Cerita-cerita Setelah Bisa Nyetir Mobil

Jalan Daan Mogot. Panjangnya 27 kilometer, membentang dari Grogol di Jakarta Barat, sampai ke Tangerang. Saat hari kerja dan jam sibuk, macetnya bisa di sepanjang ruas. Bagi yang baru pertama menjajal jalan ini, mungkin merasa gondok, macetnya kok luar binasa. Tapi bagi penglaju yang sudah saban hari wara-wiri, ya terima nasib. 

Hari ini, Suzuki APV berwarna ungu terong yang kukendarai ikut menyemut di Daan Mogot. Keluar kantor jam setengah sebelas pagi dengan tujuan mengantar Mushi, sebutan untuk Pak Pendeta dalam bahasa Mandarin. Mushi adalah staf paling senior di kantorku. Usianya tahun ini menginjak angka 85. Rambutnya telah putih, pun pendengarannya mulai menurun. Namun, langkah jalannya tegap, dan dia masih piawai mengetik di WhatsApp, juga menelaah teks-teks beraksara Mandarin di Google Docs. Kalau tidak sedang terjadi pagebluk, dia biasa naik Transjakarta (dulu sih naik Kopaja) ke kantor, lalu dilanjut jalan kaki sejauh dua kilo lebih. 

“Eh Mushi, hari ini nggak boleh naik kendaraan umum. Jakarta masih rawan loh. Naik mobil saja ya, nanti kita carikan orang yang antar pulang,” suara Kak Santi terdengar dari balik tembok. Kuangkat jariku dari papan ketik, dan kusambangilah mereka. “Aku aja kak nanti yang antar Mushi pulang. Hari ini meetingku baru jam setengah dua, masih lama.” Kutawarkan diriku mengantar dan menyetir, karena memang aku suka jika ada kesempatan jalan keluar. 

“Haduh, macet sekali ini. Ni (kamu) tidak apa-apa antar Wo (saya) pulang lagi? Merepotkan loh,” kalimat yang selalu diucapkan Mushi setiap kali dia duduk di sampingku. 

Lagi-lagi kalimat itu kujawab dengan template yang sama. “Nggak, Mushi, saya suka nyetir, dan suka kalau disuruh keluar kantor, atasan saya juga selalu kasih izin untuk saya antar Mushi” kataku ceria supaya Mushi tidak lagi merasa tidak enak. 

“Ya…ya…ya sudah kalau begitu, ayolah kita jalan!” 

Nah, tiap perjalanan mengantar Mushi pulang ini sebenarnya tidak banyak cerita baru yang kudengar. Namanya juga orang tua, kadang dia tak tahu cerita mana yang sudah dia ceritakan atau belum. Dan, daya kenang orang tua itu sungguh luar biasa. Dia bisa ingat detail-detail nostalgia yang terjadi puluhan tahun silam, lalu diceritakannya itu dengan detail dan mengharu-biru. Tapi, ya itu-itu lagi yang diceritakan, sampai-sampai kita sang pendengar khatam template-nya.

Hari ini, kebetulan sekali Daan Mogot macet luar biasa. Dari ujung lampu merah sampai ke bawah jalan layang Pesing, geraknya hanya semeter-semeter. Rupa-rupanya di ujung jalan ada razia motor. Puluhan pengemudi apes gigit jari ketika dihadang di ujung fly-over. Mereka nggak ngeh, padahal aku sudah ikutan buka kaca dan teriak supaya mereka putar balik karena diujung sana sudah ditunggui pak pol. Aku sendiri kalau sedang naik motor dan buru-buru, kadang melanggar dengan naik ke atas fly-over. Padahal sudah jelas-jelas motor dilarang naik. Tapi, inilah yang bikin Jakarta jadi seru! 

“Ini virus buatan Amerika, mau hancurkan Tiongkok!” kata Mushi. Aku tak memperhatikan mimik wajahnya, sebab mataku memelototi spion kanan.

“Waduh, kok bisa begitu, Mushi?” kutanya balik. 

Lalu teori konspirasi pun diceritakan oleh Mushi. Ketika kutanya dari mana teori itu, dia jawab kalau itu dari WhatsApp. Hatiku bilang, duh cilaka. Tapi mulutku tetap saja melontarkan tanggapan-tanggapan. Isi teori itu masuk kuping kiri keluar kuping kanan, tapi yang jelas, Mushi senang karena si supir bocah di sebelah kanannya mendengarnya dengan antusias. 

