“Rumah nang ndi?”, tanya seorang tukang parkir paruh baya. 

Dua wanita yang baru melepas helm menjawabnya sambil tersenyum, bak dua kawan lama yang baru berjumpa. “Deket, ora jauh kok.” 

Secuplik percakapan itu membuat saya heran, sebab saya tidak sedang berada di Jawa Tengah atau Jogja. Saya dan Mas Indi sedang berada di Serang, ibu kota provinsi Banten yang dulunya masuk sebagai bagian dari provinsi Jawa Barat. 

“Mas, ini kok bukan ngomong bahasa Sunda ya?” tanya saya pada Mas Indi yang sudah tiga kali ke sini. 

“Memang bukan Ar, di Serang sini, bahasanya campuran, Jawa Sunda.” 

Keunikan dialek orang Serang jadi kesan pertama yang menarik hati. Di akhir pekan ini, kami kesampaian juga dolan bareng ke kulon. Dari Jakarta, kami motoran menuju Tangerang, lalu berbelok sedikit ke utara melalui Sepatan sebelum nantinya mengarah terus ke kulon via Mauk. Ada jalan lain yang lebih besar, yakni via Balaraja. Tetapi, jalur itu dipenuhi pabrik di kiri-kanannya; banyak truk tronton pula. Supaya lebih santai, kami pilih jalur yang lebih sepi, menyusuri saluran irigasi dari Kabupaten Tangerang sampai masuk ke kawasan Banten Lama. 

Empat tahun tinggal di Jakarta, baru kali inilah saya menyambangi Serang. Urusan destinasi mana yang hendak dikunjungi, saya beruntung karena pergi bersama Mas Indi yang khatam wilayah Banten Lama. 

“Ini kita udah sampe. Mau ke Keraton Kaibon dulu atau Benteng Speelwijck? Kalo keraton tinggal belok nih udah deket.” tanya Mas Indi. Di depan kami terbentang sungai lumayan lebar. Di ujung jembatan ada jalan ke kiri dengan plang penunjuk “Keraton Kaibon” tampak jelas. 

“Ke keraton sek gapapa mas.” 

Keraton Kaibon 

Keraton Kaibon (bukan lem aibon!) tinggal reruntuhannya saja. Tapi, reruntuhan ini tampak sungguh elok, menyiratkan kemegahan yang dulu pernah melekat. Di tepian reruntuhan sudah dibuat sarana pedestrian yang rapi dengan kursi-kursi taman dan lampu. 

Agak sulit untuk mendapati angle foto yang menarik, jadi kami pun berjalan-jalan santai saja. 

Nama “kaibon” disinyalir berasal dari kata “keibuan”. Keraton ini dibangun oleh Sultan Syafiudin—sultan ke-21 Banten yang saat itu masih berumur lima tahun—untuk ibunya, Ratu Aisyah. Namun, tahun 1832 Belanda menghancurkan keraton ini akibat konfrontasi antara Daendels dengan Kerajaan Banten. Kala itu, Sultan Banten menolak permintaan Daendels untuk meneruskan pembangunan De Groote Postweg atau Jalan Raya Pos. Sultan lantas memancung Du Puy, utusan dari Daendels. Daendels pun murka dan menghancurkan Banten. 

Di lokasi reruntuhan sendiri tidak banyak disebutkan detail-detail reruntuhan, mungkin pada saat itu semua dokumen resmi terkait bangunan ini turut dihancurkan pula oleh Daendels. 

“Keraton ini modern pada zamannya, Ar. Supaya adem, di bawahnya dibangun kolam,” tutur Mas Indi. 

Kami lalu mengitari tiap bagian reruntuhan, kadang sedikit memanjat. Jalan masuk menuju Kaibon dikelilingi oleh saluran air. Sebuah pertanyaan yang sama menggelayut di benak kami, apa nggak banyak nyamuk ya kalau di bawahnya dibangun kolam?

Imaji saya menawarkan jawabannya. “Mungkin banyak mas, tapi kan orang dulu tidurnya pake kelambu?” 

