Seandainya Pemberianku Ini Cukup…

Tidak biasanya, mama yang ogah menyantap makanan dengan citarasa Barat kemarin nyeletuk, “Ry, kepengen makan pizza, tapi sekarang udah tutup semua. Besok beli atuh yuk.”

“Loh kok tumben kepengen pizza? Bukannya eneg ya sama bau keju?”

“Nggak tau, pengen aja,” tegas mama. 

Besok harinya, sepulang aku menjadi pembicara untuk acara retret rekan-rekan mahasiswa, aku menepi di restoran PHD di kawasan Melong, Cijerah. Kupesan pizza double box sekalian untuk makan dua keponakan. Sambil menunggu pizza selesai dimasak, aku duduk di kursi di tepi parkiran motor. 

Dari kejauhan kulihat seorang anak yang jika diterawang dari penampilannya dan tinggi badannya, dia mungkin seusia anak kelas empat SD. Di punggungnya tergantung ransel lusuh, sementara di tangannya dia menggenggam masker kain cukup banyak. 

Malam itu ada lumayan banyak pembeli pizza yang antre. Pertama-tama anak itu menyambangi barisan paling kiri yang diisi ibu-ibu dan bapak-bapak, tapi jualannya ditolak. “Hei jang, dieu! Aya kaos kaki teu?” seorang pengemudi ojol yang sedang ikutan antre berteriak. Anak itu lalu membuka ranselnya. Selain masker kain, dia juga menjual kaos kaki. Tapi, bukan kaos kaki hitam panjang seperti yang dicari oleh para bapak ojol. Yang dia jual adalah kaos kaki yang biasa dipakai ibu-ibu; warnanya krem dengan hitam di bagian telapak. “Yah atuh, eweuh nu hideung mah teu ah,” para bapak ojol itu tidak jadi membeli karena tidak ada kaos kaki hitam. 

Dengan langkah gontai, kali ini anak itu menyambangiku. Kuyakin dia lelah, kuyakin pula kalau dia sudah berjalan jauh. “A, sok atuh masker kainna a,” dia lalu menyodorkan masker-masker di genggamannya. 

Sabaraha ieu hijina, jang?”, berapa satunya ini, dek? Sambil kutanya, kutatap rambut hingga wajahnya. Aku teringat akan dua ponakanku yang masih umur 7 dan 6 tahun.  

“7 rebu A,” jawabnya. “Ini ada warna-warna lain da A. Bisi suka sama warna yang lain.”

Ketika dia bicara, kurasa ada nada semangat di dalamnya, kontras dengan langkah gontainya. “Ai kamu rumahnya di mana?” kutanya-tanya dia banyak pertanyaan sebelum kuputuskan beli maskernya. “Di Cimahi, A,” jawabnya. 

“Waduh, jauh atuh jang Cimahi mah. Terus ari kamu ke sini teh naik apa?” 

“Saya jalan kaki a tadi. Tapi nanti kalau pulang saya biasa ngikut angkot.”

Kubuka dompetku. Kuraih selembar yang berwarna hijau, si 20 ribu. “Ini jang, saya cuma mau beli satu aja maskernya karena udah ada banyak di rumah. Ini uangnya 20 ribu, kembaliannya kamu ambil buat nanti ongkos naik angkot. Terus, ini masker-maskernya teh kamu ngambil dari mana?”

“Ada A yang ngasih, saya tinggal jualin.”

“Nah, besok-besok kamu bilang ke yang ngasih maskernya supaya jangan ngasih masker ini lagi,” kataku sedikit berceramah. Masker yang dijualnya kebanyakan masker scuba atau kain tetapi cuma selapis. “Sekarang pemerintah bilang kita kudu pake masker yang tiga lapis, jadi kalau kamu jualannya masker ini nanti nggak laku,” tambahku. 

Ceramah singkat itu dibalasnya dengan manggut-manggut. Seloyang pizza pesanan ojol dibawa keluar. Aroma kejunya semerbak. 

“A, ini teh restoran mahal?” Obrolan kami jadi bergeser, dari masker ke restoran. 

“Kenapa? Kamu pengen makan pizza?”

Dia tidak menjawab, dan kurasa aku sudah tahu jawabannya. Kuajak dia masuk ke dalam. Sejenak aku berpikir, bulan ini agak tekor, tapi kemudian aku berpikir lagi: tekor sedikit apa salahnya jika bisa membahagiakan hari seorang anak?

“Ini ada banyak pilihan pizza, tapi kebanyakan pakai keju. Kamu suka nggak yang ada aroma kejunya? Kalau nggak suka, bisi eneg.”

Kutanya lagi, di rumahnya tinggal berapa orang. Dia jawab ada tujuh. 

“Waduh,” batinku. Kucek hapeku sebentar, kulihat apakah masih ada saldo. Beruntungnya masih ada. Kubelikanlah dia empat loyang pizza. “Teh, nanti empat pizzanya buat ade ini ya, diingetin ya teh. Saya kudu buru-buru balik,” kutitip pesan ke mbak kasir. 

