Curhat yang Tidak Dianggap Enteng

Hari lebaran 2021. Tidak ada yang spesial bagiku karena hari libur ini tidak kulewatkan dengan pulang kampung. Untuk makan siang, kupesan sebuah burger ukuran besar, padahal biasanya kalau makan burger yang kupesan ialah porsi kecil. “Gapapa lah, menghibur diri di hari libur,” pikirku.

Saat burger tinggal seperempat sisanya, perutku mengirim sinyal. Begah dan kembung. “Dung, dung” seperti gendang jika ditepuk. Dada pun terasa sesak. Nafasku jadi pendek-pendek. Kuyakin ini cuma gejala kekenyangan, bukan sakit apa-apa, meskipun memang sejak 2019 aku mengidap gerd. Supaya sesaknya hilang, aku berjalan kaki sebentar, lalu lupa kalau beberapa saat lalu dadaku sempat sesak.

Empat hari berselang, sesak dan kembungnya balik lagi. Di atas kursi kantor, nafasku malah makin pendek. Kantorku tidak lagi kosong seperti di awal pandemi. Sekarang ada beberapa orang yang masuk. Kalau aku kelihatan seperti menggap-menggap, pasti mereka akan curiga. Dan, curiga apa lagi kalau bukan dianggap positif Covid-19. Sepanjang hari kucoba pura-pura sehat.

Ketika jam kantor selesai, segeralah kupergi ke dokter THT langgananku. Karena sudah lima kali berobat di sana, dokternya jadi lebih akrab.

“Hayo, kenapa lagi ini?”

“Iya dok, ini, kemarin Kamis saya ngerasa sesek di dada, terus di tenggorokan juga rasanya banyak lendir,” lalu kuberdehem sedikit. “Kalau dicoba dibatukin, si lendirnya berasa naik tapi nggak mau keluar.”

“Jangan dipaksa, jangan didehemin. Nanti luka. Coba duduk sini.”

Di kursi yang mirip dengan kursi dokter gigi, alat seperti pistol air dengan ujung runcing dimasukkan ke mulutku. Di pucuknya ada kamera. Lalu muncullah citra isi tenggorokanku di monitor.

“Nah, ini radang. Bengkak laring kamu.”

“Kok bisa, dok?”

“Ini gara-gara lambung,” katanya. “Asam lambung kamu naik, jadi dinding kerongkonganmu itu memproduksi lendir untuk melindungi diri. Cuma lendirnya banyak, dan tenggorokmu radang. Lendirnya jadi nyangkut, itu yang bikin sesak nafas.”

Lambung lagi lambung lagi, gumamku. Sesi singkat di ruang praktik itu perlu ditebus dengan harga 200 ribu: 150 ribu untuk konsultasi dokter dan 50 ribu untuk endoskopi. Aku diberi resep empat obat. Total duit yang kukeluarkan hari itu 460 ribu. Angka yang cukup besar di tanggal yang hampir tua. Sialnya, bulan ini tidak ada anggaran yang kualokasikan untuk uang darurat.

Semua peristiwa di ruang praktik itu kuceritakan di grup WhatsApp yang isinya cuma tiga orang: aku, Yos, dan Jon.

Yos menanggapi dengan serius. Jam sebelas malam, dia meneleponku dan mendoakanku. “Sembuh ya, udah jangan terlalu dipikirin. Nanti Sabtu pulang ke Bandung aja udah, ketemu kita.” Tawaran yang menggiurkan, tapi kutolak lembut. “Iya pengen sih, tapi bulan depan aja deh.”

Berbeda dengan Yos, si Jon ini memang yang paling petakilan polahnya. “Lah mahal juga itu berobat. Memang gak bisa dicover asuransi?” tanyanya.

“Kaga bisa. Asuransi gua Cuma bisa berlaku rawat inap. Kudu ngendog dulu di IGD minimal 6 jam.”

“Ya udah atuh lu ke RS, opname aja.”

“Ah elu, gak segampang itu njir opname. Gawean gimana?”

“wkwkwk” balasnya.

Aku tidak ada ekspektasi apa pun dari sesi curhat malam itu, terlebih ekspektasi kepada si Jon. Mereka membalas dan menyimak pun aku sudah senang. Jelang jam 12, aku tidur duluan. Salah satu obat yang diresepkan dokter mengandung obat penenang, badan langsung rileks segera setelah obat ditenggak.

Kira-kira tiga hari setelahnya, aku iseng mengecek rekening bank. Seingatku, saldonya harusnya di bawah 10 ribu. Rekening di bank yang ini cuma jadi rekening untuk setoran gaji. Setelah gaji masuk, langsung kupecah ke rekening-rekening lain.

“Loh….kok ada segini?” Terhenyak aku. Kok saldonya jauh lebih besar dari perkiraan.

Kuingat-ingat apakah ada orang yang berutang lalu bayar diam-diam, rasanya tidak ada. Lalu kuceklah mutasi saldo selama seminggu ke belakang. Rupanya di malam saat aku curhat, si Jon mentransferku uang.

“Eh, lu  kok transfer gua uang?” kutanya si Jon lewat WhatsApp.

“Uang apa? Gua gak tau,” jawabnya pura-pura.

Kutanya lagi, jawabannya tetap sama: gak tau.

“Udah, ambil aja itu duitnya,” ketiknya lagi. “Nanti bayarnya 10 tahun lagi aja, kalau bisa bayar 10x lipat ya.”

“Ih, anjir. Embung. Itu kalau elu salah transfer, gua mau transfer balik ya.”

“Nggak, itu buat elu. Terima aja.”

Dari lima bahasa kasih (gift, physical touch, quality time, acts of service, dan affirmative words), si Jon ini memang paling kurang di kata-kata. Waktu SMP-SMA, dia usilnya bukan main, dan lumayan gagap kalau disuruh bicara di depan mimbar. Urusan komunikasi yang lebih privat pun ucapannya jarang sekali menyiratkan empati. Pemilihan katanya amburadul. Tapi, dia jadi orang yang tampil apa adanya, terutama dalam mengkritik orang lain.

Karena aku mengenal masa lalunya, aku pun maklum dengan tindak-tanduknya di masa kini. Di saat si Yos mendoakanku, si Jon malah menyuruhku untuk balik lagi ke rumah sakit dan minta opname. Jika aku baru kenal dia kemarin sore, mungkin aku akan tersinggung dan berpikir orang ini tidak punya hati.

Tapi, hati dia memiliki cara yang berbeda dalam merespons. Curhatanku tidak dianggapnya enteng meskipun bibirnya mengucap guyonan tak sensitif. Empatinya terwujud dalam tindakan. Dia tahu kalau di antara persahabatan kami bertiga, secara pendapatan akulah yang paling sedikit dibandingkan dengan dia dan Yos. Uang untuk berobat yang kukeluarkan kendati tidak sampai membuatku jadi makan nasi dengan garam dan kecap, tapi lumayan menguras isi tabungan. Dan, transferan yang dikirimkan itu menjadi sebuah ungkapan empati yang nyata.

Aku sungguh diberkati. Memiliki dua kawan baik yang karakternya amat berbeda, namun bertahan dalam ikatan persahabatan selama 21 tahun.

2 pemikiran pada “Curhat yang Tidak Dianggap Enteng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s