Mendampingi Seorang Kawan di Masa Sekaratnya

Apartemen Green Park View, tower paling ujung. Di sanalah aku duduk menanti kehadiran rekan-rekan yang lain. Kami membawa gitar dan setumpuk kartu berisi surat-surat yang ditempel foto. Ketika tim lengkap, kami menyemut di dalam elevator menuju lantai sembilan belas. Lift berjalan lelet, berhenti di beberapa lantai. Kami saling menebar senyum tipis, sebab kami tidak sedang hendak merayakan ulang tahun. 

Bulan September kemarin, rekan sekantor yang kami kasihi keadaannya terus menurun. Sepuluh bulan sebelumnya, ia mengalami sakit di kaki, yang awalnya dikira cuma keselo biasa. Di rumah sakit dekat kantor, ia diobati dengan metode fisioterapi selama kira-kira sebulan. Tapi, tidak ada perubahan berarti. Sampai akhirnya di penghujung 2019, ditemukan penemuan mengejutkan. Sakit di kakinya bukan keseleo biasa, tapi kanker tulang! Kantor kami pun kelabu. Tak menyangka, sesosok staf yang bisa dibilang paling sehat dalam menjaga tubuh, terjangkit penyakit ini. Apalagi usianya baru menginjak 47 tahun. 

Kami optimis sakit ini bisa disembuhkan, kendati pengobatan kemoterapi membuat tubuhnya semakin hari semakin lemah. Maret 2020, ketika pandemi sudah merebak, aku menjemputnya di lobi apartemen. Dengan kondisi yang masih cukup segar meski sudah tak bisa berjalan, aku menyetir menuju rumah sakit terdekat. Di rumah sakit Pondok Indah, seluruh ruang rawat penuh. Berkeliling mencari rumah sakit sampai sore, barulah kami mendapat ruangan di Rumah Sakit Ciputra. “Kamu sekarang sudah bisa nyetir ya Ry, seneng aku loh,” satu-satunya kalimat yang diucapkan padaku kala itu. 

Perjuangan di garis akhir 

Rasa optimis kami perlahan pudar tatkala pasca operasi pengangkatan sel kanker di tulang kaki ditemukan bahwa kanker telah menyebar ke banyak bagian tubuh. Rekan yang kami kasihi itu tubuhnya semakin menciut. Makanan semakin sulit masuk ke lambungnya. Sementara dosis morfin semakin meningkat untuk menolongnya menahan rasa sakit. 

September 2020, pimpinan kantor memberitahu seluruh staf untuk lebih banyak berdoa. Dan, jika punya waktu luang, untuk mengunjungi rekan tersebut di apartemen yang letaknya tidak jauh dari kantor kami. Tapi tak semua kami bisa berkunjung. Pandemi Covid-19 membuat semuanya jadi susah. 

Seorang rekanku memiliki ide. Dia menggagas kampanye untuk menunjukkan kasih sayang kepada rekan kami yang terbaring sakit itu. Dalam tempo seminggu, dia mengumpulkan surat dari banyak staf. Surat-surat itu dicetak rapi, lalu ditempel di atas kertas tebal semacam karton berwarna coklat. Tak lupa disertai dengan foto-foto. 

Siang itu, aku bertugas membacakan surat-surat itu. Di depan ranjang yang di atasnya terbaring tubuh nan ringkih, kubacakan surat itu satu-satu. Sesekali ia menanggapi, memintaku untuk mendekatkan surat itu. Ia menatap foto-foto yang ditempel, memutar memori di benaknya, dan tersenyum. Tapi, senyumnya itu membuat kami merasa pedih. Selang di hidungnya, infus di tangannya, dan nafas yang tersengal. Ketika kesadarannya hilang, matanya terkatup dan tubuhnya sedikit kejang. Tetapi, ketika lagu-lagu pujian pada Tuhan dinaikkan, bibirnya bergerak dan ia ikut menyanyi. 

