Mengarungi Jarak, Caraku Memelihara Relasi

Semingguan ini obrolanku dengan Irene agak membosankan. Lagi-lagi kami bicara soal masalah di pekerjaan, dan lagi-lagi pula dia bercerita soal rencana dietnya. Setelah badan dilibas penat, membicarakan hal-hal biasa itu terasa butuh tenaga ekstra, apalagi kalau cuma lewat telepon yang tak bisa melihat ekspresi lawan bicara.

“Ooo..yaa… Hmmm.. Weew… Iya sih…” jawabku singkat-singkat, lalu hening memanjang, dan diakhiri “Yuk udah yuk, tidur, istirahat.” 

Sudah lebih dari dua bulan kami belum bertemu lagi. Jarak antara Jakarta Surakarta bagiku tidaklah jauh. Desember lalu karena ada sisa cuti, aku naik motor ke Solo, tapi naik motor ini cuma bisa dilakoni saat waktu melimpah. Di momen-momen biasa, mau tak mau harus naik kendaraan umum. Tapi, bepergian di masa pandemi ini ribetnya memang ribet. Selain hidung harus dicolok, risiko terinfeksi, ada pula beban moral yang harus ditanggung. Jika ketahuan pergi ke luar kota oleh golongan yang paranoid, aku bisa kena tegur, sindir, atau isolasi mandiri terlepas hasil tes usap yang negatif. 

Tapi…mau sampai kapan nggak ketemu? Aku membatin. 

Hari Senin sepulang kerja, terbersitlah ide untuk memanaskan mesin motor. Kukontak temanku di Tebet untuk makan bareng. Di perjalanan dari Kalideres, aku melewati agen bus malam PO Harapan Jaya. Setang motor seperti otomatis membelok dan parkir di depan agen. Iseng-iseng kutanya, “Mbak, Sabtu nanti ada keberangkatan pagi ke Solo?” 

“Ada, Mas. Kelasnya VIP 34 seat, tiket 200 ribu udah sama makan. Berangkat jam 7 pagi dari sini ya.” 

“Wah..tapi pasti berangkat nggak mbak?” Soal berangkat naik bus ini kadang seperti tebak-tebak berhadiah. Januari kemarin perjalananku naik bus pagi dari Jogja pulang ke Kalideres tiba-tiba dibatalkan tepat 10 menit sebelum bus berangkat, saat aku ngos-ngosan tiba di pool. 

“Pasti ini mas, penumpangnya sudah ada lima.” 

“Oke deh mbak kalau gitu, saya pesen satu. Kursi depan ya mbak. Sekalian sama pulangnya, besok paginya lagi satu kursi.” 

***

Sabtu subuh, kuberangkat dari kantor. Jalanan masih becek sisa hujan semalam. Semburat fajar pun masih belum tampak. Hari itu jika tidak ada aral melintang, sekitar 10 jam akan kuarungi dengan duduk manis di atas kursi bus. Durasi ini sudah sangat istimewa berkat hadirnya Tol Transjawa. Zaman sebelum tol mahapanjang ini eksis, jalan tol cuma berujung di Cikampek. Kendaraan yang hendak ke timur tersangkut berjam-jam di Simpang Jomin. Belum lagi nanti akan tersendat di pasar-pasar sepanjang jalan Pantura. Perjalanan dari Jakarta ke Solo di bawah 10 jam tidaklah umum. Kebanyakan bus-bus sudah berangkat sebelum jam dua, dan tiba di tujuan esok paginya. 

Jika biasanya aku pergi naik kereta atau naik Perusahaan Otobus (PO) Rosalia Indah, kali ini kucoba naik PO Harapan Jaya, sebuah PO asal Tulungagung dengan livery kuda-kuda gagah di bodi busnya. Konon katanya dari video-video trip-report yang kutonton di YouTube, PO Harapan Jaya termasuk salah satu PO yang paling kalem di tol. Supirnya tidak injak pedal gas dalam-dalam, laju cepatnya konstan, dan tidak mosak-masik demi jadi yang paling depan. 

Jam enam lebih sepuluh aku tiba di agen. Sudah ada lima penumpang. Naik dari agen di Grogol ini lebih nyaman ketimbang dari terminal. Di dalam gedung tersedia toilet yang aromanya harum parfum Stella, bukan pesing. Tidak ada pengamen, juga tidak ada calo yang sedari kita melangkah di mulut terminal sudah dilirik-lirik. 

