Akhir pekan tanpa pergi ke mana-mana terasa hambar dan melelahkan. Insting keluyuran yang sudah tertanam sejak lahir memang paling tidak tahan jika badan ini tidak melakukan perpindahan tempat. Ditambah lagi cuti kantor yang masih melimpah, dorongan untuk pergi semakin besar. 

Kamis, 22 Oktober 2020. Setelah memohon izin cuti satu hari ke atasan, saya segera mengisi ransel ukuran 35 liter dengan empat potong baju, satu celana pendek, dan selusin masker kain. “Otw ya,” saya mengabari Roland, kawan di Cilacap kalau saya segera berangkat ke terminal Kalideres. Bus Budiman dengan trayek ke Karangpucung sudah menanti dengan mesin menyala. Jam tujuh teng nanti, bus ini berangkat dengan kapasitas angkut cuma lima puluh persen. Tapi, dari 32 kursi, boro-boro setengahnya terisi, cuma tujuh orang saja yang jadi penumpang hari itu. 

Perjalanan kali ini tujuan utamanya ke Sidareja, Cilacap, meskipun busnya tujuan Karangpucung. Jam setengah tiga pagi saya turun di Pertigaan Cukangleleus, lalu dijemput oleh Roland dan kami lanjut motoran setengah jam sampai ke Sidareja. Kawasan Sidareja masuk wilayah administrasi Kabupaten Cilacap, tetapi dari sisi geografis dari Sidareja lebih dekat ke Jawa Barat daripada ke Cilacap Kota. Destinasi andalan tiap kali ‘mudik’ ke sini tak lain tak bukan adalah Pangandaran yang bisa ditempuh naik motor dalam setengah jam lebih sedikit. 

Pantai Karapyak 

Yang paling terkenal dari kawasan Pangandaran adalah pantai Pangandaran itu sendiri, tetapi sebenarnya kawasan ini kaya akan pantai. November 2019 saya pernah menyusuri garis pantai selatan mulai dari Pangandaran sampai ke Legokjawa, yang masing-masing pantainya punya ciri khas. Legokjawa sendiri punya mercusuar yang bisa kita naiki sampai ke pucuknya. 

Kali ini kami tidak pergi terlalu jauh. Sebelum masuk gapura Pangandaran, kami berbelok ke kiri di pertigaan Desa Bagolo. Jalanan yang dilalui berpindah dari jalan provinsi ke jalan desa, tetapi aspalnya sudah mulus. Di sini terdapat obyek wisata Pantai Karapyak. Tiket masuknya 11 ribu per motor (untuk dua orang). Di tepi jalan aspal, banyak pepohonan berdiri rapat dengan tanah berumput.  

Pantainya luas dan berpasir putih. Saat kami datang jam 11 siang, laut sedang surut jauh. Kita bisa berjalan sampai agak ke tengah dan melihat aneka biota laut yang hidup di sela-sela karang. 

Pantai Karapyak kala sedang surut.
Mengobrol santai di tepi laut.
Pantai nan sepi

Pasar Ikan Pangandaran 

Sekali-kali makan agak mahal tidak apa-apa, tapi di Pasar Seafood Pangandaran ini rasanya harganya masih terjangkau. Saya dan Roland selalu singgah di rumah makan Sari Melati. Yu Tum, sang empunya resto adalah orang Ngapak dan berkawan baik dengan orang tua Roland. Setengah kilo cumi digoreng tepung harganya 60 ribu, lalu seekor ikan kakap seberat enam ons seharga 40 ribu dimasak asam manis. Saat selesai makan dan hendak bayar, kami dapat korting. “Nasine wes ndak usah dibayar,” kata Yu Tum sembari lanjut bertanya kabar orang tuanya Roland. 

Setelah makan, kita bisa berjalan-jalan di tepian pantai timur. Sekarang sudah dibangun pedestrian yang rapi. Kala sore, kita bisa melihat para nelayan menarik jala. 

Makan berdua dengan menu: cumi goreng tepung dan kakap asam manis.
Para nelayan di pantai timur sedang menarik jala
Hasil tangkapan

Jelajah sawah 

Bagian terbaik dari main ke Sidareja adalah berjalan-jalan di sawah. 

Sawah di Cilacap Barat menghampar luas tanpa ada bangunan di tengah-tengah atau samping kiri-kanannya. Sejauh mata memandang, hanya pematang hijau membentang. 

Di Desa Tambaksari, kami menjumpai sebatang pohon Tabebuya yang sudah mekar. Bunga ungunya telah ranum dan tampak mencolok di tengah pematang sawah. Di seberang pohon itu, ada gundukan tanggul untuk saluran irigasi yang ditumbuhi ilalang. Ketika kami naik ke atasnya, suasananya terasa surgawi: gumpalan awan bergerak perlahan, angin sepoi-sepoi menghembus syahdu. Tiada suara riuh kendaraan apalagi klakson-klakson yang bersahutan. 

Seharian itu hanya kami habiskan dengan keliling sawah, sebab di Jakarta saya tidak bisa melihat sawah yang hijau-hijau. 

Sawah di Tambaksari, Kedungreja
Tabebuya
Petani dan rel kereta api lintas selatan
Perlintasan tanpa palang pintu

7 pemikiran pada “Tetirah Dua Hari ke Desa

  1. HAHAHAHA PARAGRAF PERTAMA ITU.
    Kita mirip, cuma bedanya siklusku lebih lambat. Aku “dolannya” beberapa kali setahun. Sekali dua kali yang jauh, sisanya trip-trip domestik. Selebihnya ndekem di kamar tiap weekend.

    Foto pak tani ngepit di samping rel itu epik sekali, Ry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s