Yang meneguhkan hati kami adalah, di masa-masa kesakitan luar biasa itu, rekan kami menolak untuk dikasihani. Ketika kesadarannya masih tinggi, dia dengan tegas mengatakan jika kami menengoknya, janganlah dalam suasana iba. Jangan bicarakan penyakitknya, atau mengasihaninya. Ia tidak ingin orang-orang ikut bersedih. 

Surat-surat pun selesai dibacakan. Seminggu setelahnya, kami kembali datang, dengan setumpuk surat tambahan dan genjrengan gitar yang menjadikan suasana lebih hangat. Di minggu ini, kehadiran kami ditanggapi dengan lebih cerah. Kesadarannya meningkat, tidak lagi kejang. Tapi, efek morfin dosis tinggi telah melukai aspek kognisinya. Beberapa kali ia berhalusinasi. “Kita lagi di mana ya ini?”, “Eh, tunggu dulu, aku tadi lagi masak air, sebentar ya,” padahal ia tengah terbaring di ranjang. 

Lagu-lagu yang kami nyanyikan terasa lebih mengalir dan menenangkan. Hingga ketika lagu berjudul Pelangi Kasih-Nya dinaikkan, badan ini terasa bergetar. Sebuah lagu yang liriknya terasa biasa ketika dinyanyikan di masa-masa baik, kini terasa begitu menampar. 

“Apa yang kau alami kini, mungkin tak dapat engkau mengerti. Satu hal tanamkan di hati indah semua yang Tuhan beri. 

Tuhanmu tak akan memberi ular beracun pada yang minta roti. Cobaan yang engkau alami, tak melebihi kekuatanmu. 

Tangan Tuhan sedang merenda suatu karya yang agung sempurna. Saatnya ‘kan tiba nanti, kau lihat pelangi kasih-Nya.” 

Bagaimana bisa kami berkata ‘indah semua yang Tuhan beri’ ketika kesakitan dan kemalangan hadir dengan nyata di hadapan kami. Tetapi, dari keteguhan hati rekan kami itu, kami melihat bahwa lirik lagu ini adalah sebuah ungkapan iman bagi setiap manusia. Bahwa dalam kehidupan ini ada tragedi dan malapetaka yang mungkin terjadi menimpa kita, tetapi kelak akan tiba waktunya kita akan melihat keindahan yang tiada terbatas. Yakni ketika kehidupan di dunia ini berakhir dan kedamaian abadi menyambut kita. Kesakitan dan penderitaan di dunia ini cuma sementara. 

Pertemuan hari itu rupanya adalah pertemuan terakhirku dengannya. Empat hari kemudian kami mendapat informasi bahwa keadaannya semakin menurun. Rabu malam, rekan yang kami kasihi itu dilarikan ke RSCM dan tak lama berselang, ia menghembuskan nafas terakhirnya. 

Sesak karena di masa pandemi ini tak semua staf di kantor kami dapat hadir secara langsung melepas kepergiannya. Tetapi, ada kelegaan dan sukacita di hati bahwa rekan yang kami kasihi ini telah mengakhiri pertandingan dengan baik dan memelihara imannya. 

Inilah pengalaman pertamaku mendampingi seseorang di masa sekaratnya. 

9 pemikiran pada “Mendampingi Seorang Kawan di Masa Sekaratnya

  1. posisi yang gak nyaman yg harus disyukuri, gak semua orang mendapat kesempatan mendampingi hari – hari terakhir mereka (terlebih orang dekat) yang hendak berangkat.

    btw bapaknya sangat siap ya untuk jalan ke keabadian

    1. Kesiapannya terasa sekali. Di kunjungan terakhirku ke sana, beliau dengan suara ringkih bilang kalau sudah memaafkan semua orang yang punya salah. Sekarang, dia minta supaya kami-kami yang maafin dia kalau ada salah.

      Suasananya mengharu biru. Nahan tangis susah sekali. Berasa banget betapa tipis garis batas antara hidup dan mati.

  2. Sahabatnya sekarang sudah terbebasdari semua penderitaan ya mas. Insya Allah dia berbahagia di surga. Karena semua sahabatnya orang baik. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s