Cuek di Awal, Tuai Bencana Kemudian

“Ke Indomaret yuk, Ry,” kata-kata yang sering dilontarkan Brian tiap menjelang tengah malam. Dan, tak pernah kutolak pula ajakan itu. Kami lalu berjalan kaki, melompati portal depan gang yang selalu ditutup selepas jam sebelas. Hasil perjalanan itu beragam: Brian membawa nasi padang yang katanya cemilan tengah malam, dan aku menjilati es krim seharga lima ribuan. 

Brian adalah kawan kalongku. Beserta dengan seisi kosan lainnya, kami memang para mahasiswa yang jam tidurnya sudah jungkir balik. Mentang-mentang badan masih muda, jadi tidur seenak hati dan makan pun tak pernah pikir-pikir; makan nasi padang jam 1 pagi disebut cemilan. Sekarang, lima tahun menjelang setelah pindah dari Jogja ke Jakarta, baru kusadari bahwa hidup cuek terhadap jam tidur punya dampak hebat di masa sekarang. 

Begini ceritanya. Tahun 2018 awal, jelang dua tahun kerja di Jakarta, kurasakan ada yang aneh di perutku. Selalu kembung seperti balon terisi air, mual pula. Tenggorokan pun sering radang. Berobat ke dokter umum tidak pernah sembuh. Ke dokter THT pun serupa; sembuh seminggu, setelah obat habis kumat lagi radangnya. Barulah di kunjungan ke-empat, dokter curiga. “Kamu sering kembung nggak belakangan ini?” tanyanya. “Iya dok,” lalu kutepuk-tepuk perutku. “Ini lagi kembung dok sekarang, sering sih.” 

“Hmm.. bisa jadi kamu radang karena asam lambung kamu naik ke atas.” 

“Ah masa sih dok?” aku heran. “Seumur saya nggak punya riwayat maag sih dok.” 

“Kan rasa-rasamu aja itu. Ini kembung begini. Kamu cek ke internis ya kalau gitu,” ujarnya sembari menuliskan resep di kertas. Aku ingat obatnya ada antibiotik anti peradangan dan kapsul Omeprazole buat menekan asam lambung. 

Kuturuti saran dokter ke internis. Tapi, dokter yang menangani terlewat judes. Perutku cuma disentuh lalu katanya sakit maag biasa. Diberi obat seharga hampir 800 ribu, tapi tak sembuh juga. Kudiamkanlah sakit ini sembari menjaga makan, tapi tak banyak perubahan signifikan. Barulah di tahun 2019, kucoba lagi ke internis tapi di rumah sakit berbeda. 

“Waduh, waduh, ini perutnya penuh asam lambung. Lihat, sudah naik ke sini dan ke sini,” kata sang dokter yang kebetulan wanita ramah. Diusapnya alat USG mengitari perutku, dingin-dingin geli. “Nah ini,” tambahnya. “Livernya juga ada pelemakan! Kamu nggak pernah olahraga, ketahuan banget!” 

“Eh kok bisa dok ada pelemakan? Saya kan kurus,” kataku membantah. 

“Jangan salah, pelemakan begini nggak pandang orang kurus atau gemuk. Orang kurus juga bisa jadi kolestrolnya banyak. Makanya kamu itu olahraga, jangan cuma duduk terus. Ganti juga gaya hidupmu. Ini suka begadang juga pastinya.” Sang dokter terus mengomel, dia menguliti gaya hidup tak sehat yang kujalani tiap hari. 

“Ini saya kasih resep. Tapi obat ini bukan penyembuh. Yang bisa bikin sembuh cuma kamunya sendiri. Jaga kesehatan yang bener, supaya nggak ketemu saya lagi di sini ya,” kata-kata pamungkas sang dokter yang selalu kuingat sampai sekarang. 

Satu setengah juta pun melayang, tapi aku merasa puas. Dokternya bawel dan aku jadi tahu sakitku apa. Katanya, sakit lambungku ini mengarah ke GERD karena asam lambung naik sampai ke kerongkongan yang berakibat radang. Memang, tak lain tak bukan jadwal hidupku perlu ditata ulang. 

***

Jelang dua tahun pasca pengobatan itu, aku tidak benar-benar pulih. Jika telat makan, stres, atau jam tidur kurang, lambung berontak lagi. Lalu pengobatannya pun lama lagi: harus minum madu dan kunyit, pola makan dikurangi, gorengan dihindari (padahal sebagai anak kos gorengan dan micin adalah sahabat sejati). Tapi, karena ini jugalah aku jadi ingat bahwa tubuh ada batasnya; dia sungguh perlu dirawat dan disenangkan dengan gaya hidup yang baik. Jam tidur dan jam makan sekarang sudah dinormalisasi. Makan tak pernah telat (kecuali force majeure) dan jam tidur juga selalu tujuh jam (jam 11-6). 

 

Ah siapa sangka, di balik tubuh cekingku ini tersimpan lemak menggumpal dan asam lambung yang produksinya berlebih. 

15 pemikiran pada “Cuek di Awal, Tuai Bencana Kemudian

  1. Kalau saya sih malah kena beser gara-gara sering begadang dan ngopi. Akhirnya setelah bertanya ke teman yang kebetulan ngerti tentang pengobatan herbal, dikasih tau resepnya sering minum air putih dan kurangin begadang. Syukurlah setelah ikut arahannya, kondisinya agak mendingan.

  2. Wah saya juga pernah punya permasalahan sama. Setelah konsultasi ke dokter baru ketauan kalau gejala asam lambung/GERD itu bisa memicu banyak masalah kesehatan lainnya. Kalau di saya dulu asam lambungnya naik ke tenggorokan dan bikin batuk ga berhenti. Selain obat, menghindari makanan yang bergas dan asam, stop kopi, juga disuruh minum gula aren yang diseduh air panas. Efek asam lambung bisa bikin neken rongga dada juga, kata dokternya malah bisa memicu nyeri dada yang mirip dengan angina.

    Semoga terhindar dari stres dan pemicu-pemicu lainnya ya Mas!

  3. pernah mengalami seperti itu, ujung – ujungnya operasi apendix yg hampir saja terlambat. dulu dokter internis selalu bilang,”kamu salah makan, makan yang bener. jangan suka begadang.” tapi setahun gak sembuh – sembuh, akhirnya maksa minta rujukan rontgen, baru ketahuan apendixnya sudah mau pecah hi .. hi .. hi..

    di ruang operasi, dokter bedahnya becanda, telat dikit nih, kita bisa kerja bakti bersihin perut kamu. usus dikeluarin satu – satu, dicuci, baru deh dimasukkan lagi.

      1. bangeet hahaha .. itu awal – awal umur 20an masih berasa kuat

        setelah op gak pernah lagi minum obat, kecuali vitamin. itupun kalau perlu banget, selebihnya jaga makan, olah raga tipis – tipis, dan menghindari begadang

  4. Puji Tuhan pas mahasiswa jam tidurku mostly terjaga, meski kadang memang begadang juga saat banyak tugas. Mudah-mudahan di dalam tetep sehat-sehat.

    Tapi aku pernah sekali kena gastritis. Gara-garanya semalaman aku insomnia, terus paginya makan berat dengan sambel hahaha. Tahun 2017 pernah kambuh lagi karena sarapan dengan sambal dan kopi wkwkwk.

    Sehat-sehat terus, Ry. Mari jaga kesehatan raga dan jiwa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s