Benteng Speelwijk 

Dari Keraton Kaibon, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Benteng Speelwijk. Benteng ini sudah sepuh, dibangun tahun 1682 tapi ditinggalkan pada tahun 1811. Ukurannya amat besar. Sekarang tanah lapang di bagian tengahnya berubah menjadi lapangan bola yang ramai oleh bocah-bocah setiap sorenya. 

Bentuk benteng tidak lagi seutuh Benteng Van Der Wjick di Gombong atau Benteng Pendem di Cilacap, tetapi pada beberapa bagiannya, masih ada yang terjaga rapi seperti sedia kala. 

Yang menarik perhatian kami selama di benteng ini tentu adalah kisah sejarahnya, karena saya dan Mas Indi memang penyuka masa lalu yang hidup di masa kini. Tetapi, ada hal lain yang membuat kami berdua duduk santai sembari tersenyum tipis: para bocah yang asyik bermain di lapangan berumput. Dengan dialek Serang yang campuran Jawa-Sunda, mereka berlari-lari sambil berteriak. Setelah capek, mereka lalu duduk melingkar. Sesekali mereka serius, lalu pecah gelak tawa. 

“Enak banget ya jadi mereka,” sahut Mas Indi. Saya mengangguk. “Kalau di Jakarta ada tempat begini, aku tiap sore main ke sini deh,” tambahnya. 

Betapa masa kecil cepat berlalu. Keceriaan yang dulu bisa diraih dengan sederhana, sekarang terasa sulit. Terlebih di tengah hiruk-pikuk Jakarta. 

Bastion yang masih tersisa.

Senja di tepian Laut Jawa

Jam hampir pukul lima. Kami harus memilih, antara ke pantai atau ke kuburan dulu. Di tepi rel dekat Stasiun Karangantu tadi kami menjumpai beberapa makam Tionghoa. Kami penasaran ingin singgah, tetapi karena waktu sudah mepet, perlu salah satu didahulukan. Kami pilih ke pantai dulu karena kalau sudah gelap, apa yang mau dilihat dari pantai. 

Gugel Maps bilang pantai yang kami tuju namanya Pantai Pasir Putih. Dari Benteng Speelwijk, jalan yang dilalui adalah jalanan berlumpur yang telah mengeras dengan tambak di kiri-kanannya. Mobil jelas tak bisa masuk, cuma motor saja yang bebas melengos di sini. 

Suasana di sekitar pantai mirip dengan suasana di Desa Dasun, Lasem. Tambak di kiri-kanan, lahan terbuka, dan semilir angin laut yang beraroma sedikit amis. Khas pantai utara Jawa selalu sama: air coklat, dan ombak yang tak besar-besar amat. 

Kami tak mendapati sunset di sini karena matahari tertutup mendung. Tapi, kami mendapatkan ketenangan yang tak tersaji di Jakarta. 

Perbukitan yang tampak tipis adalah kawasan Cilegon.
Seorang bapak mengawasi anaknya bermain di pantai berair keruh.
Menikmati senja.
Senja di pesisir Laut Jawa.
Rekan seperjalanan.

4 pemikiran pada “Perjalanan ke Kulon

  1. Wah gak ke Museum Kepurbakalaannya ya? (tapi hmm.. buka gak ya pas covid gini?) Saya inget trip ke Banten lama, rasanya aneh, bisa dibilang tidak terlalu jauh dari Jakarta tapi ada yang begitu menarik, begitu kuno di sana 😀 😀 Saya juga sempat ke Masjidnya. Yang berkesan malah makan soto enak banget di sana (mungkin karena lapar) hahaha…

    1. Ndak sempet nih kak, soalnya aku baru berangkat dari Jakarta udah jam 11 siang. Sampe di Serang jam 2an.

      Bener kak, aku jga merasa kayak di dunia yang berbeda. Secara jarak ga sampe 150km dari Jkt, tp suasana kunonya itu kentara banget. Dan senangnya, masuk ke tempat-tempat kunonya gratis, cuma bayar parkiran aja 😀

    1. Bisa komplit karena bawa motor sendiri nih mas, jadi sangat menunjang mobilitas mlipir dari satu tempat ke tempat lain.

      Kl gada motor susah nih, kudu naik kaki sendiri, kelamaan ntr 😀

Tinggalkan Balasan ke aryantowijaya Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s