Teori konspirasi itu baru selesai ketika mobil kami berbelok ke kiri menuju jalan Tubagus Angke. Di sini Mushi menarik nafas panjang karena macet sudah kelewat lama. Tadi kami berangkat jam setengah sebelas. Normalnya kalau tidak macet, ya jam sebelas sudah sampai, jadi Mushi tak perlu beli makan siang dan aku bisa buru-buru balik ke kantor dan menyantap nasi liwet buatan Putra, kawanku. 

“Haiyahh, ini sudah jam dua belas. Wo lapar. Nanti ni lewat Jembatan Dua putar balik, kita mampir makan bakmi dulu.” 

Dasar supir bocah, dia tak pernah mengelak kalau diajak mampir ke tempat makan. Padahal jam setengah dua ada meeting. “Tak apalah, meetingnya bisa disambi nyetir!” 

Si mobil warna terong kuparkirkan di atas trotoar, mepet dengan pintu besi reyot dari gudang yang tak lagi dipakai. Kalau di pinggir jalan, nanti kena derek dari Dishub. Masuklah kami ke sebuah warung bakmi. Bangunannya vintage, penuh dengan kalender dari aneka toko dan perabot jadul. Mushi memesankanku semangkok bakmi pangsit, dia juga pesan yang sama. Ketika makanan datang, diberikannyalah setengah porsi dari mangkoknya ke dalam mangkokku. 

“Haduh, udah, udah, Mushi, kebanyakan.”

“Ni masih masa pertumbuhan. Butuh makan banyak.” 

Lagi-lagi aku tak menolak. Takut durhaka menolak orang tua, apalagi menolak rezeki. Sebelum mie disantap, kuajak Mushi untuk swafoto. Cekrek. Dia lalu menggeleng-geleng, “Aneh, mau makan kok foto dulu, tapi Wo suka diajak kamu foto.” 

Enam bulan pagebluk melanda dan kantorku memutuskan semua stafnya untuk kerja dari rumah, mengantar jemput Mushi jadi cerita yang sering kujalani tiap minggu. Seringkali ada keperluan yang membuat Mushi harus datang ke kantor, dan jika dia sudah berkehendak datang ke kantor, tak ada yang berani melarang. Lantas diutuslah aku untuk mengantar jemputnya. Tapi, momen inilah yang membuat dua generasi yang berbeda zaman ini akhirnya menjadi karib. Cerita-cerita Mushi mungkin telah usang, terlebih teori konspirasi yang didapatnya dari WA. Tapi, mendengarkan cerita dari orang tua adalah bagian dari belajar juga. Aku belajar untuk mendengar, sebab ketika gantian aku yang bercerita, pastinya aku juga ingin ceritaku didengarkan orang. Pun, aku belajar untuk memberi waktu, harta yang tak bisa dikembalikan ulang. Senang pula hatiku ketika melihat Mushi tiba dengan aman di rumahnya, di kawasan Tambora yang begitu padat penduduknya. 

“Xie-xie ya! Ni bisa langsung pulang, saya tinggal jalan kaki ke belakang. Zai jian!” Mushi tidak mau diantar, karena dari warung bakmi ke rumahnya cuma terpaut jarak 200 meteran. Dia pilh jalan kaki dan aku pun melengos kembali ke Daan Mogot. 

Akibat dari lima bulan ini, HRD-ku bilang cuma aku satu-satunya staf di kantor yang Mushi izinkan untuk masuk sampai ke dalam rumahnya. Sungguh senang, setelah akhirnya aku bisa menyetir mobil, aku bisa mengantar jemput Mushi. 

 

Wow. 

4 pemikiran pada “Cerita-cerita Setelah Bisa Nyetir Mobil

  1. Selalu salut dengan senior-senior yang masih menjalani hari dengan semangat. Terutama yang masih sehat dan bisa beraktivitas. Rasanya kok kaya jadi cambukan buat diri sendiri biar ga males-malesan. Yang tua dan sepuh aja masih segitu semangatnya, masa kita yang muda bawaannya mager mulu hehe.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s