan cuma nangis dan update status.

Setelah berdiam diri di tepi lampu merah, kuputuskan aku akan tetap pergi ke rumah Tata. Otak jurusan IPA-ku bekerja. Jika jarak ke sana sejauh 20km, maka dengan kecepatan 80km/jam aku bisa tiba dalam seperapat jam. Gas motor kupacu dalam-dalam, tapi jarang menyentuh angka 80 karena kondisi jalan yang sempit dan banyak gelombang. Aku ketar-ketir. Kalau terjebak hujan, susah cari tempat berteduh, dan aku malas pakai jas hujan. Tapi, alam memang tak pernah bisa dilawan. Satu kilometer jelang rumah tujuan, hujan badai turun. Mau tak mau, kupakai jas hujan dan sejurus kemudian tibalah aku di rumah Tata.

Kondisi jalan dari Trenggalek menuju Ponorogo. Melewati hutan dan bukit berkelok.
Sesaat sebelum memasuki Kota Ponorogo.

***

Tata dan papanya menunggu di depan toko. Dia melambai-lambaikan tangannya, segera kusadari kalau tokonya ada di kiri jalan.

Tata serasa tak percaya. Aku, kakak kelasnya yang cuma berkawan dalam durasi singkat di kampus, tiba di rumahnya yang jauh di desa. Naik motor pula, dari Jakarta!

“Mau mandi-mandi dulu tah, kak?”

“Iya, Ta. Kalau dipersilahkan gitu sih aku mah gak pernah nolak,” sahutku.

Hidup di tanah Jawa mengajariku banyak basa-basi, tapi dalam urusan perjalanan jarak jauh, aku jarang menolak basa-basi itu. Jika ditawari makan, ya aku terima. Agak tak tahu malu mungkin, tapi lebih baik jujur daripada kecewa.

Setelah ritual mandiku usai, Tata mengajakku mengobrol di kafe yang letaknya di seberang tokonya. Tak seperti para sarjana teman-temanku yang setelah tali toganya digeser, berlomba meraih status dan pencapaian finansial di kota besar, Tata berlabuh di desa kecil di kaki Gunung Liman.

“Papa gak izinin aku ke luar, aku diminta nerusin usaha papa,” tuturnya. Keluarga Tata telah diam di Desa Pulung sejak dua generasi sebelumnya. Mereka merintis bisnis toko. Seiring waktu bisnis ini berkembang dan kini ada beberapa toko lain yang turut berdiri.

“Kalau papaku tinggal di desa dan ada usaha, aku juga mau nerusinnya Ta, haha.” Tapi sayang, hidupku tidak berjalan demikian. “Mau di kota, mau di desa, tempat itu gak masalah. Kerja nerusin usaha toko juga usaha yang mulia kok, Ta,” tambahku.

“Coba deh Ta, nanti bikin Zoom meeting sama kakak-kakak alumni. Aku bakal bantuin buat kontakin mereka satu-satu, biar kita bisa saling update seenggaknya,” usulku yang kemudian disambut Tata dengan ceria. Rasa sepi, meskipun itu tidak tersurat diungkapkan Tata bisa kurasakan.

Sebelum aku kembali melanjutkan perjalananku ke Solo, kubilang pada Tata. “Sekarang kalau kita mau saling rutin tanya kabar, kayaknya susah. Jadi, tetaplah update IG Story yaa Ta, biar kami tahu kamu hidup dengan bahagia, hahaha”.

Tata, adik kelasku.

***

Tepat pukul 17:30 aku bertolak dari rumah Tata di Desa Pulung. Aku harus menghadapi ketakutan yang berkecamuk di benakku, ditambah lagi dengan hujan badai yang tak juga reda. Kukenakan jas hujanku beserta celananya yang kudobel agar tidak tembus.

Di tengah hujan badai, kurasa percuma jika aku berdoa memaksa, “Tuhan berhentikan hujan ini!”. Bukannya aku tidak percaya mukjizat, tapi aku sadar bahwa tirta yang tumpah dari langit adalah rahmat bagi tanah dan tumbuhan untuk hidup. Masak aku menolak itu hanya demi kenyamanan diriku sendiri?

Maka, kuubahlah ucapan hatiku: “Tuhan, jika sepanjang perjalanan ini Kau izinkan hujan mengiringiku, maka terjadilah. Ajarlah aku yang kerdil ini untuk bersukacita dalam hujan-Mu, sebagaimana tanah bersorak menyambut rahmat-Mu. Tibakanlah aku dengan selamat. Berkatilah setiap orang yang kujumpai, kendaraan yang kupapasi dalam perjalanan ini.”

Doa itu lantas mengubah cara pikirku bekerja. Hujan selama empat jam yang menembus sela-sela jahitan mantel plastik tak jadi rasa yang membuat hatiku tawar. Aku menyanyi sepanjang jalan, sembari tetap merinding kalau-kalau banku gembos atau aku di-cilukba oleh demit, atau amit-amit disatroni oleh maling. Tapi, ketakutan itu tidak lebih besar daripada rasa senang dalam hatiku. Kurasa, di situlah buah dari doa. Keadaan mungkin tidak berubah, ketakutan pun tetap ada, namun dalam semuanya itu, ada keyakinan bahwa aku disertai sepanjang perjalanan dan penyertaan itulah yang kelak akan mentibakanku dengan selamat pada tujuanku.

Selepas jam sembilan malam, hujan badai semakin menggila saat aku memasuki Solo Baru. Air menggenang di atas mata kaki. Kaca helmku berembun. Dan… aku pun selamat tiba di tujuan, diiringi oleh tirta rahmat yang tercurah dari langit.

4 pemikiran pada “Menerjang Badai dari Ponorogo ke Surakarta

  1. Mending jujur daripada sengsara. Aku sependapat denganmu hahaha. Asyik banget motoran keliling Jawa sendirian, ketemu kenalan dan kawan di sana-sini, juga nggak ada beban harus upload konten 😀

    Doamu bijak, Ry.
    Kapan pun ke Jogja, kabari aja. Ini serius wkwkwk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s