Gedung ruko di samping pom bensin ini tak cuma diisi oleh agen PO Harapan Jaya, ada pula agen PO Nusantara yang kebetulan pagi itu ditelepon dua calon penumpang. Tapi, karena tidak ada petugas dari PO Nusantara, agen dari Harapan Jayalah yang mengangkatnya. 

“Wah mas, Nusantara ke Pati pagi ini nggak jalan,” kata petugas agen. Obrolan mereka berlangsung alot. Agen PO Harapan Jaya sedikit memisuh. “Armada nggak jalan tapi kok iklanne tetep dipasang, aneh!” 

Jam tujuh lebih lima belas, busku berangkat. Bus ini diberi kode angka 52 dengan tujuan akhir Magetan via Sragen. Penumpang yang naik ada sekitar 15 orang. Bus langsung masuk ke Tol Dalam Kota via gerbang tol Tj. Duren. Tiada macet atau hambatan apa pun. Jelang jam delapan, bus keluar di Bekasi Timur untuk menaikkan penumpang. Di sini yang naik cukup banyak. Sisa kursi yang kosong cuma 6 saja. Bus lalu masuk tol kembali dan keluar di Klari untuk menaikkan satu penumpang, lalu bablas sampai di Weleri. 

Jam setengah lima bus tiba di Solo. Saat bus menyemut di kemacetan, aku turun di depan RS Panti Waluyo. Sembilan jam setengah, perjalananku tuntas. Aku punya waktu 16 jam di kota ini sebelum besok paginya kembali lagi ke Jakarta naik perusahaan bus yang sama. 

***

Perjalanan pergi: 9,5 jam
Perjalanan pulang: 10 jam
Total: 19,5 jam

Perjalanan di atas bus lebih lama ketimbang waktu di lokasi tujuan. Beruntungnya naluri ngebolang mengalir dalam darah dagingku. Jadi, duduk lama di bus tidak terasa membosankan. Malahan, ia jadi terapi yang menyenangkan batin setelah nyaris seminggu dilibas rutinitas. Dan, perjalanan ini menggemakan kembali komitmen yang pernah kubuat sewaktu aku mengajak Irene untuk menjadi rekan istimewa dalam perjalananku.

“Aku nggak yakin aku bisa LDR,” tuturnya. Keraguan itu sungguh wajar. Memutuskan menjalin relasi yang serius memang tak bisa main-main. Baru awal pacaran langsung terpisah jarak 500km lebih itu pr-nya ekstra. 

“Tapi gimana kita tahu ini bakal berhasil atau nggak kalau nggak kita jalanin dulu?” jawabku tapi tidak meredakan keraguannya. “Jakarta dan Solo masih bisa ditempuh jalur darat, dan untuk itu aku siap ketemu setidaknya dua bulan sekali.” 

Sedikit kepastian itu menurunkan presentase keraguannya. Lepas setahun menjalin LDR, keraguannya berbalik. Dulu dia yang ragu, sekarang aku yang ragu. Kesibukan kerja, berat di ongkos, ditambah lagi pandemi membuat perjalanan yang dulu kuyakin mudah menjadi lebih sulit. Tapi, di sinilah kubelajar untuk memelihara perjanjian yang telah kuucap. Bukan sebagai upaya tampil romantis, bukan pula aksi koboy yang seolah ingin jadi pahlawan cinta nekat di tengah pagebluk. Kusadari betul bahwa pertemuan fisik amatlah penting dan tiada tergantikan oleh medium apa pun. Pertemuan fisik yang mungkin cuma sejenak, bisa menjadi momen yang menghangatkan, yang menyemaikan kembali bibit-bibit harapan dan sukacita. 

Dua tahun lebih kami berjalan memelihara relasi. Perjalanan yang baru seumur jagung dan terlalu naif jika kami bercerita lebih banyak hal lainnya…tapi, aku tidak menampik pula bahwa dua tahun inilah hidupku jadi lebih berwarna. Memelihara relasi mengajariku tentang kompromi, berdiam, menahan ucapan, dan berdoa dengan lebih sungguh. 

Untuk saat ini mengarungi jarak jadi salah satu caraku untuk memelihara relasi. 

Bulan-bulan ke depan, aku tak tahu cara apa yang akan tersaji untuk kulakukan. Namun yang jelas, memelihara relasi adalah upaya yang perlu kulakukan setiap hari, ibarat merawat sebuah benih sesawi yang teramat mungil namun kelak ketika ia bertumbuh, keteduhannya akan memberi berkah bagi sekitarnya. 

Catatan:

Trip report perjalanan tek-tok Jakarta Solo ini dapat disimak di video ini: 

2 pemikiran pada “Mengarungi Jarak, Caraku Memelihara Relasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s