Setelah transaksi di kasir usai, kutepuk pundaknya. Kubilang dia jangan pergi dulu, tunggu sampai pizzanya kelar. Nanti kalau nama “Ari” dipanggil, berarti itu pizzanya sudah matang dan dia bisa bawa pulang. “Jang, nanti pas pizzanya udah selesai kamu pulang aja. Kalau keburu dingin nanti nggak enak dimakannya.” 

Aku pamitan duluan karena di rumah sudah ditunggui oleh ponakan. Sebenarnya hati ini ingin berbuat lebih, ingin mengantarkan dia pulang. Setelah kubergegas ke parkiran, orang-orang yang tadi antre dan menolak jualan anak itu kini mendekatinya. 

***

Sambil berkendara motor menuju rumah, otakku melayang-layang memikirkan peristiwa tadi. Betapa pizza seharga 100 ribuan yang kubeli adalah nominal yang sulit digapai oleh orang-orang yang hidup di bawah garis batas kemiskinan. BPS mencatat pada Maret 2020, jumlah orang yang dikategorikan miskin dengan pendapatan per kapita di bawah Rp 454.652,- per bulan ada sejumlah 24 juta orang lebih. Angka yang tidak sedikit! Dan, sejatinya itu bukan sekadar angka, itu adalah manusia-manusia yang hidup dalam kondisi finansial amat terbatas. 

Kemiskinan itu mewujud dalam berbagai bentuk. Yang tampak ialah mereka-mereka yang mengais rezeki di jalanan: penjaja asongan, penjual di gerobak, badut-badut lucu, tukang becak, tukang sol sepatu keliling, dan banyak lainnya. Kemiskinan yang menjerat mereka pun tidak bisa lenyap seketika hanya dengan memberikan uang. Sebagian orang mungkin mengatakan sudah suratan takdir mereka begitu. Sebagian lain berkata mereka malas atau kurang kreatif dalam mencari penghidupan. Tapi, bisa jadi juga sebenarnya mereka menjadi kekurangan karena sistem kehidupan yang tidak memihak mereka. 

Membahas penyelesaian kemiskinan adalah isu yang kompleks, yang perlu kerjasama dari berbagai lembaga, yang prosesnya bisa bertahun-tahun. Meski secara statistik di atas kertas banyak negara tercatat sukses menekan angka kemiskinan, tetapi angka sebenarnya di lapangan siapa yang tahu? 

Sekadar memberi seperti yang kulakukan kepada anak itu mungkin tidak akan berbuah banyak. Besok harinya dia akan tetap berjalan kaki jualan masker. Tapi, sedikit pemberian itu bisa jadi modal awal untuk kita melakukan langkah selanjutnya yang lebih terstruktur. Dengan memberi kita membuka ruang empati bahwa ada saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Dengan kesadaran inilah kita jadi tergerak untuk memberikan pertolongan lain yang sifatnya lebih holistik dan mendayagunakan. Sebagai langkah lanjutan, kita bisa memberi lewat yayasan atau lembaga yang rekam jejaknya jelas dalam melayani orang-orang miskin. Lembaga yang tak cuma dengan memberi mereka kepenuhan kebutuhan pokok, tetapi memperlengkapi mereka dengan pengetahuan dan keterampilan-keterampilan berguna. Lembaganya apa saja, aku tidak perlu sebutkan karena jumlahnya tidak sedikit dan rekam jejaknya bisa kita akses dengan terbuka. 

Sekadar memberi saja memang tidak cukup, tapi jika kita tidak sampai hati dalam sekadar memberi, bagaimana bisa kita memberi hal yang lebih? Memberi hati untuk turut hadir dalam penderitaan mereka juga menyebut mereka dalam doa-doa kita agar pertolongan Ilahi turut hadir mendekap mereka. 

Sang Guru Agung pernah berkata, “berilah maka kamu akan diberi…sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

6 pemikiran pada “Seandainya Pemberianku Ini Cukup…

  1. Ari baik banget,mau bersedekah.Semoga rezekimu tambah banyak,amin.Harusnya satu orangkaya memelihara satu orang miskin.Dan harus dibuat undang undang. Entahlah,mungkin seratus tahun lagi baru terwujud.

    1. Yeah mbak, ‘orang miskin dipelihara oleh negara’ sebenarnya sudah teramanatkan di UUD. Tapi pelaksanannya masih samar. Perlu dibarengi dengan pemberdayaan, edukasi dalam hal pendidikan, juga seksualitas agar tidak menikah dalam usia terlalu dini.

  2. Di Indonesia ini timpang banget kok yak, yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya. Entahlah harus mulai dari mana untuk mengentaskan rakyat miskin ini. Ilmuku nggak sanggup.
    Betewe aku mau dong pizza-nya muehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s